Gadis Biasa Menikahi Mafia Tampan

Gadis Biasa Menikahi Mafia Tampan
Robert


__ADS_3

Kembali di masa sekarang gadis itu yang awalnya tersenyum tiba-tiba saja meneteskan air mata.


Ia meringkukkan badannya menangis tersedu-sedu diatas kasur itu.


Tapi tanpa gadis itu ketauhi bahwa ada sosok pria yang saat ini bersandar di pintu kamarnya dengan tatapan kesedihan.


"Boss..." Martin merasa kasihan pada bosnya itu.


Sebenarnya yang memiliki ide untuk membawa gadis itu ke sini adalah leon melalui pesan singkat yang ia berikan kepada Martin.


...****************...


"Anda seharusnya bisa menyelesaikan masalah anda bos, bukannya anda sudah menghabisi mereka semua jadi tidak ada yang akan bisa menyakiti nyonya lagi." Ujar Martin yang merasa bingung terhadap bos ny itu.


"Tidak semudah yang kau pikirkan." Jawab pria tersebut.


"Maksud anda apa lagi, ada apa lagi bos."


Leon tidak menjawab pertanyaan dari Martin dan hanya menatap lurus ke depan.


Sedangkan di tempat lain seorang pria yang selalu bermain catur itu tiba-tiba melempar seluruh bidak caturnya.


"Dasar sampah tidak berguna rencanaku jadi berantakan semua! Sial akh!" Pria itu benar-benar tampak kesal sedangkan sang asisten hanya dapat menatap takut pada tuannya itu.


"Tu-tuan saya pikir ini bukan akhir tuan."


"Apa maksudmu?"


"Bu-bukankah anda sangat pintar jadi tentunya anda dapat membuat rencana yang bahkan lebih baik dari pada itu." Jawabnya dengan sedikit takut.


"Kau pikir mudah untuk menunggu sepuluh tahun ha! kau pikir bagaimana dengan waktuku yang terbuang sia-sia!"


"Maaf tuan." Reno menundukkan kepalanya takut dengan orang yang berada di depannya ini.


"Sialan!"

__ADS_1


"Brak" Pria tersebut menggebrak meja yang ada didepannya lalu terdiam seakan-akan menyadari sesuatu.


"Hahaha."


"Anda kenapa tuan." Reno merasa aneh saat melihat sang tuan yang awalnya marah sekarang tiba-tiba tertawa itu.


"Hahaha Leon kuakui kau adalah musuh yang tangguh kali ini kau berhasil mengetahui rencana ku tapi tidak untuk lain kali aku akan benar-benar menghancurkan mu dan seluruh kehidupan mu." Ujarnya dengan penuh kebencian.


Kembali ke tempat Leon dan Martin berada sekarang kedua orang itu sedang berbicara di dalam ruangan berbeda di dalam rumah yang saat ini Ranti tempati.


"Martin selidiki tentang semua kegiatan para tetua gila itu sebelum datang kesini."


"Baik bos tapi jika boleh tau apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang membuat anda masih merasa cemas."


"Musuh kita sebenarnya bukan mereka tapi ada orang dibelakang ini semua, Kejadian satu tahun lalu apakah kau ingat aku yakin ini semua adalah ulah dari orang itu."


Flashback 1 Tahun lalu.


Matahari tampak cerah seperti biasanya dengan Leon yang sibuk dengan berbagai macam berkasnya. Tapi tiba-tiba Martin dan Alexia memasuki ruangan dengan keadaan yang terburu buru.


"Bo-bos ada berita besar!" Leon hanya mengangkat satu alisnya tanda bahwa ia sedikit tertarik dengan apa yang akan disampaikan oleh dua asistennya itu.


"Aku tidak peduli." Jawabnya acuh.


"Bos jangan biarkan kami mati." Alexia sedikit memohon pada Leon diikuti oleh Alexia.


"Kalian berlebihan."


"Bos ayolah anda harus menemuinya kali ini."


Leon hanya menghembuskan nafasnya lalu menganggukkan kepalanya dengan singkat toh mau bagaimanapun ia tidak dapat menghindar dari pria itu.


Kedua bawahannya itu sungguh merasa senang saat tuannya tampak bersedia datang menemui pria yang bernama Robert itu.


Tanpa disadari Malam telah tiba dan saat ini sedang ada perang dingin di ruang tamu antara Leon dan juga pri ayang bernama Robert itu.

__ADS_1


"Kapan kau akan menikah Leon, Apakah kau sangat jelek hingga tidak ada wanita yang mau bersamamu."


Leon menajamkan pandangannya pada pria itu karena ia benar-benar merasa kesal dengan laki-laki itu.


"Sepertinya kau suka sekali membahas hal-hal yang tidak berguna dari dulu." Sarkas Leon.


"Perhatikan sopan santunmu aku ini pamanmu Leon, Paman hanya ingin yang terbaik untukmu, tidakkah kau bosan dengan hidupmu yang hanya memikirkan dendam. Lebih baik kau melupakan semua dendam mu dan pergilah menikah lalu beberapa orang anak."


"Aku tidak mau."


"Huh, baik jika tidak mau bagaimana jika aku akan memberikan seluruh informasi yang aku ketahui agar kau bisa balas dendam tapi dengan syarat kau harus menikah bagaimana?."


Leon masih diam tak bergeming tampak sedikit tertarik tapi dia masih merasa dirugikan.


"Huh...susahnya menyuruhmu untuk menikah, ayolah Leon aku ingin menjadi kakek."


"Kau ingin menjadi kakek."


"Iya."


"Jika begitu akan kucari kan anak untukmu agar kau bisa menjadi kakek."


"Aku ingin anak yang memang anakmu."


"Baiklah toh memiliki anak tidak harus menikah." Ucapnya dengan mudah membuat orang-orang di sana membulatkan matanya.


"Hei kau gila, jangan perbanyak dosamu lagi."


"Bagaimana jika begini kau menikah dengan siapapun yang kau suka."


"Aku tidak mau." Jawab Leon dengan cepat.


"Dengarkan dulu." Robert benar-benar tidak mengerti dimana ponakannya Leon yang lucu dan polos. Sekarang hanya tersisa Leon si kepala batu."


"Ya apa?"

__ADS_1


"Kau menikahlah dengan perempuan manapun dan itu cukup setahun jika kau tidak menyukainya kau cukup ceraikan saja setelah itu aku tidak akan pernah mengganggumu masalah pernikahan ini dan aku juga akan memberikan informasi tadi."


"Aku setuju." Pria itu dengan cepat menyetujui hal tersebut karena dengan begitu ia akan terbebas dari pamannya ini.


__ADS_2