
Hampir satu Alexa menunggu Rena, Alexa beranjak mencari toilet di area rumah sakit. Alexa berjalan dengan langkah cepat sambil memegangi perutnya yang terasa mual menengok ke kanan dan kiri mencari keberadaan toilet.
Alexa buru-buru meminum obatnya, menetralkan dirinya bersandar di dinding toilet. Alexa memejamkan matanya sambil mengatur hembusan nafasnya.
Brukkk..!
Suara gebrakan pintu toilet terdengar cukup kencang. Seseorang muncul secara tiba-tiba di hadapan Alexa tanpa di duga dan menarik tangan Alexa dengan sekali tarikan menghempaskan tubuh Alexa dengan kasar.
"Anak sialan, akhirnya kita bertemu lagi," ujar Ferdy berjalan perlahan menatap Alexa yang sudah duduk tersungkur beringsut ketakutan saat melihatnya.
Alexa menghentakkan kakinya menghindari Ferdy.
"Pap pah," ujar Alexa terbata-bata menggelengkan kepalanya secara perlahan.
"Kenapa kamu kaget ya liat Papah? Sepertinya kamu menikmati hidupmu, dan melupakan Papah setelah berhasil menyingkirkan Papah," ujar Ferdy mengintimidasi dengan sorot matanya yang tajam.
Ferdy mencengkram bahu Alexa dengan kencang menatap dengan tatapan menghumus.
Alexa bergetar hebat, mulutnya seketika membisu ketakutan melihat sang Papah yang ingin mencekiknya.
Alexa," panggil Rena yang berhasil menemukan keberadaan Alexa. Matanya dibuat membulat sempurna saat melihat Papahnya berusaha menyakiti Alexa.
"Pak pak, tolongin temen saya dong," ujar Rena memanggilnya security saat melihat Pak Ferdy ingin menyakiti Alexa.
Ferdy yang melihat security berlari ke arahnya, dibuat kocar-kacir meninggalkan Alexa yang terlihat sudah tidak sadarkan diri karena ketakutan.
"Lex sadar Lex, luh udah aman sekarang," ujar Rena menepuk pipi Alexa perlahan.
"Neng mending temannya di bawa belakang dulu Neng, kasian.., yuk biar saya bantu," ujar Bapak security berusaha membantu.
"Iiia pak makasih ya Pak," ujar Rena sambil memapah Alexa.
.
.
Ryuga terlihat senyum-senyum sendiri sambil menopang dagu kursi kebesarannya.
Reyhan masuk kedalam ruangannya, "Beres Ga," ujar Reyhan.
"Penerbangan kita besok jam 2 kan?" tanya Ryuga.
"Iya, paginya kita langsung ketemu Mr. Jhon, gue udah atur jadwalnya," ujar Reyhan.
"Alexa pasti bakalan seneng," ujar Ryuga tersenyum simpul.
"Siap-siap dah gue sama Daniel bakalan jadi kambing conge," ujar Reyhan menghembuskan nafas kasarnya.
"Makanya cari pasangan jaga kelamaan ngejomblo," ujar Ryuga terkekeh.
"Han, pesenan gue yang kemaren udah jadi belom?" tanya Ryuga menatap intens Reyhan di kursi kebesarannya.
"Udah, saut Reyhan."
"Mana sini gue mau lihat," ujar Ryuga tidak sabaran.
Reyhan berjalan ke ruangannya mengambil paperbag, "Nih, sekalian gue pesenan name plate, keren nggak? Ryuga Pratama Wijaya, Ceo Wijaya Grup, apalagi kalo ini udah pasang di sini.., perfecto," ujar Reyhan sambil menatap name plate di meja kerja Ryuga.
Ryuga tidak menggubris ucapan Reyhan matanya terus tertuju pada kalung yang sudah ia pesan khusus untuk sang istri yang esok akan berulang tahun.
"Keren nggak Han? pasti Alexa bakalan tambah klepek-klepek sama gua," ujar Ryuga sambil memperlihatkan kalung berlian ber liontin gambar lingkaran dan di dalamnya terukir bentuk angsa, dengan taburan berlian swarovski.
"Jiah.., dasar kadal bucin, orang gue ngomong apa dia nyautnya apa, ck," ujar Reyhan berdecak sinis melirik sepupunya yang senyum-senyum sendiri sambil memperhatikan kalung di tangannya.
"Mulai dari sekarang gue mau cuekin dia, gue mau nginep di kantor nggak pulang, nggak chat dia, terus nggak kabarin dia sampe besok, gue mau bikin dia uring-uringan dulu, ckckckc," ujar Ryuga terkekeh.
