Hati Yang Memilih

Hati Yang Memilih
Bab 10


__ADS_3

Pagi ini Khalid bangun jam 04.30, setelah melaksanakan solat subuh barulah Khalid membangunkan istrinya. Syafina bergegas bersiap siap melaksanakan solat.


Selesai solat Syafina buru buru keluar membantu mamanya membuat sarapan.


"Syafina menghindari aku, gimana cara deketin dia ya. Kok aku malah jadi kaku begini. Aku nggak minta dia melakukan kewajibannya sebagai istri, minimal dia mau berbicara sama aku saja sudah cukup"


Khalid memutuskan tetap di kamar dan melihat lihat ponselnya.


"Bang, sarapan yuk" Syafina tiba tiba muncul dari pintu.


"Yuk" Khalid mengikuti Syafina.


Syafina menghidangkan sarapan didepan khalid, menuangkan air minum. Pagi ini dia membuat nasi goreng pattaya.


Khalid bahagia setidaknya Syafina melayaninya di meja makan, namun dia masih memikirkan cara biar bisa lebih dekat dengan Syafina.


Setelah selesai sarapan


"Fina, jalan jalan yuk.. "


"Kemana ? "


"Kemana gitu, kamu ada ide? "


"Nggak"


"Kerumah abang saja dulu, setelah itu nonton, makan makan atau ke mall".


"Terserah"


"Buset, pelit amat ngomongnya, kemaren dia senang sekali diajak ngobrol tentang koleksi kembangnya. Nggak mungkin hari ini masih ngajak ngomongin itu" batin Khalid.


"Ayolah siap siap kerumah abang"


Mereka berdua pun bersiap siap. Mereka mandi bergantian, seperti biasa Syafina ganti baju di dalam kamar mandi. Khalid pun ikut ikutan ganti baju di kamar mandi, dia tahu Syafina malu melihatnya ganti baju. Setelah siap mereka pun berangkat menggunakan motor Syafina. Perjalanan kerumah Khalid memakan waktu setengah jam.


"Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Sherin yang membukakan pintu.


"Masuk bang" Sherin lebih tua dari Syafina. Dia adalah anak angkat ibu Fatimah.


"Ibu mana Sher ? "


"Tadi ibu di teras samping rumah bang, coba lihat disana".


Khalid dan Syafina pergi ke teras samping. Ternyata benar bu Fatimah sedang merawat koleksi aglonemanya. Syafina menghampiri mertuanya, dan dalam waktu tak lama mereka berbincang terlihat sangat akrab, tersenyum tertawa tentu saja dengan topik tanaman hias. Sehingga Khalid tidak dianggap keberadaanya.


"Hhh aku di cuekin, gak bisa di biarkan ini. Ibu kok nggak peka sih" Khalid menggerutu. Dia memikirkan ide agar bisa membuat Syafina betah berlama lama mengobrol dengannya. Khalid menyender ke dinding memperhatikan istrinya.


Syafina tahu jika dia diperhatikan, dia menoleh ke arah Khalid lalu menjelitkan matanya.


"Astagfirullah" Khalid mengusap dadanya.


"Ya Tuhan, aku kok jadi grogi sama Syafina, mana Khalid yang bisa bikin perempuan klepek klepek. Apa aku selamanya hanya berani memperhatikan Syafina dari jauh? " Khalid menarik nafas panjang, dia bingung dengan dirinya sendiri.


Setelah solat ashar Khalid berencana mengajak Syafina nonton film di bioskop


"Fin, kita nonton yuk"


"Nonton apa, drakor? "


"Apa itu? "


"Drama korea"


"Bukan, kita nonton dibioskop. Terserah nanti kamu mau nonton apa".


"Benaran? "


"Ehmm" Khalid mengangguk.


"Tunggu, aku solat dulu ya" Syafina langsung bersiap siap.


"Kalau mau ganti baju, ada baju kamu di lemari"


"Baju aku? " Syafina bertanya heran.

