
"Assalamualaikum helloooo ini kami baru datang, iniloh kami berdua beli buah untukmu Ran." Ujar sosok yang baru saja tiba yakni Rina dan juga Atika yang langsung buru-buru kedalam saat menerima pesan singkat dari Intan jika Ranti telah bangun.
"A-aku..." Gadis itu mencoba untuk membuka alat bantu pernafasannya karena dia sangat ingin berbicara sekarang. Banyak sekali hal yang ingin gadis itu ketahui.
"Eh jangan dibuka Ranti, dokter belum mengizinkanmu untuk membuka itu alat. Nanti kalau kamu kenapa-kenapa bagaimana?" Ujar wanita paruh baya itu dengan cemas.
"Iya Ranti kau tidak tau betapa paniknya aku saat tetanggamu menelpon dan katanya ia menemukan mu tidak sadarkan diri di kosan kamu. Hampir aja kamu jadi mayat makanya udah berapa kali aku bilang kalau kamu itu harus ngekos dengan kami aja jadi nggak sendiri dan ada teman kalau kamu sakit. Dari pada gini untung aja tetanggamu baik huhh..." Ujar Intan yang tampak kesal tapi hal itu karena dia khawatir dengan gadis itu.
"Hiks, Hiks, hiks." Tiba-tiba saja Ranti justru menangis.
'Apa yang sebenarnya terjadi hiks...' Pikirnya
...****************...
Di tempat lain kali ini sosok pria tersebut seakan-akan sedang berbahagia.
"Emm jadi Leon membuang gadis itu ketika Amelie datang. Wow lumayan kisah cintanya seperti novel saja." Ujarnya dengan senyum manisnya.
"Iya bos, jadi apakah rencananya tetap sama ?"Tanya Reno.
"Ya mau bagaimana lagi aku sudah susah payah memikirkan rencana yang sangat bagus itu jadi ya jalankan, tapi beda pemain saja."Ujarnya dengan senyuman.
"Baik bos kita hanya perlu menunggu Leon lengah saja." Ujarnya lagi.
Sedangkan di tempat lain keadaan benar-benar berubah. Terutama dengan tidak ada lagi Ranti.
"Apakah tuan benar-benar sudah membuang nyonya, kalian lihatlah bahkan saat ini tuan selalu saja bersama dengan Nona Amelie. Apakah ini yang dinamakan dengan masa lalu tetap akan jadi pemenangnya." Ujar salah satu pelayan.
"Huhh padahal aku lebih suka pada saat tuan dengan nyonya Ranti, Kalian taukan jika nyonya Ranti itu sangat baik dan juga lucu. Dan suasana akan ceria jika ada dia." Ujar salah satu pelayan.
__ADS_1
"Aku pikir juga begitu." Timpal salah satu pelayan.
Nia dan Nita yang juga ada disana hanya bisa terdiam. Mereka tentunya juga sangat merindukan nyonyanya kembali. Belum lagi Ojan yang saat ini telah di kirim ke sekolah anak terkenal nomor satu diluar negeri sehingga mau tidak mau anak itu harus pergi dari rumah ini.
"Ada nona Alexia, jadi diamlah." Mereka sontak melakukan kegiatan mereka kembali.
"Huh." Alexia yang mengetahui tingkah dari para pelayan itu hanya dapat menghela nafas.
"Dia terlihat marah dan kesal." Ujar salah satu pelayan disana setelah kepergian gadis cantik itu.
Sedangkan di rumah sakit Ranti sudah membaik, ketika dokter memeriksanya. Gadis itu sudah di perbolehkan untuk melepaskan alat bantu pernafasannya.
"Kau tau Ranti kami senang kau sudah baikan."Rina sangat senang gadis itu bahkan terus mengomel dari tadi.
"Senang mah boleh, tapi kok lancar betul tu mulut makan buahnya. Ingat itu punya Ranti bukan kamu." Atika melirik tajam pada Rina yang sedari tadi terus saja mengisi mulutnya dengan buah itu.
"Iss dasar nggak tau tempat."Timpal Intan yang juga ada disana.
