
Sesaat menyelesaikan ritualnya di kamar mandi mata Ryuga langsung tertuju pada Alexa. Ryuga menyunggingkan senyum melihat istrinya yang tadi merengek minta di temani, ternyata sudah terlelap begitu pulas dengan wajahnya yang terlihat lucu.
"Ckckc katanya nggak bisa tidur kalo nggak di peluk...Alexa..Alexa..Dasar manja!" ujar Ryuga menggelengkan wajahnya mengusap rambutnya.
Ia pun langsung menyusul Alexa merebahkan diri di tempat tidurnya menarik tubuh Alexa ke dalam pelukannya.
Good night sayang," ujar Ryuga mengecup kening Alexa.
.
.
Tengah malam Alexa terlihat gelisah, ia terus saja merubah posisi tidurnya. Keringatnya mengalir di keningnya membuat wajahnya terlihat sedikit lepek. Alexa tersentak membuka matanya dan duduk meremas rambutnya dengan kencang nafasnya terlihat memburu, raut wajah terlihat panik.
Alexa menatap sekeliling ruangan sambil meremas selimut dengan kencang. Ia melihat Ryuga yang terlihat begitu pulas tidur di sampingnya.
Alexa mengambil sisa obatnya yang masih ada di dalam tasnya berjalan perlahan menuju kamar mandi. Alexa mengeluarkan isi di dalam perutnya yang tidak kunjung keluar, lalu ia buru-buru memasukkan pil ke dalam mulutnya.
Alexa menunduk kepalanya, tangannya ia tumpukan di wastafel menunggu reaksi obat yang baru saja ia minun. Perlahan ia menatap wajah piasnya di depan cermin, setelah ia merasakan dirinya sudah lebih tenang Alexa membuka pintu kamar mandi.
"Yank...kamu kenapa?" tanya Ryuga.
Alexa sedikit tersentak melihat Ryuga sudah di ambang pintu.
"Aku dengar kamu kaya muntah gitu," ujar Ryuga yang langsung meraup wajah Alexa yang terlihat pias. Tidurnya sedikit terusik saat mendengar suara cukup bising di dalam kamar mandi.
"Gpp yank aku mimpik buruk tadi, maaf ya aku ganggu tidur kamu," saut Alexa dengan nada lemah.
"Enggak justru aku khawatir sama kamu. Kamu mimpi apa sih sampe muntah-muntah begitu? atau jangan-jangan kamu hamil yank," ujar Ryuga menduga-duga.
"Apa hamil...nggak mungkinlah yank, orang aku sekarang lagi pms juga mana mungkin aku hamil," saut Alexa terkejut.
"Terus kenapa kamu bisa muntah kaya tadi? Kamu sering ya kaya gini, soalnya dulu aku juga pernah liat kamu kaya gini," tanya Ryuga penasaran.
"Hah... aku aku suka lupa makan yank kadang, kayanya asam lambung aku kumat," ujar Alexa sedikit gugup karena berbohong.
Yakin...! "Ck kamu sih nakal, tadi kan aku udah ingetin kamu supaya makan, ya udah aku ambilin obat dulu,"ujar Ryuga perhatian.
Namun Alexa enggan ditinggal ia menarik piyama Ryuga, menggelengkan kepalanya dan langsung saja memeluk tubuh Ryuga dengan erat.
Alexa merasa takut karena ia terlalu terhanyut dengan pikiran negatifnya sejak tadi, mengingat ucapan mamah Retno yang cukup membuatnya tidurnya terganggu. Alexa kembali mengeratkan pelukannya dengan erat seolah tidak rela kehilangan Ryuga.
"Hmmmm....kalo kamu pms, aku bakalan cuti dulu nih kayanya," saut Ryuga dengan nada lemas mengusap rambut Alexa dalam pelukannya.
"Maaf yank aku ngecewain kamu," saut Alexa menitikkan air matanya, tersirat jelas ada makna lain dalam ucapnya tadi.
Cukup lama Alexa memeluk Ryuga, mulutnya pun mulai menguap ia memejamkan matanya menyadarkan wajahnya di dada bidang Ryuga dengan nyaman.
