
"Ternyata seburuk itu ya" gumamnya dengan senyum kecut yang menghiasi wajahnya yang masih tertutup tersebut.
Leon berjalan kearah Ranti yang menatap lelaki tersebut di balik rambut panjangnya itu.
Leon berhenti tepat di depan Ranti yang masih terduduk diatas jalan tersebut.
"Ku rasa kau bisa pulang sendiri, pergilah ke rumahmu." Perintah pria tersebut yang masih menatap dingin kearah gadis itu.
...****************...
Ranti hanya diam tanpa menjawab sepatah katapun dari pria tersebut. Namun, ia mengangguk untuk mengiyakan ucapan Leon.
'Aneh' pikir pria tersebut saat memperhatikan gadis di depannya. Dimatanya yang tajam Leon tau betul jika gadis tersebut seperti menyimpan sesuatu. Instingnya di dunia mafia selama ini tidak mungkin membohonginya, dan pria itu yakin dengan hal itu.
Tapi pria tampan tersebut sama sekali tidak berniat untuk menyelidiki hal itu. Saat ini ia harus mencari gadis kecil yang telah lari dari genggamannya.
Setelah keheningan sekian lama akhirnya lelaki tersebut berjalan berbalik meninggalkan gadis yang masih terduduk di jalan itu.
"Pindahlah dari situ !, jika kau tidak ingin tertabrak" ucap Leon lalu kembali berjalan ke arah mobilnya.
Langkah kaki pria tersebut berhenti saat merasakan bahwa gadis tersebut tidak bergerak sama sekali dari tempatnya.
"Sialan huh..." Leon membuang nafas kasar lalu kembali berbalik kearah gadis tersebut.
"Kenapa kau masih tidak pergi? aku tau kau tidak gila jadi jangan berpura-pura tidak paham" Geramnya karena gadis ini benar-benar mengganggu waktunya.
Ranti yang mendengar hal tersebut sedikit terkejut. Bukannya ia tidak ingin pindah dari jalanan tersebut. Akan tetapi kakinya sangat sakit untuk di gerakkan.
'Bukankah singa ini bisa melihat kondisiku tadi, tapi sekarang ia malah bertanya hal bodoh' Gadis tersebut menghela nafas berat.
Leon mengerutkan keningnya saat mendengar suara helaan nafas yang di Keluarkan oleh gadis tersebut.
__ADS_1
'Sepertinya ia terluka lumayan parah, apa kakinya patah karena aku tadi menabraknya. Tapi itu tidak mungkin aku sangat yakin tadi itu hanya benturan ringan'. Pikir Leon.
Leon meraba saku celananya seperti mencari sesuatu. Hingga ia dapat menemukan sebuah sapu tangan polos berwarna merah darah yang selalu di bawanya.
"Pegang ujungnya aku akan membantumu !" Perintahnya kepada Ranti yang masih menutup wajahnya di balik rambut panjangnya itu.
Dengan pasti gadis itu memegang salah satu ujung sapu tangan itu dengan Leon yang memegang sisi lain dari sapu tangan itu.
Tangan gadis tersebut sedikit bergetar saat telah memegang erat sapu tangan tersebut. Ia sebenarnya sedikit merasa tersinggung dengan Leon yang bahkan tidak ingin bersentuhan dengannya.
'Mungkin dia akan tambah jijik jika tau ini aku, bahkan mengakui ku saja dia enggan' pikirnya yang kembali teringat pada saat kejadian di kantor.
"Aku tidak jijik padamu, hanya saja aku tidak suka di sentuh kecuali dengan istriku." ucap lelaki tersebut dengan datar.
Mendengar hal itu, Ranti yang awalnya bersedih sekarang bersemu merah. Andai saja sekarang bentuknya tidak kucel dan buruk rupa seperti ini. Pasti perempuan tersebut akan memeluk erat pria dingin itu.
Leon dengan pelan menarik sisi lain dari sapu tangan yang ia pegang. Otomatis hal tersebut juga membantu Ranti untuk berdiri.
Ranti menggigit kuat bibir bawahnya agar tidak ada suara jeritan yang keluar dari bibirnya. Hingga dengan usaha yang luar biasa gadis tersebut telah dapat berdiri dengan tangannya yang masih menggenggam ujung sapu tangan itu.
Sedangkan Leon sama sekali tidak ingin melihat kearah gadis itu. Matanya yang tajam hanya memandang ke depan.
Sedangkan Ranti ingin rasanya ia menjerit namun apalah daya. Jika ia melakukan hal tersebut, maka lelaki di sebelahnya itu pasti akan menangkapnya lagi.
Setelah berpikir beberapa saat tadi, Ranti telah memutuskan untuk tetap pergi dari laki-laki itu. Ia sama sekali tidak ingin berhubungan dengan Leon. Dalam hidup gadis itu, ia hanya ingin sesuatu yang normal tanpa terlibat hal sesulit ini.
