Guruku Jodohku

Guruku Jodohku
Fakta Nicco


__ADS_3

Dengan kedua tangan terkait borgol, Ferdy yang di giring oleh dua orang petugas penjaga sel tahanan, berjalan menuju ruang kunjungan. Sesampainya di ruang kunjungan Ferdy menatap Ryuga dengan senyum remeh, tidak ada rasa penyesalan sedikit pun tersirat jelas di wajah Ferdy yang di rasakan Ryuga, membuatnya semakin emosi saat melihat wajah Pak Ferdy yang seolah menantangnya dengan tatapannya tersebut.


Ferdy duduk di kursi dan berdecih saat menatap wajah menantunya tersebut, "Sepertinya aku tidak perlu berpura-pura lagi bersikap baik di hadapanmu. Apa anak sialan itu sudah mati?" tanya Ferdy sedang senyum menyeringai.


Brukkkk!


Dipukul saja oleh Ryuga dinding kaca penyekat yang memisahkan antara dirinya dan Ferdy, jika saja Ferdy ada di hadapannya saat ini mungkin Ryuga sudah menghabisi Ferdy seperti apa yang sudah ia lakukan terhadap Alexa.


"Bajingan.., Papah benar-benar monster berdarah dingin, apa sedikitpun Papah tidak mempunyai rasa bersalah terhadap Alexa," ujar Ryuga di buat murka setelah mendengar ucapan Ferdy.


"Aku akan pastikan Papah akan selamanya membusuk penjara, Papah harus menebus semua kesalahan sampai mati," ujar Ryuga menunjuk wajah Ferdy.


"Ckckc, Papah sangat menantikan hal tersebut..Ryuga, kau jangan terlalu menyalahkan Papah. Aku tidak akan pernah mendatangi anak sialan itu, jika Retno tidak membuangnya. Kau seharusnya salahkan Mamahmu yang tamak dan sombong itu. Dia benar-benar tidak tau apa itu balas budi, padahal aku hanya meminta sedikit bantuan tapi justru dia malah mengusir ku seperti seorang pengemis saat di rumah sakit ," ujar Ferdy emosi mencoba mengintimidasi Ryuga.


"Jika Papah butuh uang seharusnya Papah langsung saja datang menemuiku." Berapa yang Papah butuhkan hah? "500 juta, apa 1 milyar, atau 2 milyar Ryuga akan berikan! Tapi kenapa justru malah menyiksa dengan kejam darah daging Papah sendiri. Ingat Pah.., Alexa sudah terlalu banyak menderita karena ulah Papah," bentak Ryuga emosi.


"Jika kau tau dia sudah banyak menderita karena ulahku, kenapa kau tidak menjaga dengan baik, kau dan Retno justru malah membuangnya setelah kau berhasil mengambil alih yayasan itu sepenuhnya. Kau jangan munafik Ryuga, bukankah itu tujuanmu yang sebenarnya," tuduh Ferdy menunjukkan wajah Ryuga.


Ryuga dibuat terperangah mendengar tuduhan Papah mertuanya, "Bicara dengan manusia berotak sampah menang benar-benar membuang-buang waktu, sekarang aku benar-benar menyesal mengapa dulu aku tidak menjeblos saja Papah di penjara saat para guru menutut haknya yang telah Papah rampas, mungkin saat ini Alexa masih berada di sisiku," ujar Ryuga terlihat jelas rasa penyesalannya.


"Itu semua karena kebodohanmu sendiri, ckckckc," ujar Ferdy terkekeh seolah mengejek Ryuga.


"Jika kau ingin tau kejadian malam itu, Alexa terus saja memanggil-manggil namamu saat aku mencoba menghabisnya, "ujar Ferdy tertawa menyeringai menatap Ryuga.


"Dia beneran udah gila Gas, " ujar Reyhan bergidik mengeri mendengar ucapan Ferdy. Bagas hanya mengangguk menimpali ucapan Reyhan.


Ryuga semakin kalap setelah mendengar ucapan Ferdy ia terus saja memukul-mukul kaca penyekat berulang-ulang kali, wajahnya tampak merah padam.


Reyhan dan Bagas berusaha menahan tubuh Ryuga, "Lepasin gue Han, gue harus bunuh monster ini," ujar Ryuga berusaha berontak Bagas dan Reyhan memegangi tubuhnya.


Reyhan dan Bagas terlihat kesulitan meredam amukan Ryuga, beruntung para petugas penjaga sel saat itu dengan sigap memperingati Ryuga, sehingga Ryuga bisa sedikit lebih tenang.


Sedangkan Ferdy terus saja tertawa menyeringai menatap menantunya yang terlihat kalap


"Ga cukup Ga, bicara dengan bajingan ini nggak ada gunanya. Dia sengaja bikin mental luh ancur," ujar Reyhan berusaha menarik lengan Ryuga.


