
"Paman..!"
"Paman!" James mencoba mencari Robert saat melihat Leon yang telah tiba disana.
"Ada apa ?" Robert segera bertanya pada James yang tampak panik tersebut.
"Itu...Leon sudah datang paman." Jawabnya dengan cepat.
"Dia datang ternyata," Robert dengan santai melanjutnya membaca Koran yang berada di tangannya.
"Paman..." James benar-benar kesal melihat respon dari Robert.
...****************...
Saat ini ruang tamu Robert sudah seperti Medan perang. Bagaimana tidak Leon terus menatap pria tersebut dengan tatapan tajam.
"Dimana dia?." Tanyanya
"Siapa yang kau cari ?" Tanya Robert.
"Istriku." Pria tersebut benar-benar diujung kesabarannya. Jika tidak mengingat bahwa pria yang didepannya ini merupakan pamannya sudah lama ia akan menghabisinya.
"Istrimu? bukankah kau akan bercerai dengannya, ayolah Leon ini sudah setahun dan kau sendiri yang mengatakan akan menceraikannya setelah setahun."Robert tampak memandang remeh kearah Leon.
"Itu bukan urusanmu."
__ADS_1
"Tapi kan, kau yang mengatakannya sendiri, aku hanya membantumu untuk menyingkirkannya."
"Kau yang akan ku singkirkan Robert jika masih banyak bicara, ini urusan rumah tangga ku, aku yang memiliki hal atas itu dan kau tidak berhak." Leon masih mencoba untuk tenang.
"Hahaha tapi sekarang aku yang punya kendali keponakanku, kau lupa saat ini kau berada dimana." Tawanya dengan senyum mengejek kearah Leon.
"Aku tidak lupa, tapi kau bukanlah ancaman untukku." Leon tersenyum kecil pada pria didepannya itu. Bagaimana pun secara kekuatan dia jauh lebih unggul Robert tidak mungkin bisa menyentuh nya walau hanya sehelai rambut.
"Tapi bagaimana dengan istrimu." Ucapnya dengan pelan yang dapat didengar dengan jelas oleh Leon.
"Kauu!!" Geram Leon.
"Lihatlah kau langsung marah padahal kan kau belum tau apa yang sudah kuperbuat pada gadis itu." Ujarnya.
Leon menatap pria itu dengan tajam lalu menarik kuat kerah laki-laki itu membuat semua orang yang ada di ruangan itu mengeluarkan senjatanya bersiap untuk menyerang satu sama lain.
"Le-leon kau tenanglah sedikit." James mencoba untuk menenangkan pria itu. Tapi tatapan Leon membuatnya benar-benar ketakutan.
"Kau tidak berhak memerintahkan ku."
"Martin!! dimana istriku?" Leon menghempaskan Robert dari cengkramannya.
"Kami tidak bisa menemukannya tuan." Martin merasa tuannya ini akan benar-benar mengamuk. Tapi kemana nyonyanya itu jelas-jelas tadi mata-matanya berkata bahwa gadis itu ada di kamar tamu tapi kemana dia sekarang.
"Kau!! kutanya dimana istriku?."
__ADS_1
"Le-leon tenanglah." James masih berusaha untuk menenangkan pria itu.
"Kau tidak akan bisa menemukannya." Robert kembali tersenyum mengejek padanya.
"BUGH."
"BUGH."
"BUGH."
Leon dengan membabi buta memukul pria paruh baya itu hingga tergeletak di lantai. Sedangkan pengawal Robert sudah lebih dulu diamankan oleh Martin dan anak buahnya.
"Jangan main-main Robert, sebenarnya apa yang kau pikirkan, kau apa yang kau rencanakan." Leon benar-benar tidak habis pikir dengan pamannya itu.
"Hahaha sekarang kau merasakan bukan bagaimana rasa sakitnya?."
"Apa maksudmu?" Leon sedikit merasa bingung mau bagaimanapun pamannya itu bukanlah orang yang jahat. Jadi bagaimana bisa dia melakukan ini padanya.
"Ini karma untukmu Leon, bagaimana dulu karenamu putriku pergi meninggalkanku, semua itu salah mu." Ujarnya pada Leon.
"Itu tidak ada hubungan denganku, dia pergi karena kesalahannya."
"Hahaha kau memang pembawa masalah Leon, kau yang menyebabkannya dan sekarang kau bilang kau tidak bersalah."
"Dia mati karena kesalahannya bukan karenaku." Leon menatap dingin kearah Robert yang sudah babak belur karena ulahnya itu.
__ADS_1
"Martin segera urus orang-orang ini." Ucapnya lalu pergi begitu saja.
'Semuanya kembali menghianatiku.' Pikirnya lalu pergi begitu saja.