Gadis Biasa Menikahi Mafia Tampan

Gadis Biasa Menikahi Mafia Tampan
kucing manisku


__ADS_3

Tangannya menyentuh pelan wajah gadis tersebut. Mulai alisnya, hidungnya, pipinya, dan akhirnya perhatiannya teralih terhadap bibir mungil dari gadis tersebut.


"Bagaimana rasanya" Gumamnya pelan dengan jarinya yang masih berada di atas bibir gadis tersebut.


Wajahnya perlahan mendekat ke arah gadis tersebut. Entah mengapa Leon sangat ingin merasakannya.


"Cup" Kecupan singkat ia berikan ke kening gadis itu. Untung saja saat ini dirinya masih memiliki sedikit kesadaran. Itulah yang dipikirkan Leon.


...****************...


Akhirnya setelah sekian lama mereka akhirnya sampai di rumah mewah Leon. Dua orang penjaga gerbang dengan cepat membukakan gerbang tinggi dan besar itu saat melihat mobil yang sangat mereka ketahui siapa pemiliknya.


Leon memasuki rumah mewah itu dengan mobil mahalnya sedangkan para penjaga gerbang itu membungkuk hormat saat mobil tersebut melewati mereka.


Leon melihat ke arah gadis kecil yang saat ini masih tertidur di dalam mobilnya itu. Ada rasa tidak enak jika harus membangunkannya. Namun, tidak mungkinkan Leon harus meninggalkan gadis itu disini semalaman. Mau bagaimanapun gadis kecil itu masih berstatus sebagai istrinya.


Akhirnya laki-laki tersebut keluar dari dalam mobilnya. Namun, bukannya langsung masuk ke dalam rumahnya. Pria tersebut justru membuka pintu di sisi lain mobilnya. Tepatnya pada sisi Ranti. Tangannya hendak melepas sabuk pengaman pada tubuh gadis tersebut. Niat hati Leon saat ini hanya ingin menggendong gadis itu kedalam agar ia juga dapat beristirahat.


Jarak mereka sangat dekat saat laki-laki tersebut sedang membuka sabuk pengaman yang masih mengunci tubuh gadis itu.


"Hmm kucing kecilku yang lucu." Gadis tersebut bergumam kecil dengan mata yang masih terpejam. Leon yang mendengar hal tersebut segera mengalihkan perhatian pada sosok gadis itu. Saat ini jarak antar wajah mereka sangat dekat. Bahkan hidung Leon dan Ranti sudah bersentuhan.


"Konyol," Gumam pria itu dengan mata tajamnya yang terus menatap ke arah gadis tersebut.


Laki-laki itu terus memperhatikan Ranti tapi segera ia tersadar dan ingin menjauh darinya. Namun, tangan gadis tersebut justru menarik tengkuk Leon dan memeluk kepala pria tersebut ke dadanya.


"Hmm ,kucing tersayang ku..." Gumamnya pelan yang dapat di dengar jelas oleh Leon.


'Jantungku berdebar dan wajahku panas. Apa-apaan ini.' Pikir Leon yang saat ini kepalanya sedang di elus lembut oleh Ranti.


Hingga mata gadis itu terbuka karena merasa sedikit tidak nyaman dalam tidurnya.

__ADS_1


'Kenapa rasanya ada beban di dadaku ?' Pikirnya dengan mata yang masih tertutup.


Namun perlahan matanya terbuka, pandangannya tertuju pada kepala seorang laki-laki dengan rambut hitam halusnya yang saat ini tepat berada di dadanya. Tentunya hal itu membuat Ranti kaget bukan main.


"Aaaaaa....!!" Teriaknya dengan suara nyaringnya.


Mendengar hal tersebut membuat telinga Leon seakan-akan tuli. Menurut pria tersebut bagaimana bisa gadis kecil itu memiliki suara yang bahkan lebih besar dari pada ukuran tubuhnya.


"Diamlah!" Ucap Leon yang kepalanya masih berada di dekapan Ranti.


"Eh kenapa kau bisa ada disini? apa kau mencoba melecehkan ku ?" Tanya gadis itu dengan bingung.


"Kau lihat dulu kenyataan, lihat siapa yang melecehkan siapa ?" tanya balik pria tersebut.


"Apa maksudmu sudah jelas kan !" Ranti benar-benar kesal dengan pria yang telah menjadi suaminya selama sepuluh bulan lebih itu.


"Lihat di mana tanganmu berada sekarang " Ungkap Leon dengan nada mengejeknya.


