
Sesampainya di kelas Alexa duduk di bangkunya mengigiti kukunya perasaannya mulai cemas, pikirannya pun terasa kalut sejak keluar dari ruangan Ryuga tadi. Bahkan saat teman-temannya membicarakannya Papahnya, menatapnya dengan sinis Alexa sama sekali tidak menghiraukan ocehan teman-temannya tersebut.
"Lo masih punya muka Lex dateng ke sekolah," ujar Tania sekelas Alexa.
"Kalo gue jadi lo sih udah gantung diri kali..Lex," saut Adelia menimpali.
"Eh jaga tuh mulut jangan kaya lobang pant**," ujar Rena tidak terima.
"Lo belain dia karena lo udah nikmatin kan hasil pemberiannya selama ini,.. hasil dari duit haram," ujar Adelia, menatap tajam Rena.
"Mulut lo jangan asal jeplak.. Bapak lu nyekolahin lo tuh biar lu pinter, bukannya buat bikin lo tambah dongo," saut Kipli ikut menimpali.
"Dih emang fakta kali, kelakuan bokapnya aja tuh yang gak ada akhlak," saut Tania menimpali.
Rena dan Kipli terlibat adu mulut yang cukup sengit dengan Tania dan juga Adelia karena membela Alexa, sedangkan Alexa sendiri hanya tertunduk lesu memainkan jarinya dengan kasar memikirkan bagaimana Sita bisa berada di ruangan Ryuga. Alexa tidak menghiraukan keributan yang terjadi antara kedua sahabatnya di kelas karena membelanya.
"Apa mereka masih ada hubungan, tadi kenapa Sita bisa ngomong gitu, apa maksudnya," ujar Alexa cemas bertanya-ranya sendiri, perasaannya sungguh tidak tenang memikirkan hal-hal negatif di dalam otaknya.
Alexa terlihat tidak tenang, ia sejak tadi menggigiti bibirnya. Semakin lama ia merasakan tubuhnya bergetar, nafasnya terasa lebih cepat dan memburu, peluh sudah membasahi dahinya.
"Hmmbbb ,"Alexa membekap mulutnya saat perutnya tiba-tiba merasa mual.
"Alexa lo kenapa muka lo pucet banget, keringat lo ampe basah gini," ujar Rena meraup wajah Alexa panik.
Ketika rasa cemas, gelisah dan ketakutan mulai menyerang perasaannya dan semakin tidak terkontrol, Alexa buru-buru mengambil tempat pensilnya yang berisi persediaan obatnya, dan berlari menuju toilet. Seluruh teman-temannya menatap Alexa aneh saat melihat sikap dan gelagat Alexa.
"Alexa tunggu, ujar Rena memanggil." Rena berlari menyusul Alexa.
"Eh jangan-jangan sih Alexa hamil, lo liat nggak sih tadi dia kaya mual-mual gitu," bisik Adelia memfitnah.
"Masa sih? tanya Tania penasaran."
"Bisa aja kan bapaknya aja bejat kelakuannya, pasti anaknya juga bejatlah," bisik Adelia.
Di dalam toilet Alexa mengeluarkan isi di dalam perutnya, Ren terlihat sangat peduli membantu Alexa yang terlihat sangat kacau.
"Ren ambilin obat gue 3 pil...cepetan," ujar Alexa memberikan tempat pensilnya.
"Eh iya..iya.., ya ampun Lex lo kalo lagi kumat kayak gini ya," ujar Rena berusaha mencerna ucapan Alexa.
"Yah elah Lex, pake jatoh lagi, lo jangan bikin gue panik napa sih Lex," ujar Rena panik sendiri, Rena pun mengambil obat yang sudah Alexa kemas dengan plastik kecil.
"Ko ada yang bubuk gini sih?" tanya Rena."
"Cepet Ren.., ntar ada yang masuk," ujar Alexa. Alexa mencengkram kran air di wastafel tangan bergetar, nafasnya pun tersengal-sengal.
Tiba-tiba saja "Woy ngapain lo berdua," ujar seorang siswi yang baru saja masuk ke dalam toilet. Ketiga siswi tersebut pun melihat bungkusan plastik yang Rena pegang, dengan buru-buru Rena memberikan obat itu kepada Alexa.
"Dia lagi sakit, nggak enak badan," saut Rena terkejut.
