Gadis Biasa Menikahi Mafia Tampan

Gadis Biasa Menikahi Mafia Tampan
Kematian James


__ADS_3

"Jadi apa yang kau inginkan saat ini nak ayah pasti akan memberikan nya padamu." Ujar Robert.


"Aku ingin Leon ayah!! aku ingin menikah dengan Leon!! dia yang harus menjadi ayah dari anak ini!!." Ujarnya dengan histeris.


Melihat hal tersebut saat itu juga Robert menghubungi Leon dan Leon pun pergi ke rumah Robert.


"Leon paman mohon padamu untuk menikahi Masha ya..." Mohonnya pada Leon.


"Aku tidak bisa paman." Ujar Leon karena dia memang tidak memiliki perasaan dan belum ada niat untuk menikah.


"Paman mohon padamu Leon kau harus mau!" Ujar Robert dengan nada memaksa.


"Aku juga memiliki perasaan ku sendiri paman dan aku berhak untuk memilih jalan hidupku sendiri." Ujar Leon dengan Tegas.


" Baiklah, jika memang begitu maka kau pergi saja menemuinya dan tenangkan dia." Ujar Robert.


"Baiklah tapi setelah itu aku akan pergi." Ujar Leon.


...****************...


Setelah itu Leon menemui Masha yang saat ini sedang berada diatas kasurnya dengan tatapan kosong itu.


"Leon!" Ujarnya saat melihat laki-laki tampan itu.


"Ya ini aku." Ujar Leon.


Tiba-tiba perempuan itu berjalan dan hendak memeluknya namun dengan sigap Leon menghindar.


"Kenapa kau menghindar?." Tanyanya pada Leon.


"Tidak ada." Jawabnya.


"Leon...kau pasti mau menikahi ku kan? kau pasti mau kan?." Ujarnya yang tampak sudah seperti orang gila itu.


Leon tidak menjawab perkataan dari gadis itu.


"KENAPA KAU TIDAK MAU MENIKAHIKU HA! AKU KURANG APA!!." Ujarnya dengan berteriak dan itu membuat orang-orang yang di depan yakni Robert, James dan Darwin memasuki kamar tersebut.


"Karena aku tidak memiliki perasaan padamu." Jawab Leon dengan santai.


"Kau seharusnya bisa belajar dari kesalahan-kesalahan mu dan mencoba untuk berubah dan mengurus bayimu bukan malah ingin membawa seseorang ikut bersamamu. Menurutku kau tidak menyukaiku apalagi mencintaiku yang kau cintai selama ini hanyalah dirimu sendiri kau bahkan tidak memikirkan bagaimana dengan mereka yang selalu ada untukmu dan rela melakukan APAPUN untukmu." Leon menekankan kata apapun karena ia telah mengetahui apa yang di rencanakan oleh pamannya dan juga James padanya.


"Tidak !TIDAK!! KAU TIDAK BISA SEPERTI INI HAHAHAHA JIKA AKU TIDAK BISA MEMILIKI MU LEON MAKA KAU LEBIH BAIK MATI." ujar gadis itu yang mengeluarkan pisau dibalik selimutnya dan menyerang Leon dengan cepat pria itu menghindar lalu Masha tidak menduga jika tepat dibelakang Leon merupakan jendela dan terbuka lebar gadis itu membalikkan badannya. Leon mencoba menggapai tangan gadis itu tapi Masha justru malah menjauhinya dan terjatuh dari jendela kamarnya yang saat ini berada di lantai 3.


"Kau akan merasakan sakit yang kurasa." ujarnya saat menolak tangan Leon yang akan menggapainya.

__ADS_1


Orang-orang yang ada disana dan melihat kejadian itu menjadi histeris.


"Tidak!!" Teriak Darwin.


"MASHA!!." ujar Robert dan juga James.


Yang terlihat saat ini hanya tinggal angin yang meniup gorden gadis itu yang berwarna biru muda dengan Leon yang masih berdiam diri disana.


"Omong Kosong." Gumam Leon.


Setelah kejadian itu hubungan Leon dan Robert berubah menjadi buruk begitu pula dengan James. Darwin semenjak kejadian itu juga tidak berhubungan baik dengan ayahnya dan juga James.


