Gadis Biasa Menikahi Mafia Tampan

Gadis Biasa Menikahi Mafia Tampan
Mengajak Ke Rumah


__ADS_3

Ranti dengan sekuat tenaga mendorong pria tersebut untuk melepaskannya hingga akhirnya ia dapat melepaskan diri walaupun harus mendaratkan bokongnya diatas rumput tersebut.


"Aw!" Gadis itu berteriak kecil saat merasa bagian belakangnya yang cukup sakit itu.


"Kau benar-benar gadis kurang ajar akan kami jual kau ke rumah bordil pasti banyak yang suka dengan gadis menantang sepertimu ini hahaha."Pria tersebut tertawa kerasa saat mengatakannya.


"Maka sebelum itu kau yang akan ku kuliti." Suara datar terdengar dari sosok pria yang saat ini penuh dengan hawa membunuh itu.


'Mati aku' Ranti merasa bahwa Leon pasti akan menghukumnya dengan berat kali ini.


...****************...


Pria tersebut menetap Leon dengan tatapan meremehkan menganggap bahwa tidak mungkin hanya satu orang pria dapat mengalahkan mereka berdua.


"Jangan banyak gaya anak muda, kau masih terlalu muda untuk melawan kami. Sudahlah pergi sana jangan jadi pahlawan kesiangan." ucapnya meremehkan Leon. Memang saat ini Leon tengah menggunakan kaos hitam dengan celana pendek senada tak lupa dengan sepatunya yang ketika seseorang melihatnya akan berpikir jika lelaki tersebut masihlah remaja. padahal nyatanya ia termasuk orang dewasa dengan umurnya yang telah menginjak 30 tahun itu.


Tidak ada jawaban dari Leon membuat para penjahat itu menyangka bahwa Leon akan melarikan diri. Dengan cepat pria tersebut ingin menarik Ranti untuk berdiri sedangkan yang lainnya kembali membawa anak kecil itu pergi dengannya.


"Bugh" Pria tersebut tersungkur saat hendak menyentuh Ranti sedangkan teman lainnya segera melirik kearah temannya yang saat ini sedang tersungkur dengan darah di ujung bibirnya itu.


"Cih sialan berani kau anak muda akan ku buat kau menyesal." Ucap pria tersebut kemudian berdiri menatap tajam kearah Leon yang masih terlihat tenang tapi menyimpan rahasia itu.


"Bugh."


"Bugh." Hanya beberapa pukulan membuat pria tersebut telah terbujur lemah diatas rumput itu. Leon bahkan tidak terluka sedikitpun bahkan satu helai rambutnya tidak berkurang sama sekali.


'Dia memang pandai berkelahi.' Pikir Ranti kembali mengingat kejadian beberapa hari lalu saat Leon menghajar para copet itu. ya walaupun pria itu tetap pingsan karena copet itu berbuat curang.


"Kau sialan!! aku akan benar-benar membunuhmu." Kali ini penculik lain yang maju namun dengan sebilah pisau ditangannya. Ranti yang melihat hal itu sungguh panik bukan kepalang.

__ADS_1


"Leon hati hati!!" Teriaknya saat melihat penculik tersebut yang mulai menyerang Leon. Jujur saja jantung Ranti benar-benar berdetak sangat cepat bahkan keringat dingin membasahi wajahnya saat melihat pertarungan antar Leon dan penculik tersebut.


"Mati kau!" Penculik itu dengan cepat mengarahkan pisau yang di pegangnya kearah dada Leon namun dengan cepat pria tersebut menghindar dan dengan mudah memukul pria tersebut hingga jatuh pingsan.


Melihat Leon yang menang Ranti merasa seluruh beban di jantungnya perlahan menghilang. Segera setelah mengalahkan dua orang tersebut Leon kembali melangkahkan kakinya kearah Ranti yang masih terduduk di rumput itu.


"Siapa yang menyuruhmu untuk pindah dari sana ?" Tanya Leon dengan nada yang terdengar sangat dingin itu.


Gadis kecil itu tidak menjawab justru melihat kearah Leon dengan tatapan yang sulit diartikan. Leon yang melihat hal itu segera menyamakan dirinya dengan Ranti. Laki-laki tampan itu berjongkok tepat didepan gadis yang hanya diam itu.


"Bugh..." Ranti tiba-tiba menghambur untuk memeluk Leon yang saat ini sedang berjongkok dihadapannya itu


"Huaaaa hiks kupikir kau akan mati tadi hiks," Gadis itu menangis dengan kuat dengan tangan yang masih memeluk erat tubuh Leon itu.


