Gadis Biasa Menikahi Mafia Tampan

Gadis Biasa Menikahi Mafia Tampan
Tinggal Seminggu


__ADS_3

Banyak hal yang membuat kami semakin terluka di akhir perpisahan kami. Hingga aku melihatnya hampir melompat ke dalam laut dan itu membuatku sangat takut. Semenjak itu aku membenci laut dan juga angin laut apalagi pada saat melihat gadis itu di ujung dermaga. Aku sungguh-sungguh sangat takut melihatnya seakan-akan aku benar-benar merasa trauma dengan kejadian itu. Oleh karena itu aku menariknya dari dermaga itu dan kami berakhir dengan pertengkaran dimana aku harus menyakitinya lagi.


Aku bisa berpisah dengannya namun aku tidak bisa jika melihatnya dalam bahagia. Jika aku bisa aku akan menghapus semua kenangan indah darinya agar dia tidak terluka cukup aku saja yang terluka karena cinta ini. Suatu saat jika aku rindu maka akan kutahan tanpa rasa takut asal gadis itu bahagia. Aku akan melakukan segalanya untuknya meski itu hal tersusah bagiku. Aku cukup menjadi bayang-bayang dan akan terus menjaganya.


'Aku tidak bisa memberikan dunia kepadamu. Namun, aku dapat memberikan seluruh duniaku untukmu my love Ranti'


POV END


...****************...


Saat ini mereka telah tiba disebuah vila dimana disana telah terdapat banyak orang. Ranti sangat penasaran dengan apa yang terjadi namun ia masih sangat tidak ingin berbicara dengan pria itu.


"Akan ada acara jamuan bisnis disini, maka kita ada disini." Ucap pria tersebut seakan-akan paham dengan pertanyaan yang ada di kepala gadis itu.


'Ternyata dia datang kesini bukan karena ingin menghiburku tapi untuk acar bisnis, bodohnya aku mana mungkin pria ini melakukan hal itu.' Pikir Ranti yang benar-benar merasa muak dengan laki-laki yang masih berstatus suaminya itu.


"Jadi dimana kamar untukku aku lelah mau istirahat." Ucap gadis itu tanpa mau melirik kearah pria tersebut.


"Roni antar istriku ke kamar!" Perintah Leon dengan salah satu anak buahnya memang ikut menyambutnya disana.


Pria yang bernama Roni itu segera mendatangi Ranti dan menunjukkan dimana kamar yang dimaksud oleh pria tersebut.


"Lewat sini nyonya." Ajaknya dengan sopan sedangkan Ranti mengikuti pria tersebut sesuai dengan arahan.


Sepanjang jalan Ranti memperhatikan berbagai macam furniture yang ada di rumah tersebut. Semua tampak mewah dan juga elegan bahkan desain dari villa ini mirip desain kerajaan Eropa.

__ADS_1


Akhirnya Ranti tiba di kamar yang memang disediakan untuknya. Sebenarnya kamar itu adalah kamar pribadi dari Leon apabila datang ke villa tersebut. Andai saja Ranti tau bahwa hanya dia satu-satunya wanita yang masuk ke dalam kamar mewah itu. Ranti membulatkan matanya kagum saat melihat kamar tersebut yang langsung memandang kearah pantai. Di kamar itu semua pemandangan terlihat sangat-sangat indah. Ranti berjalan kearah balkon dan merasakan udara segar yang sangat jarang ditemukan dikota dan udara ini hanya bisa ia hirup dikampungnya.


"Wahh segarnya rasanya seperti aku bebas dan bisa terbang." Ucapnya dengan merentangkan kedua tangannya.


Gadis itu lalu berlalu duduk di sebuah kursi yang telah disiapkan di balkon tersebut.


"Jika aku bisa memilih maka aku ingin tetap disini merasakan udara segar yang ada disini. Tidak bisakah waktu berhenti sejenak agar aku bisa terus disini." Ucapnya begitu saja.


"KREK" suara pintu kamar terbuka dengan cepat Ranti melihat kearah sumber suara. Tampak disana Leon tengah berjalan kearahnya dengan tangan yang ia selipkan di dalam kantongnya itu.


