Gadis Biasa Menikahi Mafia Tampan

Gadis Biasa Menikahi Mafia Tampan
Tidak terlambat


__ADS_3

"Hahaha kau memang pembawa masalah Leon, kau yang menyebabkannya dan sekarang kau bilang kau tidak bersalah."


"Dia mati karena kesalahannya bukan karenaku." Leon menatap dingin kearah Robert yang sudah babak belur karena ulahnya itu.


"Martin segera urus orang-orang ini." Ucapnya lalu pergi begitu saja.


'Semuanya kembali menghianatiku.' Pikirnya lalu pergi begitu saja.


...****************...


Di tempat lain tampak saat ini Ranti tengah dibawa secara paksa oleh dua orang yang ia tidak kenal. Ranti benar-benar bingung dengan apa yang terjadi padanya semuanya begitu cepat. Bagaimana mungkin dilamarnya ternyata ada ruangan bawah tanah dan kenapa orang-orang ini membawanya kesana.


"Lepas kan aku!" Pintanya dengan terus memberontak.


"Plak." Satu tamparan mendarat di pipi mulusnya.


"Diamlah kami bisa membunuhmu kapan saja." Ujar pria itu.


Ranti menatap tajam pada para pria itu, walau pipinya benar-benar terasa panas dan perih sekarang tapi ia tidak ingin terlihat lemah sekarang.


"Jika begitu bunuh saja sekarang." Tantang gadis itu.


"Kau!!"


Tanpa aba-aba pria yang menamparnya itu mendorongnya ke lantai.


"Hei apa yang kau lakukan?" Tanya salah satu temannya.


"Aku benar-benar muak dengan gadis kurang ajar ini." Ungkapnya lalu menginjak kuat kaki Ranti.


"Akh..." jeritnya tertahan saat merasakan sakit pada bagian kakinya.


"Bos kan menyuruh kita untuk tidak membiarkan dia mati tapi tidak ada larangan untuk menyiksanya kan?" Ujarnya. Teman-teman nya hanya terdiam mendengar ucapan tersebut.


"Kau banci gila!!" Maki Ranti pada pria tersebut.


"Kau!!." Pria itu mengeluarkan pistol dari saku jasnya.


"Bagaimana jika peluru bersarang di kakimu apakah kau masih bisa memakiku dengan mulutmu itu."Ancamnya.


"Kau memang banci gila, mana ada lelaki sejati yang menyerang perempuan yang tidak berdaya."


"Oh jadi begitu kau tidak takut bagaimana jika aku besenang- senang dengan mu apakah mulutmu itu akan terus mengumpatku?" Ujarnya


Ranti yang tau benar apa yang akan di lakukan oleh pria itu berusaha untuk menyeret badannya menjauh.


Niat awalnya agar orang-orang ini tidak membawanya semakin jauh ke dalam ruangan bawah tanah itu.


'Ku mohon siapapun dapat mendengar ku.' Pinta gadis itu dalam hati.


"MENJAUH DARIKU!!" Teriaknya dengan seluruh tenaganya.


"Kenapa lari kau takut?."Pria itu tampak tersenyum licik kearahnya.

__ADS_1


Dengan perlahan pria itu mulai membuka jas dan ikat pinggangnya dan berjalan mendekat kearah Ranti. Tubuh gadis itu bergetar dengan kuat.


'Jika dia sampai menodaiku maka aku lebih baik mati.' Pikirnya.


Pria itu semakin dekat berjalan kearahnya.


"KUMOHON MENJAUH!!" pintanya dengan menutup matanya.


"Akh kumohon lepaskan, kumohon...Leon tolong aku Leon..." Ranti benar-benar ketakutan saat merasa pipinya di sentuh.


"Tenanglah ini aku..." Suara bariton yang sangat dikenalnya terasa sangat dekat baginya.


"Le-Leon hiks." Ranti menangis haru karena merasa lega.


"Huh untungnya...untungnya aku tidak terlambat." Leon langsung memeluk gadis itu dengan erat. Lalu mencium pucuk kepala gadis itu.


Ranti benar-benar merasa tenang ketika berada dalam dekapan pria itu.


Tapi kenapa tubuh pria itu tampak gemetar."Leon...kau kenapa?." Ranti merasa bingung dengan pria itu. Yang dalam bahaya tadi kan dia kenapa pria ini yang tampak terguncang.


"Syukurlah... syukurlah...aku tidak terlambat hiks." Ranti dapat merasakan bahunya yang basah.


'Dia menangis?' Pikir Ranti lalu mengusap punggung tegap pria itu.


