Guruku Jodohku

Guruku Jodohku
Hari Guru


__ADS_3

Jum'at, 25 November


Pagi nampak begitu berbeda, tidak ada suara canda tawa khas di pagi hari, suara dentingan sendok di meja makan. Alexa menapaki tangga membawa kopernya menatap sedih ruangan yang begitu sunyi. Begitu beratnya Alexa mengawali pagi ini walau raga memaksanya untuk pergi, namun hatinya masih saja tertinggal di tempat yang sama.


Pagi-pagi sekali Alexa keluar dari apartemen Ryuga, semalam ia menunggu Ryuga pulang, untuk menyelesaikan masalah mereka. Namun sampai pagi hari Alexa menunggunya, Ryuga tidak tidak kunjung pulang ke apartemennya.


Membuat Alexa semakin yakin bahwa keputusannya untuk berpisah dari Ryuga merupakan keputusan yang paling tepat baginya. Alexa tersenyum penuh kepedihan ia tidak menyangka di hari ulang tahun hari, akan mendapatkan kado paling menyakitkan dalam hidupnya.


Sertifikat rumah, cek satu milyar kartu black card, cincin berlian pemberian Ryuga Alexa tinggalkan semua itu di nakas kamarnya, ia tidak mengambil sepeserpun uang pemberian dari keluarga Ryuga. Ia ingin melepaskan dirinya sepenuhnya dari embel-embel keluarga Wijaya.


Dengan hatinya yang teramat hancur Alexa menutup pintu apartemen Ryuga menarik kopernya berjalan meninggalkan tempat yang dipenuhi kenangan manis. Alexa akan mengubur dalam-dalam perasaan cintanya dan memutuskan memulai hidupnya yang baru.


"Selamat tinggal Yank," pamit Alexa dengan isak tangis.


Alexa menatap sisi jalan di dalam taksi, air matanya terus saja menetes tiada hentinya sejak ia memutuskan keluar dari apartemen Ryuga.


"Mau kemana dek?" tanya sang sopir taksi.


"Ke jalan SMA 12 Pak," ujar Alexa.


Langkahnya terasa begitu berat saat memasuki halaman rumah Tante Karin


Tok tok tok!


Cekrek


Suara pintu mulai terbuka, "Alexa kamu kenapa Alexa ya ampun," ujar Karin terkejut melihat kondisi Alexa yang menundukkan kepalanya menangis sambil membawa koper.


Tanpa aba-aba Alexa langsung memeluk Karin dengan erat, "Tante, ujar Alexa sesenggukan.


"Ya ampun Alexa, ayo masuk!" ajak Karin sambil merangkul Alexa.


"Mbok Darmi, panggil Karin."


"Iya Bu...Loh Non Alexa kenapa?" tanya Mbok Darmi terkejut melihat Alexa yang menangis.


"Mbok tolong bawain kopernya Alexa di luar," ujar Karin.


"Iiiiya bu," jawab Mbok terbata-bata matanya masih ia fokuskan pada Alexa.


"Kamu kenapa Alexa?" tanya Karin mengusap kepala Alexa duduk merangkul Alexa di sofa.


"Tante.., Alexa.. Alexa udah bercerai Tante sama Kak Ryuga," ujar Alexa sesenggukan.


"Ya ampun Alexa kok bisa Alexa?" tanya Karin meneteskan air matanya.


Alexa pun menceritakan semuanya awal mula permasalahan sampai Retno mengusirnya tidak ada satu pun yang Alexa lewatkan. Mbok Darmi pun yang ikut mendengarkan cerita pilu Alexa dibuat menangis dengan permasalahan Alexa.


"Retno benar-benar kelewatan," ujar Karin kesal.


"Apa Ryuga tau kamu pergi?" tanya Karin.


Alexa menggelengkan kepalanya menatap Karin, "Sejak kemarin dia nggak ada kabar Tante, dan Ryuga juga nggak pulang semalaman, Alexa kemarin liat Kak Ryuga pelukan sama mantan pacarnya dan mereka pergi berdua Tante," ujar Alexa terisak.

