
Alexa kini menatap gedung yang ada di hadapanya. Alexa menutup matanya berperang melawan rasa takutnya. Alexa menghembuskan nafasnya dengan kasar melangkahkan kaki masuk ke dalam gedung tersebut dengan keyakinan.
Alexa menghembuskan nafasnya perlahan menghilangkan perasaannya yang gugup duduk menunggu seseorang yang ingin ia temui.
Dengan tangan yang diikat borgol Ferdy cukup tercengang menatap seseorang yang datang menemuinya kini. Setelah 5 tahun berlalu mendekam di penjara, ternyata seseorang yang menemuinya adalah putrinya yang dulu nyaris kehilangan nyawanya akibat perbuatannya, "Untuk apa kamu menemuiku, "ujar Ferdy yang kini duduk di hadapannya.
Deg..!
Mendengar suaranya saja membuat tubuh Alexa semakin bergetar hebat, Alexa meremas kuat kedua tangannya kuat-kuat berusaha menghilangkan rasa ketakutannya. Alexa perlahan menatap wajah Ferdy, "A-lexa kesini, ka-rena Alexa ng-gak mau terus di hantui mim-pi buruk lagi, "ujar Alexa terbata-taba.
Ferdy mengangkat sudut bibir menatap putrinya, "Ck, naif sekali, kamu hanya membuang waktumu menemui papah, "ujar Ferdy tanpa beban sedikit pun.
"Apa papah nggak merasa bersalah sedikit pun dengan semua perbuatan papah? "tanya Alexa.
"Ck, jadi kamu kesini hanya ingin menuntut permintaan maaf dari papah. Bukankah dengan Ryuga menjebloskan Papah membusuk selamanya disini itu sama saja mengganti permintaan maaf dariku, jadi untuk apa lagi papah harus meminta maaf. Ckckc.., Alexa bukankah kamu seharusnya gembira melihat papah selama membusuk di sini. Kamu jangan terlalu sombong Alexa, jika bukan karena Ryuga kamu mungkin sudah berakhir sama seperti papah, membusuk di penjara, "ujar Ferdy.
Alexa cukup terkejut mendengar ucapan papahnya, "Apa maksud papah? "tanya Alexa penasaran.
"Kamu jangan pura-pura bodoh Alexa, lebih baik kamu tanyakan saja kepadanya, "ujar Ferdy tersenyum sinis.
Alexa mulai berani menatap Papanya, "Alexa udah memutuskan berpisah dengan Ryuga, jadi sebelum Alexa pergi ke Aussie, Alexa ingin menemui papah untuk terakhir kalinya. Alexa lakukan ini juga demi Mamah. Mamah menitipkan surat untuk Alexa kepada tante Karin, sebelum mamah meninggal_"
"Apa Sarah, ujar Ferdy terdiam saat Alexa menyebutkan Sarah."
"Di dalam suratnya mamah berpesan agar Alexa memaafkan semua segala perbuatan papah, karena bagaimanapun darah papah mengalir dalam diri Alexa. Alexa nggak mau hidup dalam ketakutan lagi, karena terus dibayang-bayangi dengan perbuatan papah terhadap Alexa, bahkan papah sudah berada di sini pun kenangan buruk itu terus saja menghantui Alexa setiap malam. Alexa juga ingin Mamah tenang di sana, jadi sebelum Alexa pergi, Alexa ingin menemui papah untuk terakhir kalinya dan mengatakan itu, "ujar Alexa dengan nada bicara bergetar menundukkan kepalanya menahan tangis.
Mendengar Alexa menyebutkan mendiang Sarah seketika Ferdy melemah, ia pun beranjak dari kursinya, "Pergilah,..hiduplah dengan baik dan jangan pernah temui papah lagi, dan satu hal lagi kembalilah kepada Ryuga,..jangan bodoh! Hidup dengan rasa sesal itu sama saja seperti di neraka, "ujar Ferdy mengepalkan kedua tangannya dengan erat.
Alexa cukup terkejut dengan ucapan Ferdy yang menyuruhnya untuk kembali kepada Ryuga. Alexa pun dari kursinya, dan mengambil sesuatu di dalam tasnya, "Tunggu dulu Pah, "ujar Alexa menahan langkah Ferdy.
Alexa memberikan sesuatu kepada Ferdy, "Mereka adalah kedua anak Alexa, Alexa pergi dulu pah, "ujar Alexa yang langsung berbalik berjalan meninggalkan Ferdy yang terpaku menatap foto kedua anaknya. Seketika Ferdy menitikan air matanya mengusap foto yang ada di tangannya.
"Shaka Sheena, "ujar Ferdy lirih membaca nama kedua cucu kembar yang tertera dalam foto tersebut.
**********
Di sisi lain hal, di tempat yang berbeda. Ryuga benar-benar menikmati waktu kebersamaannya bersama dengan kedua anaknya. Setelah menyelesaikan beberapa pekerjaannya, Ryuga menuruti keinginan Shaka ingin mengunjungi sebuah playground di sebuah mall.