__ADS_1


"Iya, ibu yang menyiapkan"


"Oh gitu"


Setelah selesai mereka berangkat menggunakan motor Khalid.


Sampai di bioskop Syafina memilih judul Film yang ber genre komedi. Padahal Khalid ingin nonton romantis atau horor saja, dalam pikiran Khalid jika nonton horor Syafina akan ketakutan, dan memeluk dia. Tapi dia menurut saja apa maunya Syafina.


Film telah di mulai, Syafina mulai tertawa ringan lalu diam, lalu tertawa agak keras, nyeloteh, kemudian tertawa lebih keras lagi. Sementara Khalid tidak fokus dengan film, tapi dia fokus menatap Syafina. Baginya Syafina semakin cantik saja jika tertawa lepas begitu.


Tiba tiba Syafina dan penonton lainnya tertawa sangat keras dan terpingkal pingkal. Syafina menepuk nepuk paha Khalid dan menyender nyender di bahu Khalid saking semangatnya dia tertawa.


"Hei, baru tahu aku Syafina bisa begini. Berarti Nggak salah nonton film komedi".


"Abang kok nggak ketawa sih bang, Syafina masih terengah engah karena tertawanya barusan.


"Abang cuma senyum, malu abang kalo ketawa keras". Khalid beralasan.


"Ha ha ha" Syafina tertawa lagi sambil menarik narik tangan Khalid. Sementara Khalid menikmati di perlakukan Syafina seperti itu.


"Abang lihat tuh, hi hi hi"


Setelah Film selesai mereka keluar dari bioskop.


"Aku suka banget sama Aliando, ganteng banget lucu lagi" Syafina tersenyum senyum.


"Apaan sih, ganteng juga abang dari dia"


"Iya sih abang ganteng dari dia, tapi dia kan lucu, qiyut."


"Nggak salah dengar aku, kamu ngomong apa barusan ?"


"Emang Fina ngomong apa? "


"Abang ganteng dari Aliando"


"Masa sih, abang salah dengar kali.. ".


"Mana ada salah dengar, jelas jelas kamu bilang aku ganteng dari Aliando".


"Sudahlah, magrib nih solat yuk" ajak Syafina. Mereka lalu mencari mesjid terdekat. Selesai solat Khalid mengajak Syafina ke mall.


"Hayyuk" Syafina bersemangat.


"Ternyata nggak seperti yang ku duga, tadinya aku pikir akan berbulan bulan Syafina membeku susah di ajak bicara, nggak tahunya sehari saja sudah mencair".


Mereka berdua berjalan beriringan, melihat lihat. Tapi tak ada barang yang di beli.


"Nggak jadi beli Fin ?" tanya Khalid ketika Fina menaruh kembali sepatu olahraga yang dia lihat.


"Nggak"


"Ambil saja kalau suka, abang yang bayar"


Syafina menggeleng, lalu keluar dari toko itu. Khalid mengikutinya.


"Dari tadi cuma lihat lihat, yakin nggak ada yang mau dibeli ?". Khalid sebenarnya ingin sekali membeli barang untuk Syafina. Biasanya perempuan senang bila dibelikan barang.


"Nggak, aku cuma cuci mata" Syafina sudah terbiasa membeli barang jika barang yang dimilikinya sudah rusak.


"Ya sudah, makan yuk"


"Ayolah, aku juga lapar"


Mereka lalu mencari tempat menjual makanan cepat saji. Mereka menghabiskan makanan mereka dengan cepat, karena memang sudah sangat lapar sehabis keliling keliling. Setelah selesai makan Syafina mengajak Khalid untuk pulang.


"Sudah jam sembilan, pulang yuk bang"


"Ayolah".


Mereka berdua berjalan ke tempat parkir. Khalid berjalan lebih dahulu, Syafina menyusul di belakangnya.


Di tempat yang agak gelap, tiba tiba seseorang membekap mulut Syafina dan menariknya menjauh. Syafina mencoba meronta, tapi orang itu memegangnya kuat sekali.