Kembali ke Reno dan juga James saat ini dengan James yang tampak sedih mengingat kejadian tersebut.


"Biar ku beritahu padamu ya James, semua kejadian itu adalah rencana dari tuan, pisau yang ada di kamar waktu itu adalah pemberian dari mata-mata kami di sana." Jelas Reno


"KAU!!" ujarnya merasa emosi.


"Hmm dan ya satu lagi yang penting laki-laki pada malam itu adalah aku." Ujarnya lagi.


"KAU BRENG*EK Ungkapnya pada Reno.


"Kau bukanlah manusia kau bahkan tidak perduli dengan anak yang di kandung Masha yang merupakan darah dagingmu saat itu!!." Teriak James.


"Hmm aku belum selesai berbicara loh, maksudku laki-laki pada malam itu bukan hanya aku melainkan aku dan beberapa orang anak buah bos lainnya." Jelasnya yang membuat James benar-benar emosi mendengarnya.


'Masha maaf.' Batinnya.


"Baiklah waktu mengobrol kita sepertinya sudah habis jadi kita tutup saja sekarang ya kau bisa berbicara dengan adik manismu itu nanti di neraka saja." Ujar Reno dengan mengeluarkan pisau.


"Door!"


"Door!"


"Door" Peluru tepat bersarang di kepala pria itu dan setelah itu James tergeletak begitu saja dengan tidak bernyawa.


"Akhirnya selesai." Gumamnya lalu pergi begitu saja.


Saat ini Leon kembali ke kamar tempat Ranti di rawat tampak gadis itu terlelap dengan nyaman.


"Akhir-akhir ini terlalu banyak hal yang ia lalui dan itu pasti membuatnya lelah." Gumam Leon lalu memperbaiki selimut milik istri tercintanya itu.


"ehmm Leon, tadi kamu dari mana?" Tanya gadis itu.


"Kamu sudah bangun tadi?" Tanyanya.

__ADS_1


"Iya tadi aku bangun tapi tidak melihat mu jadi aku tidur lagi." Jawabnya dengan suara khas bangun tidur.


"Tadi aku ada keperluan jadi aku pergi sebentar." Jelasnya.


"Leon." Panggilnya.


"iya..." Jawabnya dengan lembut.


"Laparrr hehehe." Mintanya.


Leon tersenyum mengejek padanya.


"Tadi saja susah makan sekarang mau makan lagi apakah istriku ini tadi bermimpi tentang makanan." Ujarnya.


"Kan itu tadi aku sudah lapar lagi mau makan lagi." Rengeknya.


"Baiklah mau makan apa kali ini." Tanyanya.


"Hmm aku mau sate boleh ya tapi yang kacang." Pintanya dengan tersenyum.


"Baiklah pesananmu akan tiba sebentar lagi." Jawab Leon dengan lembut.


Ranti menganggukkan kepalanya dengan senang.


"Leon sayang aku mau di peluk." Pintanya lagi.


"Baiklah baiklah tapi harus hati-hati karena luka di bahumu itu." Peringkatnya dengan senyuman.


"Bentar jika kupikir pikir kenapa aku yang biasa-biasa aja bisa dapat suami yang super tanpa ada kekurangan sedikitpun atau mungkin aku pernah menyelamatkan bumi di kehidupan sebelumnya." Ujarnya.


"Jangan gila hmm tidak ada yang seperti itu." Laki-laki itu tersenyum lebar hingga memperlihatkan gigi gingsulnya.


"OMG ini namanya serangan ketampanan aku akan pingsan sekarang." Ranti tampak menggoda suaminya itu.


"Jangan begitu." Ujar Leon yang mulai merasa panas di wajahnya karena malu.


"Kupingmu merah kau salting kan ? hehehe." Ujarnya dengan senyum lebar.


"Ti-tidak mana mungkin." Dangkalnya dengan mencoba menghindari menatap gadis itu.


"Oh benarkah? " Tanyanya.


"Tentu mana mungkin aku begitu." Ujarnya.


"Oke jika begitu."

__ADS_1


"CUP." Ranti menarik baju laki-laki itu membuat Leon mendekatkan kepalanya dan Ranti mengecup hidung pria tersebut.


__ADS_2