Gadis Biasa Menikahi Mafia Tampan

Gadis Biasa Menikahi Mafia Tampan
Tidak akan Menyesal


__ADS_3

Syukurlah dia baik-baik saja, aku ingin memeluknya dan memeriksa setiap tubuhnya tapi itu tidak akan baik untuk hubungan kami saat ini.'Leon mengepalkan kedua telapak tangannya menghalau perasaanya.


Tapi tanpa disangka Ranti justru melompat kearahnya dan memeluknya dengan erat.


"Akhirnya aku menemukanmu hehehe, aku senang jangan pergi lagi ya...ajak aku terus." Gumam gadis itu tepat ditelinga Leon.


"Lepas! apa apaan kau?" Ucap Leon lalu menjauhkan gadis itu darinya.


"Tidak mau." Jawab Ranti dengan tegas. Ia terus memeluk pria itu tanpa memperdulikan Leon yang terus mendorongnya untuk menjauh.


"Kenapa kau begitu keras kepala ha!" Ujar laki-laki itu.


"Iya memang aku keras kepala kau mau apa." Jawabnya.


"Sudah Kubilang kan jika kau sudah bisa kembali ke kehidupan lamamu dan anggap semua ini tidak pernah terjadi."


Ranti mengeratkan pelukannya kepada pria tersebut.


"Aku tidak mau."


"Ku bilang lepas Ranti aku risih jika begini." Leon masih berusaha agar gadis itu mau melepaskannya.


"Aku tidak akan pergi kemanapun titik. Jika kau memaksaku pergi lagi maka aku akan pergi." Ucapnya.


"Baguslah jika kau mengerti."


"Pergi ke hadapan Tuhan maksudnya." Lanjut gadis itu


"Deg." Mendadak detak jantung Leon berpacu dua kali lipat dari biasanya.


"Jangan gila, tapi aku juga tidak perduli." Leon masih berusaha agar gadis ini dapat melepaskannya.


Gadis itu menarik kerah baju Leon sehingga sang empu sedikit menunduk.


"Cup." Kecupan singkat diberikan oleh gadis itu.


"Deg." Kali ini jantung pria tersebut seakan akan ingin meledak.


"Kau harus bertanggung jawab itu first kiss ku jadi mulai sekarang kau tidak boleh meninggalkan ku." Gadis itu menatap Leon yang juga menatapnya dengan sorot mata yang sulit dijelaskan.

__ADS_1


"Cup." Kali ini pria itu yang mengecup bibir Ranti namun bukan kecupan singkat melainkan terasa dalam dan panas.


Leon melepaskan pungutan bibir mereka saat merasakan bahwa gadis itu menahan nafasnya akibat ulahnya.


"Uhuk, Uhuk kau mau membunuhku."Ujarnya.


"Ini baru yang dinamakan first kiss." ungkapnya lalu menyentuh bibir bagian bawah Ranti yang tampak sedikit memar akibat ulahnya tadi.


"Jadi aku tidak jadi pergi kan ? kita akan selalu bersama kan?" Tanya Ranti dengan matanya yang berbinar itu.


'Imutnya...'Pikir Leon saat melihat bola mata bulat itu seperti sangat berharap padanya.


"Tidak boleh." Jawab Leon dengan tegas saat merasa kesadarannya sudah kembali terkumpul.


'Ini untuk kebaikannya aku tidak boleh egois.'


"Kau masih keras kepala dengan keputusan mu itu Leon maka aku juga tetap akan gigih dengan apa yang aku inginkan."


"Terserah kau saja." Jawabnya sambil melirik sesekali kearah Ranti.


"Ya aku tidak akan pergi." Jawabnya dengan senyum lebarnya.


Leon benar-benar kehilangan akal untuk menghadapi gadis ini. Tapi jauh didalam lubuk hatinya ia benar-benar bahagia bahwa gadis itu sungguh sangat mencintainya.


"Dia bilang akan membunuh semua orang yang ada di pulau ini."


Leon mengernyitkan dahinya sedikit terkejut dengan apa yang dikatakan Ranti.


"Benarkah?"


