
Mereka yang berada di aula tersebut terkejut dengan apa saja yang terjadi.
"Apakah king benar-benar mencintai istrinya?" Bisik-bisik itu mulai bermunculan di sana.
"Jika kalian ingin berbicara maka berbicara yang keras jangan hanya berbisik." Tantang pria tersebut yang membuat mereka terdiam seketika.
"Martin bereskan mayat pria ini berikan saja untuk makan anjing-anjingku." Perintah Leon.
"Baik tuan," Dengan cepat Martin memerintahkan beberapa bawahannya untuk melakukan apa yang diminta Leon tadi.
Setelah selesai dengan amarahnya Leon lalu bangkit begitu saja dari kursi kebesarannya itu. Mereka yang ada di sana hanya dapat melihat takut pada pria itu. Sedangkan Alexia, gadis itu mengikuti Leon meninggalkan ruangan tersebut dan menuju ruangan lain di gedung itu. Sebuah tempat yang memang dikhususkan untuk Leon.
"Tuan, semuanya sudah siap apakah kita akan melakukan rencana berikutnya ?" Tanya Alexia dengan sangat hati-hati pada pria yang tampak tidak dalam mood yang bagus itu.
Sedangkan Leon ia hanya berdiri membelakangi Alexia tanpa menjawab pertanyaan dari gadis tersebut.
"Tuan..." Gadis itu kembali menanyakan respon dari Leon.
"Batalkan semuanya kita akan mencari cara lain." Ucap pria tersebut.
__ADS_1
"Tapi tuan..." Sanggah Alexia, dipikirannya hanya ada kebingungan bagaimana bisa tuannya itu membatalkan rencana yang telah ia susun matang selama setahun ini.
"Tidak ada tapi-tapian aku tidak ingin rencana itu terjadi." Sahut Leon dengan cepat.
"Apakah ini ada hubungannya dengan Ranti?" Tanya Alexia penasaran.
Tidak ada jawaban dari Leon yang ada hanya keheningan diantara mereka.
"Tidak perlu menjawab tuan saya telah mengetahui alasannya. Walaupun itu cukup sulit untuk dipercaya." Ucap gadis itu dengan sedikit menghela nafas.
"Jadi bagaimana dengan selanjutnya tuan?" tanya gadis itu.
"Aku akan melepaskannya, agar ia bisa bahagia sebagaimana yang ia impikan." Ucap pria tersebut.
Tidak ada jawaban yang dikeluarkan oleh Leon yang ada hanya keheningan.
"Diamlah Xia..." Ungkap pria tersebut.
Didalam pikirannya mulai bertanya apakah yang ia lakukan itu salah tapi jika ia bersama gadis itu maka ia akan terluka.
__ADS_1
"Saya tau apa yang anda pikirkan tuan. Anda takut ia akan terluka bukan?" Perkataan Alexia itu membuat pria dingin itu membalikkan tubuhnya menghadap Alexia.
"Anda adalah orang yang kuat maka anda hanya perlu menjaganya. Anda juga punya kekuasaan hanya andalah tempat teraman bagi Ranti untuk saat ini dan juga kedepannya." Ungkap Alexia walaupun ada sedikit rasa takut karena tatapan pria itu yang tampak akan membunuhnya.
"Apa benar begitu?" Tanya Leon yang membuat Alexia membuka lebar mulutnya.
' Kenapa pria pintar ini mendadak bodoh jika urusan seperti ini.' Pikirnya saat mendengar pertanyaan itu dari Leon.
"Ya-ya tentu saja begitu, jadi anda terus saja bersama Ranti dan menjaganya di samping anda." Ungkap Alexia sedikit terbata.
Mendengar hal tersebut Leon langsung mengangguk paham dan berniat untuk segera keluar dari ruangan itu dan pergi menuju vila tempat di mana Ranti berada.
Saat akan mencapai pintu tiba-tiba pintu tersebut terbuka dan menampilkan Martin dengan nafas yang terengah-engah.
"Tuan...itu..itu hah...hah." Ucapnya dengan nafas yang tidak beraturan.
"Ada apa Martin kenapa kau seperti habis berlari saja." Alexia menatap kesal pada Martin. Sedangkan Martin hanya menggelengkan kepalanya mencoba mengatur nafasnya kembali.
"Cepat katakan Martin aku sibuk!" Kali ini Leon yang berbicara karena ia mau menemui Ranti.
__ADS_1
Karena malas menunggu penjelasan Martin yang lama akhirnya pria tersebut berjalan hendak meninggalkan Martin.
"VILA DEKAT PANTAI KEBAKARAN TUAN!" Ungkapnya dengan suara lantang.