
Aku akan meminta maaf seumur hidupku padamu,maaf aku tidak bisa membahagiakanmu dan membuatmu terluka Ranti, maaf aku mohon maafkan aku...' ucapnya yang hanya ia katakan dalam hati. Leon melangkahkan kakinya menjauh dari gadis itu dengan air mata yang ikut keluar dari matanya itu namun ia sedang berusaha tegar sekarang.
'Aku masih percaya sampai akhir padamu tapi kenapa begini aku sudah berusaha membencimu tapi kenapa masih sesakit ini kenapa? kenapa takdir mempermainkan aku seperti ini apa salahku? apa dosa yang telah kubuat?' Gadis itu terus mencari dimana kesalahan yang ia lakukan.
"hiks hiks a-aku ti-tidak bi-bisa mem-membencinya hiks aku tidak bi-bisa hiks." Gadis itu bergumam pelan di sela tangisnya.
Dia mulai memukul dadanya yang sangat sakit saat ini karena kesedihan yang ia rasakan.
...****************...
Saat ini Leon telah meninggalkan villa tersebut menuju suatu tempat yang juga berada disana.Sepanjang jalan pri tersebut hanya menatap kearah jendela tanpa ekspresi apapun.
Hingga akhirnya mobil tersebut tiba disebuah gedung yang lumayan besar itu. Disana juga terpakir banyak mobil mewah ya walaupun masih kalah dengan mobil yang Leon gunakan.
Leon masih tersesat dalam renungannya tanpa sadar jika saat ini ia telah tiba di tempat yang memang akan ia tuju itu.
"Tu-tuan ki-kita sudah sampai." Ujar supirnya saat menyadari sang tuan yang masih melamun itu.
Mendengar hal itu Leon dengan cepat keluar dari mobil tersebut dengan wajah tegasnya. Tidak ada ekspresi yang ia tunjukkan, hawa mencekam mengikuti setiap langkahnya. Perlahan dengan pasti ia tiba di sana dengan puluhan mata yang melihat kearahnya. Lalu dengan serentak mereka semua menundukkan kepalanya. Leon dengan gagah berjalan ke arah kursi yang lebih tepatnya singgasananya itu. Ia mendudukkan dirinya lalu menyandarkan kepalanya bertumpu pada tangan kanannya sedangkan kaki kanannya ia letakkan diatas kaki kirinya. Hal tersebut tentu menambah efek kesombongan dan keangkuhan dari pria itu.
Ketika melihat Leon yang telah duduk di kursi kekuasaannya mereka ikut duduk kembali.
Martin dan Alexia yang memang sudah berada di situ dari tadi. Martin yang telah paham betul dengan situasi tersebut segera memerintahkan agar orang-orang di sana segera membuka rapat mereka kali ini.
"King saya mempunyai sedikit laporan mengenai beberapa anggota yang telah beraninya berhianat pada anda." Ucap salah satu pria disana.
Tidak ada tanggapan dari Leon ia hanya menatap malas ke arah laki-laki tersebut.
__ADS_1
"Bahwa kelompok elang ternyata juga berkonspirasi untuk menurunkan anda,..." Ucapannya dengan percaya diri.
"Benarkah?" Tanya Leon yang yg terkesan meremehkan itu.
"Apa maksud anda tuan?" Pria itu segera bertanya pada Leon saat melihat pria itu yang seperti sangat meremehkannya.
"Kau sendiri sudah tau maksudku jangan pikir aku ini bodoh Jonathan..." Ucap Leon yang membuat pria bernama Jonathan itu terdiam seketika.
"A-apa maksud anda saya masih tidak mengerti." Tanya kembali pria tersebut.
"Martin...ambilkan barang itu!" Perintah leon kepada Martin.
Martin yang memang sudah mengetahui permintaan tuannya itu dengan cepat memberikan pistol kedap suara kepada Leon. Dengan cepat laki-laki itu mengarahkannya kearah pria yang bernama Jonathan itu.
"Aku tidak butuh kebohonganmu." Ucap Leon dengan nada rendahnya lalu menarik pelatuk itu perlahan.