Beruntung saat itu ada seorang laki laki yang lewat.


"Hei mau ngapain" dia langsung memukul orang itu dan berteriak.

__ADS_1


"Tolong jambreeet !!"


Khalid yang tidak jauh dari tempat itu mendengarnya, dia segera menoleh ke belakang.


"Astagfirulah Syafinaaa". Khalid berlari mendekati istrinya.


Melihat kondisi tidak aman, orang itu melepaskan Syafina dengan mendorongnya keras. Syafina terhuyung hampir terjatuh ke tanah. Khalid menangkapnya, sementara orang itu melarikan diri. Seseorang telah menunggunya dengan sepeda motor dan akhirnya berhasil melarikan diri.


"Kamu nggak apa apa Fina?"


Syafina menggeleng, dia sangat syok.


"Aku takut bang" Sura Syafina lirih


"Ada abang disini Fina, maafin abang nggak jagain kamu". Khalid memeluk Syafina. Syafina membenamkan wajahnya di dada Suaminya. Tubuhnya gemetaran karena ketakutan.


"Ada barangmu yang hilang?"


"Nggak ada" Syafina menggeleng.


Khalid melepaskan pelukannya, lalu menoleh kepada pria yang menolong istrinya.


"Mas, makasih sudah menolong istri saya"


"Iya pak, lain kali hati hati. Sekarang memang banyak jambret."


"Nggak tahu apa yang terjadi jika mas tadi tidak ada, makasih banyak ya mas"


Khalid benar benar bersyukur istrinya ditolong oleh orang itu.


"Kebetulan saja pak, oh ya aku permisi ya"


"Nama mas siapa?"


"Budi, duluan ya pak"


"Iya" jawab Khalid.


Khalid dan Syafina pulang, mereka sampai dirumah jam 22.30 malam. Karena jarak dari kota B kerumah Syafina lumayan jauh.


Sampai dirumah, bu Zaenab membuka pintu.


"Kok pulang malam malam, mama kirain kalian tidur dirumah bibi Fatimah"


"Kami habis nonton bu, terus main ke mall jadi pulang kemalaman"


"Yaa udah istirahatlah. Mama juga mau tidur nih"


"Ya ma"


Sampai di kamar Khalid dan Syafina membersihkan tubuh mereka bergantian ke kamar mandi, Syafina duluan. lalu mereka solat isya. Setelah selesai, Khalid dan Syafina duduk diatas tempat tidur.


"Maafin abang, lain kali aku nggak akan ngajak kamu jalan malam malam lagi."


"Sudahlah, yang penting Fina nggak kenapa kenapa. Oh ya bang, luka abang kemaren sudah sembuh belum? ini sudah seminggu"


"Sepertinya sudah sembuh" kata Khalid


"Sini Fina lihat bang"


Khalid pun menggeserkan duduknya mendekat kepada Syafina. Syafina menyingsingkan lengan kaos oblong Khalid.


"Sudah kering, besok dibuka jahitan nya ya"


Khalid mengangguk.


"Motor kamu masih dirumah ibu, besok besok saja di jemput ya"


"Iya bang, tidurlah. Lelah banget Fina"


Syafina merebahkan tubuhnya, tak butuh waktu lama dia tertidur. Terdengar nafasnya yang teratur.


Sementara Khalid belum tertidur, dia masih teringat kejadian tadi di parkiran. Khalid bergidik ngeri membayangkan hal yang buruk terjadi pada istrinya.


"Alhamdulillah Tuhan masih melindungi kamu Fina". Khalid mengelus rambut Panjang Syafina yang lurus, menyibakkan rambut yang menutupi sebagian wajah istrinya.


"Aku masih tak percaya bisa menjadi suami kamu Fina, aku berjanji akan melindungimu" Khalid mengelus pelan pipi istrinya. Lalu dia melihat Wajah Syafina sangat dekat, Khalid mencium dahi Syafina.

__ADS_1


"Aku mencintaimu Syafina Almaira".


*****


__ADS_2