
Retno membuka pintu ruangan bersama dengan Dr. Andry, Dr. Siska, dan Sita yang ikut mengikutinya masuk ke dalam ruang intensif tempat suaminya terbaring lemah di ranjang kesakitannya. Retno bisa melihat suami sepertinya sedang tertidur pulas.
Alexa yang melihat ketiga teman-temannya Ryuga di depannya dibuat terkejut dengan kemunculan mereka secara tiba-tiba.
"Alexa ini ada teman-temannya Ryuga datang, kamu bisa tunggu di luar kan," ujar Retno dengan sorot mata penuh penekanan.
Alexa yang terlihat seperti orang bodoh hanya mengangguk menuruti ucapan mertuanya tersebut dan berjalan keluar dari ruangan intensif Papahnya tersebut. Alexa tidak berani menatap ketiga teman-teman Ryuga tersebut apalagi ia sangat mengenal dokter Siska begitu pun sebaliknya, Alexa langsung memperlihatkan mimik kecemasannya dengan berjalan menundukkan kepalanya.
Saat Alexa berjalan, "Kamu bukan sepupunya Ryuga kan?" tanya Andry menatap Alexa.
"Iiya permisi Dok," jawab Alexa berusaha menghindari kontak mata dengan Andry.
"Hmm, sepertinya Ryuga belum pernah mengenalkan Alexa kepada teman-temannya," batin Retno.
Retno, Siska, dan Sita yang mendengarnya di buat heran dengan ucapan Andry yang menganggap Alexa itu adalah sepupu Ryuga. Terutama Sita dan Siska yang sudah mengetahui fakta yang sebenarnya bahwa Alexa itu adalah istri Ryuga mereka lebih di buat heran melihat Tante Retno, sebab saat itu Tante Retno tidak menampik ucapan Andry tadi seolah ia membiarkan fakta bahwa Alexa itu adalah sepupu Ryuga.
Alexa menunggu di ruangan tunggu sambil merema* kedua tangannya, sejujurnya ia ingin sekali pergi dari tempat yang sudah membuatnya merasa tidak nyaman saat ini, apalagi Mamah Retno tidak memperkenalkan dirinya sebagai istri dari Ryuga kepada teman-temannya Ryuga, membiarkan Dr. Andry, Dr Siska dan Sita menganggapnya sebagai sepupu Ryuga.
Loh Tante tadi kata Ryuga istrinya ada, di dalam, kok nggak ada sih, malahan saya liatnya ada sepupunya doang di sini?" tanya Andry keluar saat dari ruang intensif di ikuti yang lainnya.
"Ah tadi Tante lupa kasih tau Ryuga, kalo tadi istrinya pulang duluan, mungkin dia nggak cek ke dalam ruangan Papahnya kayaknya," ujar Retno mencari-cari alasan.
"Oh gitu ya, wah sayang banget padahal saya penasaran pengen kenal istrinya Ryuga, Tante," ujar Andry.
Ucapan Retno tersebut sanggup membuat hati Alexa terasa di sayat-sayat saat mendengarnya. Sedangkan Sita dan Siska pun yang mendengarnya cuman terperangah dengan penuturan Tante Retno.
Siska menatap iba Alexa yang tampak tertunduk menutupi rasa sedihnya, "Pantes saja kamu merahasiakan penyakit kamu Alexa, rupanya keluarga Ryuga tidak bisa menerima kehadiran kamu dengan baik," batin Siska merasa iba.
Lain halnya dengan Sita, ia di buat puas mendengar ucapan Tante Retno yang ternyata tidak menyukai Alexa, "Ck kasian banget sih kamu Alexa, jadi menantu tapi nggak di anggep sama si Nenek Sihir ini. Hmm.. peluang gue semakin terbuka untuk dapeti Ryuga, udah gitu kayanya Tante Retno berusaha banget deketin gue sama Ryuga," batin Sita tersenyum sinis melirik Alexa yang menundukkan wajahnya.
"Hai dede ketemu lagi kita," ujar Andry menyapa Alexa.
"Iiya dok, jawab Alexa gugup."
"Santai aja kali nggak usah tegang gitu, tenang aja saya nggak gigit kok," ujar Andry menggoda Alexa.
"Beb," ujar Siska menarik tangan Andry dan sedikit memberi peringatan pada Andry untuk menjaga sikapnya.
"Ya ampun Beb, aku cukup mau say hay doang kok," ujar Andry dengan santai.
"Oia kemaren lupa, siapa namanya?" tanya Andry ramah.