"Kau pikir aku tidak tau bahwa kaulah dalang pada saat kejadian pasar malam itu." Ucap Leon dengan mata tajamnya yang membuat semua orang disana menatap bingung.
"Kejadian pasar malam apa?" Semua orang disana saling membicarakan hal tersebut kecuali Leon, Martin dan juga Alexia.
"A-aku ti-tidak tau apa-apa king" Ucapnya dengan menahan sakit di bahunya.
"Jangan berbohong jika kau masih menginginkan kepalamu setidaknya dalam keadaan utuh." Ancamnya.
"Citt" pistol kedap suara itu kembali membuat lobang di bahu kanannya.
"Cepat katakan jangan berbelit!" Perintah Leon.
__ADS_1
"Hahaha ternyata kau cukup pintar ya, aku tidak menyangka bahwa anak kecil seperti dirimu bisa mengetahui itu semua." Ucap lelaki itu dengan nada mengejeknya.
Orang-orang yang ada disana menatap kesal pada laki-laki itu namun ada juga yang menatap kasihan padanya.
"Tapi bagaimana kau bisa tau tentang itu? aku benar-benar penasaran." Lanjutnya.
"Kau sangat ingin mengetahuinya bukan? itu semua rahasia kau akan terus memikirkannya sampai mati." Ucap Leon yang kembali mengingat kejadian di pasar malam itu.
Pada saat ketika ia mendengar suara Ranti sudah jelas ia akan mengalah dan mengorbankan dirinya. Namun, sebelum ia akan meletakkan pistolnya satu hal yang ia tau pasti bahwa gadis itu bukan berada di arah sana namun masih berada di lemari yang ia suruh gadis itu untuk bersembunyi.
Dan bukan hanya hal itu ia juga tau pasti jika itu Ranti maka gadis itu bukan hanya berteriak pasti ia juga akan memanggil namanya dengan dangat keras atau mungkin mengumpatnya dengan umpatan kasarnya.
Jika pertanyaan bagaimana ia bisa mengetahui bahwa Jonathan lah pelakunya karena pemuda yang dibunuhnya itu memiliki tanda klan yang dipimpin oleh Jonathan. Awalnya pria itu berpikir jika ini hanyalah salah satu dari anggota pria tersebut yang mungkin berhianat. Namun lama kelamaan ia menyadari bahwa bagaimana mereka tau suara dari Ranti padahal pria tersebut telah menutupi identitas dari istrinya itu.
Namun akhirnya ia sadar saat mengingat bahwa Jonathan ikut ia perintahkan untuk menghadiri pernikahannya saat mengetahui bahwa Ranti adalah istrinya dan juga bagaimana suaranya.
"Kau tidak akan selalu ada diatas Leon suatu hari kau akan merasakan bagaimana tidak punya pilihan dan bagaimana rasanya menjadi seperti saat ini ,kau pikir kau dapat melindungi istri kecilmu itu dari para musuhmu, kau tidak akan pernah. Dan apa kau tau bahwa yang menjadi king sebelumnya pasti akan kehilangan seluruh keluarnya. Begitu juga kau yang akan kehilangan dia. Kau akan menyesal seumur hidupmu, kau akan..." Belum sempat pria tersebut menyelesaikan perkataannya namun dengan cepat peluru telah menembus tempurung kepalanya.
"Kau terlalu banyak bicara." Ucap pria tersebut.
Mereka yang berada di aula tersebut terkejut dengan apa saja yang terjadi.
"Apakah king benar-benar mencintai istrinya?" Bisik-bisik itu mulai bermunculan di sana.
"Jika kalian ingin berbicara maka berbicara yang keras jangan hanya berbisik." Tantang pria tersebut yang membuat mereka terdiam seketika.
"Martin bereskan mayat pria ini berikan saja untuk makan anjing-anjingku." Perintah Leon.
__ADS_1
"Baik tuan," Dengan cepat Martin memerintahkan beberapa bawahannya untuk melakukan apa yang diminta Leon tadi.