__ADS_1


"Ya ampun Alexa, kamu yang sabar ya ada Tante di sini," ujar Karin meneteskan air matanya.


"Tante Alexa nggak punya siapa-siapa lagi Tante, kamaren Alexa ketemu Papah, dan Papah mau celakain Alexa, Alexa takut Tante kembali ke rumah Papah makannya Alexa mampir ke sini," ujar Alexa menghapus air matanya.


"Ya udah kamu tinggal disini aja sama Tante ya," ujar Karin


"Nggak Tante, Alexa nggak mau ngerepotin Tante," ujar Alexa menolak.


"Tapi kamu mau kemana Alexa?" tanya Karin. Alexa hanya menggelengkan kepalanya ia juga bingung tidak tahu ke mana arah dan tujuannya.


"Tuh mending kamu di sini aja temenin Tante," ujar Karin.


"Tante Alexa mau ke sekolah dulu Tante, Alexa mau selesaikan semua masalah Alexa dulu, sebelum Alexa memutuskan untuk pergi dari kehidupan Ryuga untuk selamanya, Tante," ujar Alexa.


"Tante anter ya, ujar Karin."


Alexa pun mengangguk menjawab pertanyaan Tante Karin.


.


.


**********


Hari Guru Nasional


Suasana di SMA Garuda Bangsa terlihat berbeda dari biasanya. Suara suara tabuhan drum sorak siswa-siswi menambah suasana begitu meriah. Setelah semua siswa mengikuti upacara hari guru, kini semua siswa-siswi terlihat berkumpul di lapangan untuk melihat pertunjukan pensi sekolah yang sudah di persiapkan para siswa siswi yang bergabung untuk menambah kemeriahan hari guru.


"Semalem gue telpon juga nggak di angkat-angkat sama dia, gue kok jadi khawatir gini perasaan gue nggak tenang Pli," ujar Rena.


"Ya udah luh mending coba terus hubungi dia," ujar Kipli.


"Eh Pli nama luh di panggil tuh, sekarang giliran luh stand up sono," ujar Rena.


Kipli berlari menuju panggung sambil mengangkat kedua tangan, seluruh siswa-siswi bersorak saat Kipli terlihat bertingkah saat menaiki panggung pensi.


Kipli langsung saja memulai menunjukkan bakatnya dalam membawa standup comedy di atas panggung dengan gaya slengean yang ceplas-ceplos.


Hmmm...Hmmm..


Selamat pagi menjelang siang semuanya


"Perkenalkan nama gue Zulkifli Muis. Saya biasa di panggil Kipli, terserah kalo ente pada mau panggil gue Varrel Bramasta juga gue bakalan nyaut," ujar Kipli.


"Huuuuuu, seluruh para siswa terdengar menyoraki Kipli dengan gelak tawa."


"Maaf ya, kalo gue kepedean bilang diri gue ini Varrel. Karena memang saya bukan Varrel, tapi cuman mirip doang."


"Huuuuu.. Luh nggak mirip Varrel tapi lebih mirip patkay," ujar Aldo teman Kipli di bawah panggung.


"Luh kalo ngomong suka jujur banget Do, makasih banget atas sanjungannya," saut Kipli menyauti.


Langsung aja ya gaes, berdirinya gue disini gue akan membahas tentang diskriminasi anak IPS," ujar Kipli.

__ADS_1


Luh suka ngerasa nggak sih sebagai anak IPS kalian tuh sering banget dapet tindakan diskriminasi," ujar Kipli.


Kalo diri gue pribadi sih ngerasa banget anjir contohnya nih, saat gue baru dateng nunjukin batang idung gue doang nih di gerbang sekolah, belom sama muka, tangan, sama anggota tubuh gue yang laen aja, itu guru nyambutnya udah nggak enak banget bahasanya asli, gini nih ,"Woy kamu cepetan masuk, jangan jadi anak malas," gitu gaes, padahal gue belom ngapa-ngapain, bikin salah pun enggak tapi karena gue itu anak IPS , jadi perspektifnya udah nggak ada baik-baiknya gitu. Nyesek nggak sih luh di gituin?" tanya Kipli.


