Gadis Biasa Menikahi Mafia Tampan

Gadis Biasa Menikahi Mafia Tampan
Lucunya


__ADS_3

Semua karena mu paman jahat." Ujar anak kecil itu sebelum meninggalkan Leon disana.


"Hei!! anak kurang ajar." Ujar Leon.


Leon hendak mengejarnya namun Martin sudah terlebih dahulu menahannya.


"Sudahlah bos dia hanya anak kecil." Leon menatap tidak suka terhadap ucapan Martin tersebut.


"Ehem sebenarnya ada yang ingin saya sampaikan bos dan ini mengenai Robert." Ucapnya dengan serius.


Raut wajah Leon tampak berubah menjadi lebih dingin.


"Kita ke ruang kerjaku." Ujarnya lalu meninggalkan tempat itu.


...****************...


Didalam ruang kerja Leon, tampak dua orang laki-laki itu sedang sangat serius.


"Apa yang ingin kau katakan?" Tanyanya.


"Robert sudah kami bawa ke tempat yang anda perintahkan setelah itu saya meninggalkannya sebentar di tempat itu. Tapi pada saat kembali..." Martin menjeda kalimatnya.


"Cepat katakan." ucap Leon dengan tidak sabar.


"Saat kami kembali dia sudah tidak bernyawa bos." Jelasnya membuat Leon sedikit terkejut. Hal tersebut dapat dilihat dari raut wajahnya yang tampak berubah namun dengan cepat kembali datar.


"Bagaimana bisa?"


"Kami menemukannya dengan luka di lehernya dan sepertinya dia dibunuh bos" Jelas Martin.


"Bagaimana dengan James?" Tanyanya.

__ADS_1


"Dia menghilang bos." Jawabnya dengan sedikit takut.


"Apa mungkin James yang membunuh Robert bos?."


"Itu bisa saja tapi kemungkinannya sangatlah kecil, kau tau Martin James terlalu bodoh untuk melakukan hal itu." Jawab Leon.


"Jadi, siapa pelakunya bos?" Tanya Martin.


"Ya mana ku tau, itu tugasmu untuk mencari tau." Ketus Leon kepada Martin yang hanya bisa menggaruk kepalanya walau tidak gatal itu.


"Baik bos akan saya cari tau." Ucap Martin hendak berlalu pergi.


"Berhenti!"


"Ya bos ada apa ?" Tanya martin yang sudah sampai di depan pintu tersebut.


"Ajak Alexia, kejadian kali ini cukup rumit jadi kau mungkin tidak dapat menyelesaikan dengan akalmu itu." Perintah Leon.


Leon menatap kepergian Martin dengan tatapan yang sulit dijelaskan.


"Huh sepertinya ini akan sedikit merepotkan." Gumamnya.


"Drtt,drtt,drtt." Suara ponsel miliknya mengalihkan perhatian Leon.


Saat melihat nama yang tertera disana dengan cepat Leon mengangkatnya.


"Hallo Leon, suaminya Ranti kau dimana ?" Ucap seseorang dari seberang sana.


"Hmm aku di mana ya?" Jawabnya dengan senyuman yang terlihat disana.


"Jangan bilang dihatimu, itu sudah basi." Ujar Ranti.

__ADS_1


"Hahaha sudah ketauan ya..."


"Tentunya, itu sudah ketinggalan zaman."


"Oke deh hmm kenapa menelpon ku ? rindu ya ? padahal baru pisah sebentar sudah rindu aja." Leon sangat suka untuk menggoda istrinya itu.


"Siapa juga yang rindu, dasar narsis." Ranti tampak emosi dari nadanya yang tiba-tiba meninggi.


"Oke oke jangan marah jadi karena apa sayangku ?" Mendengar panggilan sayang yang di ucapkan oleh Leon tentunya membuat hati perempuan itu berdebar berkali-kali lipat.


'Aku bisa mati karena salting.'Pikirnya.


"Ehem itu, itu aku mau makan mie ayam." Pinta Ranti dengan malu-malu.


"Mie ayam?" Tanya Leon.


"Iya mie ayam."


"Baiklah aku akan menyuruh pelayan membelikannya untukmu." Ucapnya.


"Terima kasih muach..." Ranti mencium layar hpnya karena senang keinginannya yang terkabulkan.


"Sama-sama." Jawabnya.


"Jika begitu bye." Setelah mengatakan hal tersebut Ranti segera memutus sambungan itu.


Leon hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku dari istrinya itu.


"Lucunya..." Gumamnya.


"

__ADS_1


__ADS_2