
Ryuga keluar dari kediaman Keluarga Om Ardy dengan langkah penuh keputusan asaan, kemana lagi ia harus mencari keberadaan Alexa. Ryuga sudah benar-benar putus asa, setiap teman-teman serta kerabat Alexa semuanya tidak mengetahui keberadaan Alexa. Entah memang mereka semua memang benar-benar tidak tau, atau mereka sengaja ingin nyembunyikan keberadaan Alexa darinya.
Ryuga masuk ke dalam mobilnya dengan wajah begitu tidak bersemangat, "Kemana lagi aku harus cari kamu Yank? Apa kamu baik-baik aja di sana, "ujar Ryuga diletakkan saja wajahnya sedihnya pada stir mobilnya.
Ketika segala fakta tentang Alexa sudah ia ketahui semuanya, namun kenyataannya ia harus kehilangan Alexa yang entah dimana keberadaannya saat. Ryuga benar-benar putus asa, mungkin rasa penyesalannya saat ini adalah hukumkan dari Tuhan yang di berikan kepadanya.
.
.
5 Tahun sudah berlalu.
Waktu berjalan begitu cepat tanpa terasa. Ferdy sudah mendapatkan vonis hukuman penjara seumur hidup karena ia sudah banyak terlibat dalam banyak kasus kejahatan, sehingga jaksa penuntut menjeratnya dengan pasal berlapis atas segala tindak kejahatannya.
Dan Sita sendiri pun mendapatkan hukuman 20 penjara, jaksa penuntut menjeratnya dengan pasal tindak pencucian uang, karena Sita terbukti bersalah menerima aliran dana dari Ferdy. Sedangkan Alexa sendiri ia bebas dari segala jeratan hukum, semua itu berkat kerja keras Ryuga dan tim kuasa hukumnya, sehingga Alexa berhasil bebas dari segala tuduhan.
Berbeda dengan nasib yang menimpa Retno. Dalam lamunannya Retno duduk termenung kursi rodanya, menatap dedauan yang bergerak-gerak oleh hembusan angin. Retno sudah cukup menderita, karena penyakit stroke yang di deritanya selama 2 tahun. Setelah pertengkaran hebat dengan Ryuga saat di Singapore dan mengetahui fakta tentang Sita, Retno hidup dalam rasa penyesalannya selama 5 tahun ini. Retno mendapat pengabaian dari putra semata wayangnya, yang sama sekali enggan menemuinya. Bahkan Ryuga tidak pernah pulang ke rumah besar setelah kepulangan kedua orang tua dari Singapore.
Bimo berjalan menghampiri istri yang terlihat termenung di balkon lantai atas, "Mah ayo masuk! sekarang udah malam," ujar Bimo yang begitu setia menemani Retno.
Retno hanya menganggukan kepala karena berbicara pun sangat sulit untuk ia lakukan karena penyakit stroke yang di deritanya. Berbeda dengan Bimo, ia cukup berjiwa besar memaafkan segala kesalahan sang istri, karena baginya istrinya sudah cukup menderita karena penyakit yang di deritanya.
"Mah Papah besok Papah mau ke kantor untuk menemui Ryuga, Papah ada perlu sama Ryuga, "ujar Bimo berjongkok mensejajarkan dirinya dengan kursi roda yang di dudukin istri. Retno hanya mengangguk menjawab ucapan suaminya.
**********
.
.
"Daddyyyy....Daddyyyy"
Ryuga terusik dalam lelapnya "Alexaaa..., teriak Ryuga beranjak dari ranjang tidurnya nafasnya terlihat tidak beraturan."
Ryuga mengusap wajahnya duduk di ranjangnya, "Lagi-lagi mimpi yang sama, siapa anak itu? Kenapa dia selalu saja muncul dalam mimpiku selama bertahun-tahun, " ujar Ryuga bertanya-tanya.
Ryuga membuang nafas dengan kasar, ia menyingkap selimut yang membungkus tubuhnya berjalan menapaki anak tangga menuju kulkas. Dengan langkah malas membuka kulkas dan mengambil air, membasahi dahaganya yang terasa kering.
Ryuga duduk termenung di sofa, jam masih menunjukkan pukul 3 dini hari, matanya sudah tidak bisa ia pejamkan lagi. Ia hidupkan saya tv flat di hadapannya untuk mengusir rasa sepinya di kesendiriannya.