"Namanya Alexa, dia keponakan Tante," ujar Retno dengan tanpa beban sedikit pun. Dan Sita yang duduk di samping Tante Retno, pun tersenyum smirk menatap Alexa.
"Beb ayo kita pergi dulu ini udah lewat jam istirahat, aku masih ada pasien," ajak Siska menarik tangan Andry.
"Lah kata kamu pasien kamu datang jam 2, ini baru jam satu Beb," ujar Andry.
"Iya ini dia tiba-tiba chat aku, mau majuin jam kunjungannya," ujar Siska mencari-cari alasan.
"Maaf ya Tante, saya sama Siska permisi dulu, titip salam buat Om Bimo ya" ujar Andry berpamitan.
"Iya Tante maaf ya kalo ada waktu kita mampir lagi deh," ujar Siska tersenyum kaku menatap Tante Retno.
__ADS_1
"Terima kasih yang kalian udah meluangkan waktu kalian untuk mengunjungi suami Tante, padahal pasti kalian lagi sibukkan sama kerjaan kalian, Tante ngerti kok," ujar Retno berjabat tangan.
"Enggak apa-apa kok Tante," ujar Andry menjababat tangan Tante Retno tersenyum.
"Sit luh nggak ikut cabut?" tanya Siska.
"Sita kamu temenin Tante di sini dulu ya, nanti aja pulangnya," ujar Retno tanpa menghiraukan keberadaan Alexa.
Andry dan Siska saling memandang satu sama lain mendengar ucapan tante Retno. Dan mereka pun berjalan keluar dari ruangan Anggrek, Siska sebenarnya merasa tidak nyaman berada di kondisi seperti tadi apalagi ia benar-benar tidak tega melihat Alexa yang keberadaannya tidak di anggap oleh Tante Retno.
"Beb kamu buru-buru amat si, nggak enak tau," ujar Andry berjalan sambil menggenggam tangan Siska.
"Kamu marah gara-gara aku nyapa sepupunya Ryuga tadi, makanya kamu ngajak aku pergi?" tanya Andry mencekal pergerakan Siska menatap wajah Siska lekat-lekat.
"Dia itu bukan sepupunya Ryuga, tapi istrinya Ryuga," ujar Siska.
Maksud kamu apa sih Beb, "Tapi Tante Retno bilang sendiri Alexa itu keponakannya, kamu jangan ngaco deh Beb, bilang aja kamu cemburu makanya kamu buru-buru ngajak aku pergi," ujar Andry masih tidak percaya.
"Terserah kamu deh mau percaya apa enggak, tapi yang jelas situasi tadi sangat bikin aku nggak nyaman, aku nggak tega liat Alexa makanya aku ngajak kamu pergi," ujar Siska dengan bicaranya yang agak tinggi.
"Kamu serius Beb?" tanya Andry mulai serius.
"Ngapain aku bohong," jawab Siska berjalan kembali menuju ruangannya.
"Beb tungguin, kamu jelasin dong biar aku paham," ujar Andry mengikuti langkah Siska masuk ke dalam ruangannya.
Andry pun duduk di bangku pasien tepat di hadapan Siska, kedua tangannya ia tautkan di atas meja, kakinya terus saja ia gerakan berulang-ulang di bawah meja tidak sabaran mendengar penjelasan dari sang kekasih.
"Kamu jangan kaget ya Beb," ujar Siska menatap tegas Andry. Andry pun mengangguk dengan cepat menjawab ucapan sang kekasih.
"Apa dia pasien kamu?" tanya Andry terkejut.
"Iya Beb, udah hampir 2 tahun dia rutin terapi di sini. Kamu inget waktu kita ketemuan sama Ryuga sama Sita di cafe waktu itu?" tanya Siska serius.
"Iya aku inget," jawab Andry mengangguk-angguk.
"Saat itu aku sama Sita ketemu Alexa di toilet dia lagi sama Dimas, Beb," ujar Siska.
"Dimas ade kamu maksudnya?" tanya Andry.
Siska mengangguk, "Iya Beb, ternyata aku tau fakta bahwa Alexa itu istrinya Ryuga itu dari Dimas, karena Dimas itu cinta banget Beb sama Alexa, dia satu sekolah sama Alexa," ujar Siska.
"Apa kamu serius Beb? Terus kenapa tadi nyokapnya Ryuga nggak bilang kalo Alexa itu menantunya?" tanya Andry penasaran.
"Makanya aku juga nggak tau kenapa bisa begitu, jujur Beb aku kasian banget sama Alexa, apalagi liat mukanya tadi kayak mau nangis gitu makanya aku buru-buru ngajak kamu pergi, aku nggak tega liatnya," ujar Siska.
