
Cukup lama Dr. Damian memeriksa kondisi Alexa di dalam. Ryuga menunggu dengan begitu tidak sabaran, hingga akhirnya pintu pun terbuka.
Ryuga buru-buru menghampiri Dr. Damian, "Gimana Dok? tanya Ryuga penasaran."
"Sepertinya kondisi pasien cukup terguncang setelah ingatan pulih, saya sarankan sebaiknya Anda konsultasikan masalah ini dengan psikiater, "ujar Dr. Damian memberi saran.
Ryuga pun menjabat tangan Dr. Damian, "Baik Dok terimakasih atas sarannya, "ujar Ryuga tersenyum ramah.
Dr. Damian tersenyum menganggukan kepalanya, "Sama-sama kalo begitu saya permisi dulu, "ujar Dr. Damian pergi meninggalkan ruangan Alexa.
Reyhan menahan Ryuga saat ingin masuk ke dalam ruangan Alexa, "Ga, luka luh itu obatin dulu, "ujar Reyhan menunjuk luka di pipi Ryuga.
"Gampang, saut Ryuga yang langsung masuk ke dalam ruangan Alexa."
Rena menarik tangan Reyhan mengalihkan perhatian Reyhan, "Yank.., apa itu arti Alexa udah inget semua? "tanya Rena cemas.
Reyhan menganggukan kepala menatap Rena, "Kayaknya sih gitu, Yank "saut Reyhan.
Rena melangkah kaki masuk ke dalam ruangan Alexa, "Yuk.., Yank kita masuk, "ajak Rena.
Reyhan pun menahan Rena menggelengkan kepalanya, " Mending kita pulang, kasih mereka ruang dulu Yank, "ujar Reyhan.
"Tau luh pengertian dikit ngapa jadi temen, " saut Kipli menimpali.
Rena menatap sinis Kipli, "Gue nggak nanya, sama luh ya, "ketus Rena.
Kipli tertawa ringan menatap Rena, "Bang.., luh kuat banget pacaran sama dia, gua aja temenan sama dia udah berkali-kali ngibarin bendera kuning, "ceplos Kipli, namun Reyhan hanya tertawa menimpali ucapan Kipli barusan.
"Ihh kamu kok ketawa sih, "ketus Rena menatap Reyhan sinis.
"Ya Iyalah, kan bokin luh kan satu frekuensi sama gua. Yuk ah Bang.., gua balik duluan, Ren gue cabut, "ujar Kipli yang langsung meninggalkan ruangan Alexa. Dan tak lama Kipli pergi, Reyhan dan Rena terlihat pergi meninggalkan ruangan Alexa.
********
__ADS_1
Di dalam ruangan, Ryuga menghampiri Alexa sambil membawakannya nampan yang berisi makanan, "Makan dulu yuk, kamu baru siuman setelah 5 hari, pasti perut kamu kosong, "ujar Ryuga sambil menyodorkan sendok yang berisi bubur ke arah Alexa.
Pranggg..!
Alexa menghempaskan nampan tersebut, hingga nampan tersebut pun sudah berpindah tempat berserakan di lantai. Alexa menatap Ryuga penuh kebencian lalu memalingkan wajahnya kembali. Ryuga hanya menyimpulkan senyum menatap ke arah Alexa, yang terus saja membuang wajahnya duduk sambil memeluk dirinya sendiri.
Ryuga menatap Alexa tersenyum, "Ya udah kalo kamu nggak mau makan, biar aku potongin buah ya, "ujar Ryuga begitu bersabar menghadapi Alexa, ia lalu beranjak dari ranjang Alexa memotong buah-buah segar untuk Alexa.
Ryuga pun kembali, dan menyodorkan wadah yang berisi buah-buah segar, namun reaksi Alexa tetap sama, ia kembali menghempaskan wadah tangan Ryuga, sehingga buah-buah tersebut pun berserakan di lantai. Ryuga benar-benar tidak marah sedikit pun dengan tindakan Alexa. Justru Ryuga kini beranjak kembali membuatkan Alexa segelas susu, dan meletakkannya di nakas.
"Kamu itu baru aja siuman, kamu butuh tenaga, setidaknya kamu harus mengisi perut kamu sedikit, "ujar Ryuga dengan nada selemah mungkin.
Alexa menatapnya dengan tajam, "Pergi, teriak Alexa."
Ryuga tersenyum menatap Alexa, yang terlihat kembali membuang wajahnya, "Jika memang memaafkan semua kesalahan aku begitu menyulitkan buat kamu, aku minta sama kamu, sakitin aja aku, hukum aku sepuasnya, karna aku lebih seneng kamu ngehukum aku, daripada ngeliat kamu nyakitin dan nyiksa diri kamu kayak gini. Alexa keluarin semua emosi kamu dan juga kebencian kamu sama aku, jangan kamu pendam masalah kamu kayak dulu Alexa, "ujar Ryuga menatap Alexa lirih.
Ryuga menghampiri Alexa dan menarik paksa tangan Alexa, meletakkan tangan Alexa di dada bidangnya, "Silahkan kamu marah, kamu pukul aku, kamu tampar aku, kaya yang tadi kamu lakuin ke aku tadi. Jangan kamu pendam kemarahan kamu, keluarin aja lampiasin semuanya sama aku, "ujar Ryuga menatap Alexa.
Alexa menatap Ryuga dengan mata berkaca-kaca, "Aku minta kamu pergi dari kehidupan aku, jangan ganggu aku dan anak-anak aku lagi. Dan secepatnya kamu tanda tanganin surat perceraian kita, "ujar Alexa penuh penekanan, menatap Ryuga dan menarik paksa tangannya.