Ryuga menatap siaran di tv flatnya, namun pikiran melayang entah kemana, "Kenapa aku sering sekali bermimpi seperti itu? Itu jelas sekali," ujar batin menatap tv flat di hadapannya.
Ryuga membuang nafas dengan kasar memijat kening, "Alexa," ujarnya, satu nama yang masih saja ia sebut walau sudah lima tahun berlalu. Namun nama Alexa masih saja begitu menggetarkan hati dan perasaannya sampai saat ini.
Aussie.
"Daddy..Daddy, " rancu seorang anak laki-laki yang baru saja memasuki usia 4 tahun, terlihat tertidur dengan damai di ranjang kesakitannya.
__ADS_1
"Daddy.. Daddy, " rancunya lagi.
Hanum mengusap kepala Shaka mendengar rancuan Shaka yang terdengar begitu menyayat hatinya memanggil Daddynya.
Ini pertama kalinya Shaka memanggil sebutan Daddy, "Maafin Aunty dan Om.., Shaka, kamu pasti merindukan kehadiran seorang Daddy di sisi kamu," ujar Hanum menatap Shaka tidak tega.
Alexa baru saja sampai di kantornya, namun ia langsung buru-buru balik menuju mobilnya, setelah mendapat kabar bahwa putranya Shaka mengalami kejang karena demam tinggi. Dengan langkah sigap Alexa langsung saja menjemput Sheena di sekolah dan bergegas pergi ke rumah sakit.
Di buka saja pintu ruangan tempat dimana Shaka di rawat, "Mommy, Kak Shaka kenapa Mommy?" tanya Sheena menatap sedih ke arah saudara kembarnya. "Kak Shaka lagi sakit sayang, "ujar Alexa tersenyum mengusap kepala Sheena penuh kasih sayang.
"Shena sini sama Aunty, sayang," ujar Hanum mengambil alih Sheena.
Hanum mengusap punggung Alexa, "Dia tadi kejang demamnya terlalu tinggi Sa, makanya aku bawa ke sini, tapi sekarang demamnya udah mulai turun," ujar Kak Hanum.
"Makasih Kak, maaf Kak aku ngerepotin Kakak, "ujar Alexa.
"Ck, kamu ini selalu aja sungkan sama Kakak," ujar Kak Hanum.
"Kakak kan lagi hamil, pasti Kakak repot bawa Shaka kesini," ujar Alexa.
"Enggak kok, tadi Kakak di bantu Nanny di rumah ," ujar Kak Hanum.
Alexa mengusap kepala putra kebanggaannya dengan mata yang terlihat berkaca-kaca.
"Aunty nanti Kak Shaka sembuhkan?" tanya Sheena menatap sedih Shaka.
"Iya sayang nanti Kak Shaka sembuh sekarang Kak Shaka harus bobo di sini dulu sampe sembuh," ujar Hanum penuh kasih sayang.
"Nanti Sheena mainnya sama Tante, Om Nicco sama Nanny Emily, "ujar Hanum.
"Kak, ujar Alexa, Hanum pun menengok ke arah Alexa."
"Shaka kenapa yah, dia akhir-akhir ini murung terus? Kemarin juga bertengkar dengan sama temannya di sekolah kata Sheena. Tapi kalo aku tanya dia nggak mau cerita apa-apa?" tanya Alexa khawatir. khawatir mengusap kepala Shaka.
"Iya Sa, Kakak juga ngerasa begitu_”
"Daddy... Daddy, "rancu Shaka dalam tidurnya. Alexa dan Hanum menengok ke arah Shaka setelah mendengar rancuan Shaka.
Alexa langsung meneteskan air mata mendengar rancuan putranya. "Shaka sepertinya merindukan mendiang Daddynya Kak," ujar Alexa menangis membekap mulutnya tidak tega.
Hanum menatap Alexa tidak tega ia pun ikut menangis menatap Alexa, " Seandainya saja kamu tau bahwa Ryuga itu masih hidup. Maafin Kakak dan Kak Nicco, Alexa, kami terpaksa berbohong Alexa demi kondisi kesehatan kamu," batin Hanum lirih langsung memeluk Alexa dengan erat.
"Mommy sama Aunty kenapa menangis?" tanya Sheena terlihat berkaca-kaca.
"Gpp sayang, Mommy sama Aunty cuman sedih liat Kak Shaka sakit, " ujar Alexa mengusap pipi tembem Sheena.
