
Di dalam ruangan Om Ardy, Ryuga dan Reyhan terlihat membicarakan obrolan serius dengan Om Ardy tentang proyek pembangunan apartemen mewah di pusat kota. Om Ardy merupakan pemenangnya tender untuk proyek tersebut, walaupun Ryuga sangat mengenal Om Ardy dengan baik namun bukan karena hal tersebut Ryuga memilih perusahaan Om Ardy sebagai pemenang tender. Itu karena Subrata Group berhasil lolos seleksi setelah pihak penyelenggara mengadakan seleksi yang ketat terhadap beberapa perusahaan yang ikut serta dalam proyek tersebut. Subrata Group berhasil memenuhi standar kriteria di lihat dari beberapa komposisi penilaian aspek teknis serta aspek penawaran harga dan lain sebagainya.
"Kamu sangat pintar Ga menentukan lokasi yang strategis," ujar Om Bimo.
"Butuh perjuangan yang nggak gampang Om buat dapetin lahan tersebut, karena lahan tersebut tadinya adalah lahan sengketa, "ujar Reyhan menyauti.
Ryuga menatap Ardy dengan wajah serius "Om kedatangan saya ke sini selain ini membicarakan perihal pekerjaan, tapi juga sebenarnya saya juga ingin membicarakan mengenai Alexa ," ujar Ryuga menatap intens Om Ardy.
Ardy tersenyum menatap Ryuga, "Om sudah paham.., Nicco sudah menceritakan semuanya sama Om. Om juga sebenarnya sangat setuju dan mendukung kalian untuk kembali bersama mengingat kedua anak Alexa yang pasti sangat membutuh kasih sayang seorang ayah, tapi Om sedikit khawatir, kamu sudah paham kan kondisi Alexa?" tanya Om Ardy sedikit khawatir.
"Iya Om, Nicco sudah menceritakan semua kemarin Om," ujar Ryuga.
Ardy menghembuskan nafas kasarnya, "Maaf Ga, jika Nicco harus membohongi Alexa, jika penyebab insiden 5 tahun yang lalu adalah bahwa ia mengalami kecelakaan dan menyebabkan kamu meninggal Ryuga_"
"Apa Om meninggal," ujar Ryuga terkejut memotong ucapan Om Ardy.
Ardy mengerutkan kedua alis menatap Ryuga, "Apa Nicco tidak menceritakan hal tersebut kepada kamu Ga? "tanya Ardy.
Ryuga mengepalkan tangannya, Ryuga mendengus kesal, "Brengsek Nicco," batin Ryuga.
Ryuga menatap kembali Om Ardy, "Tapi kenapa Nicco harus berbohong sekejam itu ? Apa sebelum membohongi Alexa, kalian tidak memikirkan anak yang ada di dalam kandungan Alexa," ujar Ryuga sedikit emosi.
"Maaf Ryuga Om dan Tante juga saat itu tidak mengetahui banyak informasi tentang Alexa, "ujar Om Ardy meraih tangan Ryuga.
"Bagaimana kalo malam ini kamu makan malam di kediaman Om ? Pasti kamu ingin bertemu dengan Alexa dan kedua anaknya kan?" tanya Om Ardy menatap Ryuga.
Ryuga menatap terkejut Om Ardy, "Apa dua anak Om?" tanya Ryuga.
Ardy menganguk tersenyum menatap Ryuga, "Benar Ryuga.., saat di Jerman Alexa melahirkan sepasang anak kembar. Satu laki-laki dan satunya lagi perempuan," ujar Ardy.
Ryuga menatap Om Ardy penuh rasa haru, ia meletakkan tangannya di mulut karena tidak sanggup berkata-kata apa-apa lagi untuk menggambarkan rasa bahagianya.
Reyhan yang sejak tadi mendengar percakapan antara Ryuga dan Om Ardy pun di buat tersenyum simpul, mendengar kabar baik tersebut.
Reyhan menghampiri Ryuga, "Ga.., Mr. Mark sejam lagi datang," ujar Reyhan mengingatkan Ryuga kembali.
Ryuga berdiri saja, "Baik Om saya pasti akan datang nanti malam ke rumah Om, dan maaf Om, jika saya tadi sedikit terbawa emosi," ujar Ryuga.
Ardy tersenyum menatap Ryuga, "Gpp.., Om yang seharusnya meminta maaf terutama atas segala kesalahan Grace dan juga Dimas yang menyebabkan kamu berpisah dengan Alexa, "ujar Bimo dengan tersenyum penuh ketulusan.
Ryuga hanya menyimpulkan senyum mendengar permintaan maaf Om Ardy, "Baik Om, kalo gitu saya permisi dulu, ada klien yang baru saja datang dari Jerman. Saya percayakan proyek tersebut kepada Om, "ujar Ryuga menjabat tangan Ardy.
Ardy menepuk bahu Ryuga, "Terimakasih atas kepercayaan kamu, Om tunggu kehadiran kamu di rumah Om, "ujar Ardy mengantarkan Ryuga sampai pintu ruangannya.