"Oh ya Ran, mulai dari nanti kamu udah keluar dari rumah sakit ini, pindah aja ke rumah aku. Lagipula aku sendiri."Ajak Intan.
"Hmm tapi Tan, nanti aku ngerepotin kamu lagi." Ranti merasa benar-benar tidak enak pada sahabat baiknya itu.
"Apaan sih nggak apa kok ni anak berdua juga sekarang tinggal di tempat aku, Ayolah Ran biar kita bisa julid dari malam sampai pagi." Ajak Intan.
"Ayolah Ran nggak enak loh kalau julid nggak ada kamu. Rasanya kurang gimana gitu." Timpal Atika yang mendapat anggukan dari dari Rina karena gadis itu sedang makan dengan mulut penuh sehingga tidak dapat bicara.
"Ehm baiklah aku akan merepotkan mu kali ini." Ujar Ranti dengan senyuman.
Hingga malam menjelang tapi Ranti belum bisa tertidur. Entahlah saat ini dia benar-benar bingung harus bagaimana bahagia kah ? sedih kah? atau apa?
__ADS_1
Tapi tanpa dapat ia tahan air mata lolos begitu saja dari pelupuk matanya.
"Apa segitunya dia menyukai Amelie itu hingga membuangku seperti ini hiks?" Gadis itu terus membayangkan sosok itu.
"Dasar sampah menyebalkan, sekarang aku harus bagaimana? Apakah aku juga harus melupakannya? atau aku harus bagaimana ? jika aku menemuinya yang ada aku hanya akan terluka melihat dia bersama cabe itu hiks." Gumam Ranti dalam tangisnya.
"Emm Ran, kamu nangis ya ? hoam." Tanya Rina yang tidak sengaja terbangun karena Atika dengan sopannya meletakkan kakinya tepat diatas kepala gadis itu. Ayolah Atika dia tidur atau apasih kok kayak helikopter.
"Ti-tidak ada." Ujar Ranti yang dengan cepat menghapus air matanya.
"Ayolah Ran, aku tau kamu habis nangis kan ? apa penyebabnya ? hati-hati loh rumah sakit ini banyak hantunya?" Ujar Rina yang saat ini sudah berdiri dari lantai. Sebenarnya di ruangan ini ada sofa dua tapikan ada kedua orang tua Ranti jadi sebagai anak muda mereka bertiga ya tidur dengan tikar tepat di samping tempat tidur Ranti.
"Apaan sih Rin, jangan bahas itu deh ! Nanti ada betulan bagaimana?" Ujar Ranti. Jujur dia takut siapa coba yang nggak takut.
"Ih aku beneran bahkan sangat serius." Ujar Rina dengan wajah seriusnya.
"Apaan sih Rin jangan bercanda ih nggak lucu."
"Siapa juga yang ngelucu, kamu dengar ya bahkan aku melihatnya sendiri." Sontak Ranti membulatkan matanya. Sekarang ia benar-benar menyesal telah mendengarkan wanita itu.
"Aku benar-benar melihatnya percayalah padaku, bahkan aku tidak pernah melihat yang sejelas ini." Ujar Rina kembali.
"Me-memangnya dimana ?" Tanya Ranti dengan serius.
"Tepat di sampingmu," Kali ini jangan tanyakan ekspresi Ranti.
"Itu terjadi kemarin malam, nah kan pada saat itu sorenya si Intan dapat kabar tu kalau kamu masuk rumah sakit. Nah pergilah kami karena khawatir denganmu sedangkan kedua orang tua mu mereka belum tiba karena kan baru dapat kabar juga. Kamu tau sendirilah jaraknya kan lumayan jauh dan sebab itu hanya kami bertiga yang menjagamu tapi si Intan itu dia lupa mengunci rumahnya nah akhirnya karena malam pergilah tu anak dengan Atika ke rumahnya intan dan sialnya lagi ketika mereka ingin kembali justru hujan lebat sehingga mereka tidak dapat kembali ke rumah sakit..." Ranti sebenarnya takut tapi karena penasaran dia mendengarkan Rina dengan seksama.
"Terus ?" Tanyanya dengan penasaran.
__ADS_1