Ryuga menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya menatap Alexa, "Jika itu menang sudah menjadi keputusan kamu, aku nggak bisa memaksanya, "ujar Ryuga dengan nada bicaranya yang terlihat bergetar menguatkan hatinya yang begitu hancur.
Ryuga berusaha netralkan diri menatap Alexa, "Lebih baik kamu istirahat, ini udah malam! Besok aku akan menyuruh tante Sisil membawa Shaka dan Sheena ke sini. Ya udah.., aku mau keluar dulu sebentar, "ujar Ryuga sambil merapikan selimut Alexa dan berjalan meninggalkan ruangan. Ryuga sengaja tidak memberitahukan keadaan Shaka dan Sheena yang sedang sakit karena ia tidak ingin membuat Alexa khawatir.
Kini di balik ruangan yang berbeda, keduanya terisak dalam lamunan mereka masing-masing. Alexa menangis karena merindukan kedua buah hatinya. Begitu pun dengan Ryuga ia tidak kuasa menahan gejolak di dalam dadanya yang terasa sesak, setelah mendengar Alexa yang tetap ingin bercerai darinya. Ryuga meraup wajahnya frustasi di ambil saja ponsel di dalam sakunya.
Ryuga menempelkan ponselnya di wajahnya, "Pah, suara Ryuga dengan nada lemah yang terdengar begitu putus asa."
"Ada masalah apa Ga? tanya Bimo."
Mendengar suara Papahnya, Ryuga pun langsung terisak di keheningan malam, "Maafin Ryuga Pah, Ryuga nggak bisa tepatin janji Ryuga? Alexa bersikes ingin bercerai Pah, "ujar Ryuga memijit tulang hidungnya.
"Tenangkan hatimu Ga, jika memang kalian di takdirkan untuk berpisah, untuk apa Tuhan mempertemukan kalian kembali. Mungkin saat ini Alexa masih terbawa emosi karena ingatannya baru saja pulih. Kamu jangan pesimis Ga, "ujar Bimo mencoba memberi semangat kepada putra semata wayangnya.
__ADS_1
"Makasih Pah, Ryuga tutup dulu, "ujar Ryuga menyudahi panggilanya.
Menelpon Papahnya tadi cukup membuat perasaan Ryuga sedikit tenang, ia pun kembali ke dalam ruangan Alexa. Ryuga melihat Alexa sudah tertidur dengan pulas, dan susu yang tadi sudah ia buat pun sudah Alexa minum sampai habis.
Ryuga duduk di sisi ranjang Alexa dan menatap wajah Alexa lekat-lekat, "Bagaimana aku harus menjalani hidupku nanti tanpa adanya kamu dan kedua anak-anak kita Alexa, aku lebih baik mati dari pada harus kehilangan kamu lagi, "batin Ryuga air matanya pun lolos begitu saja tanpa permisi. Di raihnya tangan Alexa, dan diciumnya kening Alexa dengan lembut, Ryuga merebahkan kepalanya di sisi ranjang Alexa sayup-sayup matanya mulai terpejam menyusul Alexa.
Jam menunjukkan pukul 01:00 dini hari.
Dalam lelapnya, Ryuga sedikit terusik, ia merasakan Alexa meremas kencang genggaman tangannya. Ryuga mengangkat kepalanya menatap ke arah Alexa, ia pun mengusap kedua matanya menyadarkan dirinya sepenuhnya.
Ryuga mengerutkan kedua alisnya saat melihat Alexa terlihat gelisah dalam tidurnya, nafasnya terlihat memburu, peluhnya pun mengalir cukup deras di keningnya. Semakin lama Ryuga merasakan nafas Alexa semakin tersengal-sengal.
"Pah Jangan Pah, sakit Pah, "rancu Alexa, bisa terdengar jelas oleh Ryuga.
"Ssshhh, ringis Ryuga saat merasakan kuku Alexa menancap dalam genggamannya.
"Apa ini trauma Alexa yang pernah Siska ceritakan dulu, "batin Ryuga dengan wajah serius.
Ia pun menatap Alexa, "Alexa bangun Alexa, "ujar Ryuga mengusap perlahan pipi Alexa.
Alexa pun tersentak kaget dan langsung menarik dirinya menjauh dari Ryuga, Alexa menutup wajahnya bergetar ketakutan.
"Ampun Pah! Jangan pukul Alexa, "ujar Alexa tidak sadar menutup matanya meremas rambutnya ketakutan.
"Alexa ini aku, "ujar Ryuga menyadarkan Alexa, namun Alexa berteriak semakin ketakutan histeris sangat Ryuga menyentuh tubuhnya.
"Alexa sadar ini aku, "ujar Ryuga meraup wajah Alexa, dan terus berusaha menyadarkannya Alexa. Alexa memberanikan diri membuka matanya dan menatap Ryuga, matanya pun mulai meredup dan Alexa pun terjatuh tepat di hadapan Ryuga, tidak sadarkan diri.
Ryuga mengangku kepala Alexa mencoba menyadarkan Alexa, "Alexa bangun, Alexa, "panggil Ryuga menepuk pipi Alexa perlahan namun Alexa tidak membuka matanya.
Ryuga pun memeluk Alexa ke dalam pelukan dengan perasaan iba, "Ferdy kau benar-benar iblis, "batin Ryuga mengutuki perbuatan Ferdy, yang memberikan trauma begitu hebat kepada Alexa. Ryuga meraih tubuh Alexa dan merebahkan kembali tubuh Alexa ranjangnya, ia pun memencet tombol nurse call yang berada di samping ranjang Alexa.
...----------------...
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...