"Serah luh, awas ntar luh malah dia kebablasan, si Alexa marah beneran sama luh," ujar Reyhan menimpali.
Reyhan menarik kursi dan duduk di samping Ryuga " Eh Ga.., kalo gue boleh jujur ya, kemaren pas si Sita ada di rumah sakit, gue rada-rada risih liatnya, luh nggak curiga apa, dia nggak ada motif lain gitu?" tanya Reyhan mengerutkan kedua alisnya menatap Ryuga.
__ADS_1
"Curiga gimana maksud luh? selama ini sikapnya dia biasa-biasa ajah nggak ada yang aneh," ujar Ryuga menyimpan kembali kalung di tangannya.
"Ini nih yang bikin gue sebel dari luh, isi hatinya orang kita mana kita tau, Ga! gue kasih tau ya Ga, cewek tuh paling pinter kali Ga, nutupin perasaannya," ujar Reyhan menatap Ryuga.
"Ngaco luh, ujar Ryuga tidak percaya, ia mengambil ponsel mencoba menghubungi Mamahnya.
"Hallo Mah, Alexa masih ada nggak mah?" tanya Ryuga.
"Alexa udah pergi tuh, Mamah dengernya dia katanya mau ke sekolah," ujar Retno.
"Apa ke sekolah kok dia nggak ngabarin aku sih?" tanya Ryuga terkejut.
Reyhan mendengar ekspresi Ryuga di buat terkekeh melihat kelakuan sepupunya yang sudah bucin akut, "Katanya mau cuekin, denger Alexa ilang aja langsung panik, udah mending luh susulin sono si Alexa, ckckc," ujar Reyhan memegangi perutnya.
"Sialan luh, ujar Ryuga memasukkan ponselnya ke dalam kantong."
.
.
"Siapa Tan tadi yang telpon?" tanya Sita duduk di samping Retno.
"Ryuga dia nanyain istrinya," ujar Retno.
"Oh, kayanya Ryuga cinta banget ya sama istrinya ya Tan," ujar Sita menampilkan wajah murung.
Retno menggenggam tangan Sita dan menatapnya dengan hangat, "Sita Tante mau tanya boleh?" tanya Retno.
Sita hanya mengangguk tersenyum menatap Tante Retno.
"Kamu masih mencintai Ryuga kan?" tanya Retno berterus terang, Sita menatap Tante Retno begitu terkejut mendengar ucapannya.
Retno tersenyum menatap Sita ia sudah menyimpulkan hanya dengan melihat tatapan Sita, "Kamu nggak usah jawab Tante udah tau, dari sorot mata kamu aja udah keliatan, kamu masih menyimpan perasaan sama Ryuga. Kamu sudah mengenal Ryuga berapa lama?" tanya Retno.
"Kurang lebih 6 tahun Tante, tapi Tante Sita udah ngeikhlasin perasaan Sita kok Tante, Sita juga bahagia kalo ngeliat Ryuga bahagia," ujar Sita menundukkan kepalanya mulai berakting senatural mungkin.
"Sita.., Sebenarnya Tante sudah mengurus gugatan cerai untuk Ryuga dan Alexa_,," ujar Retno.
"Iya Sit, Alexa itu bukan keponakan Tante dia itu istrinya Ryuga," ujar Retno.
"A..apa Tante," ujar Sita tergagap-gagap padahal ia sudah mengetahui fakta tentang Alexa.
"Ya ampun Tante, kenapa Tante nggak bilang, kalo Alexa itu istrinya Ryuga, pasti tadi dia ngerasa nggak nyaman, Tante please jangan bikin posisi aku sulit pasti nanti Alexa bisa ribut sama Ryuga gara-gara aku," ujar Sita penuh tipu muslihat.
"Kamu tenang aja, emang itu rencana Tante biar mereka segera berpisah, dan kamu bisa kembali lagi sama Ryuga, gimana," ujar Retno melirik Sita tersenyum.
Sita tersenyum puas dalam hati, "Tapi Tante, kenapa Tante berusaha misahin mereka," ujar Sita berpura-pura memasang wajah keberatannya.
"Sudah kamu tenang aja, kamu jadi orang jangan terlalu baik, kamu harus pikirkan kebahagiaan kamu, Ryuga mengenal kamu cukup lama berarti dia sudah mengenal karakter kamu dengan baik," ujar Retno mengusap tangan Sita.
"Nanti Tante akan ajak Om ke Singapore, tapi sebelum Tante berangkat semua harus sudah beres, dan kamu terus berusaha menjaga Ryuga saat Tante tidak ada ya Sit," ujar Retno.
Drttt..Drttt!
Ponsel Retno berbunyi, Retno menatap layar ponselnya dan tersenyum smirk.