Di perusahaannya, hampir 4 jam Ryuga dan Reyhan mengadakan pertemuan dan diskusi penting dengan Mr. Mark.
Mr. Mark menjabat tangan Ryuga dengan senyum penuh wibawa, "We, from Globis Company ., would like to thank you for the cooperation that you did with us for the last few months," ujar Mr.Mark
Ryuga tersenyum menganggukkan kepalanya, " Of course, happy to work with you," ujar Ryuga penuh wibawa.
Ryuga dan Reyhan secara langsung mengantarkan kepergian Mr. Mark sampai lobby perusahaannya.
"Jam berapa sekarang Han," ujar Ryuga setelah melihat mobil Mr. Mark menjauh.
__ADS_1
Reyhan melihat jam rolex di tangannya, "Jam 3 lewat Ga," ujar Reyhan menatap Ryuga.
Ryuga menadahkan tanganya ke arah Reyhan tanpa menatap Reyhan, "Mana sini kunci mobil," ujar Ryuga.
Reyhan mengambil kunci mobil di sakunya meletakkan kunci mobil tersebut di tangan Ryuga, "Yakin luh nggak gue anter?" tanya Reyhan.
Ryuga melangkahkan kakinya tanpa menjawab pertanyaan Reyhan, "Gue berangkat dulu," ujar Ryuga membuka pintu mobilnya.
Reyhan tersenyum, "Good luck Ga," ujar Reyhan. Ryuga menatap Reyhan dengan senyum simpul mengangkat jari jempolnya, dan langsung menginjak gas pegal mobilnya meninggalkan lobby perusahaan.
Ryuga menyalakan sen pada mobilnya, saat memasuki kawasan perumahan elit di bilangan Pondok Indah. Ryuga celingak-celinguk mencari kediaman Om Ardy, "Kayanya belok sini," ujar Ryuga menatap jalan.
Namun tiba-tiba matanya di kejutkan saat melihat senyum bahagia wanita yang selama ini begitu ia rindukan berjalan tepat di seberang jalan sedang mengiringi dua orang anak kecil yang sedang bermain sepeda memasuki area taman bermain.
Ryuga menginjak rem pada mobilnya, menundurkan kembali mobilnya secara perlahan mengikuti pergerakan Alexa, "Alexa benar itu adalah Alexaku ," ujar Ryuga tak kuasa membendung perasaannya.
.
.
*****
POV Ryuga
Aku keluar dari mobilku dan melangkah masuk ke dalam taman bermain, menatap Alexa dan kedua anaknya dari kejauhan.
Aku terus melihat kegiatan Alexa dan sampai tiba-tiba, "Aaaww.. Ssshhh! Aduhhh, "ringis putraku saat terjatuh dari sepedanya.
Dengan langkah cepat aku menghampiri putraku, dan menatapnya dengan senyum hangatku.
Dengan wajah polosnya ia menggelengkan kepala menatapku tanpa berkedip sedikit pun.
Ku usapkan saja tanganku di menyentuh rambutnya, saat ia menatapku seperti kucing kecil yang kehilangan induknya. Aku mencoba tersenyum sambil menggigit kedua bibirku menahan gejolak dalam hatiku yang terasa ingin meledak saat pertama kali berinteraksi dengan putra kandungku yang begitu aku rindukan.
Aku mengusap kepala putraku dengan lembut, "Gpp, jagoan nggak boleh nangis! sini yuk Om bersihin lukanya, ujarku sambil mengambil sapu tangannya di saku jas lalu membersihkan luka di lutut putraku.
"Uncle.., Shaka boleh peluk Uncle nggak? "tanya putraku.
"Oh jadi namanya Shaka, "batinku.
Aku sedikit terkejut menghentikan kegiatanku saat mendengar ucapan Shaka yang cukup membuat perasaanku berdesir hebat.
Aku meresponnya dengan berikan senyum simpulku ku anggukkan saja kepalaku, "Jadi nama kamu Shaka ya? Nama yang bagus, "ujarku yang langsung menadahkan kedua tanganku ke arah Shaka.
Ternyata Shaka benar-benar berhambur memelukku, tanpa ada perasaan asing sedikit pun walau pertama kalinya kita bertemu.
"Apa ini yang di sebut dengan ikatan batin antara ayah dan anak, "batinku meneteskan air mata sambil mengusap lembut kepala Shaka.
Aku benar-benar tidak kuasa lagi menahan perasaan haruku setelah berhasil menemukan istri dan anakku. "Shaka.., Ini Daddy sayang, "batinku ingin sekali ia mengatakan kata-kata tersebut, namun hanya mampu ku pendam.
Shaka mengusap air mata di pipiku, "Kok Uncle nangis sih, Uncle sedih ya liat Shaka jatuh?" tanya Shaka dengan mata berkaca-kaca.
Aku tersenyum dan mengangguk menatap Shaka, ku usapkan saja satu tanganku menyentuh pipi mungil Shaka, "Iya Uncle sedih," sautku.
__ADS_1
"Shaka"
Aku melirik sekilas ke arah sumber suara, yang memanggil nama Shaka, "Alexa, "batinku dengan tubuh bergetar hebat, aku segera menghapus sisa air mataku terburu-buru.