"Kok nyokapnya Ryuga bisa tega gitu ya? apa alesannya dia gituin Alexa? apa Ryuga tau sikap Mamahnya kaya gitu ya, Beb?" tanya Andry penasaran.
Siska hanya menadahkan kedua tangannya sambil mengangkat kedua bahunya menjawab pertanyaan kekasihnya.
"Tapi nih ya Beb, yang aku heran lagi kamu perhatiin Enggak tadi sikap Mamahnya Ryuga sama Sita, bukannya Tante Retno dulu sempet nggak suka gitu ya Beb sama Sita?" tanya Siska sambil memainkan bolpoin di tangannya.
"Iya aku juga bingung, aku jadi rada-rada aneh deh sama Sita, nggak mungkin dia itu berniat," ujar Andry menahan ucapannya.
__ADS_1
"Nggak berniat apa maksud kamu Beb?" tanya Siska mendengar ucapan kekasihnya yang mengantung.
Drrrttt Drrrrttt!
Tuh ponsel kamu bunyi tuh pasti pasien kamu udah nungguin kamu, udah cepet kamu ke ruangan kamu gih," ujar Siska.
"Tapi Beb aku masih penasaran," ujar Andry.
"Udah kerja dulu sana, nanti di lanjut lagi" usir Siska. Dokter Andry pun meninggalkan ruangan kekasihnya dengan raut wajah yang masih terlihat penasaran tentang hubungan Alexa dan Ryuga.
.
.
POV Alexa, Sita, Mamah Retno.
"Sita, makasih ya kamu kemaren udah temenin Tante sama Ryuga pas Om Bimo menjalani operasi," ujar Retno sekilas melirik Alexa sengaja memanasi Alexa.
"Sama-sama Tante, lagian Sita juga kemaren nggak ngapa-ngapain kok," ujar Sita sambil melirik ke arah Alexa. Sita terseyum puas dalam hati melihat Alexa yang nampak bergetar berusaha menahan tangis.
"Kemaren Ryuga nganter kamu pulang sampe rumah kan?" tanya Retno
"Iya Tante, Ryuga anterin sampe kosan Sita dia juga mampir sebentar," ujar Sita melebih - lebihkan ucapannya.
Deg!
Hati Alexa bagai di hujam ribuan pisau, mendengar obrolan yang begitu menyesakan hatinya. Ia seperti orang bodoh duduk terdiam sendiri, Mamah Retno benar-benar tidak menganggap keberadaannya saat ini. Kakinya seolah terpaku di tempatnya duduk mendengar obrolan yang membuat hatinya hancur berkeping-keping, Alexa ia sudah tidak sanggup menahan air matanya lagi.
Drttt Drrrrttt
Ponsel Alexa bergetar, terlihat Rena menghubunginya.
"Hal lo Ren, ujar Alexa dengan nada bicaranya bergetar."
"Lex luh nggak buka grup, hari ini anak-anak pada mau gladiresik buat besok, ayo cepetan luh dimana?" tanya Rena.
"Iiiya gu-gue kesitu," ujar Alexa terbata-bata.
Alexa beranjak dari sofa, akhir ada alasan untuknya pergi dari tempat yang sungguh membuatnya ingin lengap sedari tadi.
"Aku permisi Ma eh Tante, mau latihan di sekolah," ujar Alexa kikuk dengan ucapannya.
"Kamu udah mau pergi, ya udah hati-hati nya makasih kamu udah nemenin Om Bimo ya," ujar Retno dengan ramah, namun kata-kata yang keluar dari mulut nya seolah tidak ada beban sedikit pun.
"Permisi," ujar Alexa bergegas pergi meninggalkan ruang Anggrek.
Alexa berjalan tertatih sambil memegangi tembok di koridor rumah sakit. Akhirnya ia bisa mengeluarkan air matanya kesakitannya dan menangis dengan begitu pilu.
"Kenapa kamu bohongin aku Yank, ternyata kamu masih berhubungan sama Sita, kamu sama Mamah kamu tuh sama aja jahatnya, tega banget kamu Yank hancurin perasaan aku," tangis Alexa pecah, Alexa tidak sanggup melangkahkan kakinya yang terasa lemas, ia pun menjatuhnya tubuhnya di pelataran koridor rumah sakit, Alexa benar-benar tidak memperdulikan beberapa pasang mata yang menatapnya dengan heran.
"Mah sakit banget hati Alexa Mah, Alexa nggak sanggup lagi," ujar Alexa memukul dadanya yang terasa sesak, duduk bersandar di tembok menutup mulutnya agar tidak menimbulkan bunyi jeritan tangisnya.
...----------------...
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...