
"Akh" Ranti kembali meringis saat kakinya harus menjadi sasaran tembak bagi Dion. Tentunya hal itu membuat dirinya jatuh terduduk.
"Ran-Ranti...hiks" Ujar Leon yang sudah tidak sanggup melihat kearah gadis itu.
Tapi Ranti dengan sekuat tenaga menyeret tubuhnya hingga darah yang mengalir di kakinya mengotori lantai yang ia lewati.
Gadis itu menyentuh dan mengelus rambut hitam milik pria tersebut dengan tangannya yang berlumuran darah.
Leon yang merasa ada yang mengelus rambutnya segera menatap kearah sumbernya. Dapat ia lihat jelas wajah pucat gadis itu yang terus tersenyum padanya. Mata hitam milik gadis itu yang menatap cinta padanya.
...****************...
Ruangan itu tampak kacau dengan darah yang banyak dan juga suasana yang mencekam.
"Tenang saja aku akan tetap membiarkan kalian bersama tapi di akhirat hahaha."
"Yang kau mau hanya nyawaku jadi lepaskan dia." Pinta Leon.
"Oh begitukah?"
"Tapi maaf Leon aku ingin nyawa kalian berdua atau lebih bagus jika aku hanya membunuh dia saja." Ujarnya lalu menarik tangan Ranti dengan kasar.
"Akh lepaskan!!"
"Lepaskan dia ba*Ingan!!" Teriak Leon.
"Aku suka melihatmu yang putus asa ini." Ujarnya yang tampak bahagia.
"Lepaskan aku !! hiks Leon!!" Ranti mencoba berontak saat pria itu membawanya untuk pergi dari Leon.
"Menurutlah."
"Akhh" Jerit pria itu saat Ranti yang tanpa di duga justru mengigit kuat lengannya.
"PLAK" Suasana mendadak hening saat tamparan itu mengenai pipi putih milik gadis itu. Bahkan dapat dilihat darah yang mengalir dari sudut bibir milik gadis itu.
"KAU!! AKU BERSUMPAH AKAN MENGULITI MU!!" Ujar Leon lalu dengan sekuat tenaga ia mencoba bangun dan hasilnya pria itu berhasil berdiri. Saat ini amarahnya bahkan lebih dalam dari pada rasa sakit yang ia rasakan.
"Leon..." Gumam Ranti pelan. Saat ini gadis itu masih berada dalam keadaan yang sangat bahaya. Bagaimana tidak jika saat ini lagi-lagi pistol harus menempel di kepalanya.
"Ugh." Rintihnya saat merasakan perutnya yang benar-benar sangat sakit itu.
"Ranti ?" Leon yang melihat itu benar-benar khawatir dengan keadaan istrinya itu.
__ADS_1
'Perutku? asataga!! anakku... bagaimana anakku !!'Pikirnya.
"Leon..." Panggilnya karena kali ini gadis itu benar-benar takut. Bukan takut jika dirinya terluka tapi lebih takut jika anak yang ada dalam kandungannya yang terluka.
"Hahaha kau ternyata masih bisa bertahan, padahal aku sudah mematahkan kakimu tadi. Kenapa aku tidak mematahkan lehermu saja ya, itu pasti akan menarik."Ujarnya saat melihat Leon yang sudah berdiri di hadapannya dengan luka di sekujur badannya.
"Kau tau Dion, kau akan menyesal dengan apa yang kau lakukan disini." Ujar Leon dengan penuh percaya diri.
"Oh ya ? tapi kurasa itu tidak mungkin." Jawabnya dengan santai.
"DOOR" Suara tembakan dari belakang Dion. Tapi setelah suara itu Dion justru terdiam dan tiba-tiba
"BRUAK" pria itu terjatuh ke lantai membuat Ranti diam seketika.
"Leonnn hiks." Ujarnya yang hampir saja terjatuh kelantai tapi syukurlah Leon dapat menangkap gadis itu.
"Tenanglah...aku disini." Jawab pria itu dengan terus memeluk tubuh kecil itu.
"Untung saja aku tidak terlambat uhh" Ujar sosok pria dengan wajah datarnya namun tidak sedatar Leon.
"Terimakasih Darwin." Ujar pria itu. Yup pria itu adalah Darwin yakni sepupunya.
