
POV Dimas dan Grace.
.
Saat di sekolah Dimas sering kali melihat Alexa keluar masuk dari ruangan Pak Ryuga saat jam istirahat. Alexa juga sepertinya menjaga jarak darinya, sikap Alexa tersebut lah yang justru membuatnya semakin tersiksa apalagi Alexa semakin lama semakin jauh darinya.
Ternyata menjalani tidak semudah dalam berucap, semakin hari Dimas semakin tersiksa karena tidak bisa mengontrol perasaannya sendiri. Dimas merasa tidak mempunyai semangat, nilainya turun, Dimas kerap sekali melamun, bahkan orang tuanya pun sering kali menegur Dimas.
Di lapangan Dimas terlihat kurang semangat dalam berlatih padahal turnamennya hanya tinggal beberapa hari lagi, ia seolah kehilangan arah dan teman-temannya pun selalu memberikan motivasi dan semangat kepada Dimas tetap fokus.
"Lo ngapa sih Dimas maen lo nggak bagus banget akhir-akhir ini? Lo ada masalah apa?" tanya Jakson memegang baru Dimas.
"Udah dulu ya latihannya gue cabut dulu, besok kita lanjut," ujar Dimas tidak menjawab pertanyaan Jakson dia pun langsung pergi begitu saja meninggalkan area lapangan basket.
Saat ingin masuk ke kelasnya Dimas tidak sengaja bertemu dengan Alexa dan juga Rena. Dimas melihat Alexa sedang menangis dalam pelukan Rena.
Alexa... kamu kenapa nangis?" tanya Dimas yang tidak sengaja berpapasan dengan Rena dan Alexa di tangga.
"Bu Diana negor Alexa gara masalah bokapnya tadi Dim,..ngeselin tuh guru mulutnya," saut Rena dengan wajah kesal.
Alexa melepaskan pelukan Rena, menatap Dimas, "Aku gpp kok Dim," saut Alexa mengahapus air matanya.
"Kamu yakin, mending kamu konsultasi masalah kamu sama bu Eka, Lex, dari pada kamu terus-terusan di jadiin korban atas kesalahan papah kamu" ujar Dimas mencoba memberi saran.
"Tapi tetap aja Dim, semua itu nggak akan merubah pandangan orang terhadap aku," saut Alexa dilema.
"Oh iya...Lex besok aku mau tanding kamu datang ya, biar aku tambah semangat mainnya," ujar Dimas menatap Alexa penuh harap.
"Nanti aku ijin dulu Dim, sama pak Ryuga," saut Alexa tersenyum.
Loh harus menang Dim kaya taun kemaren. "Semangat ya Dim gue juga nanti dateng sama Kipli, buat dukung lo" saut Rena menimpali.
"Thanks ya Ren, kalo gitu gue cabut dulu," ujar Dimas melangkah pergi.
.
.
Dimas pun naik ke atas menuju kelasnya, namun ia tidak sengaja memergoki Grace sedang bertelepon dengan seseorang di balik pintu kelas.
Mata Dimas langsung membulat sempurna saat seseorang yang di telepon Grace adalah mamahnya Pak Ryuga, Dimas mendengar dengan jelas percakapan Grace sendiri ia pun langsung bisa menyimpulkan.
Seketika raut wajah Dimas berubah tidak ramah, Dimas merampas ponsel milik Grace.
Didimas," ujar Grace terbata-taba.
Sejak kapan lo disitu?" tanya Grace panik.
Grace terlihat begitu terkejut wajahnya langsung panik saat melihat Dimas menatapnya dengan tajam.
"Loh ternyata nggak ada kapoknya ya Grace," ujar Dimas menatap Grace tajam.
"Balikin ponsel gue nggak," ujar Grace.
"Ikut gue sini," ujar Dimas tanpa aba-aba menarik tangan Grace.
Grace terlihat ketakutan dan meminta tolong kepada teman-temannya, namun teman tidak bisa membantunya karena takut.
Dimas terus menarik Grace dan ingin mengadukannya ke guru BK, namun saat tiba di ruang aula Grace menarik tangannya dengan kencang hingga cengkraman tangan Dimas pun terlepas.
__ADS_1
"Loh nggak usah munafik deh, Dim. Gua akan ngelakuin cara apapun buat misahin Alexa dan Pak Ryuga. Bukannya loh juga suka sama Alexa, lo emang rela ngelihat orang yang lo suka, sama orang lain, kalo gue sih nggak rela ya" Ckckck, ujar Grace bersedekap dada menatap remeh Dimas.
"Maksud lo apa?" tanya Dimas."
Gimana kalo kita kerja sama buat misahin Pak Ryuga sama Alexa, ya sejenis simbiosis mutualisme gitu deh. Gue bisa dapetin Pak Ryuga dan lo bisa dapetin Alexa. "Gimana oke nggak ide gue," ujar Grace tersenyum sinis menatap Dimas.
