
"Sudah ? simpan saja omong kosong mu itu Martin."Ujar Leon dengan tegas.
"Ha ? jadi tadi kenapa anda tampak seperti bersalah dan sedih." Tanya Martin kebingungan jelas-jelas pria itu tadi menampilkan ekspresi bersalah.
"Huh ,Martin ini bukan urusanmu." Jawabnya lalu berjalan kearah tangga yang ada disana.
"Jadi apa yang membuatmu menyesal." Gumam Martin yang tampak sangat bingung.
'Sialan !! sepertinya jika Ranti sudah kembali aku harus pindah mansion, gara-gara banyak orang mati disini rumah ini pasti akan berbeda dan itu membuat Rantiku tidak nyaman. Dasar sampah sialan !! kenapa mereka harus mati di rumah ku.' Pikirnya yang tampak kesal padahal banyak sekali kenangan di rumah itu tapi karena banyak sekali yang ia bunuh disana pastinya itu tidak baik untuk istrinya nanti.
...****************...
Suasana di mansion itu tampak sunyi dengan hanya dua orang saja yang berjalan disana.
"Bos kita mau kemana ?" Tanya Martin mengikuti tuannya itu.
"Kita ke tempat Amelie." Jawabnya.
Martin tampak terdiam sejenak memikirkan sesuatu.
"Bos, mungkin yang saya tanyakan ini akan menyinggung anda tapi saya benar-benar sangat ingin mengetahui apa yang anda pikirkan." Ujar pria itu tampak memberanikan diri.
"Jangan bertele-tele Martin." Ujar pria itu.
"Saya ingin bertanya benarkah anda menyukai Amelie? tapi saya tau jelas jika nyonya lebih baik dari pada Amelie bos, anda dan nyonya Ranti itu sudah sangat pas dia adalah sosok wanita yang diciptakan hanya untuk anda. Jangan hanya demi seorang gadis yang baru datang dari masalalu anda membuang orang yang berarti untuk anda di masa depan. Ini hanya nasihat saya untuk anda agar anda tidak menyesal nantinya." Jelasnya dengan penuh keberanian walaupun kakinya tampak gemetar.
'Huh akhirnya apa yang selama ini kutahan dapat ku keluarkan juga.' Pikirnya.
"Sudah bicaramu." Pemuda itu masih tampak tenang.
"Iya bos maaf jika menyinggung anda saya hanya ingin menyampaikan kebenaran." Martin dengan jantung yang berdetak 2 kali lebih cepat itu.
"Kebenaran ?" Tanya Leon.
__ADS_1
"Iya bos hanya kebenaran." Jawab Martin.
"Jadi itu yang kau anggap kebenaran ?" Tanyanya lagi.
'Ya Tuhan kenapa bos begini sih, selamatkan nyawaku.' Batin Martin.
"Iya bos itu yang saya anggap kebenaran."
"Begitukah ?" Tanyanya namun kali ini dengan senyuman manisnya.
"Maksud anda bos?" Martin benar-benar bisa gila jika terus berbicara dengan pria ini.
"BRAK" Tidak ada lagi perbincangan diantara mereka ketika Leon yang saat ini telah tiba di pintu kamar Amelie dan tanpa aba-aba pria itu menendang kuat pintu tersebut hingga membuat Martin yang masih berpikir harus terkejut karena ulah tuannya itu.
"Aku benar-benar bisa mati muda karena serangan jantung." Gumam Martin yang hanya dapat di dengar oleh dirinya sendiri.
"Akhirnya yang di tunggu-tunggu datang juga." Ujarnya dengan serius.
"Hei apa maksud nya ?" Tanya Martin yang tampak kesal.
"Baiklah jika kalian sangat penasaran maka kalian bisa melihatnya.* Ujarnya lalu menggeser tubuhnya terlihat dimana Amelie sudah dalam kondisi berantakan tampak air matanya terus mengalir. Kanan dan kirinya sudah ada dua orang pria yang menodongkan pistol tepat di kepala gadis itu.
"Kumohon lepaskan aku." Pintanya.
"Hahaha aku akan melepaskanmu jika kekasih tercintamu ini rela memberikan nyawanya padaku." Ujarnya.