Hingga akhirnya mereka telah tiba di pinggir jalan dan Leon segera menghentikan langkahnya.
"Kau tunggu disini, nanti akan ada anak buah ku yang akan membawamu berobat. Jika kau membutuhkan kompensasi, dia yang akan mengurusnya". Setelah mengatakan hal tersebut Leon melangkah menjauh dari gadis itu. Sedangkan Ranti hanya dapat menundukkan kepalanya masih menyembunyikan wajahnya.
Leon menatap langit yang sudah mulai gelap tersebut. Saat mata tajam itu melihat ke arah langit ada tatapan kesedihan di sana.
__ADS_1
'Hari sudah hampir malam dimana dia?'Pikirnya lalu dengan cepat melangkahkan kakinya menuju mobil mewah yang masih setia berada di tengah jalan tersebut. Untungnya, memang tidak ada orang yang melintasi jalan pada saat itu.
"Huh sial belum lagi aku harus membantu mencari anak ibu tadi" Gumam Leon.
Sedangkan Ranti sama sekali tidak ingin melihat pria tersebut pergi karena ia takut tidak akan mudah melepaskan pria yang telah berstatus suaminya itu. Ranti masih terus menunduk, berharap bahwa Leon cepat pergi meninggalkannya.
"BUGH!" Leon yang berjalan dengan cepat karena khawatir, menjadi ceroboh dengan menurunkan kewaspadaannya. Sehingga salah satu penjahat tersebut yang sedari tadi terbangun mengambil kesempatan untuk memukul tengkuk Leon dengan kuat.
Rasa sakit tentu di rasakan oleh Leon. Kupingnya berdengung kuat di ikuti dengan tubuhnya yang perlahan ambruk tersebut. Perlahan pandangannya semakin kabur dan tidak jelas.
"TIDAK....LEONN..!!" teriak Ranti saat terlambat menyadari serangan terhadap suaminya yang saat ini sudah tergeletak di atas jalan tersebut.
"Ranti..." ucapnya dengan sangat pelan karena lelaki tersebut merasa bahwa gadis kecil itu sedang memanggil namanya. Dan itulah kata terakhir yang ia ucapkan sebelum benar-benar menutup matanya.
Penjahat yang tadi memukul Leon hanya memandang licik kearah laki-laki yang saat ini sudah tidak sadarkan diri tersebut. Sedangkan Ranti, gadis itu dengan segala tenaganya menghampiri Leon yang sudah tidak sadarkan diri itu.
Setelah tiba di dekat pria yang telah tidak sadarkan diri itu Ranti langsung meletakkan kepala Leon tepat di pangkuannya. Gadis itu benar-benar merasa bersalah karena tidak memperhatikan Leon saat meninggalkan dirinya. Seharusnya ia tidak egois dan bertindak seperti itu.
"Le-leon sadar, Hiks Leon jangan begini hiks,hiks aku mohon. Katakan sesuatu Leon!" Tangisnya pecah, entah apa yang harus ia lakukan. Ranti benar-benar takut jika terjadi sesuatu pada lelaki itu.
"Ternyata kau kenal pria ini ya?" tanya penjahat tersebut yang saat ini sudah bersama teman-temannya walaupun babak belur.
"Akh..." Ranti merintih saat dua orang pria menarik tangannya secara paksa dan menyeretnya menjauh dari Leon.
"Lepas! lepaskan aku !! hiks aku mohon. Jangan jauhkan aku darinya hiks hiks." Ranti masih berusaha melawan walaupun itu tidak ada gunanya
"Tinggalkan saja dia di sana, kita bisa mengurusnya nanti. Yang harus kita urus pertama pria ini. Bagaimana jika kita melenyapkan lalu kita ambil seluruh barang berharganya" Ajak salah satu penjahat yang tadi memukul kepala Leon dari belakang. Tentunya empat orang temannya yang lain mengangguk bahagia.
"Tidak!! kalian tidak boleh melakukannya..." Ranti berlari tanpa memikirkan rasa sakit yang ada di seluruh tubuhnya.
"BUGH" Salah seorang penjahat itu mendorong tubuh Ranti hingga membuat gadis itu jatuh tersungkur ke bawah. Namun Ranti tidak menyerah, gadis tersebut malah justru memegang erat kaki salah seorang pria tersebut.
__ADS_1
"A-aku tidak akan membiarkan kalian melukai nya!!" Ucap gadis itu dengan pasti. Namun, karena perbedaan tenaga pria yang tadi kakinya di tahan dengan Ranti dengan cepat melepaskannya. Yakni dengan cara menendang tubuh gadis tersebut.
'Aku akan melakukan segala cara untuk menyelamatkanmu.' pikir gadis itu dengan menyeret tubuhnya yang sudah penuh luka tersebut.