"Tunggu deh, lo itu bukannya Alexa anaknya Pak Ferdy yang kerjaannya makanin duit haram," ujar siswi tersebut.
__ADS_1
"Eh jaga ya, omongan lu jangan sampai gua masukin ini, sikat WC ke mulut lo," sahut Rena membela Alexa.
"Yuk gengs kita cabut, ogah gue lama-lama di sini, ntar kita bisa ketularan sial," ujar siswi langsung melangkah pergi keluar toilet.
Setelah meminum obatnya Alexa pun langsung memeluk Rena, tubuhnya terasa begitu lemah tak bertenaga.
"Lex lo baik-baik aja kan?" tanya Rena khawatir.
"Ren gue capek Ren, pinjem dikit lagi ya bahu lo bentar.., ujar Alexa tersenyum lemah memeluk sahabatnya.
"Jangankan bahu Lex gue di hukum karena belain lo juga gue rela," saut Rena tersenyum menepuk punggung Alexa.
"Ren gue mau nyerah, aja Ren," ujar Alexa bergetar menahan air matanya.
"Lo ngomong apa sih, Lex lo jangan ngaco deh," ujar Rena melepaskan pelukan Alexa dan menatap Alexa tidak percaya dengan ucapannya barusan.
"Ren gue tadi ngeliat mantannya Pak Ryuga, yang dulu kita liat di cafe. Dia sekarang ada di ruangannya Pak Ryuga_,ujar Alexa.
What maksud lo Sita_," ujar Rena memotong ucapan Alexa, Alexa pun mengangguk menatap Rena yang terkejut.
Ia Ren, dia sekarang ada di ruangan Pak Ryuga gue liat sendiri mereka itu lagi kunjungan kampus gitu. "Tapi ada yang bikin gue khawatir Ren, gue denger omongan Sita itu ambigu banget bikin gue penasaran kayaknya mereka tuh seolah-olah masih punya suka ketemu gitu,.. Ren gue takut Ren" ujar Alexa terisak pilu.
"Ren...apa gue nyerah aja ya Ren, gua udah nggak kuat lagi Ren, gue capek," ujar Alexa yang akhirnya menjatuhkan lagi air matanya.
"Ya ampun Lex, jangan ngaco deh, lo tuh udah nikah jangan mau kalah," ujar Ren memeluk Alexa kembali.
"Tapi gua udah nggak sanggup lagi Ren, batin gua udah tersiksa, lebih baik gue yang berkorban demi kebaikannya dia, walaupun gue harus hancur sehancur-hancurnya," ujar Alexa pasrah.
"Nggak tau lah Ren, yuk kita ke kelas, bentar lagi mapelnya Pak Arif, gue nggak mau kena semprot lagi gara-gara telat," ujar Alexa menarik tangan Rena keluar toilet.
Alexa dan Rena berjalan di konidor kelas dilantai atas menuju kelasnya, mata Alexa tertuju ke arah dimana Ryuga dan Bu Farida yang di temani dengan kelima para mahasiswa terlihat sedang berjalan di depan ruang guru di bawah.
"Tuh lo liat ke bawah Ren," ujar Alexa menatap Ryuga berkaca-kaca yang terlihat sedang berbincang-bincang dengan Sita tersenyum. Rena pun menatap lalu membulatkan matanya, ia benar-benar percaya setelah melihat dengan mata kepalanya sendiri.
"Gimana menurut lo ? mereka itu pasti masih ada rasakan?.. kelihatan kali Ren," ujar menatap sedih ke arah Ryuga dan Sita yang terlihat asik bercengkrama.
"Loh mending tanya langsung aja Lex sana Pak Ryuga, daripada lu overthinking terus, belum tentu kenyataannya seperti apa yang lu pikirin," ujar mencoba berpikir positif.
"Tapi gue pengen dia cerita langsung jujur gitu tentang Sita tanpa harus gue tanya, karena selama ini kalo gue nanya tentang masa lalunya, dia tuh nggak pernah ngomong apa-apa. "Dia sih bilangnya nggak mau ngungkit-ngungkit masa lalu," ujar Alexa matanya tidak pernah lepas menatap Ryuga.
"Mungkin aja dia nggak mau cerita karena dia mah nggak mau ingat-ingat lagi masa lalunya, atau bisa juga ada trauma tersendiri gitu, lagian nih ya kan Lex, Pak Ryuga itu kan umurnya lebih dewasa dari kita, pasti cara berpikirnya itu beda deh sama kita," ujar Rena.
