
"Setidaknya masih ada waktu dua bulan untuk bersamamu." Gumam pria itu.
"Cup"
"Semoga mimpi indah" ucapnya setelah mengecup singkat dahi Ranti.
Sedangkan Martin telah tiba di ruang kerja Leon yang masih tampak seperti kapal pecah dengan kaca dimana-mana.
"Bos tidak ada disini, apakah dia sedang beristirahat di kamarnya."
"Baiklah mau tidak mau maka aku akan menginap disini untuk bertemu dangan bos besok."
Sedangkan pasutri itu tidur dengan posisi berpelukan dengan begitu mereka berdua dapat terlelap dalam mimpi mereka.
...****************...
Pagi yang cerah seperti biasa namun harus ada yang berbeda dari Ranti. Gadis itu tidak boleh pergi selangkahpun dari kamar itu.
"Aku ingin sendiri, kalian bisa pergi." Ucapnya kepada para pelayan yang terus saja berdiri di sebelah ranjangnya tanpa berbicara. Jangankan untuk pergi untuk bernafas saja susah.
"Maaf nyonya tapi kami tidak bisa melaksanakan perintah anda itu." Jawab pelayan tersebut dengan suara yang pelan dan juga lembut.
"Kenapa begitu? aku juga tuan rumah di rumah ini." Tanya gadis itu mencoba untuk menggali informasi dari pelayan tersebut.
"Maaf nyonya ini adalah perintah langsung dari tuan jika anda ingin mengetahui alasannya. Silahkan nyonya tanyakan langsung kepada tuan karena kami sama sekali tidak memiliki kewenangan dalam hal tersebut." Jawabnya dengan sopan.
"Ya sudah aku akan tidur saja huh..." Ranti menghela nafas panjang saat mengetahui bahwa apapun yang ia lakukan maka para pelayan itu selalu saja bisa membuatnya tidak berkutik.
Gadis itu berusaha untuk tertidur namun segala hal yang dicobanya selalu sia-sia. Bagaimana mungkin gadis kecil itu bisa tenang jika begitu banyak pikiran yang menghinggapi kepalanya mulai dari orang tuanya di kampung pasti khawatir padanya karena tidak memberikan kabar. Belum lagi dengan Bu Asih yang pasti sedang cemas pada saat ini. Ditambah lagi dengan pernikahan kontraknya yang ribet ini.
__ADS_1
"Aish... Aku tidak bisa tidur." Ucapnya.
"Pelayan aku ingin berjalan-jalan di taman." Ajaknya.
"Maaf anda tidak bisa yang mulia." Jawab pelayan tersebut dengan senyuman di wajahnya.
"Baiklah, jika begitu aku tidak akan mau minum obat lagi ataupun makan apapun lagi. Lebih baik aku mati saja dari pada harus terkurung seperti penjahat seperti ini." ucapnya. Gadis itu menarik seluruh selimut sehingga menutupi seluruh tubuhnya. Sedangkan para pelayan tersebut masih diam tak bergeming.
'Ini pasti hanya ancaman semata.'pikir mereka semua yang menganggap bahwa majikannya itu tidak akan pernah melakukan hal yang telah dikatakannya tadi.
Tanpa disadari malam telah tiba akan tetapi gadis tersebut masih tetap dibawah selimutnya tanpa mau melihat ataupun berbicara pada pelayan yang tentunya sudah membujuknya ratusan kali itu.
"Nyonya kami mohon makanlah nanti anda sakit dan juga minum obat anda jika ingin kaki anda cepat sembuh." Pinta salah satu pelayan dengan nada memohon. Tapi, seperti sebelumnya Ranti sama sekali tidak menjawab perkataan itu.
'kalian pergi saja sana, aku ini cuman luka di kaki bukan berarti lumpuh.' pikirnya yang mulai kesal karena pelayan-pelayan itu terus memaksanya makan dengan alasan biar cepat berjalan. Ranti mengetahui benar bahwa kakinya hanya mengalami luka tapi tidaklah lumpuh. Buktinya kemarin ia dapat berjalan walau rasanya kaki itu mau lepas dari tubuhnya.