"Sheena.., ikut Tante pulang yuk," ajak Hanum.
__ADS_1
Sheena menggelengkan kepalanya, "Sheena mau di sini aja temenin Mommy sama Kak Shaka.., Aunty," ujar Sheena mencebikan bibir.
Alexa menatap lembut ke arah putri kesayangannya, "Sayang dengerin Mommy, Sheena sama Aunty dulu ya, Sheena takut di suntikkan?" tanya Alexa mencoba membujuk putri kesayangannya.
Sheena mengangguk, "Iya deh Sheena ikut Aunty pulang, Sheena takut di suntik sama Pak Dokter," ujar Sheena membeo.
"Ya udah Kakak pulang dulu ya Alexa, kalo ada apa-apa tolong kabarin Kakak," ujar Hanum sambil menuntun Sheena.
Alexa pun mengangguk, lalu menatap Sheena kembali, "Sheena jangan ngerepotin Aunty ya sayang, nurut apa kata Aunty di rumah, soalnya di perut Aunty udah besar," ujar Alexa mengusap kepala Sheena.
"Iya Mommy,..Dadah Mommy.. Dadah Kak Shaka. "Kak Shaka cepet sembuh ya," ujar Sheena mencium Mommy dan Shaka secara bergantian.
.
.
*********
Wijaya Group.
Sejak mengambil alih perusahaan, kemampuan Ryuga sudah tidak bisa di remehkan lagi. Kini perusahaan Ryuga termasuk dalam 10 daftar perusahaan terbesar di dunia. Walau dulu perusahaan sempat berada di kondisi terpuruk karena berita mengenai Yayasan cukup mempengaruhi kredibilitas perusahaan namun berkat kerja keras dan perjuangan yang dilakukan Ryuga cukup gigih sehingga Ryuga mampu melewati masa keterpurukannya saat itu.
Ryuga sangat pintar membaca strategi pasar memperluas jaringan bisnisnya. Dan ia pun sangat memperhatikan kualitas produk dan memastikan bahwa produk telah memenuhi standarisasi internasional sebelum melakukan ekspor. Berbagai penghargaan di dapat terutama pada saat ia mengikuti pameran di berbagai kesempatan. Karena kegiatan tersebut sangat penting sebagai penunjang proses pemasaran, membangun relasi dan kerjasama dengan perusahaan-perusahan asing di dunia.
Ryuga berkerja bak kuda gila yang tidak kenal lelah semenjak kehilangan Alexa. Semua ia lakukan demi mengalihkan perhatiannya dari rasa kerinduannya dan rasa bersalahnya terhadap Alexa. Dan kini berkat kerja keras dan perjuangannya hampir 75% produknya diekspor ke berbagai negara di seluruh dunia.
"Nih Ga udah terbit.., mantaps," ujar Reyhan sambil meletakkan majalah Forbes dengan wajah Ryuga menghiasi cover majalah tersebut.
Ryuga menatap majalah yang ada di hadapannya, lalu menyingkirkan majalah tersebut dan matanya ia tujukan kembali ke arah laporan yang ia pelajari.
"Ck, luh kasih ini lagi ke Daniel, tolong suruh dia cek lagi, itu masih banyak selisihnya," ujar Ryuga di lempar saja laporan ke mejanya.
"Sabar Ga, di tim perencanaan juga kan ada dua karyawan baru. Si Daniel juga tadi gue liat dia lagi ngomel-ngomelin anak buahnya mulu," ujar Reyhan dengan santai.
"Makan siang aja dulu yuk gue laper nih, " ajak Reyhan.
"Luh mending pesen onfood aja Papah mau ke sini bentar lagi," ujar Ryuga.
"Gue heran sama luh, itu bokong luh nggak bosen apa nempel di kursi itu terus? come on Ga, ini udah lima taun berlalu. Luh emang nggak ada niatan apa cari pasangan baru," ujar Reyhan.
"Berisik luh! mending luh keluar gih! Daripada gue suruh luh makan kertas kertas ini...mau," ujar Ryuga meremas kertas di mejanya hingga membentuk gumpalan bola.
"Iya iya gue keluar," ujar Reyhan berjalan menuju pintu ruangan Ryuga.
"Jangan lupa pesenin gue steak dengan kematangan medium," ujar Ryuga.
"Sip bos ," ujar Reyhan menutup pintu ruangan Ryuga.
__ADS_1
...----------------...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...