Gadis Biasa Menikahi Mafia Tampan

Gadis Biasa Menikahi Mafia Tampan
10 tahun lalu


__ADS_3

"Kau benar-benar!" Martin ingin maju dan menghabisi Alexia.


"Berani kau padaku, hanya dengan satu tarikan saja kepala bosmu ini bisa pecah." Ancamnya membuat Martin langsung diam.


"SIALAN !!" Martin benar-benar merasa kesal karena dia sama sekali tidak dapat berbuat apapun.


"Hahaha aku suka dengan drama ini, akhirnya kau tidak punya pilihan apapun." Ujar Reno dengan sangat bahagia.


"Kau tau susah lama kami menantikan hal ini dan akhirnya semuanya tercapai bukankah itu sangat bagus." Ujarnya kembali.


"Aku sudah menang dan kau sudah kalah." Lanjutnya yang berjalan kearah Amelie dengan angkuhnya.


"Sebelum mati kau akan melihat orang yang kau sayangi mati terlebih dahulu." Ujarnya dengan bahagia.


...****************...


Reno terus mendekat kearah Amelie dengan bahagia, kali ini rencana yang sudah ia rencanakan sejak awal sudah berhasil dengan sukses.


"Berhenti !" Satu kata yang keluar dari mulut Leon justru membuat Reno semakin bahagia.


"Hahaha aku akan berhenti jika kau memohon padaku." Pintanya.


"Tidak !! bos tidak akan pernah melakukan hal itu!!." Martin benar-benar frustasi dengan keadaan saat ini karena dia tidak dapat berbuat apa-apa ketika di saat penting seperti ini.


"Diamlah martin !! tutup mulut mu !!" Pinta Alexia yang masih menodongkan pistolnya tepat di kepala Leon.


"Hahaha ini semua semakin menarik, tapi sangat disayangkan kau Leon masih saja tampak tidak perduli padahal aku benar-benar ingin melihat bagaimana kau menangis hahaha." Ujarnya dengan bahagia.


"Hmm sepertinya aku mengecewakanmu ya." Jawab Leon dengan santai.


Reno benar-benar muak dengan sikap tidak perduli pria itu. Bagaimana tenangnya sikap Leon padahal sudah jelas jika laki-laki itu sudah dalam kondisi yang sangat tidak menguntungkan.


"Mari kita lihat seberapa lama sikap sombongmu akan bertahan."


"aku tidak pernah berbuat apapun denganmu jadi apa maumu dan..." Leon menjeda kalimatnya.


"Siapa tuanmu ?" Ujarnya dengan senyum yang menyimpan seribu misteri itu.


"Tuanku, baiklah karena kau sangat ingin tau mari kita tunggu dia." Ujar Reno dengan bahagia.

__ADS_1


"Tak"


"Tak"


"Tak"


Suara langkah kaki terdengar jelas di tempat yang sudah hening tersebut. Akhirnya tiba juga sosok pria tampan dengan balutan jas dibadannya dan tak lupa dengan senyum yang menghiasi wajahnya.


"Kau ?" Ujar Martin yang terkejut saat mengetahui siapa sosok itu.


"Hello tuan Martin." Ujarnya dengan bahagia.


"Tuan anda telah tiba saya dan Alexia hanya tinggal menunggu perintah anda saja." Ujar Reno dengan hormat.


Leon tidak mengeluarkan kata apapun jujur saja ia cukup terkejut ternyata pemuda itu adalah dalang dibalik kejadian ini.


"Permainan mu cukup bagus..." Leon menjeda kalimatnya.


"Dion" Yup pria itu adalah sopir Ranti yang mengantar gadis itu saat kejadian Black Rose. Leon ingat sekali jika pria itu menghubunginya.


"Terimakasih atas pujian dari king aku sungguh sangat bahagia." Jawabnya.


Sontak bayangan bagaimana permasalahan yang terjadi dalam hidupnya berputar begitu saja menampilkan keadaan yang sesungguhnya.


"Akulah penyebab semua yang terjadi padamu king, kau tau masalahmu dengan Robert tentu saja aku yang melakukannya, oh ya bahkan penyebab kematian sepupu manismu itu juga aku. oh ya pada saat istrimu Ranti kabur apakah kau tidak pernah berpikir bagaimana bisa dia menemukan lobang besar di tembok itu dan bagaimana bisa dia langsung bertemu dengan penjahat."