"Apakah suka?" Tanya pria itu.


"Hmm" Ranti hanya menjawab itu dan tanpa melihat kearah pria tersebut.


"Huhhh jika seorang bertanya itu lebih baik melihat orang nya" Ucap Leon.


" Baiklah terserah kau saja, aku hanya ingin memberi tau waktu kita hanya tinggal seminggu lagi. Jadi ada satu hal yang ingin ku pinta padamu." Ucap pria tersebut yang membuat Ranti merasakan sakit dihatinya.


"Katakan..." Ucap gadis itu dengan suara bergetar menahan Isak.


"Tetaplah di tempat ini sampai hari itu tiba, aku akan mengirimkan surat cerai pada minggu depan." Ucap pria tersebut dengan terus mengepalkan kedua telapak tangannya.


Tidak ada jawaban dari gadis itu selain keheningan yang melanda.


"Jadi bagaimana apa kau setuju?" Tanya Leon karena tidak mendengar jawaban dari gadis itu.

__ADS_1


Ranti akhirnya menatap Leon dengan mata yang menunjukkan kesedihan yang mendalam.


"Apakah tadi kau bertanya padaku! kau itu hanya memerintah kau tidak pernah bertanya!! Aku bahkan tidak bisa mempunyai pendapatku sendiri!! dari awal kita menikah itu semua ulahmu dan sekarang juga atas perintahku terus aku harus apa ha! jika aku bilang tidak mau kau juga akan memaksaku jadi apa gunanya pendapatku jika itu sama sekali tidak mendengarkan ku!!" Ranti benar-benar melupakan emosinya yang memang sedari tadi ia tahan.


Leon terdiam melihat ekspresi dari gadis itu. Memang biasanya mereka sering bertengkar namun dia tidak pernah melihat gadis ini sesedih itu.


"Aku hanya.."


"HANYA APA HA? AKU TIDAK BUTUH ALASANMU YANG AKU BUTUHKAN HANYA KAU JANGAN MUNCUL DALAM KEHIDUPAN KU ATAU KAU BISA MENGGUNAKAN UANGMU UNTUK MENGHAPUS SEMUA INGATAN TENTANG MU ITU! AKU MUAK BENAR-BENAR MUAK DIPERMAINKAN SEPERTI INI!! HIKS.." Emosi gadis itu benar benar meluap kali ini bahkan rasanya ingin sekali ia menghilang dari dunia ini.


"HIKSS HU, HU, HU HIKS AKGH...HIKS " Gadis itu terduduk dilantai dengan tangis yang sangat menyayat hati.


Leon yang melihat hal itu tanpa sadar air matanya ikut jatuh namun dengan cepat ia hapus sebelum gadis itu melihatnya.


"Kau memang sudah tau sifatku kan jika begitu bencilah aku!" Ucap pria itu meski duri menusuk hatinya.


"HIKS, HIKS HU HU HU HIKS" Gadis itu tidak menjawab namun perkataan Leon semakin menusuk hatinya.


Tidak menunggu waktu lama Leon segera pergi melangkahkan kaki meninggalkan Ranti yang masih terduduk diatas dinginnya lantai tersebut.


'Aku akan meminta maaf seumur hidupku padamu,maaf aku tidak bisa membahagiakanmu dan membuatmu terluka Ranti, maaf aku mohon maafkan aku...' ucapnya yang hanya ia katakan dalam hati. Leon melangkahkan kakinya menjauh dari gadis itu dengan air mata yang ikut keluar dari matanya itu namun ia sedang berusaha tegar sekarang.


'Aku masih percaya sampai akhir padamu tapi kenapa begini aku sudah berusaha membencimu tapi kenapa masih sesakit ini kenapa? kenapa takdir mempermainkan aku seperti ini apa salahku? apa dosa yang telah kubuat?' Gadis itu terus mencari dimana kesalahan yang ia lakukan.


"hiks hiks a-aku ti-tidak bi-bisa mem-membencinya hiks aku tidak bi-bisa hiks." Gadis itu bergumam pelan di sela tangisnya.

__ADS_1


Dia mulai memukul dadanya yang sangat sakit saat ini karena kesedihan yang ia rasakan.


__ADS_2