"Terus gue harus tersiksa sama rasa penasaran gue gitu? tapi Ren,.. yang gue tahu sih ada campur tangan Mamah Retno makanya mereka putus gitu Ren," ujar Alexa menatap Rena.
"What lagi-lagi Mamah Retno, berarti bisa jadi selama ini Mamah Retnolah biang masalah nya Lex, dia udah bikin hubungan Ryuga sama Sita putus, terus sekarang hubungan lo mulai di usik, sebenarnya apa sih maunya Mamahnya Pak Ryuga itu?" tanya Rena terkejut dan penasaran.
"Tau Ren, eh ada Pak Arif noh..! yuk.. cepet kita masuk kelas," ujar Alexa menarik tangan Rena.
.
.
__ADS_1
Ryuga begitu ramah, saat para mahasiswa tersebut bertanya-tanya seputar informasi sekolah. Setelah menyelesaikan beberapa wawancara dengan kelima mahasiswa tersebut. Ryuga bersama Bu Farida memperkenalkan kelima para mahasiswa tersebut dengan para guru dan staff tata usaha di sekolah.
Sejak di ruangannya Ryuga begitu penasaran bagaimana Sita bisa mengenal Alexa, ia berjalan disisi Sita mencoba bertanya pada Sita. "Kamu kenal siswa yang tadi di ruangan aku Sit?" tanya Ryuga penasaran.
"Aku baru ketemu sekali doang sih..., kamu inget nggak yang pas kita ketemuan sama Andry sama Siska di cafe waktu itu. Aku nggak sengaja liat dia di toilet, kaya lagi sakau gitu Ga_,. bisik Sita
"Apa kata kamu..sakau?" tanya Ryuga memotong ucapan Sita terkejut menghentikan langkahnya.
"Ada apa Pak Ryuga?" tanya Bu Farida sedikit terkejut mendengar nada bicara Ryuga yang sedikit tinggi.
"Oh bukan apa-apa Bu, maaf..! silahkan di lanjutkan," ujar Ryuga tersenyum kaku.
"Apa waktu itu Alexa juga tahu, kalo aku ketemu sama Sita dan teman-temanku pas di cafe?" batin Ryuga bertanya-tanya sedikit gelisah.
"Kamu jangan sampe kecolongan Ga, kelakuan murid SMA jaman sekarang itu meresahkan banget, kalo menurut aku sih mending kamu kasih sanksi tegas deh Ga," ujar Sita
"Ga..,"
"Ryuga,,"
"Hello, Pak Ryuga, ujar Sita menyadarkan lamunan Ryuga."
"Eh sorry, ujar Ryuga."
"Sory Sit aku nggak denger?" ujar Ryuga
"Maksud kamu sakau gimana Sit?" tanya Ryuga mengerutkan kedua alisnya menjadi tidak tenang.
"Iya dia kaya mau ngobat gitu, tapi pas aku masuk toilet dia kaya kaget gitu ngeliat aku," saut Sita melirik Ryuga ingin tahu reaksi Ryuga.
Ryuga ingin bertanya lebih jauh lagi tiba-tiba Bu Farida menyela obrolan serius nya dengan Sita.
"Maaf Pak Ryuga bagaimana kalo kita ke kelas, mereka ingin melihat kegiatan belajar mengajar secara langsung?" tanya Bu Farida menghampiri Ryuga.
...
POV Sita
"Eh Sit lo ternyata kenal sama Pak Ryuga pemilik sekolah ini?" tanya Rini penasaran
"Kenal dong, malah lebih dari sekedar kenal, ujar Sita tersenyum bangga."
"Gila.. gue kalau jadi lo, udah gue pepet tuh,.. gila gantengnya nggak ketulungan Sit...gaskeunlah," ujar Sania teman Sita.
"Ini gue lagi usaha, lo nggak pada liat apa," bisik Sita tersenyum bangga melirik Ryuga yang berjalan di depannya sedang memberikan penjelasan kepada ketiga teman-temannya.
"Gila calon imam gue, nyesel gue dulu pernah ninggalin lo demi si brengsek Nicco. Tapi gue yakin Ryuga pasti lo masih punya rasa sama gue, liat aja gue bakalan nyingkirin istrinya yang labil itu," batin Sita tersenyum sinis menatap punggung Ryuga yang sedang bicara dengan Bu Farida.
...----------------...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1