Dengan cepat gadis tersebut melepaskan tangannya yang melingkar di tengkuk pria itu.


Leon dengan segera menjauhkan dirinya dari Ranti. Laki-laki tersebut berdiri di luar mobil tersebut. Sedangkan Ranti, memalingkan wajahnya ke arah berlawanan dari keberadaan Leon.


"Kenapa sekarang diam hmm?" Tanya pria tersebut tentu masih dengan nada mengejeknya.


"Apakah kau sedang malu atau bagaimana?" tanyanya lagi saat merasa tidak ada respon sedikitpun dari gadis yang enggan menatap wajahnya itu.


"Ya sudah kau tinggal saja disini aku mau tidur." Ucap Leon dengan langkah yang menjauh dari mobil tersebut berada.


Ranti yang telah merasakan bahwa Leon telah pergi menjauh darinya segera keluar dari dalam mobil itu. Walaupun saat ini wajahnya masih sangat merah karena malu dengan sikapnya tadi.


'bodoh, bodoh,! sudah salah malah ngeyel lagi hadehhhh' Gadis tersebut hanya dapat menghela nafas panjang saat memikirkan hal tersebut.

__ADS_1


Dengan langkah kaki yang diseret sekuat tenaga Ranti berjalan memasuki rumah besar tersebut.


'Kenapa sakit sekali sih kalau berjalan' keluhnya.


Hingga akhirnya mata gadis itu membola saat menyadari bahwa masih ada tangga besar nan panjang yang harus ia lalui.


"Aku bisa mati muda jika mencoba menaikinya." Gumamnya dan langsung melihat sekelilingnya. dilantai bawah hanya ada ruang tamu dan sofa dan tentunya dapur. Akan tetapi Ranti sangat ingin membersihkan tubuhnya karena ia benar-benar merasa gerah. Belum lagi ia sudah seperti gembel saat ini.


"Kenapa masih di sini?" Suara bariton dari seorang laki-laki di belakang Ranti membuat gadis tersebut segera menoleh ke arah Leon.


"Tidak ada" Jawab Ranti yang masih enggan untuk menatap ke arah Leon yang saat ini tengah berjalan menuruni anak tangga.


Laki-laki tersebut hanya diam dan terus mendekat kearah gadis tersebut. Ranti sungguh merasa malu jika harus bertemu oleh laki-laki ini.


"Aaa...tu-turunkan aku!" Ucap gadis itu saat Leon tiba-tiba saja menggendongnya. Dan yang lebih parahnya lagi laki-laki tersebut bukan menggendongnya ala putri di kisah dongeng. Tapi justru menggendongnya seperti membawa sebuah karung.


'Laki-laki ini memang berhati batu sialan... kenapa aku justru mencintainya.' Pikir Ranti dengan tangannya yang masih memukul punggung pria tersebut.


"Diam atau ku lempar kau dari tangga ini." Ancam Leon yang membuat Ranti otomatis menghentikan pukulannya. Bahkan saat ini gadis itu juga tidak bergerak. Karena satu yang Ranti ketahui dengan benar bahwa Leon tidak pernah mengatakan hal yang tidak akan dilakukannya. Jika pria ini mengatakan A maka, ia juga akan melakukan A sesuai dengan apa yang ia katakan.


Jujur saja ia juga mengetahui pada saat laki-laki ini mengatakan bahwa mereka akan bercerai sesuai dengan waktu yang telah disepakati maka itu akan benar-benar terjadi. Namun apalah daya, cintanya terus saja membuatnya percaya bahwa mungkin saja suatu hari nanti pria tersebut akan mengingkari perkataannya itu.


Sesampainya di kamar pria tersebut lalu meletakkan gadis itu diatas ranjang mereka. Ranti yang tadi tampak aktif sekarang malah hanya diam seperti patung.Gadis tersebut terus terhanyut dalam pikirannya mengenai pernikahan kontraknya ini.


"Dokter akan tiba dalam waktu 10 menit jadi kau tunggu dan berbaringlah sampai dia datang." Ucap pria tersebut yang membuyarkan lamunan Ranti. Entah apa yang tadi di pikirkan gadis itu. Tapi sekarang ia justru menatap kearah leon dengan mata sendunya.


"Terimakasih," ucapnya tulus dengan senyum cerahnya.


"Hmm"


"Kuharap setelah kita bercerai aku akan bertemu laki-laki yang perhatian seperti mu." kalimat tersebut keluar begitu saja dari mulut Ranti.

__ADS_1


"Apa maksudmu !" Leon menatap tajam kearah Ranti.


__ADS_2