
Alexa berjalan keluar area SMA 12, ia mencoba menghubungi Ryuga untuk memberitahu kemenangan atas tim basket Garuda Bangsa.
"Nggak dia angkat ya ?" tanya Rena. Alexa pun mengangguk menjawab pertanyaan Rena.
Saat Alexa sedang fokus menatap layar ponsel tiba-tiba saja, "Eh lo, berenti lo," ujar Dena menatap Alexa dan Rena sinis.
Alexa dan Rena terdiam saling menyikut satu sama lain lalu menatap ke arah Dena dan teman-temannya.
"Gue maksud lo? tanya Rena menunjuk dirinya."
"Bukan itu temen lo yang kecentilan itu," ujar Dena menatap sinis ke arah Alexa.
"Lo nggak usah so cantik di sini, lo godain Excell kan tadi?" tanyaDena menunjukkan ke arah Alexa.
"Ckckck...Lah emang temen gue cantik kali, eh mbanya tolong di ralat omongannya yak, yang ada Excell kali yang godain temen gue tadi, " Hiyuuhhh...,saut Rena membela sahabatnya.
Dena terlihat tidak terima ia langsung berjalan lebih dekat menghampiri Rena dan Alexa. Dena mencoba mendorong Alexa, namun tiba-tiba Dimas yang baru saja datang bersama Kipli langsung memasang badan tepat di depan Alexa berdiri.
Seketika Dena langsung terdiam terpesona menatap Dimas tanpa berkedip.
"Lo mau ngapain cewek gue, berani lo sentuh dia gue patahin tangan lo," ujar Dimas menatap Dena di tajam.
"What cewek, "saut Rena tidak bersuara menatap Alexa yang terlihat terkejut.
"So..sory, kikita tadi cuman mau nyapa aja kok,.. yuk gaes cabut," saut Dena yang langsung pergi meninggalkan Alexa dan teman-temannya.
"Gila nih sekolah preman kali ya, banyak banget orang-orang sengak daritadi ," ujar Kipli menggelengkan kepalanya.
"Yuk Lex buruan kita cabut, merinding nih gue lama-lama di sini. Kip...Dim..kita duluan!" ajak Rena menarik tangan Alexa.
"Yoi...bae bae lo jangan ngebut-ngebut," ujar Kipli perhatian.
"Thanks ya Dim tadi, dah Kipli gue duluan ya, ujar Alexa tersenyum."
Dimas mengangguk "Hati-hati ya Sa, " ujar Dimas tersenyum.
.
.
Motor vespa Rena berhenti tepat di depan gerbang kediaman rumah Pak Ryuga.
"Thanks ya Ren, gue masuk dulu ya, "ujar Alexa melepaskan helmnya.
"Gue langsung di usir nih, lo nggak nawarin gue mampir gitu, "ujar Rena meledek Alexa. Namun raut wajah Alexa seketika berubah menjadi murung mendengar ucapan Rena.
"Sorry Ren, jangan sekarang ya mamah Retno lagi marah sama gue, " ujar Alexa menatap Rena dengan berkaca-kaca.
"What...kok bisa, " ujar Rena dengan nada tinggi menatap Alexa terkejut.
"Iya Ren..., lo tau nggak ada yang kirimin foto gue pelukan sama Dimas sama video yang gue ribut sama Grace pas di kantin sekolah waktu itu ke Mamah Retno. Trus Mamah Retno jadi salah paham sama gue ya pokoknya gitu deh, " ujar Alexa menitikan air mata.
"Ya ampun Lex, siapa ya kira-kira orangnya?, lo yang sabar ya Lex!" ujar Rena memeluk Alexa yang terlihat menangis.
__ADS_1
"Gue juga nggak tau Ren!" saut Alexa menyeka air matanya.
"Jangan-jangan Bu Diana kali atau mungkin bisa aja Pak Arif atau mungkin juga Grace, "ujar Rena berasumsi.
"Tau gue juga pusing mikirinnya, ya udah gue masuk dulu ya,..bye Rena,.. makasih ya!" ujar Alexa sambil berdadah ria menatap Rena.
.
.
Alexa sampai di kediamannya dengan wajah yang terlihat murung. Seperti biasa ia berjalan menuju dapur untuk melepaskan dahaganya.
"Non baru pulang non?" tanya Bi Siti yang sedang sibuk menyiapkan obat.