Lama ia mendengar celotehan para pelayan itu hingga saat ini yang ia dapat rasakan hanya keheningan.
'Apakah mereka sudah bosan ?" tanyanya yang masih didalam selimut itu.
"Bagusdeh, jika mereka memohon lagi bisa-bisa imanku luntur huh..."Gumamnya dari balik selimut itu.
Gadis kecil itu masih tetap di dalam selimutnya tanpa mau keluar sedikitpun. Toh dia sudah nyaman disitu jadi untuk apa keluar lagi.
'Ih kok panas ya? apa selimutnya ketebalan ya?Ais..apa keluar saja ?tapi nanti para pelayan itu pulang kesini bagaimana? huh... panas banget, mending keluar aja deh dari pada mati kepanasan toh mereka juga nggak ada disini sekarang.' pikirnya yang langsung melempar selimut yang ia kenakan tadi kelantai.
"Akh... legahnya..."Gumamnya dengan berbaring terlentang diatas ranjang itu.
"Sudah puas main mogok makannya?" Tanya seseorang yang membuat Ranti segera mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar tersebut. Tiba-tiba matanya membulat saat mendapati pria tampan dengan kemeja putih dengan bagian tangan ia gulung serta dua kancing atasnya terbuka itu sedang menatapnya dengan tajam.
__ADS_1
"Kenapa tidak menjawab ?kering tenggorokan ya karena tidak minum seharian ?." Lanjutnya dengan tangan yang ia lipat di depan dada itu.
Tidak ada jawaban dari Ranti yang saat ini hanya mengalihkan tatapannya dari pria itu.
"Kenapa lagi dia kesini?"Gumamnya pelan akan tetapi masih dapat didengar dengan jelas oleh Leon yang memiliki pendengaran tajam sebagai mafia itu.
"Kenapa aku disini? tentu saja karena ini kamarku." Jawab pria itu yang mulai berjalan mendekati Ranti yang duduk diatas ranjang tersebut.
"Terserah kau saja." Jawab gadis itu dengan ketus. Walau saat ini jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya saat menyadari bahwa pria itu sedang berjalan ke arahnya. Namun ia dengan pandai menutupi hal tersebut dengan wajah tidak pedulinya.
'Asalkan tidak menatapnya maka aku bisa mengendalikan rasa ini.' pikirnya dengan menoleh kearah jendela membelakangi Leon.
"Jika berbicara itu lihat orang nya bukan malah melihat kearah gorden. Apa kau ingin berbicara pada gorden dari pada denganku ?" ucapnya yang telah berdiri di samping ranjang tersebut.
"Deg." Jantung gadis itu semakin berdetak kencang saat menyadari bahwa pria itu telah ada didekatnya. Bukan hanya itu Ranti bahkan dapat merasakan aroma parfum yang biasa digunakan oleh pria itu. Namun sekali lagi ia masih dapat menahan perasaannya.
"Sepertinya begitu aku ingin berbicara dengan gorden dari pada denganmu." Jawabnya dengan santai yang membuat tatapan lelaki itu mendadak menajam.
"Jika begitu akan kubakar gorden itu." Ungkapnya dengan nada dinginnya yang membuat Ranti mulai sedikit takut. Jujur saja sekuat apapun gadis itu melawan perasaan takutnya pada pria itu. Akan tetapi, perasaan itu pasti akan muncul sendirinya karena aura yang dikeluarkan pria itu seakan akan bisa membunuhnya.
"Terserah kau saja." Jawabnya kembali dengan setenang mungkin.
"Huh..." Pria tersebut menghela nafas seakan akan merasa frustasi.
"Baiklah, aku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu itu tapi ada satu yang harus kau lakukan yaitu kau harus makan dan minum obat!" Ucap tegas pria itu.
"Tapi aku tid-"
"Hustt...ini perintah bukan permintaan apalagi pertanyaan jadi tidak butuh pendapatmu!" Ujarnya dengan nada intimidasinya.
__ADS_1