Gadis Biasa Menikahi Mafia Tampan

Gadis Biasa Menikahi Mafia Tampan
Bungan Daisy


__ADS_3

Taklama ia membuka laci yang terletak di samping tempat tidurnya. Diambilnya satu bungkus rokok yang terletak disana. Pada dasarnya Leon sering menghabiskan waktu luangnya untuk mengisap rokoknya tapi ia tidak pernah melakukan hal tersebut semenjak kedatangan Ranti dalam hidupnya. Karena dari penyelidikan yang ia lakukan pada gadis itu bahwa Ranti memiliki penyakit gangguan pernafasan dan tentu asap rokok sangat berbahaya bagi gadis itu.


Laki-laki membakar ujung rokoknya lalu menghisapnya perlahan. Dari jendela kamarnya ia masih dapat melihat suasana sunyi di pulau tersebut. Tak lama kunang-kunang mulai menghiasi pohon-pohon yang berada disana sehingga seakan-akan Leon melihat banyak bintang di atas pohon pohon yang mengelilingi tempatnya berada kali ini.


"Dia akan bahagia jika bisa melihat ini." Gumamnya.


...****************...


"Nyonya kita sudah tiba." Martin berbicara pelan hendak membangunkan Ranti yang tanpa disengaja tertidur.


"Hmm kita sudah sampai?" Tanyanya yang masih setengah sadar itu.


"Iya nyonya ini tempat yang saya bilang." Ujar laki-laki itu.


Ranti melihat kearah bangunan yang terlihat sederhana dengan bunga-bunga yang mengelilingi tempat tersebut. Jika dibandingkan dengan villa yang ia tempati kemarin rumah ini jauh dikatakan sederhana.


"Benarkah kita akan menginap disini Martin?" Tanya gadis itu mencoba memastikan.


"Tentu saja untuk apa saya berbohong pada anda."


"Tempatnya indah." Pujinya.


"Tapi ini rumah siapa Martin, nanti rumah orang kita bisa-bisa di usir atau mungkin dituduh maling."


"hahaha tidak mungkin nyonya ini hanya rumah yang dibuat seseorang untuk tinggal bersama orang yang dicintainya di masa depan."


"Hmm tapi kenapa mereka tidak tinggal disini sekarang."


"Itu karena mereka sangat sulit untuk bersama. Padahal sang pria begitu mencintai wanita itu tapi dia tidak ingin melukainya."


"Sangat sulit memang, kuharap mereka dapat bersama dan mengunjungi rumah ini sayang jika melihat bunga daisy yang tidak terawat nanti."


"Ia nyonya memang disayangkan."


"Kau tau Martin aku sangat menyukai bunga daisy, sangat suka."


'Saya tau nyonya tuan beribu kali mengatakannya tanpa sadar.'


"Eh iya nyonya bunga itu cantik pasti anda menyukainya."

__ADS_1


"Hahaha tidak juga jika karena cantik dulu aku menyukai mawar biru bukan Daisy."


"Maksud anda?" Martin menaikkan satu alisnya heran dengan jawaban wanita itu.


"Aku dulu menyukai bunga mawar biru karena kecantikannya,tapi semenjak mengenal Leon aku jadi menyukai bunga daisy."


"Ha!"


"Anda menyukai Daisy hanya gara-gara tuan nyonya astaga..." Martin sedikit terkejut dengan keterangan dari gadis itu.


"Iya pada saat aku di rumah sakit dulu karena kau yang menembakku itu, pernah sekali dia membawakan ku bunga dan itu adalah bunga Daisy."


.


"Tapi nyonya.."


"Tunggu sebentar aku tau apa yang akan kau bicarakan, aku tau dia mungkin memberikan bunga itu dengan asal tapi aku merasa itu suatu yang bagus. Dan apa kau tau arti bunga itu adalah kesetiaan, kemurnian, kerendahan hati dan juga arti dari bunga itu adalah matahari. Saat itu aku selalu menyukai bunga itu karena ingin menjadi matahari baginya." Jelas gadis itu.


"Tuan benar-benar beruntung bisa mendapatkan cinta anda nyonya, andaikan saat itu saya menculik anda untuk dijadikan istri saya maka saya yang akan beruntung." Guraunya yang membuat Ranti langsung mencubit pelan pria tersebut.


"Kau ada-ada saja hahaha."


"Sudahlah nyonya mari kita masuk kedalam sepertinya akan turun hujan lagi."


"Iya."


Mereka lalu bergegas keluar dari mobil menuju ke rumah tersebut. Martin pun menunjukkan kamar untuk Ranti istirahat.


"Ini kamar anda nona."


"Baik terimakasih."


Ranti segera membuka pintu kamar itu lalu melihat kedalam sana.


Matanya membulat terkejut saat melihat apa yang ada didalamnya dan bagaimana desain dari tempat itu.


"Bagaimana mungkin ini..."


Bagaimana bisa semua yang ada dikamar tersebut merupakan apa yang ia inginkan selama ini persis dengan apa yang ia bayangkan.

__ADS_1


"Mungkin hanya kebetulan." Pikirnya lalu membaringkan tubuhnya diatas kasur tersebut.


Ingatannya kembali pada saat ia masih berada bersama pria itu.


Saat itu juga musim hujan jadi Ranti hanya bisa berdiam diri saja di kamar dengan ekspresi yang benar-benar kesal.


"Kenapa dengan raut wajahmu?" Tanya pria itu yang melihat ekspresi Ranti yang benar-benar kesal itu.


"Aku bosan, sangat-sangat bosan sampai mau gila rasanya apalagi kamarmu ini benar-benar tidak ada sesuatu yang menarik."


"Benarkah jadi apa yang menarik untukmu?"


"Hmm seharusnya chat kamar ini warna putih dengan sedikit nuansa merah muda jika tidak biru laut. Lalu di sana ada rak buku yang isinya novel dan juga komik. Dan di sebelah sana. ada rak yang isinya jajanan. Lalu ada tv besar disana dan jika ada PlayStation itu bagus juga. oh dan atap diatas ini kita beri lukisan langit jadi pada saat kita tidur kita akan melihat gambar bintang-bintang. Dan juga ada jendela di dekat tempat tidur ini dengan lonceng angin yang diikatkan. Itu adalah kamar yang luar biasa..."


"Kekanakan" Jawab Leon.


"Ihh Kau itu yang tidak tau seni."


"Benarkah ?"


"Ya benar, begitu adanya."


Leon menaikkan satu alisnya lalu meletakkan laptopnya dan menatap Ranti.


"Hmm jadi sekarang kau yang pintar ya dan aku bodoh."


"T-tidak aku yang bodoh tadi itu hanya bercanda." Jawabnya sedikit gugup.


"Tapi hukuman masih harus berjalan."


"Tidak..." Ranti sedikit terpekik saat mengetahui apa hukuman untuknya.


Kembali di masa sekarang gadis itu yang awalnya tersenyum tiba-tiba saja meneteskan air mata.


Ia meringkukkan badannya menangis tersedu-sedu diatas kasur itu.


Tapi tanpa gadis itu ketauhi bahwa ada sosok pria yang saat ini bersandar di pintu kamarnya dengan tatapan kesedihan.


"Boss..." Martin merasa kasihan pada bosnya itu.

__ADS_1


Sebenarnya yang memiliki ide untuk membawa gadis itu ke sini adalah leon melalui pesan singkat yang ia berikan kepada Martin.


__ADS_2