
"Dengarkan dulu." Robert benar-benar tidak mengerti dimana ponakannya Leon yang lucu dan polos. Sekarang hanya tersisa Leon si kepala batu."
"Ya apa?"
"Kau menikahlah dengan perempuan manapun dan itu cukup setahun jika kau tidak menyukainya kau cukup ceraikan saja setelah itu aku tidak akan pernah mengganggumu masalah pernikahan ini dan aku juga akan memberikan informasi tadi."
"Aku setuju." Pria itu dengan cepat menyetujui hal tersebut karena dengan begitu ia akan terbebas dari pamannya ini.
...****************...
Leon menghembuskan nafasnya perlahan kala Robert telah pergi meninggalkan kediamannya.
"Bos anda yakin akan menikah?"
"Iya bos anda benar-benar yakin dan siapa yang akan Anda nikahi?." Kali ini Alexia ikut menimpali.
"Itu urusan kalian ! Aku tidak mau tau Minggu depan aku sudah harus menikah dan pengantinku telah siap." Perintahnya dengan nada dingin kepada Martin dan juga Alexia.
"Glek... bos memang bagaimana tipe anda?" Tanya Martin takut dengan meneguk air ludahnya karena takut karena baru kali ini bosnya itu membahas tentang perempuan dan itu adalah pengantinnya.
"Yang biasa saja." Jawabnya lalu berlalu pergi meninggalkan dua orang itu begitu saja.
__ADS_1
'Yang biasa saja itu yang bagaimana?kenapa dia suka memberi tugas yang tidak masuk akal.' Pikir Martin dan juga Alexia.
Tapi karena keahlian mereka dengan cepat mereka berdua menemukan pengantin untuk bosnya itu. Namun tanpa disangka pada saat mendekati hari H sang perempuan tiba tiba saja menghilang lenyap bagaikan di telan bumi. Karena takut dengan Leon akhirnya tanpa sengaja pada saat Martin dan juga Alexia saling menyalahkan pada saat itulah mereka bertemu dengan Ranti. Seperti mendapatkan ide baru Alexia yang juga mengenal Ranti mulai menyusun rencana agar gadis itu yang menggantikan posisi mempelai yang menghilang tersebut.
Sebelumnya mereka telah mengatakan hal tersebut kepada Leon tapi pria itu mengatakan terserah pada mereka berdua. Hingga akhirnya terjadilah pernikahan antara mereka berdua. Dengan Ranti yang sama sekali tidak tau apapun mengenai apa yang sudah terjadi padanya dan Leon yang tidak perduli dengan apapun kecuali dengan Robert yang tidak akan mengganggunya lagi.
Tepat sehari sebelum pernikahan mereka Leon mendapatkan kabar bahwa para bawahannya sedang berencana untuk membunuhnya yakni pada acara pertemuan yang akan diadakan satu tahun lagi di pulau miliknya.
Laki-laki itu mengikuti permainan dari orang-orang itu karena ia masih membutuhkan mereka tapi Leon memiliki rencana untuk memanfaatkan Ranti untuk membuat para orang tua itu menunjukkan sifatnya.
Rencananya adalah memperlakukan gadis itu dengan baik di depan umum sehingga semua orang menganggapnya sangat mencintai gadis itu dengan begitu mereka akan berlomba untuk menyakiti gadis itu maka saat itulah Leon bisa menangkap mereka. Sungguh rencana yang bagus tapi semua itu berubah ketika Leon mulai menyadari perasaannya kepada gadis itu. Perasaan bimbang selalu mengikutinya kemanapun ia berada awalnya pria itu dengan percaya diri yakin dapat melindungi gadis itu tapi seiring berjalannya waktu ia pun menyadari bahwa keberadaannya lah yang membawa gadis itu ke dalam bahaya.
Saat ini pria itu membuka pintu saat menyadari bahwa Ranti yang sudah terlelap didalam sana.
"Cklek..." Pintu terbuka memperlihatkan seorang gadis yang tengah tidur dengan posisi meringkuk.
Leon dengan perlahan berjalan kearah gadis itu berada lalu mengambil selimut yang berada disana.
"Maaf." Ucapnya dengan menghapus air mata gadis itu.
Tangannya perlahan mengelus lembut surau hitam panjang itu dengan perasaan senang sekaligus sedih.
__ADS_1
"Hmm bagaimana kedepannya ?aku bahkan tidak bisa tidur tanpa melihatmu disampingku. Sepertinya aku harus banyak membeli obat tidur." Ujarnya lalu tersenyum kecut.
"Kau tau Ranti kau adalah gadis paling aneh, konyol, bodoh, pemberani, pemalas, jahil, tapi imut."
"Mimpiku hanya ingin memiliki keluarga kecil bersamamu, bayangkan saja seorang anak kecil yang lucu sepertimu akan ada diantara kita lalu setiap liburan kita akan datang ke pulau ini karena kau sangat menyukai pantai kan?..." Tangannya berhenti mengelus surai hitam itu.
"Tapi mimpi biarlah menjadi mimpi." Lanjutnya.
"Cup"
"Kuharap kau bahagia selamanya." Ucapnya setelah mengecup singkat dahi gadis itu.
Setelah itu Leon berlalu pergi meninggalkan kamar tersebut.
Taklama setelah pria itu pergi air mata mengalir begitu saja dari gadis itu. Perlahan ia membuka matanya dengan tatapan yang bergetar.
"Hiks kau jahat hiks..."
"Kau jahat dengan menyimpannya sendirian, hiks "
"Jika kau seperti itu maka aku yang akan memperjuangkan hubungan kita." Tekad gadis itu.
__ADS_1