Laki-laki datar itu merasa seperti ada sesuatu yang membuat hatinya menghangat saat mengetahui gadis tersebut yang sangat menghawatirkannya.


Tangan Leon dengan perlahan mulai membalas pelukan istri kecilnya itu. Untuk kali ini saja ia ingin ikut merasakan kehangatan yang diberikan gadis itu. Tangannya perlahan mulai mengusap lembut punggung Ranti berharap bisa membuat gadis itu lebih tenang.


"Sudah puas nangisnya?tanya Leon yang mulai menyadari bahwa malam sudah terlalu larut itu. Belum lagi ada anak kecil yang saat ini menonton mereka dari tadi.


"Hiks hiks belum dikit lagi..." Jawab Ranti yang masih sesegukkan itu.


"Kau tidak malu dengan anak kecil itu?" tanya Leon dengan nada khas mengejeknya itu.


Mendengar hal itu Ranti terdiam sesaat lalu mendadak menjauhkan tubuhnya dari Leon. Dengan cepat ia menghapus air matanya dan netra matanya mulai menyusuri tempat tersebut mencari keberadaan dari anak kecil yang ditolongnya tadi.


"Hei dek sini, hmm kamu tinggal dimana biar kakak antar ya." Ucapnya dengan penuh senyuman itu. Leon yang sedari tadi memperhatikan tingkah Ranti hanya dapat menggelengkan kepalanya pelan.


'Cepat sekali berubah ekspresinya.' pikirnya dengan terus memperhatikan interaksi gadis itu dengan anak kecil yang saat ini mulai berjalan mendekati mereka itu.

__ADS_1


"Dimana rumahmu dek biar kakak cantik ini yang akan mengantarmu hehe." Ujarnya dengan mengelus pelan rambut anak itu yang sudah dekat padanya.


"Ojan tidak tau kak, rumah bunda dengan ayah beda." Ucap anak tersebut yang terlihat cukup pintar dibanding anak lainnya itu.


"Hmm jadi bagaimana ya ? atau kita cari dulu orang yang kenal sama kamu disini pasti orang yang bersamamu masih ada di tempat ini. Oh ya Ojan kesini dengan siapa?" tanyanya.


"Dengan Tante Erika kak, dia bilang kalau ojan tunggu ditaman ini aja dia katanya mau beli mainan tapi Tante Erika nggak pernah datang lagi." Jawab anak kecil itu.


"Hmm Tante Erika tantenya ojan kan?"


"Tidak kak dia pacar ayah." Jawab anak kecil itu yang membuat Ranti membulatkan matanya. Bahkan mulutnya saat ini tengah terbuka lebar jika Leon tidak menutup mulutnya dengan telapak tangannya.


"Tutup mulutmu lalat masuk nanti." Ranti tidak menjawab dan hanya menganggukkan kepalanya saja.


"Tuan Leon ..." ucap Ranti dengan lembut sambil menatap kearah Leon.


"Tidak, nanti akan ku perintahkan Martin memulangkan anak ini ke rumahnya." Perintah Leon dengan tegas saat mengetahui apa yang ada di kepala gadis itu.


"Tapi ini sudah malam hanya menginap beberapa hari hingga Martin mengetahui rumahnya. Ayolah aku kesepian di rumah." Mohon Ranti dengan mata yang ia kedip kedip kan itu.


"Tidak bisa, rumahku bukan tempat penampungan anak" Jawabnya dengan tegas.


"Yasudah jika dia tidak ikut dengan kita maka aku akan membawanya sendiri. Aku tidak mau pulang bersamamu jadi kau pulang sendiri saja." Ucap gadis itu dengan memalingkan wajahnya enggan untuk menatap Leon.


"Huh..Sialan." Leon menghela nafas panjang saat mendengar penuturan dari gadis itu.


"Baiklah, tapi ingat kau tidak boleh ikut campur terlalu dalam mengenai permasalahan anak ini. Jika nanti Martin sudah menemukan orang tuanya maka dia harus pergi saat itu juga." Ucapan Leon terdengar jelas di telinga Ranti. Ia sungguh senang karena laki-laki itu sudah mau mendengarkannya.


"Terimakasih." Ucapnya dengan senyum lebarnya.

__ADS_1


"Dan jangan harap kau lepas dari hukumanku!" lanjutnya yang membuat Ranti kembali cemberut.


__ADS_2