"Iya Bi capek banget, itu obat buat siapa Bi?" tanya Alexa menaruh gelas yang sudah kosong di meja makan.
"Buat Bapak non, tadi Bapak pulang di anter mas Reyhan, kayanya kurang sehat gitu Non, mukanya pucet banget Non tadi Bibi liat, " ujar bi Siti
"Oh Papah sakit, pasti Papah kecapean kayaknya deh Bi, " ujar Alexa terlihat khawatir.
"Kayaknya sih non, " ujar Bi Siti.
Dari pintu kamarnya Retno bisa melihat keberadaan Alexa di dapur. Langkah ia urungkan saat melihat Alexa di dapur sedang asik ngobrol dengan Bi Siti.
Alexa mamah akan membiarkan kamu kali ini, karena kondisi papah yang sedang sakit. Mamah nggak mau mengambil resiko walaupun sebenarnya mamah saat ini sangat marah sama perbuatan kamu Alexa," batin Retno mengepalkan jarinya.
"Bi mana obatnya kok lama banget sih Bi, " ujar Retno menatap Alexa sinis.
"Iya Bu sebentar," ujar Bi Siti yang langsung berlari memberikan obat kepada majikannya.
Retno terlihat melengos tidak menjawab pertanyaan Alexa dan masuk ke dalam kamarnya saat bi Siti memberikan obat kepadanya.
"Non.. Ibu lagi marah sama Non ya? Maaf ya Non, waktu itu Bibi denger Non Alexa di marahin ibu pas di taman belakang, " tanya Bi Siti penasaran.
"Hah...Bibi denger ya? Bi tolong ya Bibi diem-diem aja ya, jangan kasih tau Kak Ryuga kalo mamah marahin Alexa, takutnya Mamah sama kak Ryuga malah jadi salah paham gara-gara Alexa. Apalagi sekarang Papah lagi sakit, tolong ya Bi, Alexa mohon banget, "ujar Alexa sambil mengangkat kedua tangannya memohon.
"Iya non Bibi juga ngerti, Bibi nggak akan bilang sama Mas Ryuga," ujar Bi Siti.
"Makasih ya Bi kalo gitu Alexa ke atas dulu ya," ujar Alexa, ia pun merasa tenang karena ucapan Bi Siti sepertinya bisa di percaya, dan ia pun langsung bergegas pergi menuju kamarnya.
"Owalah dulu ibu pernah marah sama pacarnya mas Ryuga, sekarang sama Non Alexa, padahal aku lihat selama ini liat Non Alexa baik-baik aja nggak ada yang aneh-aneh, " batin bi Siti menggelengkan kepalanya.
.
.
Di perusahaan Ryuga terlihat fokus menatap layar laptopnya mendengar usulan Reyhan dan juga Daniel.
"Masa 15% di pasar lokal aja nggak bisa tembus? Ini apa emang kurang peminat, apa emang kita kalah saing sama produk import?" tanya Ryuga menumpukan tangannya di dagu menatap layar laptopnya.
"Ah lo kaya nggak aja, konsumen di negara kita aja, kan rata-rata mereka pengen cari yang murah, daripada barang mahal tapi berkualitas, " ujar Daniel.
"Bener banget Niel , makanya produsen dalam negeri nggak bisa berkembang karena harus bersaing dengan import product yang notabene itu bisa lebih murah. Di pasar China aja, satu pabrik aja mungkin produksi sampe 3 jutaan ton per bulan. Kita satu pabrik paling 500 ribu ton, itu melingkupi di pasar lokal doang ya. Tuh lo liat di titik ini rasionya beda jauh kan," beber Reyhan menunjukkan nominal angka di laptop Ryuga.
__ADS_1
"Gila, kalah telak banget ini mah, "saut Ryuga sambil menghembuskan nafas kasarnya.
"Makanya Ga , itu karena secara operation biaya produksi mereka lebih murah, belum lagi mereka dapet dukungan dari pemerintah. Kalau mereka ekspor mereka dapet diskonan pajak, malahan bisa dapet pengurangan pajak. Nah, dengan itu kita menjadi tidak kompetitif, apalagi biaya logistik kita kan mahal. Beneran susah nafas Ga, di tambah negara kita kan lagi ngalami yang namanya resesi ekomomi ngaruh banget Ga asli," saut Reyhan menambahkan.