"Hallo Felix kamu dimana?" tanya Retno.
"Saya ada di lobby rumah sakit bu," jawab Felix
"Ya udah tunggu saya kesitu," ujar Retno.
"Anterin Tante yuk ke lobby Sit," ajak Retno.
"Oh ya udah deh aku sekalian pulang, Tante gpp disini sendiri?" tanya Sita berdiri menyelepangkan tasnya di bahu.
"Loh kamu nggak tunggu Ryuga," ujar Retno.
"Nggak usah deh Tante," ujar Sita.
__ADS_1
Retno dan Sita berjalan menapaki koridor rumah sakit dengan berjalan beriringan, Sita mengapit tangan Retno menatap Retno tersenyum penuh kepalsuan.
"Hati -hati ya Sita, maaf ya Tante ngerepotin kamu terus," ujar Retno.
"Gpp Tante, Sita nggak ngerasa di repotin kok, Tante, malahan Sita seneng ," ujar Sita menatap Retno.
"Yuk Tante Sita pergi dulu," ujar Sita membalikkan tubuh dan tersenyum simpul penuh kemenangan dalam hatinya.
"Setelah gue udah dapetin Ryuga, gue akan bales kelakuan Tante yang dulu, liat ajah nanti," batin Sita tersenyum smirk.
Sita berjalan keluar dari halaman rumah sakit sambil tersenyum ceria, membayangkan masa depannya dengan Ryuga.
"Rupanya kau senang sekali jalan*," ujar seseorang dengan nada yang terdengar menyeramkan.
Sita di buat terkejut, "O -om Ferdy," ujar Sita terbata-taba.
"Akhirnya kita ketemu lagi," ujar Ferdy dengan senyum menakutkan.
Lutut Sita terasa lemas seolah tidak ada tenaga lagi, saat melihat seseorang yang paling ia hindari selama ini.
Ferdy menarik Sita ke tempat yang sepi dan mencekik Sita dengan kencang. Ferdy meluma* bibir Sita sekilas, "Om kangen sama kamu apalagi dengan ini," ujar Ferdy mengcengkram bagian sensitif Sita.
Cuh.. ! Sita meludahi wajah Ferdy.
Plakkk..!
Kurang ajar ," ujar Ferdy menapar wajah Sita dan mencekiknya kembali.
"Om nggak akan melepasin kamu sebelum kamu mengembalikan uang-uangku," ujar Ferdy terlihat semakin bringas.
Sita mulai kehabisan nafas dan menjulurkan lidah karena terasa sesak, dengan sisa tenaga ia berusaha melepaskan diri dari Ferdy.
Bugh..!
"Arrggghhh," ringis Ferdy saat Sita menendang tulang kering dengan sisa tenaganya menggunakan heelsnya yang lancip.
Sita langsung saja berlari sambil terhuyung-huyung memegang lehernya yang terasa sesak.
"Tolong, ujar teriak Sita."
Mendengar Sita meminta tolong Ferdy langsung buru-buru meninggal tempat tersebut dengan penuh emosi.
"Argghhh lagi-lagi aku gagal menghabisi jalan* itu, lihat saja nanti aku terus akan mencarimu walau sampai ke neraka sekali pun Fiona," batin Ferdy melihat Sita dari kejauhan mengepalkan kedua tangannya dengan erat.
Setelah mendapat pertolongan dari orang lain, Sita buru-buru mengambil ponsel di dalam tasnya.
"Mbak udah gpp," ujar seorang wanita yang menolong Sita.
"Iiiya Mba makasih ya Mbak," ujar Sita.
"Saya tinggal ya, hati-hati Mbak mending Mbak cari tempat yang ramai jangan di sini," ujar wanita tersebut memberi saran.
Sita hanya mengangguk menjawab ucapan wanita tersebut "Makasih ya Mbak sekali lagi," ujar Sita menempelkan ponsel di telinganya.
"Hallo Ga, ujar Sita terbata-taba."
"Ada apa Sit kamu telpon?" tanya Ryuga.
"Tolong aku Ga, ada orang yang nyerang aku," ujar Sita panik tergagap-gagap.
"Kamu dimana?" tanya Ryuga terdengar cukup panik.
"Aku ada di halaman rumah sakit, kamu cepetan ke sini Ga aku takut banget," ujar Sita sambil mengawasi keadaan sekitar.
"Ya udah kamu tenang dulu, tunggu aku kesitu sekarang," ujar Ryuga yang langsung beranjak dari kursi kebesarannya.
"Kemana luh Ga, nggak jadi nginep?" tanya Reyhan terkekeh.
"Bentar, ujar Ryuga melengos pergi meninggalkan ruangannya."
__ADS_1
...----------------...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...