Ya udah kita bobo lagi yuk," ajak Ryuga.
"Gendong," ujar Alexa manja, ia mulai merasakan kantuk akibat reaksi obat yang tadi ia minum. Ryuga pun mulai mengangkat tubuh Alexa seperti bayi koala, dan Alexa pun langsung mengalungkan tangan di leher Ryuga.
"Ya ampun manja banget sih kamu," ujar Ryuga memboyong Alexa berjalan menuju ranjangnya.
"Makasih kak apapun keadaannya kakak jangan pernah tinggalin aku ya," ujar Alexa menelusupkan wajahnya di di dada bidang Ryuga dengan mata terpejam.
__ADS_1
"Kamu ngomong apa sih yank, pasti kamu gini gara-gara mimpi buruk deh," ujar Ryuga merebahkan Alexa di tempat tidur, ia langsung mendekap Alexa ke dalam pelukannya.
Alexa gimana aku mau ninggalin kamu, perasaan aku aja udah sedalam ini. "Justru sebaliknya Alexa, aku yang takut kehilangan kamu, kalo aku udah sibuk dengan perusahaan papah nanti," batin Ryuga mencium kening Alexa.
.
.
Di SMA Garuda Bangsa.
Alexa berjalan lemas di konidor sekolah, ada siswa yang baru saja keluar dari kelasnya Grace, menatapnya dengan tatapan sinis sambil berbisik.
"Kenapa sih mereka liatin gue gitu amat," ujar Alexa sedikit merasa bingung.
Pantes aja hidupnya enak, orang papahnya aja korupsi dana yayasan..miris ya!" ujar salah satu siswa melirik sinis ke arah Alexa.
Alexa langsung menundukkan kepalanya buru-buru berjalan menuju kelasnya, setelah mendengar ucapan siswi tersebut.
Tibalah di depan kelas, Alexa sedikit ragu-ragu masuk ke dalam kelasnya setelah mendengar gunjingan siswi tadi. Dirinya takut gosip mengenai papahnya menjadi bahan gunjingan oleh teman-temanya juga di kelasnya.
Dengan langkah perlahan masuk, namun Alexa sedikit lega karena kedatangannya masih di sambut seperti biasa. Tidak ada tatapan sinis yang Alexa lihat, pada setiap wajah teman-temannya di kelas. Alexa pun berjalan sedikit gugup, lalu duduk di kursinya.
"Muka luh tegang amat Lex, kaya duit baru," celetuk Kipli.
Loh abis nangis ya mata luh keliatan bengak. "Kenapa sih? Ayang beb abis nyiksa lo ya di ranjang?" tanya Rena menatap wajah Alexa.
"Ngaco luh..! Ntar gue cerita," ujar Alexa menjatuhkan bokongnya di kursi tidak semangat.
"Oh iya nanti kita jadi kan kita nonton turnamen basket di SMA 12, gimana ayang beb dia ijinin luh nggak?" tanya Rena tidak sabar.
"Lo kenapa sih, muka lo kaya banyak banget beban idup hari ini?" tanya Rena penasaran.
"Keliatan ya Ren? tanya Alexa menempelkan tangan di wajahnya.
"Ini liat, ujar Rena menunjukkan kaca yang ia pegang, mengarahkan kaca tersebut ke wajah Alexa
"Ren..Kip...Hmm.. tadi ada siswa di kelasnya Grace ngomongin gue, yang tau masalah bokap gue, gue takut Ren semua siswa di sekolah ini tau," bisik Alexa cemas sedikit ragu-ragu.
"What...! ujar Rena dengan sedikit terkejut suaranya menggelegar sama seluruh siswa di kelas menatapnya aneh.
Gue heran lo tiap hari di umpanin toa kali ya, bisa nggak sih luh kalem dikit?" saut Kipli menoyor kepala Rena, karena teriakkan Rena terdengar cukup pedas di kupingnya.
"Tau tuh...nggak usah heboh gitu napa sih," ujar Alexa sedikit kesal.
