
Setelah hampir sejam ia tidak sadarkan diri, Alexa mulai menggerakkan alisnya membuka matanya secara perlahan.
"Hmmmm, gue dimana?" tanya Alexa.
"Akhirnya luh sadar, juga Lex! Tenang Lex, luh udah aman sekarang " ujar Rena.
"Rena, Shhh.. aduh!" ringis Alexa memegangi lengannya yang terasa pedih.
"Luh gpp kan Lex? Ya ampun Lex, tangan luh memar gini, Bokap luh beneran udah gila emang, tega-teganya di nyerang anak kandungnya sendiri," ujar Rena khawatir.
Setelah kembali sadar dan mengingat kejadian yang baru saja ia alami Alexa kembali dia buat ketakutan dan langsung memeluk Rena erat-erat.
"Rena bawa gue pergi dari sini Ren, gue takut Ren, cepet ayo," ujar Alexa mendesak Rena.
"Iya iya, luh yakin bisa naek motor?" tanya Rena merasakan sesak akibat pelukan Alexa yang begitu erat, mungkin karena efek ketakutan Alexa yang bertemu dengan Papahnya tadi. Alexa menganggukkan kepalanya perlahan menyahuti ucapan Rena.
"Gue anter luh pulang ke ya?" tanya Rena merangkul Alexa berjalan.
"Nggak Ren kita ke sekolah aja," saut Alexa menolak.
"Luh yakin? tanya Rena."
Alexa pun mengangguk menyauti ucapan Rena.
"Pak makasih ya Pak atas bantuan Bapak tadi, saya sama temen saya permisi dulu," ujar Rena kepada security yang menolongnya dan Alexa tadi.
"Oh sama-sama dek, hati-hati ya," ujar Security tersebut menimpali.
Rena tersenyum ramah dan kembali berjalan merangkul Alexa,
"Ren makasih ya Ren kalo nggak ada luh, gue nggak tau apa yang akan bokap gue lakuin sama gue Ren," ujar Alexa tertatih.
"Ngapain sih luh pake makasih mulu, udah sewajarnya kali Lex, gue sebagai sahabat bantuin luh," ujar Rena tersenyum.
"Kalo suatu saat gue pergi, luh jangan pernah lupain gue ya," ujar Alexa asal bicara.
"Luh ngomong apa sih Lex, jangan ngaco deh," ujar Rena menatap Alexa.
Rena dan Alexa sudah sampai di parkiran rumah sakit, "Luh pegangan yang kenceng Lex, bae-bae jangan sampe jatoh," ujar Rena menarik tangan Alexa.
Rena pun melajukan vespa tosca kesayangannya keluar area parkir rumah sakit. Tiba-tiba saja Rena menarik rem di kedua gagang stirnya dengan sekali hentakan, hingga membuat helmnya dan Alexa saling berbenturan.
"Ren pelan-pelan napa sih! Sshhh.. kepala gue ke jedot nih," ujar Alexa meringis mengusap keningnya.
"Lex luh liat deh! itu bukannya Pak Ryuga? ngapain dia pelukan gitu sama si ulet keket," ujar Rena terperangah menatap moment antara Ryuga dan Sita.
Alexa menatap ke depan, hatinya kembali di buat hancur melihat Ryuga berpelukan dengan Sita tak jauh dari motor yang mereka tumpangi
"Dasar sundel,.. rasanya pengen gue bejek-bejek aja tuh mukanya, lagian ngapain Pak Ryuga pake segala meluk-meluk tuh si ulet keket segala, dia nggak mikirin istrinya disini yang lebih butuh pertolongan dia," ujar Rena emosi terpaku menatap ke depan.
Rena menengok ke belakang memastikan reaksi Alexa setelah melihat Ryuga dengan Sita. Rena kembali di buat iba melihat Alexa sudah tertunduk dengan isak tangisnya.
"Luh tunggu di sini biar gue tangkep basah tuh mereka berdua, sekalian gue labrak tuh si ulet keket biar nggak kegatelan," ujar Rena berdiri dari motornya.
"Jangan Ren," ujar Alexa menahan tangan Rena.
"Tapi Lex luh terima liat Pak Ryuga jalan sama tuh si ulet keket di belakang luh gitu? Lagian aneh banget Pak Ryuga dia aja suka marah liat luh deket-deket sama Dimas, eh nggak taunya dia sendiri sama aja kelakuannya,.. asli gregetan gue," ujar Rena emosi.
"Lagian sejak kapan mereka bisa sedeket itu?" tanya Rena menatap Alexa serius.
