
Nicco dan Hanum sudah bersiap-siap meninggalkan kamar suite room hotel.
"Loh Yank, ini pasti ponselnya Alexa," ujar Hanum saat melihat ponsel Alexa yang tergeletak di nakas.
"Iya kayanya," ujar Nicco.
"Kita anterin yuk sekalian pulang," ajak Hanum.
"Ya udah yuk, ujar Nicco mengiyakan." menggenggam tangan Hanum." Nicco tersenyum ramah saat mengembalikan kunci kamar kepada resepsionis hotel.
Hampir sejam perjalanan kini, mobil Nicco terlihat sudah memasukin gang menuju rumah Karin.
"Loh Yank kok rame banget sih, ini ada apa ya? kok ada mobil polisi juga ?" tanya Hanum penasaran.
"Iya Yank," ujar Nicco sambil melirik keadaan sekitar.
Nicco pun membuka kaca mobilnya dan menanyai seseorang warga yang lewat di sisi mobilnya.
"Maaf Pak, ini ada apa ya Pak?" tanya Nicco penasaran.
"Oh ada pembunuhan Mas, satu orang meninggal dan yang dua sedang di evakuasi kondisinya kritis Mas, Masnya lebih baik putar arah. Soalnya di depan rame nggak bisa lewat Mas," ujar seorang warga tersebut.
"Oh gitu ya, makasih ya Pak," ujar Nicco.
"Yank.., Kamu tunggu di mobil aja ya! biar aku yang nganterin ponselnya Alexa," ujar Nicco membuka mobilnya.
"Sini kuncinya biar aku puter arah di depan," ujar Hanum.
Nicco pun berjalan masuk ke dalam gang menuju rumah Tante Karin, saat sudah mendekati kediamannya keadaan semakin ramai, Nicco bisa mendengar suara orang-orang membicarakan sebuah peristiwa yang cukup membuatnya penasaran.
"Kasian ya bu Karin sama anak dan pembantunya, saya yakin pasti rumahnya Ibu Karin di masuki rampok," ujar seorang warga yang lewat di sisi Nicco.
"Apa Tante Karin, ujar Nicco terkejut saat mendengar nama yang sangat ia kenal disebut oleh salah seorang warga."
Nicco langsung saja menerobos masuk ke dalam kerumunan warga yang terlihat memenuhi askes jalan menuju rumah Karin, pikirannya langsung tertuju pada Alexa sepupunya.
Langkah Nicco terhenti, tubuhnya seolah membeku saat melihat tubuh Alexa yang bersimbah darah di bawa masuk ke dalam mobil ambulans.
"Alexa, teriak Nicco terdiam sesaat menatap tubuh Alexa tak bergerak."
Ia bisa melihat baju yang Alexa kenakan adalah gaun yang Alexa pakai saat menghadiri pesta pertunangannya tadi.
.
.
*********
Nicco mengikuti laju brankar Alexa menuju ruang UGD sedangkan Hanum terlihat menangis saat menelpon keluarga Nicco, memberitahu kejadian yang menimpa Alexa.
"Alexa sadar Alexa," ujar Nicco raut wajahnya terlihat panik dan ketakutan saat melihat wajah Alexa yang bersimbah darah.
Rena dan Kipli terlihat berjalan keluar di koridor rumah sakit setelah membesuk Dimas. Mereka tidak sengaja berpapasan dengan pasien yang terlihat baru saja datang.
"Ya ampun Pli, itu kayanya pasien kecelakaan deh,.. ihh mana lewat sini lagi," ujar Rena terlihat menutup wajahnya takut saat melihat brankar yang membawa seseorang yang terlihat bersimbah darah lewat di ke arahnya, sedangkan Kipli terlihat terus menatap pasien tersebut sejak pertama kali datang dari ujung koridor sampai brankar yang membawa pasien penuh luka lewat di sampingnya.
"Ren.., iiitu tadi Alexa Ren, gue liat jelas mukanya, ayo Ren kita ikutin!" teriak Kipli tergagap-gagap, ia langsung saja menarik Rena mengikut brankar Alexa yang di dorong sambil berlari oleh tim medis.
__ADS_1
Rena terlihat mengikuti langkah kaki Kipli dengan raut wajahnya yang terlihat syok saat mendengar ucapan Kipli.
Kini ada beberapa petugas dari kepolisian sedang berjaga di ruang UGD dan juga ada banyak reporter yang terlihat sedang meliput berita tentang penyerangan yang terjadi di jalan SMA 12 tepatnya di kediaman rumah Karin.
Nicco, dan Om Ardy dan Tante Sisil dan Grace, terlihat panik berada di depan ruang UGD menunggu Alexa yang sedang di tangani oleh Dokter UGD.