Cukup lama Dimas berpikir akhirnya ia pun menyetujui saran yang Grace usulkan karena memang hatinya tidak bisa dibohongi bawa sampai detik ini dia sungguh tersiksa melihat Alexa bahagia dengan orang lain, bukan dengan dirinya.
.
.
Hari di mana turnamen basket pun telah tiba. Saat di toilet, Dimas menghubungi Grace. Dimas melihat sekeliling sebelum menelpon Grace.
"Lo udah siap,?" tanya Dimas.
"Siap Dim, lo mainkan peran lo yang apik biar hasilnya maksimal," ujar Grace tersenyum smirk saat duduk di bangku penonton melihat Alexa dan kedua temannya. Dimas pun langsung memutuskan panggilan begitu saja saat rekam timnya memanggilnya di toilet.
Saat memasuki lapangan basket dari kejauhan Grace dan Dimas saling memandang Dimas terlihat menganggukkan kepalanya menatap Grace untuk mengikuti rencana yang telah mereka buat.
Dimas terlihat berjalan masuk menuju lapangan, saat melihat Ricco dan Excel ada di dekat Alexa, ia buru-buru menghampiri Alexa. Terlihat jelas raut wajahnya yang tidak suka menatap Excel dan Ricco.
Saat menapaki tangga Excel menyenggol bahu Dimas dengan kencang, hingga membuat Dimas sedikit oleng, menatap Dimas dengan senyum smrik. Untung saja Dimas tidak terjatuh karena tangannya mencengkram bangku penonton.
Makasih ya Sa, kamu akhirnya dateng juga kesini," ujar Dimas mengusap kepala Alexa sambil mengulas senyum.
Namun Alexa sedikit menghindari walaupun terlambat, karena ia mengingat dengan apa yang diucapkan Ryuga untuk menghindari berkontak fisik dengan Dimas, sehingga membuat raut wajah Dimas berubah seketika, akibat sikap Alexa tadi.
"Iya Dim, kamu yang semangat maennya fokus," ujar Alexa memberi semangat kepada Dimas menatap Dimas kikuk, sambil menggaruk pelipisnya.
"Sama gua kaga bilang makasih gitu, parah lo! pilih kasih luh Dim," ujar Kipli menyandarkan diri di bangku penonton.
"Iya thanks lo pada udah dukung gue juga," saut Dimas mengepalkan tinju bertos ria dengan Kipli.
Kipli pun menjawab bahwa Excel dan Ricco ingin berkenalan dengan Alexa. Tiba-tiba Dimas menjadi kesal dan ia berminat ingin menghabisi Excel di arena lapangan basket karena sudah berani mendekati Alexa.
"Ya udah gua cabut dulu, doain gua biar menang," ujar Dimas yang langsung menuruni anak tangga, menyusul timnya yang sudah berkumpul di lapangan basket.
.
.
Kejadian naas pun tidak bisa dihindari Dimas saat Excel sengaja menjagal kakinya dengan sengaja.
Dim kamu gpp, Dim?" tanya Alexa sedikit khawatir.
"Gpp kok Sa, ini mah udah biasa kali, Sa !, aku masih bisa lanjut maen kok, "ujar Dimas, mencoba tersenyum saat merasakan nyeri di kakinya.
"Ya ampun Dim, gue liat kaki lo gitu jadi ngilu," ujar Rena bergidik ngeri.
"Ada yang lebih sakit daripada ini Ren, tapi gue masih bisa nahan, hebat kan gue, "ujar Dimas, melirik ke arah Alexa.
Bibir Kipli pun tersungging sekilas, saat mendengar ucapan Dimas, ia sudah cukup paham dengan arti ucapan Dimas tadi, sedangkan Rena hanya menggaruk kepalanya ber oh ria menanggapi ucapan Dimas.
Dimas berjalan menghampiri Alexa yang berdiri menatap kakinya yang sedikit pincang. Dimas tersenyum hangat menatap Alexa.
"Makasih Lex, kamu udah khawatirin aku, "ujar Dimas refleks menarik tangan Alexa menatapnya penuh perasaan. Alexa pun langsung buru-buru menarik tangan merasa sedikit canggung menatap Dimas.
"Iya Dim, sebagai temen bukannya kita harusnya saling dukung kan, " saut Alexa kikuk sendiri.
__ADS_1
"Ya udah, aku lanjut maen ya," ujar Dimas tersenyum, dan langsung berlari menuju arena pertandingan lagi. Dimas menaikkan sudut bibirnya, merasakan Alexa yang selalu berusaha menghindari saat ia sentuh. Dimas sengaja terus melakukan kontak fisik agar Grace terus merekam momen kebersamaannya dengan Alexa.