Ryuga beranjak dari di kursinya sambil memijit keningnya yang terasa berdenyut nyeri. Ternyata mengunjungi Ferdy adalah hal paling membuang energi dan waktunya.

__ADS_1


Ryuga berjalan keluar dari Bareskrim bersama dengan Reyhan dan Bagas.


"Gue baru tau ternyata ada orangtua yang kelakuannya nggak bermoral kayak gitu, gue kira itu cuman ada di sinetron apa di film-film," ujar Bagas bergidik ngeri.


"Papahnya Alexa beneran psikopat," saut Reyhan menimpali ucapan Bagas.


Berbeda dengan Ryuga, ia sibuk sendiri saat merasakan, rasa kurang nyaman pada tubuhnya "Sshhh," desis Ryuga memegang kepalanya yamg semakin terasa sakit.


"Ngapa Ga?" tanya Bagas."


"Gpp Gas, ayo kita ke sekolah Han ada beberapa berkas yang perlu gue tandatangani," ujar Ryuga mengerjap-ngerjapkan kedua matanya.


Namun semakin lama pandangannya mulai redup, perlahan mulai samar-samar, Ryuga menggelengkan kepalanya mencoba mempertahankan kesadarannya, suara Reyhan dan Bagas pun tidak terdengar jelas di telinganya, pandangannya malah semakin hilang dan menghitam seutuhnya.


"Ryuga sadar Ryuga.. Ryuga ," ujar Reyhan dan Bagas secara bersamaan.


***********


Aussie.


Di ruangan bernuansa putih dengan bau khas obat-obatnya. Alexa masih terbaring koma di ranjang kesakitannya. Nicco dan Hanum terus berupaya memberikan pengobatan terbaik untuk Alexa.


"Nggak Yank, kamu waktu itu liat sendirikan saat temen-temen Alexa mencoba hubungi keparat itu, dia nggak dateng Yank, mungkin aja dia lagi senang-senang sama pelacur itu, "ujar Nicco sedikit emosi.


"Kenapa kamu bisa benci banget sama Ryuga? Apa kamu punya dendam tersendiri sama dia?" tanya Hanum menatap tajam Nicco.


"Ck, udah sih Yank, masa gara-gara bajingan itu, kamu jadi marahin aku sih," ujar Nicco menggenggam tangan Hanum.


"Jelaslah kamu sengajakan pake kekuasaan kamu biar Ryuga nggak bisa menemukan Alexa. Sikap kamu itu tuh childish banget Yank menurut aku," ujar Hanum menatap heran Nicco


"Inget Yank mereka berpisah juga karena ulah Grace adik kamu dan juga karena temannya yang kemarin Yank, aku yakin pasti ada kesalahanpahaman dalam hubungan mereka," ujar Hanum mulai emosi.


"Yank, dia udah ninggalin Alexa, pas Alexa sedang hamil Yank. Menurut aku, aku cukup beralasan membawa Alexa pergi jauh darinya. Udahlah Yank, kamu nggak usah bahas-bahas bajingan itu lagi, aku udah muak denger namanya," ujar Nicco.


"Yank.., kandung Alexa itu baru berjalan 2 minggu Yank, mungkin aja Ryuga belum mengetahui kalo Alexa itu sedang hamil. Tau ah percuma ngomong sama kamu tuh" ujar Hanum pergi meninggalkan Ryuga.


Nicco pun berdiri dan mengejar Hanum yang merajuk "Yank.., kenapa sih kamu belain Ryuga terus daritadi, kamu suka sama Ryuga?" tanya Nicco asal bicara.

__ADS_1


"Kamu ngaco Yank, omongan kamu ngawur lama-lama, " ujar Hanum merasa kesal menarik tangannya dan pergi meninggalkan Nicco.


"Yank tunggu, kamu mau kemana?," ujar Nicco menarik tangan Hanum.


Tidak ada sautan terdengar dari Hanum, sehingga Nicco mulai melemah "Ya udah aku minta maaf, aku ngelakuin ini karena sejujurnya aku juga ngerasa bersalah sama Alexa," ujar Nicco.


Hanum menghentikan langkahnya dan berbalik ke hadapan Nicco dan menatap wajahnya. Nicco menundukkan wajahnya lesu, ada beban yang selama ini ia simpan sendiri tangannya ia kepalkan dengan kuat menahan gejolak emosinya.


Nicco memeluk Hanum dengan posesif, ia mencoba mengatur nafasnya menetralkan emosinya ada konflik batin yang selama ini cukup lama ia pendam.


"Kamu kenapa sih Yank,?" tanya Hanum merasakan Nicco sedikit keanehan pada sikap Nicco.


Hanum meraup wajah Nicco, "Coba kamu liat aku Yank," ujar Hanum.