__ADS_1
Alexa hanya menggelengkan kepalanya perlahan begitu pasrahnya, ia sudah tidak memikirkan nasib pernikahannya lagi yang sudah di ujung tanduk. Ia hanya memikirkan bahwa, ia ingin pergi sejauh mungkin dari kehidupan Ryuga dan keluarganya yang sungguh membuatnya serasa ingin mati.
"Gue nggak tau Ren, tapi yang jelas hubungan gue udah nggak bisa gue pertahanin lagi Ren, gue udah mutusin untuk nyerah Ren! Pak Ryuga udah bohongin gue Ren, dan nyokapnya juga keliatannya udah berusaha banget buat deketin Pak Ryuga sama Sita lagi," ujar Alexa menenggelamkan wajahnya di punggung Rena terisak.
"Ren, sebenarnya tadi Sita, Dr Andry sama kakaknya Dimas besuk Papahnya Ryuga Ren, dan pas di situ Mamah Retno nggak memperkenalkan gue sebagai istrinya, melainkan ngebiarin temen-temannya Ryuga beranggapan kalo gue itu sepupunya Ryuga Ren, gue sakiti hati banget Ren, gue ngerasa kaya orang bodoh di antara mereka tadi," ujar Alexa sesenggukan.
"Luh serius Ren, ujar Rena mematung mendengar cerita Alexa.
Rena kembali mematikan mesin motornya, membalikkan tubuhnya memeluk Alexa dengan perasaan iba. Rena pun ikut menangis melihat sahabat yang begitu terpuruk.
"Ren gimana nasib gue Ren, gue nggak punya siapa-siapa lagi Ren," ujar Alexa menangis sesenggukan di pelukan Rena.
"Ya ampun Lex, kenapa nasib luh gini amat sih," ujar Rena mengusap punggung Alexa.
"Udah yuk mending kita ke sekolah dulu, luh tenangin diri luh di sana Lex, anak-anak juga pasti udah nungguin kita," ujar Rena melepas pelukannya menghapus sisa air mata Alexa.
Alexa pun mengangguk pasrah menuruti ucapan Rena.
.
.
Di sisi lainnya,
Ryuga menghentikan laju kendaraannya setelah sampai di depan Halte Harmoni, ia memberikan kantong obat yang sudah ia beli tadi di apotek untuk luka lebam di leher Sita.
"Nih kamu olesin ini nanti di leher kamu," ujar Ryuga memberikan kantong obat kepada Sita.
"Makasih ya Ga, maaf lagi-lagi aku ngerepotin kamu," ujar Sita sambil memegangi lehernya yang masih terasa nyeri.
"Gpp santai aja kali, aku nggak lagi banyak kerjaan kok tadi," ujar Ryuga.
"Enggak Ga, aku kaget aja datang-datang dia nyerang aku gitu, terus mau ngambil paksa tas aku," ujar Sita berbohong.
"Kamu harus hati-hati Sit, jaman sekarang kerjaan semakin sulit, ya nggak heran deh kalo sekarang banyak orang yang ngambil jalan pintas dengan cara ngejambret, ngerampok," ujar Ryuga.
"Makasih ya Ga, kamu udah nganterin aku, kamu nggak mau mampir dulu Ga," ujar Sita membuka pintu mobil Ryuga.
"Nggak Sit, aku mau pergi sama Reyhan, ya udah aku tinggal ya," ujar Ryuga menolak.
"Iya, hati-hati Ga, sekali lagi makasih ya" ujar Sita.
Ryuga tersenyum dan menganggukkan kepalanya, ia kembali melajukan Ranger Covernya menuju kantornya kembali.
Drrrtt Drttt!
Ponselnya bergetar terlihat nama My Sweety Wife terpampang di layar ponsenya, Ryuga mengulas senyum ia mematikan telepon begitu.
"Maaf ya Yank, aku harus cuekin kamu dulu kamu yang sabar ya, aku yakin kamu pasti bakalan nangis bahagia besok, pas nerima kejutan dari aku," batin Ryuga mengulas senyumnya menatap jalan yang terlihat cukup lengang.
Ryuga melihat jam di tangannya, sejujurnya ia sudah sangat merindukan Alexa saat ini, "Ck Ini masih jam 3 kok lama banget sih rasanya, mending gue ajak Reyhan keluar, sekalian gue pengen beli kebutuhan gue sama Alexa buat nanti di England," ujar Ryuga tersenyum simpul.
.
.