Dimas merasa senang karena ia bisa memenangkan pertandingan basket Dimas melihat Alexa di sisi lapangan, Dimas pun langsung melambaikan tangannya ke arah Alexa sambil memamerkan trofi pialanya.
Dimas kembali mencari keberadaan Grace di tribun penonton setelah ia melihat Grace, Dimas kembali memberi isyarat lagi kepada Grace.
Dimas menghampiri Alexa, Rena dan juga Kipli yang terlihat ikut memeriahkan kemenangannya di sisi lapangan.
Alexa terlihat mengulurkan tangan untuk memberikan selamat kepada Dimas. Namun tanpa di duga Dimas malah memeluk Alexa dengan erat berputar ria sambil mengangkat tubuh Alexa tersenyum menatap Alexa yang terlihat syok.
POV Grace
.
.
Dari kejauhan terlihat Grace memvideokan momen antara Alexa dan juga Dimas. Grace senyum smrik menatap layar ponselnya setelah mendapatkan hasil tangkapan ponselnya.
"Mampus loh,..Alexa gue yakin setelah gue kirimin video ini ke tante Retno, lo bakalan abis," ujar Grace yang berdiri di samping tiang, lalu ia pergi begitu saja meninggalkan area lapangan dengan raut wajah penuh kepuasan.
"Dim.. please turunin gue, " ujar Alexa panik.
Setelah mendapat banyak kritikan dari Kipli dan Rena, Dimas akhirnya melepaskan pelukannya karena ia rasa juga sudah cukup bagi Grace untuk mengabadikan videonya dengan Alexa.
"Maaf Sa, aku nggak bermaksud bikin kamu nggak nyaman, tapi aku merasa aku bisa memenangkan ini gara-gara dukungan kamu, "ujar Dimas menatap Alexa. Karena sejak tadi sebenarnya Dimas, tidak bisa mengontrol perasaannya terhadap Alexa.
.
.
Selesai turnamen Dimas menunggu Grace di sebuah cafe. Dimas sangat penasaran sudah sampai sejauh mana rencananya bersama untuk memisahkan Alexa dan Ryuga.
Grace terlihat sampai di area cafe, Dimas sengaja mencari cafe.
"Lo nggak salah ngajak ketemuan disini, gila... gue sampai 2 jam di jalan cuman buat kesini," ujar Grace menatap Dimas sinis.
"Gimana lo udah aplot fotonya? Trus lo udah kasih tau nyokapnya Pak Ryuga belom tuh videonya," tanya Dimas tidak sabaran.
"Jiah elah nggak sabaran banget sih lo, orang mah pesenin gue minuman dulu ke, buset dah kering nih tenggorokan gue," ketus Grace.
Dimas pun menatap kesal ke arah Grace, lalu ia memanggil pelayan cafe untuk memesan minuman untuk Grace.
"Loh udah ngaduin apa aja sama nyokapnya pak Ryuga, inget lo ya jangan bikin Alexa kena masalah di sekolah," ujar Dimas dengan nada mengancam.
"Hmm..gue cuman kasih tau nyokapnya Pak Ryuga tentang foto-foto lo doang sama Alexa, sama kelakuan bokapnya. Biar nyokapnya ilfil," ujar Grace.
"Oh lo tau kalo bokapnya Alexa kena kasus di Yayasan, awas kalo lo sampe sebarin gosip ia sama anak-anak disekolah," ujar Dimas mengancam. Grace langsung di buat ketar-ketir menatap Dimas gugup sebabnya teman-temannya di kelas sudah mengetahui kasus tentang Pak Ferdy.
Ponsel Dimas berdering terlihat Kak Siska menelponnya.
"Apaan sih nelpon?" tanya Dimas mendengus.
"Lo bawa mobil gue ya De," ujar Siska dengan nada terdengar kesal.
"Minjem bentar, saut Dimas."
"Gue nggak mau tau pokok lo ke rumah sakit lo anterin berkas gue di mobil.. Cepet," ujar Siska dengan nada melengking. Dimas tidak punya pilihan akhirnya ia pun mengajak Grace dan pergi ke rumah sakit.
Sesampai di rumah sakit Dimas menyuruh Grace menunggunya di dalam mobilnya. Dimas mengantarkan berkas ke ruangan Kak Siska, saat ia berjalan keluar dari rumah sakit Dimas melihat Alexa dan juga Mamah Retno. Dimas bisa melihat hubungan antara Alexa dan Mamah Retno terlihat tidak baik dia tersenyum puas sepertinya rencananya dengan Grace berhasil untuk membuat keluarga Ryuga membenci Alexa, sehingga ia bisa mengambil kesempatan saat keadaan Alexa sedang terpuruk. Ia pun kembali menghubungi Grace yang menunggunya di dalam mobil untuk melancarkan aksinya kembali.
__ADS_1
...----------------...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...