"Mas nya ngapain peluk-peluk anak saya, Mas mau culik anak saya ya, " tuduh Alexa kepadaku ku dengar.
Deg!
Jantungku berdetak semakin tidak karuan hatiku semakin kalut saat mendengar suara wanita yang selama ini aku rindukan. Kulepaskan saja pelukanku pada Shaka, dan berusaha menetralkan perasaanku yang begitu menggebu-gebu karena rasa rinduku selama lima tahun.
Aku mendengar suara celoteh kedua malaikat mungilku dengan Alexa, "Suara-suara merdu ini, seharusnya dan di dalam rumah kita Alexa, "batinku yang sejak tadi mendengar pembicaraan Alexa dengan kedua anaknya.
"Aduh Mas nya maaf banget ya, saya udah nuduh Masnya yang enggak-enggak, sekali lagi maaf ya, "ujar Alexa menatap ke arahku
Aku memberanikan diri menatap wanita yang selama ini begitu aku rindukan. Setelah 5 tahun berpisah hatiku tidak pernah sedikit pun melupakan wanita yang dulu selalu mengisinya hari-hariku dengan kebahagiaan. Aku bisa melihat penampilan Alexa kini sedikit berbeda, Alexa terlihat sedikit merias wajahnya, berbeda seperti Alexa yang dulu selalu membiarkan wajah polos tanpa sentuan make up sedikit pun. Alexa semakin cantik, tubuhnya pun terlihat lebih berisi.
Kita saling menatap cukup lama memancarkan rasa kerinduanku yang begitu mendalam. Aku membuang wajahku ke sembarang arah, saat aku mendapat tatapan bingung Alexa yang benar-benar tidak mengenaliku sama sekali, hatiku merasa sakit dan juga hancur karena rasa bersalahku yang teramat besar kepadanya.
"Uncle maafin Mommy Sheena ya? Uncle marahnya sama Mommy Sheena," ujar putri kecilku menarik celanaku yang membuat perhatianku sedikit teralihkan.
Aku mensejajarkan menatap putriku yang begitu membuatku gemas ingin memeluknya sejak tadi.
Aku tersenyum menatap putriku "Enggak kok Uncle nggak marah. Siapa tadi nama kamu?" tanyaku tersenyum mengusap pipi mungilnya.
"Sheena..Uncle, ujar putri mungiku ku dengar."
Aku tersenyum saat melihat tingkah lucu Sheena saat menggigit bibirnya, karena tingkahnya tersebut sangat mirip dengan Alexa apabila sedang gugup dan ku usap saja rambut Sheena "Nama yang cantik, sama persis seperti Sheena yang cantik," ujarku yang ternyata membuat Sheena begitu riang.
Aku terdiam sejak tadi melihat interaksi antara Alexa dan juga kedua anaknya, aku merasa tidak tega melihat Shaka kesulitan berjalan.
Ku langkahkan saja kakiku menghampiri Shaka, meraih tubuh Shaka, dan menggedong Shaka dengan segala perhatianku, "Yuk biar Uncle anter pulang, "ujarku
"Eh maaf Mas nggak usah, saya nggak mau ngerepotin," ujar Alexa menolakku
"Mommy.. Shaka mau kok di anterin sama Uncle," ujar Shaka yang langsung mengaitkan kedua tangannya, di lehernya. Aku tersenyum menatap Shaka yang seolah tidak ingin jauh dariku.
Aku menghampiri Alexa, "Gpp kok, saya juga nggak keberatan. Perkenalkan nama saya Ryuga Pramata Wijaya," ujarku menadahkan tangannya ke arah Alexa yang terlihat kikuk.
"Kok saya kayak pernah denger ya, nama Masnya nggak asing," ujar Alexa menggaruk pelipisnya.
"Hah apa dia mengingat ku, batinku cukup antusias menatap Alexa, berharap Alexa mengingatku kembali.
"Ahh iya.., saya inget sekarang, saya pernah liat artikel dan juga berita tentang Masnya di TV. Wah saya benaran nggak nyangka bisa ketemu orang sesibuk dan sepenting Anda di sini," ujar Alexa.
Aku sedikit kecewa, ternyata ucapan Alexa tidak sesuai dengan harapanku, "Alexa ternyata kamu benar-benar tidak mengingatku sama sekali, tapi aku tidak akan pernah menyerah. Aku mendapatkan hatimu kembali Alexa, "batinku.
Aku melihat Alexa menjulurkan tangannya ke arahku "Nama saya Alexa dan ini adalah kedua anak saya Shaka dan juga Sheena, "ujar Alexa tersenyum ke arahku
Aku tersenyum menatap Alexa, dengan irama jantungku yang sudah tidak karu karuan, "Mari saya antar," ujarku mulai melangkahkan kakinya.
"Yakin.., Gpp emangnya?" tanya Alexa ku dengar.
Aku pun tersenyum menganggukkan kepalaku menatap Alexa yang terlihat gugup.
__ADS_1
...----------------...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...