Dimas memaksa keluar dari ruang rawatnya mencoba menunggu Alexa di UGD setelah Kipli memberitahu tentang insiden yang menimpa Alexa kepadanya.
"Kalian ini kenal sama Alexa?" tanya Tante Sisil.
"Kami semua teman Alexa di sekolah Tante," ujar Kipli menyaut.
Rena menatap Dimas jengah sejak tadi, "Ngapain luh nangis Dim, luh tuh harusnya seneng, ini kan yang kalian mau." Kalo aja luh sama Grace nggak kerjasama nusuk Alexa dari belakang nggak mungkin dia berpisah sama Pak Ryuga, dan nggak mungkin kejadian ini terjadi, ini semua gara-gara luh berdua," bentak Rena emosi menunjuk-nunjuk Dimas dan Grace.
Rena terus saja menjelaskan kepada keluarga Grace dengan detail, tentang perbuatan tercela yang di lakukan Grace dan Dimas kepada Alexa.
"Cukup Ren.., mending kita doain Alexa, semuanya udah terjadi Ren, dan percuma luh salahin mereka," ujar Kipli berusaha menenangkan Rena yang tersulut emosi.
"Kenapa? emang mereka jahat sama Alexa, padahal Alexa nggak pernah jahat sama luh Grace dia selalu ngalah kalo luh ngatain dia di sekolah," ujar Rena menunjuk-nunjuk ke arah Grace.
Ucapan Rena barusan sanggup mengalihkan perhatian Nicco dan Kak Hanum dan juga Om Ardy.
"Apa maksud ucap kamu menuduh Grace ?" tanya Tante Sisil.
"Grace apa yang sudah kamu lakukan? apa benar yang dikatakan ucapan teman kamu barusan? apa ini alasan makanya kamu mendapat SP dari sekolah, jawab Grace?" tanya Ardy dengan nada sedikit tinggi.
"Pah sudah Pah, ini di rumah sakit, Papah tolong tenang sedikit ya," ujar Sisil mencoba menenangkan suaminya.
"Papah kecewa sama kamu Grace, Papah nggak pernah ngajarin kamu bersikap seperti itu, perbuatan kamu itu udah termasuk tindakan kejahatan yang bisa di pidanakan Grace," ujar Ardy menatap tajam Grace.
Grace tersentak dan terlihat gemetaran ketakutan saat semua keluarganya menatap ke arahnya.
Grace tidak kuasa melihat tatapan sang Kakak yang merasa kecewa kepadanya, ia pun berlari dan meninggalkan ruang UGD, karena sejujurnya ia pun kini merasa menyesali perbuatannya terhadap Alexa.
Sedangkan Dimas yang merasa malu ia pun hanya bisa terdiam menundukkan wajah yang begitu penuh rasa penyesalan terdalamnya.
"Mending luh pergi dari sini," ujar Nicco kepada Dimas sedikit emosi.
Nicco yang merasa muak melihat wajah Dimas, ia pun terlihat menghampiri salah satu petugas kepolisian yang tadi mengiringi perjalanannya menuju rumah sakit. Nicco mencoba menanyakan detail kronologi kejadian yang menimpa sepupunya tersebut.
"Pak apa pelaku sudah di amankan?" tanya Nicco kepada petugas kepolisian yang terlihat berjaga di rumah sakit.
"Sudah Pak.., tersangka Ferdy_,ucap petugas kepolisian tersebut langsung saja dipotong oleh Nicco.
"Apa Ferdy_,ujar Nicco membulatkan matanya saat mendengar nama Ferdy yang merupakan pelaku yang menyerang sepupunya tersebut.
Iya Pak, tersangka Ferdy sudah berhasil kami ringkus setelah para warga mengamankan pelaku beserta barang buktinya. Dan kini tersangka sedang dimintai keterangannya oleh rekan kami di kantor kepolisian. Apa Bapak mengenali identitas pelaku?" tanya seorang petugas kepolisian.
"Bukannya kenal lagi Pak, tersangka merupakan Papah kandung korban yang ada di dalam ruang UGD," ujar Nicco terlihat berusaha menahan emosinya, rasanya ia ingin sekali mencabik-cabik tubuh Ferdy saat ini juga jika saja posisi Ferdy ada di hadapannya.
"Kami benar-benar tidak menyangka jika salah satu korban ternyata adalah putri kandung pelaku." Sebenarnya pelaku ini adalah seorang buronan yang sudah hampir seminggu kita cari-cari. Kami mendapatkan laporan dari para korban- korban tersangka ini sudah terlibat kasus korupsi, perjudian dan juga penipuan dan ini adalah puncaknya yaitu penyerangan yang menyebabkan 3 orang korban satu atas nama Karin meninggal di tkp dan dua orang terluka karena terkena pukulan stik golf di kepala korban dan juga tubuh kedua korban. Saat kami mengamankan tersangka tadi, sepertinya tersangka dalam pengaruh minuman keras sehingga memicu perbuatan nekatnya menganiaya para korban," ujar petugas kepolisian dengan penjelasannya.