"Sialan!!" Geram Leon yang mulai melihat bagaimana keganjalan-keganjalan itu terjadi.


"Jangan-jangan saat konflik dengan Black Rose itu juga ulahmu." Tebak Leon.


"Yup tepat sekali, dan karena aku baik jadi aku akan memberitahukanmu bagaimana caranya. Aku yang menghasut pimpinan Black Rose itu untuk menjadi seperti itu. Aku juga yang membawa pria tua itu dan satu lagi pada saat di jalan aku sengaja tidak membiarkan Ranti menelponmu hingga akhirnya kau terlambat saat itu. Tapi, siapa sangka gadis itu tidak mati." Ujarnya yang senang kemudian tampak kecewa.


"Apa maksudmu?"


"Aku benar-benar sangat ingin membunuh gadis sialan itu, kau tau aku benci dengan dia yang memberikan kasih sayang tulus padamu. Aku benci ketika ada seseorang yang menyayangimu. Aku ingin kau tetap sendiri tanpa siapapun bersamamu." Ujarnya.


"Siapa kau ?"


"Siapa aku ? hahaha kau ingat bagaimana sepuluh tahun lalu kau membunuh king yang lama lalu kau yang menjadi king. Kau tau akibat perbuatanmu itu aku kehilangan orang terpenting dalam hidupku. Aku kehilangan ayahku karena mu!!" Jelas saja mata itu di penuhi oleh dendam yang mendalam.

__ADS_1


"Jadi, kau anak mantan king!!." Kali ini Ranti terkejut lagi.


"Iya, dan aku ingin mengambil apa yang menjadi milikku serta membuat laki-laki ini merasakan apa yang kurasa saat itu." Jari nya menunjuk Leon dengan penuh amarah.


"Ternyata dendam itu tidak baik ya ? bahkan membutakan mata orang." Ujar Leon.


"Kau yang membuat dendam itu ada." Jawabnya tampak kesal.


"Iya aku yang membuat dendam itu ada, jadi kau mau apa."


"Hahaha kau memang iblis Leon kau bahkan tidak merasa bersalah dengan apa yang kau lakukan."


"Kenapa aku merasa tidak bersalah karena memang aku tidak bersalah dan aku tidak menyesal melakukan hal itu."


"Hahaha kau memang adalah mahkluk paling hina dan tidak pantas untuk hidup." Tampak Dion sangat marah dengan apa yang baru saja di ucapkan oleh Leon.


"Aku memang hina tapi apa yang di lakukan oleh ayahmu itu jauh lebih hina bahkan melebihi binatang." Ujar Leon marah. Intinya Leon sangat membenci laki-laki itu yang membuat hidupnya harus seperti saat ini.


FLASHBACK ON


10 tahun yang lalu,


"Leon apa yang akan kau lakukan setelah kita pulang." Tanya Amelie yang seperti biasa mengunjungi pria itu.


"Setelah pulang ke negaraku tentu saja aku akan menikmati waktuku bersama keluarga ku Amelie." Jawab Leon. Hari ini ia berencana untuk kembali ke negaranya setelah beberapa tahun ia kuliah di negara orang tersebut


"Paman dan Tante pasti bangga melihatmu, kau sangat pintar Leon." Puji Amelie.


"Jangan memujiku aku tidak sebaik itu." Ujarnya.


Hanya itu perbincangan mereka hingga akhirnya Leon sudah harus pergi ke negaranya. Jujur saja pemuda itu tampak senang dapat berkumpul dengan keluarganya lagi. Bayangan ayah, ibu dan juga adiknya yang manis selalu muncul di benaknya.


Hingga akhirnya setelah beberapa jam perjalanan ia tiba di sebuah rumah besar. Pemuda itu tampak senang mendorong kopernya dia bahkan membawakan oleh-oleh untuk keluarganya.


"Ibu, ayah, aca..." Panggilnya tapi tidak ada jawaban satu pun.


"Kemana mereka semua?" Gumamnya yang melihat rumah yang ramai itu menjadi sangat hening.


"Hmm pasti mereka membuat suprise untukku." Gumamnya dengan bahagia.

__ADS_1


__ADS_2