"Hehe..Sorry-sorry !" saut Rena cengengesan.
"Palingan juga itu kerjaanya si Lampir," bisik Kipli matanya tetap ia fokuskan pada layar ponselnya.
"Iya..iya, bisa jadi tuh Lex, soalnya nggak mungkin banget di Lampir tobat gitu aja. Dia kan benci banget sama lo sampe ke tulang-tulang. So mana mungkin dia ngebiarin lo gitu aja, apalagi dia di skorsing gara-gara ribut sama lo. Pasti dia pake tak-tik baru buat jatohin lo, Lex," saut Rena berasumsi.
"Masa sih, tapi kalo bener dia tau darimana ya?" tanya Alexa bingung.
"Itu yang harus kita cari tau," ujar Rena.
"Lo tenang aja Lex, gue nggak bakalan biarin anak-anak ngejahatin lo. Kalo emang si Lampir yang nyebarin gosip tentang bokap lo, bakalan gua bebeg tuh mulutnya," bisik Kipli peduli.
__ADS_1
"Rujak kali di bebeg," saut Rena menahan tawa.
.
.
Kringgggg..!
Suara bel pun berbunyi siswa-siswi hari ini pulang lebih awal, karena sebagian siswa dari guru akan menghadiri turnamen basket di SMA 12.
Alexa, Rena dan Kipli terlihat antusias memberikan dukungannya kepada Dimas, mereka bertiga pun berjalan memasuki area SMA 12.
"Eh liat deh Lex, nih kadang musuh B aja ya tampilannya," ujar Rena sambil melihat sekeliling.
"Ren..lo kalo namu yang sopan napa, makanya lo kalo pake handbody lo aurinnya ke tangan, jangan ke bibir lo, makanya bibir lo jadi lemes tuh" ujar Kipli.
"Tau luh Ren kita ini lagi di kadang lawan, gue pernah ketemu sama anak sini, pokoknya lo harus hati-hati kalo ngomong," saut Alexa mengingat kejadian beberapa hari yang lalu saat duduk di halte menunggu Ryuga menjemputnya.
"Serius lo, kok bisa?" tanya Rena sedikit panik.
"Panik dah! takut kan lo, udah yuk kita susulin Dimas," ujar Kipli menarik tas Rena dan Alexa mirip seperti menenteng seekor anak kucing.
"Ihhhh...Kipli ntar gue jatoh," ujar Rena menarik tasnya.
"Gpp paling gue ketawain," saut Kipli.
"Emang temen gak ada akhlak lo," ketus Rena dengan wajah masam.
.
.
Turnamen Basket biasa di adakan setahun sekali, untuk memperebutkan piala Gubernur. Turnamen ini dilakukan secara bergilir dan saat ini SMA 12 lah yang menjadi tuan rumah tempat di selenggarakan turmanen basket saat ini.
Dimas yang terlihat sedang berkumpul dengan timnya, di ruang ganti. Excel menatap Dimas dan timnya dengan senyum smirk.
"Taun lalu lo boleh menang, tapi taun ini tim gue bakal rebut kemenangan itu, lo siap-siap aja gue bikin malu disini," ujar Excel menepuk bahu Dimas lalu melewatinya.
"Woy...," ujar Jakson, namun tubuhnya langsung ditahan oleh Dimas.
"Udah Jak nggak usah ke pancing kita harus tetep fokus," ujar Dimas mencoba tenang.
.
.
Alexa Rena dan Kipli terlihat sudah duduk di tribun penonton. Suasana terlihat cukup ramai, karena pertandingan akan segera dimulai.
Grace yang duduk tidak jauh dari Alexa, bisa melihat keberadaan Alexa dan kedua temannya. Namun kehadirannya tidak disadari oleh Alexa dan teman-temannya.
Untuk menjalankan misinya menghancurkan hubungan Alexa dan Ryuga. Grace harus tetap berada di dekat Alexa, mengikuti gerak-geriknya. Lalu memberikan informasi tentang Alexa kepada Mama Retno.
...----------------...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1