Rena dan Alexa menapaki koridor ruang aula, Alexa mencoba menghubungi Ryuga, namun Ryuga sama sekali tidak menjawab panggilan darinyadarinya justru kini ponsel malah tidak aktif.
"Gimana nggak di angkat Lex?" tanya Rena.
__ADS_1
"Ponselnya nggak aktif Ren," ujar Alexa sambil menggelengkan kepalanya menatap Rena tersenyum getir.
"What jangan-jangan mereka," ujar Rena pikirannya mulai kemana-mana.
"Lex luh harus kuat Lex, luh jangan lemah kalo emang memutuskan untuk berpisah sama Pak Ryuga, luh harus bales perbuatan mereka sama luh Lex. Luh jangan mau kalah Lex," ujar Rena mencoba menguatkan Alexa.
"Gue juga maunya gitu Ren, tapi apa luh sanggup nyakitin orang yang udah luh cinta Ren, pasti hati luh bakalan lemah Ren pas liat mukanya juga," ujar Alexa menangis.
"Hadeuh, bingung gue juga kalo udah bawa yang namanya perasaan," ujar Rena menggarukan kepalanya.
"Luh lama amat sih berdua, dah kaya keong sawah tau nggak," ujar Kipli saat melihat Rena dan Alexa baru saja tiba di ruang aula.
Dimas mengerutkan kedua alisnya saat melihat Alexa tampak kusut dan sembab, "Sa kamu kenapa?" tanya Dimas khawatir.
"Aku gpp kok," ujar Alexa tidak semangat.
"Nggak usah basa-basi deh luh, luh tuh udah basi kali, busuk malahan," ketus Kipli melirik sinis Dimas.
"Luh kenapa sih Pli, Dimas cuman nanya doang kali, kok luh sewot banget," saut Rena.
Kipli melirik Dimas dengan tatapan tidak suka, sedangkan Dimas terus saja menghindari tatapan sinis Kipli.
Luh kenapa sih berdua?" tanya Rena saat melihat sikap Kipli dan Dimas yang terkesan seperti memancarkan aura permusuhan.
Tidak ada jawaban dari baik Dimas ataupun Kipli membuat Rena semakin dibuat penasaran dengan apa yang sudah terjadi antara Dimas dan juga Kipli.
"Aneh luh berdua..., Udah sini Lex luh minum dulu, tenangin perasaan luh dulu baru kita latihan," ujar Rena menarik tangan Alexa perhatian.
"Luh ngapa Lex?" tanya Kipli.
"Papahnya tadi mau celakain dia Pli untung gue dateng pas banget, gue teriak aja minta tolong sama security, Papahnya langsung kabur pas liat security, makanya gue tadi lama karena Alexa tadi pingsan tadi," ujar Rena.
Mendengar ucapan Rena, Dimas dan Kipli langsung berjalan menghampiri Alexa merasa khawatir. Tubuh Kipli dan Dimas terlihat berbenturan saat mendekati Alexa.
"Minggir luh," ketus Kipli meyenggol bahu Dimas dengan keras.
Dimas pun akhirnya mengalah, ia berusaha menghindari perdebatan dengan memisahkan dirinya. Dimas hanya bisa menatap Alexa dengan iba dari kejauhan hatinya begitu sesak melihat Alexa saat ini.
"Maafin aku Sa," batin Dimas menatap Alexa penuh penyesalan dari kejauhan.
"Luh kenapa sih Pli, luh ribut ya sama Dimas?" tanya Rena.
"Nggak tau," jawab Kipli dengan wajah malas.
"Gila tangan luh sampe memar gini Lex, bokap luh emang bener udah gila," ujar Kipli mendengus kesal.
"Luh emang lagi nggak sama Pak Ryuga di rumah sakit, sampe bisa kecolongan gini?" tanya Kipli.
"Luh nggak usah bahas Pak Ryuga deh, luh tau nggak gue tadi sama Alexa pas keluar dari rumah sakit, kita ngegepin dia lagi pelukan sama si ulat keket abis itu mereka pergi berdua naik mobil nggak tahu ke mana," ujar Rena antusias.
"Luh serius Ren, masa sih Pak Ryuga kaya gitu," ujar Kipli tidak percaya menatap Alexa dan Rena bergantian.
"Ngapain sih gue bohong," saut Rena.
"Udah yuk kita latihan," ujar Alexa ia begitu malas membahas kedua orang tersebut yang hanya terus membuatnya merasa sesak.
Alexa menghela nafasnya dengan panjang lalu beranjak dari kursinya menghampiri Dimas.
...----------------...
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...