Ryuga terlihat menggaruk kepalanya sedikit frustasi melihat nominal yang ada di layar laptopnya.
"Tapi tenang aja Ga, produk kita itu sangat laku keras di pasar Eropa seenggaknya masih bisa ke tutup. Mereka paham dan lebih berminat produk berkualitas daripada produk murah, karena pertahanan produk kita itu udah diuji secara klinis kalau jauh dah sama produk import mah "ujar Daniel.
"Ya udah kita break dulu bentar, pesan nasi goreng saefood Niel cepet," ujar Ryuga meranjak dari kursi di ruang kerjanya.
"Siap bos," saut Daniel langsung mengutak-atik ponselnya.
"Papah tadi gimana Han, keadaannya?" tanya Ryuga khawatir.
"Pucet banget tadi Ga, Om Bimo kaya maksain nyelesai kerjaannya gitu sebelum jadwal operasinya. gue udah peringatin padahal, tapi tetep aja Om Bimo ngeyel" ujar Reyhan.
Ryuga menjatuhkan punggungnya di sandaran sofa memijat pelipisnya merasa khawatir dengan kondisi Papahnya.
"Eh iya, tadi sertifikat rumah lo udah jadi, Om Bimo juga udah liat, dia cuman manggut-manggut doang sih," ujar Reyhan merapihkan berkas-berkas.
"Lo udah titip papah kan tadi, buat di bawa pulang ?" tanya Ryuga menatap Reyhan.
"Iya udah, tapi gue balik lagi tadi ketinggalan di mobil, trus gue kasih tante Retno. Tante sih tadi sempet nanya berkas apa yang gue kasih, gue ngomong aja. Tapi mukanya langsung kaget gitu, lo emang nggak bilang nyokap lo kalau lo udah bayarin utang Papahnya Alexa sama beli rumahnya?" tanya Reyhan penasaran.
"Kaga, lagian gue lebih senang ngobrolin masalah apapun itu sama bokap dibanding sama nyokap gua. Nyokap gue tuh kalo udah nanya detail banget pusing kepala gue, kadang dia tuh suka heboh sendiri beda banget sama bokap yang bawaannya tuh santai. Lagian juga nyokap gue tuh lebih perhatian dan sayang sama Alexa, daripada sama gue. Ya gue mikirnya sih nggak masalah kalo gue nggak cerita juga," saut Ryuga menimpali.
"Oh lu udah berubah statusnya sekarang, jadi anak yang terbuang, "ckckck," ujar Reyhan terkekeh.
"Kamprett lo," ujar Ryuga.
Ryuga mengambil ponsel di dalam sakunya yang sejak tadi banyak sekali bunyi notifikasi yang ia diabaikan. Pikirannya langsung tertuju pada sosok istri mungilnya yang terlihat beberapa kali menelponnya.
"Jam segini pasti Alexa udah pulang, "ujar Ryuga mencoba menghubungi Alexa.
Sudah beberapa kali Ryuga menelpon Alexa, namun Alexa tidak kunjung mengangkat teleponnya. Ryuga terlihat mendengus kesal ia pun membuka chatroomnya. Bibirnya tersungging mengetahui bahwa SMA Garuda Bangsa berhasil memenangkan turnamen basket.
"Cih...cecunguk itu lumayan juga," batin Ryuga sedikit memuji Dimas saat melihat foto Dimas mengangkat trofi kemenangannya.
Tiba-tiba saja matanya langsung membulat saat melihat video Dimas memeluk istrinya tanpa beban.
Pranggg!!
"Bajingan, umpat Ryuga emosi dan langsung melepas gelas yang ada di depannya."
Reyhan dan Daniel di buat terkejut melihat ke arah Ryuga.
"Woy...kira-kira lah," ujar Reyhan menatap Ryuga bingung.
Ryuga langsung saja mengambil kunci mobilnya dan berjalan keluar ruangannya. Wajah yang terlihat emosi apalagi Alexa saja tadi tidak menjawab panggilannya.
"Woy...mau kemana lo Ga? kerjaan kita belum kelar nih, ngapa sih luh ?" tanya Reyhan bingung.
"Sorry gue cabut dulu, gue ada urusan mendadak udah lu kirim aja summary nya ke email gue," ujar Ryuga yang langsung pergi begitu saja dengan wajah yang terlihat emosi.
__ADS_1
...----------------...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...