"Aku juga senang karena sudah menghabisi pria yang menyebabkan hancurnya keluarga ku."
"Ugh" Rintih Ranti saat kembali merasakan sakit di perutnya.
"Ada apa? kenapa? dimana yang sakit? kita harus ke rumah sakit sekarang!! " Ujarnya dengan panik.
"Leon... tolong anak kita ...ugh." Ujar Ranti yang terus saja menyentuh perut yang masih datar itu.
"Baik mari kita tolong anak kita ..." Pria itu terdiam sejenak mencoba mencerna apa yang baru saja ia katakan.
"Anak kita?" Tanyanya memastikan.
"IYA LEON ANAK KITA!! UGHH!!" Teriak Ranti dengan kesal.
"Akh sialan !! bagaimana ini? rumah sakit jauh! dokter? ya dokter aku harus memanggil dokter!! tapi hp, dimana hp ku ?sialan !! a-aku maksudku kita akan ke rumah sakit saja!! kunci mobil dimana?" pria itu tampak berbeda 180 derajat. Leon yang dingin dan jenius hilang begitu saja membuat Darwin benar-benar terkejut.
"UGH LEON BISAKAH KAU TENANG!!" Ujar Ranti yang sudah sakit ditambah pula dengan suaminya yang terlihat seperti orang bodoh.
"Ha...a-aku tidak bisa."
"Baiklah-baiklah Leon sekarang mari bawa Ranti kebawah kita akan menggunakan mobilku dan membawanya ke rumah sakit terdekat." Usul Darwin.
__ADS_1
"Baiklah aku saja yang membawanya, kau tolong aku untuk membantu membawa mereka ke rumah sakit juga." pinta Leon sebelum melangkah keluar dengan menggendong Ranti yang sudah pucat pasi itu.
"Baiklah."
Saat ini Leon sudah berada didalam mobil bersama Ranti. Di dalam mobil Ranti hanya bisa diam mendengar bagaimana Leon yang menangis karena takut.
"Hiks sayang kau jangan tidur ya, sayang....aku mohon jangan tidur ya hiks...aku takut Ranti.....hiks." Dia benar-benar merasakan takut yang mendalam. Seumur hidup baru kali ini ia merasakan bagaimana rasa takut yang sesungguhnya.
Kali ini pria itu mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh. Hingga akhirnya ia tiba di rumah sakit itu, orang-orang melihat Leon dengan aneh karena kondisinya pria itu yang tampak babak belur belum lagi dengan jalannya yang pincang tapi ia terus berusaha untuk menggendong Ranti yang sudah tidak sadarkan diri.
"Dokter!"
"Dokter!"
"Dokter!"
Panggilnya membuat keramaian hingga banyak orang yang menghampirinya terutama seorang perawat. Dengan sigap perawat tersebut membawa Ranti ke sebuah ruangan yang bertuliskan UGD.
"Maaf anda tidak bisa masuk pak!"Larang seorang perawat saat melihat Leon yang ingin memasuki ruangan tersebut.
"Minggir!"
"Minggir!"
"KAU TULI YA AKU BILANG MINGGIR!!" ujar Leon dengan penuh emosi.
"Maaf pak jika anda masuk maka anda bisa saja mengganggu. Dan itu bisa berbahaya bagi pasien."
"Akhh" Leon berteriak frustasi. Ia sama sekali bingung harus melakukan apa. Hingga akhirnya pandangan pria itu kabur dan tubuhnya rasanya sangat sakit.
"Brak" Pria itu terjatuh begitu saja membuat perawat dan orang-orang yang ada disana terkejut.
Samar-samar Leon merasa bahwa ada orang yang membawanya dari kerumunan lalu setelah itu ia sudah benar-benar kehilangan kesadarannya.
"Ranti...."Gumamnya.
Sedangkan di dalam ruangan Ranti tampak para dokter tengah sibuk menyelamatkan gadis itu.
"Kita membutuhkan donor darah untuk pasien sesegera mungkin, dia terlalu banyak kehilangan darah."
"Baik dok,.."
Di tempat lain tampak dokter juga menangani Martin, Amelie dan juga Leon yang keadaannya juga tidak baik sama seperti Ranti.
__ADS_1
"Andai saja aku bisa datang sedikit lebih cepat." Gumam Darwin yang merasa sangat bersalah itu.