"Oh ayolah kami tidak akan terjebak dengan trik murahan mu ini, jika kami menurutimu kau juga pasti akan menghabisi kami semua jadi pilihannya hanya membunuh mu." Ujar Martin sedangkan Leon sejak tadi hanya diam tanpa mengatakan satu katapun.
"Benarkah tapi sayangnya kalian tidak mempunyai pilihan." Ujarnya dengan tersenyum licik."
"Bos saya sudah membawa para pelayan ke tempat yang aman ujar Alexia yang baru saja tiba itu.
"Apa maksudmu dengan tidak punya pilihan ha ? kami sekarang bertiga dan tentunya kami dapat menghabisi mu." Ujar Martin.
__ADS_1
"Door." Tiba-tiba saja ada peluru yang hampir saja menembus jantung Martin untung saja pria itu dapat menghindar hingga hanya bahu kanannya saja yang tertanam peluru itu.
"Kau ?" Ujar Martin terkejut. Bagaimana tidak terkejut jika saat ini Alexia jelas - jelas menodongkan pistolnya tepat di kepala Leon.
"Ternyata kau berhianat ?" Tanya Leon yang tampak santai dan juga tenang.
" Iya aku yang berhianat terus kau mau apa ?" Tanya Alexia yang tampak sangat ketus.
" Kenapa kau melakukan ini Alexia ? aku sangat mempercayaimu bahkan aku sudah menganggap mu sebagai rekanku, kenapa kau tega." Ujar Martin yang tidak terima.
"Oh benarkah tapi sayangnya aku tidak." Jawabnya dengan senyuman mengejek.
"Sejak kapan kau berhianat padaku ?" Tanya Leon.
"Hmm biar aku jelaskan, aku sudah berhianat padamu sejak awal. Aku yang berpura-pura menjadi gadis malang lalu di tolong olehmu sejak awal itu hanya skenario yang ku atur. Kau tau kenapa mempelai wanita di pernikahanmu hari itu bisa hilang tentu saja itu ulah ku hahaha." Jelasnya.
"Apa maksudmu Alexia dan kau yang merencanakan sejak awal." Ujar Martin penasaran.
"Ya tentu saja Martin temanku, Aku juga sudah memperhatikan Ranti dari lama dan ya seperti yang kau tau aku teman kuliah Ranti. Saat itu aku berpikir jika membiarkan Leon menikah dengan wanita yang awal kita pilih itu bukankah itu akan sangat nyaman untuk Leon jadi aku sudah merencanakan agar Leon menikah dengan Ranti yang notabenenya adalah perempuan yang tidak pintar, tidak cantik, miskin, dan kampungan. Dan ya aku berharap dengan latar belakang gadis itu setidaknya dia bisa membuat masalah bukan ? tapi siapa sangka dia justru sangat beruntung dan pintar." Jelasnya lagi.
Sejak Alexia membicarakan tentang Ranti sejak itu juga Leon benar-benar ingin mematahkan leher gadis itu.
"ALEXIA ! KAU BENAR-BENAR MENJIJIKAN!!." Teriak Martin tidak terima apalagi dia juga ikut dalam masalah pernikahan itu. Belum lagi Ranti yang saat ini bernasib buruk dan itu karenanya. Tentu saja Martin benar-benar merasa bersalah karena hal tersebut.
"Kau benar-benar!" Martin ingin maju dan menghabisi Alexia.
"Berani kau padaku, hanya dengan satu tarikan saja kepala bosmu ini bisa pecah." Ancamnya membuat Martin langsung diam.
"SIALAN !!" Martin benar-benar merasa kesal karena dia sama sekali tidak dapat berbuat apapun.
"Hahaha aku suka dengan drama ini, akhirnya kau tidak punya pilihan apapun." Ujar Reno dengan sangat bahagia.
"Kau tau susah lama kami menantikan hal ini dan akhirnya semuanya tercapai bukankah itu sangat bagus." Ujarnya kembali.
__ADS_1
"Aku sudah menang dan kau sudah kalah." Lanjutnya yang berjalan kearah Amelie dengan angkuhnya.
"Sebelum mati kau akan melihat orang yang kau sayangi mati terlebih dahulu." Ujarnya dengan bahagia.