"Apa motif tersangka melakukan tindakan tersebut Pak?" tanya Nicco.
"Kami juga masih menyelidiki Pak, karena rekan kami di kantor sedang mengorek keterangan dari pelaku, namun dikarenakan kondisi korban dalam kondisi mabuk sehingga kami menundanya sampai kondisinya memungkinkan untuk kami mintai keterangan," ujar petugas kepolisian tersebut
"Terima kasih Pak atas informasinya," ujar Nicco yang masih terlihat begitu syok.
__ADS_1
"Luh bener-bener Bajingan, Ferdy, luh nggak pantes di sebut manusia," ujar Nicco terlihat begitu tidak kuasa menahan emosinya.
"Pli., Alexa bakalan baik-baik ajakan Pli?" tanya Rena menagis pilu di depan ruangan UGD menyandarkan kepalanya di lengan Kipli.
"Lebih baik kita doain aja yang terbaik buat Alexa semoga Alexa bisa melewati ini semua Ren," ujar Kipli mencoba menguatkan sahabatnya.
"Gimana kalo Alexa tahu, kalo Tante Karin meninggal Pli dia pasti bakalan terpukul banget Pli," ujar Rena terisak pilu.
"Alexa apa yang sebenarnya terjadi sama luh? Kenapa kita ketemu lagi dengan kondisi kaya gini sih Lex," ujar Rena sesenggukan.
Kipli terus saja mengusap-ngusap bahu Rena mencoba menguatkan sahabatnya.
"Kita doain aja Alexa yang baik-baik Ren, cuman doa yang Alexa butuhin saat ini," ujar Kipli berusaha tegar.
.
.
********
Tim medis terlihat cekatan saat Alexa dalam kondisi kritisnya. Kini di dalam ruangan UGD Alexa sedang berjuang antara hidup dan matinya.
"Mulai 120 joule, " Dokter Ricco memegang defibrillator di kedua tangannya.
"Tahan Dok pasien mengalami 3 patah tulang rusuk di sebelah kanan bawah, jika kita memaksa menggunakan defibrillator, pasien bisa mengalami pendarahan pada organ dalamnya Dok," ujar Dokter Rika.
"Lebih baik kita lakukan PCR, untuk mencegah kerusakan parah pada organ dalamnya," ujar Dokter Ricco.
"Pasien banyak kehilangan darah, suster cepat hubungi keluarganya di luar," ujar Dr Rika dengan nada sedikit tinggi. Dan seorang perawat terlihat keluar dari ruang UGD.
"Keluarga pasien atas nama Alexa," ujar seorang perawat wanita tersebut.
"Iya suster, saya," ujar Ardy menghampiri perawat tersebut di ikut dengan Nicco dan yang lainnya yang setia menunggu Alexa.
"Begini Pak.., Pasien mengalami kehilangan banyak darah, adakah keluarga pasien yang memiliki golongan darah AB, karena di rumah sakit sekarang ini sedang tidak ada ketersediaan stok darah tersebut, "ujar perawat tesebut.
"Saya AB sus," saut Ardy."
Saya juga sus golongan darah saya AB juga," ujar Nicco.
"Ayo siapa di antara keduannya yang mau mendonorkan darah untuk pasien secepatnya," ujar Suster tersebut menatap Ardy dan Nicco secara bergantian.
"Biar Nicco aja Pah," ujar Nicco." Dan Ardy pun mengangguk menyetujui ucapan putranya.
"Mari pak ikut saya," ajak Suster yang langsung membawa Nicco pergi.
"Bagaimana kondisi sepupu saya sus?" tanya Nicco khawatir.
"Pasien mengalami pendarahan di otaknya dan kehilangan banyak darah, karena kondisi pasien dalam kondisi hamil_,
"Apa hamil," ujar Nicco terkejut menatap suster tersebut.
"Ia Pak pasien sedang hamil, jadi pasien sangat membutuh transfusi darah, karena jika tidak segera melakukan transfusi darah bukan hanya janin tapi juga kondisi pasien tersebut dalam bahaya," ujar perawat tersebut.
Nicco cukup terperangah mendengar penuturan suster, yang menyebut Alexa hamil. Pikirannya saat ini langsung saja tertuju kepada Ryuga. Nicco tampak naik pitam mengepalkan kedua tangannya, karena Ryuga meninggalkan Alexa dalam kondisi hamil.
"Liatin aja luh Ga, gue akan ngasih luh hukuman karena udah bikin Alexa menderita kaya gini. Luh harus membayar semua kesalahan luh terhadap Alexa," ujar Nicco dengan emosi berjalan mengikuti suster.
__ADS_1
...----------------...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...