Padahal setiap gue berangkat ke sekolah nih, enyak sama Babe gue selalu bilang ,"Pli luh sekolah ngaak ape-ape, nggak pinter juga yang penting lu bae, banyak temen, rajin masuk sama rajin ibadah," tapi kalo udah di kelas nih kalo ketemu guru beda lagi omongannya, mereka selalu bilang gini, "Makanya belajar yang pinter jangan kebanyakan main, mabar makannya kamu jadi bodoh," kan gue jadi dilema banget hidup gue. Gue jadi bingung sendiri omongan mana yang harus gue ikutin orang tua gue apa guru-guru kita gitu," ujar Kipli.


"Tapi biar bagaimanapun juga kita harus tetap menghormati guru-guru kita karena apa?" tanya Kipli.


"Kewajibanlah pea," teriak Rena di bawah panggung.


"Salah.., karena siapa tau anak dari guru kita siapa tau itu jodoh kita," ujar Kipli.


"Huuu modus," sorak para siswa.


"Sebagai penutup gue berpesan kepada kalian semua bahwa yang namanya hidup itu harus kita jalani walau itu berat banget. Karena yang namanya hidup itu nggak bisa kita diputar lagi, apalagi dijilat dan dicelupin. Terima kasih," ujar Kipli berpamitan.


Penutup dari Kipli membuat suasana semakin meriah penuh sorak canda tawa dan juga teput tangan dari para guru dan juga dari semua siswa-siswi.


"Seru banget ya Ga acaranya, anak-anaknya tuh pada kreativ banget, aku jadi pengen balik lagi rasanya ke masa-masa SMA," ujar Sita berjalan menapaki koridor sekolah bersama Ryuga.


Ia," saut Ryuga sambil menatap ke sekeliling area sekolah mencari keberadaan Alexa.


"Mamah kamu dateng Ga, buat ngasih kejutan ke Alexa nanti?" tanya Sita basa- basi.


"Nggak Sit, Mamah nggak bisa gabung soalnya Mamah mau ngurus berkas buat pengobatan Papah ke Singapore," ujar Ryuga.


Sita tersenyum sinis, "Jelaslah Mamah kamu nggak dateng, orang dia benci sama istri kamu Ga, lagian istri kamu juga udah pergi jauh kali Ga," batin Sita menahan senyum.


"Jam berapa kamu pesawat kamu take off?" tanya Sita.


"Kira-kira jam 2 an Sit," jawab Ryuga


Rena berjalan menatap sinis ke arah depannya dimana ia melihat Pak Ryuga berjalan di koridor sekolah berjalan beriringan dengan Sita.


"Dasar gatel.., kemaren pelukan sekarang udah kaya prangko mempel terus.. ,ck," ujar Rena menyindir ke arah Pak Ryuga dan Sita.


"Renata apa maksud ucapan kamu?" tanya Pak Ryuga menghentikan langkahnya menatap Rena bingung.


"Ck, decak Rena memutar bola mata malasnya menatap Ryuga dan juga Sita.


Tiba-tiba salah satu siswa panitia memanggil Rena, "Ren snack buat guru luh taro dimana?" tanya Bagas salah satu panitia hari guru.


"Ya ampun masih di atas Gas," ujar Rena menepuk jidatnya.


"Wah parah luh, ayo angkut ! masa bisa-biaanya luh kelupaan sih," sewot Bagas menarik tangan Rena pergi.


"Maaf ya Ga, ya udah aku nyusulin temen-temen aku dulu ya sekalian aku mau wawancara anak-anak osis dan panitia," ujar Sita melangkah pergi meninggalkan Ryuga.


"Iya Sit aku juga mau ke ruangan aku mau siapin kejutan aku buat Alexa," ujar Ryuga.


...----------------...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2