Gadis Biasa Menikahi Mafia Tampan

Gadis Biasa Menikahi Mafia Tampan
Kedatangan Leon


__ADS_3

"Oh okok aku tau kamarnya akan aku tunjukkan." Jawabnya dengan berjalan mendahului Ranti dan memerintahkan agar gadis itu mengikutinya.


"Ini dia benar kan?" Tanya laki-laki itu mencoba memastikan.


"Iya terimakasih." Ranti tersenyum ramah kepada pria itu.


"Hmm ya sama-sama,...ehm aku hanya ingin mengingatkan mu jangan percaya dengan siapapun di rumah ini karena mereka bukanlah orang baik, begitu juga aku." Ucapnya dengan pelan lalu berlalu pergi begitu saja tanpa menghiraukan Ranti yang tampak bingung dengan ucapannya.


"Maksudnya?" Tanya gadis itu dengan bingung.


...****************...


Di dalam sebuah ruangan tampak Leon berdiri tegak dengan seorang pria yang tampak tak berdaya di hadapannya.


"Siapa yang menyuruhmu meletakkan bom ha?" Tanyanya dengan nada intimidasi yang kuat.


"Tidak akan ku beritau." Jawabnya.


"Alexia bawa barang itu kesini." Perintah Leon kepada Alexia. dengan cepat gadis itu membawa sebuah perlengkapan yang berisi bara api.


Leon mengambil satu bara api yang ada ditempat itu lalu menempelkannya di kulit pria malang tersebut.


"Akhhh." Teriaknya saat merasakan sakit akibat luka bakar tersebut.

__ADS_1


"Katakan atau kau mau seluruh tubuhmu akan merasakan sakit yang sama." Ancam Leon.


'Seperti biasa dia tidak kenal ampun.' Alexia hanya bisa memandang datar pada pria yang saat ini tidak berdaya itu.


"Ba-baik aku akan mengatakannya." Akhirnya pria tersebut menyerah dengan pendiriannya.


"Di-dia aku tidak tau namanya kami tau namanya hanya x dan dia juga tidak pernah menunjukkan dirinya didepan orang termasuk kami anak buahnya." Jelasnya.


"BUGH." Leon dengan kuat menendang pria tersebut.


"Tidak berguna." Setelah mengatakan itu Leon lalu mengambil sebuah pisau lalu menikam pria tersebut.


Pria itu hanya bisa membulatkan matanya kala pisau menembus tubuhnya.


"Buang jasadnya ke dalam kandang jadikan makanan untuk peliharaan ku." Perintahnya.


Leon segera keluar dari ruangan tersebut dengan darah yang masih melekat pada badannya. Sudah lama ia tidak menunjukkan sosoknya yang seperti ini. Jika ada Ranti maka Leon akan berusaha semaksimal mungkin agar darah tidak mengenai tubuhnya tapi sekarang ia tidak punya alasan untuk itu.


"Halo Martin, bagaimana keadaannya sekarang?" Tanya Leon kepada sosok Martin yang ia perintahkan untuk mengantar surat kepada Robert dan juga untuk memata-matai tempat itu.


"Untuk saat ini tidak ada kegiatan yang berarti tuan semua seperti biasa tapi..." Martin menjeda ucapannya.


"Tapi apa ?" Leon tampak tidak sabar dengan apa yang ingin dikatakan oleh Martin.

__ADS_1


"Robert benar-benar berniat ingin menikahkan nyonya dan juga James tuan." Jelasnya.


Leon yang mendengar hal itu seketika berubah menjadi sosok yang menyeramkan.


"Dia ingin ku bunuh rupanya." Ujarnya lalu mematikan sambungan tersebut.


"Ais apa yang dipikirkan oleh Robert dia benar-benar ingin mati atau bagaimana?" Martin tampak bingung dengan apa yang dipikirkan oleh Robert tersebut.


Tak lam Leon datang ke kediaman Robert dengan menggunakan jet pribadinya.


Pakaian serba hitam tampak mendominasi dirinya ditambah dengan kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya.


"Paman..!"


"Paman!" James mencoba mencari Robert saat melihat Leon yang telah tiba disana.


"Ada apa ?" Robert segera bertanya pada James yang tampak panik tersebut.


"Itu...Leon sudah datang paman." Jawabnya dengan cepat.


"Dia datang ternyata," Robert dengan santai melanjutnya membaca Koran yang berada di tangannya.


"Paman..." James benar-benar kesal melihat respon dari Robert.

__ADS_1


__ADS_2