"Iyaaa kau tidak terlambat, terima kasih Leon." ujarnya.


Lama mereka berpelukan hingga Ranti mulai merasakan pria itu yang sudah tenang.


"Bagaimana kau bisa menemukan ku?" Tanya Ranti.


"Dan... Bagaimana bisa mereka mati secepat itu? Bahkan aku tidak mendengar apapun." Ranti sedikit bingung saat melihat orang-orang yang tadi membawanya sudah tergeletak tidak bernyawa di lantai.


"Aku membunuhnya, dengan sangat cepat." Jawab Leon.


"Kau sangat ahli ya dalam bela diri." Gumam gadis itu.


"Tidak itu hanya untuk melindungi diri saja untuk jaga-jaga." Jawabnya.


"Leon...aku ingin pergi dari sini," Pinta gadis itu karena ia benar-benar tidak nyaman di tempat itu.


"Kita akan pergi sekarang, pegang yang kuat ya...aku akan menggendongmu." Pria itu dengan perlahan menggendong gadis itu.


"Aku selalu menyusahkanmu ya." Ranti tersenyum kecil saat mengatakan itu karena ia benar-benar kecewa dengan dirinya sendiri.


"Iya kau selalu menyusahkanku karena selalu memikirkan mu." Jawab Leon dengan menatap gadis itu.


"Maaf..."


Mendengar kata itu Leon menghentikan langkah kakinya.


"Bagaimana mungkin aku tidak makin sayang, istrinya aja bikin jatuh cinta terus." Ujarnya lalu menatap gadis itu dengan senyum yang hanya ia berikan kepada Ranti.


"Leon..." Ranti tersipu malu saat mendengar ucapan dari pria tersebut.

__ADS_1


"Kita akan kemana pak suami?" Tanya Ranti saat Leon membawanya keluar dari rumah tersebut.


"Ke rumah kita sendiri tentunya istrinya pak suami." Jawabnya yang membuat Ranti tersenyum lebar.


"Bos semua sudah saya amankan, jadi apa rencana kita berikutnya?" Tanya Martin kepada Leon.


"Kembali ke rumah di ibu kota." Perintahnya lalu memasuki jet pribadi miliknya itu.


"Leon aku sudah boleh turun ya, kan sudah sampai disini." Ujar Ranti karena jujur saja saat ini ia sedang berada dalam pangkuan pria itu.


"Tidak boleh, kau tidak boleh jauh dari ku, intinya dimanapun dan kapanpun kamu tidak boleh jauh-jauh."


"Eh tapi kan..." Ranti mencoba menyanggah pria itu.


"Tapi apa?"


"Kan kalau aku disampingku duduk masih bisa kelihatan tidak mesti di pangku kan." Ujarnya.


"Tidak bisa."


"Leon... ayolah semua orang melihat kita."


Leon menatap tajam orang-orang disana yang segara mengalihkan pandangannya.


"Sudahkan."


"Iya deh kamu yang paling benar nanti kalau kakimu sengal atau apa kesemutan maka jangan marah ya." Ujar gadis itu.


"Tidak akan." Pria itu menarik hidung Ranti karena merasa gemas dengan tingkahnya.


Tanpa aba-aba gadis itu mengalungkan tangannya pada leher pria itu membuat Leon merasa terkejut tapi dengan cepat ia menetralkan ekspresi nya.


"Jika begitu aku numpang tidur ya." Ujarnya lalu menyandarkan tubuhnya tepat di dada bidang pria tersebut.


Leon memejamkan matanya sejenak lalu menghembuskan nafasnya dengan perlahan.


"Jangan sampai aku menerkamnya disini." gumamnya.


Ranti tertidur pulas di pangkuan pria itu tapi Leon dengan cepat membawanya ke kamar yang berada di jetnya itu.


Dengan perlahan ia meletakkan gadis itu takut jika mengganggunya.


"Jangan hilang-hilang lagi ya..." Ucapannya.


Leon ikut membaringkan tubuhnya di samping gadis itu lalu memeluknya dengan erat. Perlahan matanya ikut menutup menyusul gadis itu ke alam mimpi.


Setelah merasa nafas pria itu yang mulai teratur Ranti membuka matanya perlahan.


Senyuman tampak terukir indah di wajahnya. Tangan itu perlahan terulur memegang tengkuk pria itu.


"Cup." Ranti mengecup pelan gadi pria itu


"Semoga mimpi indah." Gumamnya lalu memeluk pria itu dengan kuat dan ikut memejamkan matanya.

__ADS_1


Sesaat setelah itu tampak senyuman tipis terukir di wajah Leon.


__ADS_2