Gadis itu mengangguk cepat dengan mata bulatnya. Leon tau jika gadis itu jujur dan tidak berbohong.


'Ternyata ada lalat yang mau mengantarkan nyawanya kesini.' Pikirnya.


"Leon ayo kita harus pergi dari sini dan mengajak yang lain. Mereka memiliki banyak senjata seperti mafia jadi kita harus pergi dari sini." Ajak Ranti.


"Kau takut?" Tanya laki-laki itu.


" Aku takut kau terluka makanya kita harus pergi." Ucapnya lagi.

__ADS_1


Leon menajamkan matanya lalu segera mengambil ponselnya menghubungi nomor Martin.


Martin yang saat ini sedang mengobati lukanya terkejut kala mendapati Leon yang menghubunginya.


"Cepat angkat Martin atau bos benar-benar akan membunuhmu." Alexia yang membantu Martin mengobati luka tentunya dapat melihat dengan jelas bahwa Leon yang menghubungi Martin.


Mendengar hal itu Martin dengan segera mengangkat telpon tersebut.


"Baik bos, saya mengerti." Jawabnya lalu panggilan tersebut terputus.


"Alexia siapkan senjata sepertinya kita akan kedatangan tamu." Ujar Martin yang langsung mendapatkan anggukkan dari Alexia.


"Leon apakah kau sudah menghubungi Martin? lalu bagaimana apakah kita akan segera pergi." Tanya Ranti yang tidak mendengar percakapan antara Leon dan juga Martin.


"Kau tenang saja semua akan baik-baik saja." Jawabnya dengan tenang.


"Maka dari itu kau akan ku antar ke ibu kota dan semua akan kembali ke semula." Lanjutnya.


"Aku tidak mau jika kita berpisah." Jawab gadis itu.


"Kenapa kau tidak mau berpisah denganku? Kau tau sangat berbahaya jika aku tetap bersamaku ? Kau tidak tau apa yang akan kau hadapi? sekarang ku tanya berapa kali kau hampir mati pada saat kita bersama? Banyak bukan sampai aku merasa gagal untuk melindungimu. Kau selalu dalam bahaya jika kita terus bersama." Ujar Leon menatap Ranti yang hanya terdiam dengan ucapan gadis itu.


'Aku tau kau pasti lebih mementingkan hidupmu kan.' Pikir Leon.


"Ya aku memnag selalu hampir mati jika bersamamu, semua menjadi sangat bahaya ketika aku berada di dekatmu..." Ujar Ranti yang membuat Leon merasa nyeri di hatinya.


"Tapi kau juga yang menyelamatkan ku, kau yang selalu jadi penolongku. Kau yang selalu menjadi seseorang yang selalu datang padaku. Aku tidak perduli dengan apa yang akan terjadi atau apa yang harus aku hadapi kedepannya tapi yang Kutau hanya satu." Ranti menatap sendu manik mata pria itu.


"Kau akan selalu datang untukku." Lanjutnya dengan senyum cerahnya lalu tangannya menyentuh rahang tegas pria tersebut.


"Jadi kumohon jangan minta aku untuk pergi lagi."


Leon terdiam mendengar ucapan Ranti. Dan ia benar-benar merasa gadis itu hanya tercipta untuknya dan dia tidak akan pernah bisa berpisah dari istrinya itu.


"Jadi bagaimana aku tidak perlu pergikan?" Tanya Ranti memastikan bahwa pria itu sudah menerimanya.


Leon tiba-tiba membungkuk lalu menyatukan dahinya dan Ranti. Mata pria itu tampak menahan tangis haru saat melihat Ranti yang ada disisinya.


"Aku sudah memberikan mu kesempatan untuk pergi tapi kau menyia nyiakannya maka kau tidak akan punya kesempatan untuk pergi dari ku, sampai kapanpun kau selalu bersamaku jika suatu saat kau menyesal dengan keputusan mu hari ini maka aku akan mengikatmu." Ucapnya dengan nada Rendahnya.

__ADS_1


Ranti meneteskan air matanya lalu tersenyum bahagia.


"Aku tidak akan menyesal." Jawabnya.


__ADS_2