Nicco pun menatap Hanum setelah mendengar perintah Hanum, "Pupil matanya jelas bergetar, dahinya pun berkerut, ia juga mengigit bibirnya. Sudah jelas ini adalah tatapan orang terluka. Apa ini Nicco yang aku kenal? pria yang selama ini aku kenal menjalani hidupnya dengan tangguh dan gigih, namun ternyata dia menyimpan banyak luka bisa kulihat jelas dari tatapannya ini," batin Hanum memindai wajah Nicco.


"Kamu nggak mau cerita masalah kamu sama aku?" tanya Hanum melemah.


Nicco kembali memeluk kembali semakin erat, hingga Hanum merasa sedikit sesak karena pelukan Nicco. Nicco mulai melepaskan pelukannya, ia pun menjatuhkan bokongnya duduk menundukkan wajahnya menatap ke arah lantai.


Nicco mulai bercerita tentang masa lalunya yang cukup pahit kepada sang kekasih, "Papah itu sangat keras mendidik aku Yank, berbeda dengan Grace. Dulu aku berteman baik sama Ryuga, bahkan sangat akrab. Dia itu pintar makanya aku suka nyontek sama dia kalo di kelas. Berkat Ryuga, aku nggak pernah kena omel Papah gara-gara nilai aku anjlok. Tapi semuanya berubah saat Opa Subrata meninggal Yank, saat itu aku udah jadi mahasiswa semester pertama. Beliau mewariskan seluruh perusahaan ke tangan aku Yank, aku benar-benar nggak siap Yank aku masih butuh kebebasan. Sejak saat itu hampir setiap hari aku bertengkar sama Papah dan Papahnya Alexa juga nggak terima perusahaan jatuh ketangan aku, dia selalu menyerang aku sama Papah maki-maki aku saat kehilangan haknya atas perusahaan yang selama ini sudah ia kelola. Aku juga menganggap Opa itu terlalu kejam sama Om Ferdy. Dan aku dan Alexa selalu jadi korban karena surat wasiat Opa. Dulu aku sama Alexa itu tinggal di rumah besar, kita selalu duduk bersama ceritain masalah kita, luapin emosi kita bareng-bareng. Hampir tiap hari aku liat Alexa nagis, aku ngerasa bersalah sama dia, apalagi selama tinggal di rumah besar Opa nggak pernah menerima kehadiran Alexa dan Mamahnya_"


"Loh kok bisa sih Opa kamu nggak menerima kehadiran Alexa sama Mamahnya?" tanya Hanum penasaran.


"Yang aku denger sih pernikahan mereka itu nggak di restuin Yank, makanya Tante Sarah meninggal karena depresi akibat perlakuan Opa," ujar Nicco.


"Trus kamu bisa benci sama Ryuga kenapa?" tanya Hanum.


"Aku muak sama dia karena dia bisa ngejalanin hidup bebas beda kaya aku. Apalagi saat aku tau dia juga suka sama Sita, jelas-jelas aku duluan yang udah suka sama Sita dianya aja nggak peka. Dan sejak saat itu hubungan aku mulai renggang sama dia, saat Sita berhasil aku milikin," ujar Nicco.


"Please Yank kamu dukung aku ngelakuin ini karena aku juga ngerasa bersalah sama Alexa. Apalagi setelah melihat kondisi mengenaskan yang Alexa alami karena Papahnya, rasa bersalah aku sama Alexa semakin menjadi-jadi Yank. Seandainya aja perusahaan itu nggak jatuh ke tangan aku, nggak mungkin Alexa mengalami semua ini Yank. Ada beban moral sendiri Yank yang aku rasain, jujur dada aku tuk sesak banget. Kamu pasti pahamkan perasaan aku," ujar Nicco sambil memukul dada.


Hanum pun langsung memeluk Nicco mencoba menenangkan emosinya, "Tapi ini juga bukan seutuhnya salah kamu Yank, kamu juga korban di sini. Dan kebencian kamu sama Ryuga itu juga nggak berdasar Yank, kamu cuman jadiin Ryuga korban pelampiasan kamu aja Yank, karena ketidakadilan hidup yang kamu jalani berbeda dengan Ryuga," ujar Hanum menatap lirih Nicco.


"Please Yank kamu jangan komentar apa-apa lagi. Aku tau aku ini egois, tapi selama ini aku belum melakukan apapun untuk Alexa sebagai menebus rasa bersalah aku sama dia, jadi please.., kamu tolong kamu dukung aku Yank," ujar Nicco dalam pelukan Hanum.


"Aku ngerti Yank perasaan kamu. Aku bangga sama kamu, ternyata kamu itu pria yang sangat bertanggung jawab," ujar Hanum mencoba menguatkan Nicco.

__ADS_1


...----------------...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2