Shaka dan Sheena terlihat begitu bersemangat terus saja menarik tangan Ryuga posesif, "Uncle sekarang Sheena mau liat Olaf, yuk uncle kita ke sana! "ujar Sheena antusias saat memasuki wahana snow world di area playground, "Wah disini juga ada Elsa uncle, uncle Sheena mau foto sama Elsa uncle, "ujar Sheena penuh semangat.
Shaka menarik tangan Ryuga, "Uncle yuk kita foto sama-sama lagi, "seru Shaka.
Mereka pun terlihat berfoto bertiga sambil mengangkat dua jari mereka bersama-sama.
"Uncle fotonya nanti kirim ke mommy ya uncle, "ujar Shaka.
__ADS_1
Ryuga pun mengangguk menjawab ucapan Shaka barusan, " Iya nanti uncle kirim, "saut Ryuga.
"Udah yuk Sheen mainnya, Kakak cape nih, kitakan udah naik semua wahana, "ujar Shaka.
"Yuk Sheena juga cape, "saut Sheena.
"Uncle kita pulang yuk uncle udah sore! "ajak Sheena meraih tangan Ryuga.
Ryuga pun menganggukkan kepalanya berjalan sambil menggandeng kedua tangan anaknya.
Shaka menatap heran orang-orang yang berada di sekitarnya, "Uncle kok dari tadi orang-orang liatin kita terus sih? "tanya Shaka menatap ke sekeliling area mall.
Ryuga tersenyum mendengar ucapan Shaka karena baginya ia itu merupakan hal yang sudah biasa baginya.
Sheena menarik tangan Ryuga "Uncle,.. Sheena mau es krim itu boleh nggak, "ujar Sheena sambil menunjuk ke arah sebuah gerai ice cream.
"Boleh dong, yuk kita ke sana..! " ajak Ryuga berjalan menuju gerai ice cream.
Kini di dalam mobil Shaka dan Sheena terlihat begitu menikmati ice cream dengan rasa favorit mereka.
"Nih uncle rasain ice cream punya Sheena, "ujar Sheena sambil memberikan sendok ice creamnya.
"Gimana enak kan uncle? "tanya Sheena, dan Ryuga pun menarik kedua sudut bibirnya menganggukkan kepalanya menatap Sheena.
Ryuga mengusap rambut kedua buah hatinya, "Gimana kalian seneng nggak? Udah puas kan mainnya, "tanya Ryuga.
"Nanti kapan-kapan kita ajak mommy kesini, oke..! "ujar Ryuga menatap putrinya. Namun berbeda dengan reaksi Shaka bukan senang tapi Shaka malah memasang wajah murung mendengar ucapan Sheena barusan.
Ryuga merasakan Shaka tampak murung dan lebih banyak diam sejak masuk ke dalam mobil. Ryuga sedikit bingung dengan sikap Shaka sejak kemarin yang di rasanya nampak sedikit berbeda.
Kini di kediaman rumah Ardy, Ryuga melangkahkan kakinya sambil menuntun kedua buah hatinya masuk ke dalam. Shaka berjalan begitu tidak bersemangat karena baginya ini merupakan moment terakhirnya bersama Ryuga sebelum besok Alexa membawa mereka pulang ke Aussie.
Sheena langsung berlari menuju ruang tengah, "Mommy, omah, opah! Uncle tadi bawa kita naik wahana tadi, seru banget. Ia kan uncle, "seru Sheena menatap Ryuga penuh semangat, dan Ryuga pun tersenyum menganggukkan kepalanya menatap putrinya yang terlihat begitu antusias menceritakan keseruannya hari.
Sheena menghampiri Alexa dan duduk di pangkuan Alexa, "Mommy tadi Sheena ketemu princess Elsa sama Ana sama Olaf. Mommy sih nggak ikut, "seru Sheena berceloteh menceritakan keseruannya tadi. Alexa pun hanya tersenyum lirih mengusap kepala Sheena dengan lembut.
Ryuga menatap ke arah Alexa, Sisil dan juga Ardy. Ryuga di buat sedikit heran kali ini, ia melihat ada raut wajah kesedihan tampak terlihat jelas. Ryuga menghembuskan nafasnya dengan kasar, "Sepertinya kurang tepat jika aku mengajaknya bicara hari ini, aku harus bersabar, "batin Ryuga.
Sheena pun berlari menghampiri Ryuga meraih tangan Ryuga, "Uncle.., besok kesini lagi ya, Sheena pengen jalan-jalan lagi kaya tadi! "ujar Sheena.
Ryuga mensejajarkan diri menatap putri mungilnya yang sejak tadi terlihat begitu bersemangat, Ryuga menganggukkan kepalanya mengusap pipi mungil Sheena.
"Hore asikkk.., "ujar Sheena melompat-lompat dengan gembira.
Shaka menghampiri adiknya yang sejak tadi terlihat begitu girang sendiri. Shaka meraih tangan Sheena menatap Sheena dengan wajah sedih menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Sheena mengerutkan kedua alisnya mencebikkan bibirnya, "Ihhh.., Kak Shaka kenapa sih "protes Sheena.
