Gadis Biasa Menikahi Mafia Tampan

Gadis Biasa Menikahi Mafia Tampan
Robot Pembunuh


__ADS_3

"Pergilah..." Ucap Leon dengan air mata yang begitu saja lolos dari pelupuk matanya.


Ranti menatap sedih kepada pria tersebut. Apa yang ia coba pertahankan selama ini runtuh begitu saja.


"A-aku sudah melepaskan mu dan membiarkan mu untuk bebas, aku akan mengembalikan semuanya ke awal." Pria tersebut menjeda ucapannya.


"Anggap kita tidak pernah saling kenal." Kalimat yang membuat Ranti benar-benar merasakan luka yang mendalam.


...****************...


"Martin antarkan dia ketempat awal dan berikan segala hal yang sudah kami sepakati diawal." Perintahnya pada Martin yang sedari tadi hanya dapat melihat interaksi pasangan suami istri ini.


Martin melirik ke arah Ranti yang saat ini sudah terduduk dengan tatapan kosong itu. Baginya sudah sangat lelah untuk menangis semuanya percuma. Pria itu tetap saja membuangnya.


"Bos an-anda tidak harus mela-"


"Ini perintah Martin bawa dia pergi!." Perintah Leon yang tidak bisa dibantah oleh Martin.

__ADS_1


"Baiklah bos sesuai perintah anda."


Dengan cepat Martin membawa gadis itu yang tampak sudah kehilangan jiwanya.


Bukan hanya gadis itu yang merasakan luka tapi Leon benar-benar merasakan luka pada hatinya berkali-kali lipat dari gadis itu. Ia hanya bisa mencengkeram kuat telapak tangannya tanpa bisa berbuat apapun.


"Sampai matipun aku akan terus mencintaimu Ranti..." Gumamnya sambil melihat gadis itu yang pergi meninggalkan dirinya.


Setelah beberapa saat mata pria itu berubah menjadi tajam ia lalu menatap bangunan kokoh yang sudah habis di lahap si jago merah.


"Dramanya sudah selesai !jadi keluar kalian semua!." Perintah pria itu yang menatap sekelilingnya.


"Aku tau diantara kalian pasti ada pelaku yang membakar villa ini dan kalian semua juga bersalah karena telah ceroboh. Jadi, apa kalian tau apa hukuman bagi orang yang seperti itu." Ujar Leon dengan hawa membunuhnya yang kuat.


"Mati itulah jawabannya." Pria itu tersenyum devil lalu mulai membunuh semua orang-orang yang berada di sana.


"Akh..."

__ADS_1


"Am-ampuni saya tuan akh..."


"akh..."


"Tuan..."


Hingga beberapa saat suara suara itu mulai senyap tanpa ada satupun kata lagi hanya keheningan yang terdengar disana. Rumput yang awalnya hijau kini telah berubah menjadi merah akibat dari lautan darah dari mereka yang mati di tangan Leon.


"Kau pikir aku bodoh ha? kau pikir aku tidak tau jika kalian semua bukan pelayan-pelayan vila ku ha?" Tanya pria itu pada seorang laki-laki yang telah terbaring lemas dengan luka tusukan di perutnya.


"Bagaimana kau bisa tau akh ." Tanya pria itu yang langsung mendapatkan injakan di salah satu telapak tangannya.


"Karena kau itu bodoh." Jawabnya dengan terus menginjak tangan pria tersebut terakhir pria itu menancapkan belati yang di pegangnya tepat di leher pria itu. Darah mengenai wajah Leon namun pria tersebut sama sekali tidak perduli. Inilah sisi yang tidak di ketahui oleh Ranti selama ini bahwa pria ini bukanlah manusia melainkan mesin pembunuh yang ganas.


Tak lama Alexia datang dengan orang-orang berbaju hitam bersamanya.


"Semuanya sudah siap bos tinggal menunggu eksekusi saja." Ucap gadis itu dengan hormat walaupun saat ini ia merasakan mual melihat mayat yang bertebaran disana.

__ADS_1


"Mereka semua akan membayar dengan nyawa mereka." Ucapnya lalu berjalan menuju mobil yang sudah di sediakan dan pergi begitu saja di ikuti oleh Alexia dan orang-orang berbaju hitam yang merupakan pengikutnya yang sangat setia.


__ADS_2