Shaka menatap Ryuga dengan wajah ingin menangis, lalu pandangannya ia alihkan menatap Sheena, "Sheen besok uncle nggak kesini lagi, karna besok kita harus ikut mommy pulang ke Aussie, "ujar Shaka yang langsung terisak.
Deg..!
Semua orang terkejut mendengar ucapan Shaka barusan terutama Ryuga tubuhnya terasa lemas menatap nanar Alexa yang sejak tadi hanya terdiam menundukkan wajahnya.
Ryuga tertawa dengan lirih menundukkan wajahnya mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya hingga memutih. Air matanya pun lolos begitu saja, tak kuasa menahan rasa sakit membayangkan ia harus kembali kehilangan Alexa dan kedua buah hatinya.
"Nggak mau, Sheena nggak mau pulang ke Aussie, Sheena mau di sini, "teriak Sheena yang langsung histeris.
Sheena menangis menghampiri Alexa, memukul-mukul Alexa, "Mommy jahat, Sheena nggak mau pulang, Sheena mau tinggal di sini, "tangis Sheena pecah. Begitu pula dengan Shaka, Shaka menangis pilu memeluk Ryuga dengan erat.
"Kamu lihat Alexa apa kamu tega memisahkan mereka? "tanya Sisil sambil meraih tubuh Sheena. Alexa hanya terdiam menunduk wajahnya menangis, lidahnya seolah kelu tidak bisa berkata-kata apa-apa lagi.
"Kamu benar-benar egois Alexa, aku kira memberimu sedikit waktu untuk memikirkan kembali hubungan kita, bisa sedikit merubah keputusanmu untuk berpisah dariku Alexa, tapi ternyata aku salah. Kamu benar-benar udah berubah Alexa. Kamu liat mereka Alexa! Apa mendengar tangis mereka ini, kamu bisa sebut ini adalah sebuah kebahagiaan, "ujar Ryuga memeluk putranya begitu erat.
Bagi Ryuga tiada yang lebih menyakitkan ketika ia tidak bisa melihat lagi kedua buah hatinya, dunianya terasa hancur, "Jadi sejak kemarin Shaka sedih karena ini? "tanya Ryuga mengusap pipi Shaka dan Shaka pun menganggukkan kepalanya menangis tersedu-sedu memeluk erat Ryuga.
Shaka menatap wajah Ryuga mengusap air mata Ryuga, "Daddy, "ujar Shaka ragu-ragu.
Deg..!
Jantung Ryuga seolah berhenti berdetak mendengar ucapan Shaka barusan, Ryuga semakin tidak kuasa membendung air menarik tubuh Shaka ke dalam pelukannya. Ryuga masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
Sama halnya dengan Alexa ia di buat terperangah membungkam mulutnya air matanya lolos begitu saja tidak percaya setelah mendengar ucapan Shaka barusan. Begitu pula dengan Ardy dan juga Sisil.
Shaka mengusap air matanya "Daddy..Daddy jangan lupain kita ya, Daddy udah kirimkan foto kita yang tadi? "tanya Shaka sesenggukan.
Ryuga senyum lirih menatap Shaka dengan air matanya, "Udah sayang Daddy udah kirim, "ujar Ryuga menundukkan wajahnya tidak kuasa menahan gejolak dalam hatinya.
"Nanti Shaka suruh mommy cetak foto kita, Shaka mau kasih liat Bryan sama Austin sama Mrs. Emily, kalo Shaka juga punya Daddy, biar mereka nggak bilang Shaka dan Sheena anak nakal lagi , "ujar Shaka sesenggukan mengusap air matanya.
Ryuga membungkam mulutnya menahan suara tangisnya mendengar cerita Shaka yang begitu memilukan.
Semua yang ada saat itu pun di buat menangis tersedu-sedu mendengar ucapan Shaka barusan yang memang sudah mengetahui siapa Ryuga sebenarnya.
Sheena berlari ke arah Shaka dan Ryuga "Jadi uncle itu Daddy Sheena. Jadi daddy Sheena belum meninggal, "ujar Sheena menatap Ryuga dengan matanya yang berkaca-kaca.
Ryuga pun menganggukkan kepalanya meraih tubuh putrinya ke dalam pelukannya, "Iya uncle adalah Daddy kalian, Daddy kalian belum meninggal, "ujar Ryuga semakin terisak memeluk kedua buah hatinya mencium wajah mereka bertubi-tubi.
Alexa yang begitu tidak kuasa ia pun pergi meninggalkan ruang tengah dan masuk ke dalam kamarnya. Alexa berdiri di balik pintu menahan dadanya yang terasa begitu sesak mendengar ucapan Shaka yang begitu memilukan. Alexa menjatuhkan diri duduk bersadar di balik pintu, suara tangisnya pun bisa terdengar jelas boleh Ryuga.
...----------------...
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...