Hati Yang Memilih

Hati Yang Memilih
Arsya merindukan Syafina


__ADS_3

Sudah sebulan berlalu semenjak kejadian di hotel Syanaya, Arsya berusaha melupakan Syafina. Ia ingin melihat gadis yang dicintainya bahagia, walaupun sangat sakit harus melihat Syafina bersama laki laki lain.


Satu minggu ini Arsya menghindari Viana, dia takut membuat gadis itu kecewa. Viana wanita yang sangat baik dan lembut, tapi entah kenapa Viana tak mampu mengisi ruang hati Arsya yang kosong. Viana belum mampu menggantikan posisi Syafina dihati Arsya.


Arsya ingin belajar melupakan Syafina terlebih dahulu, jika dia memang sudah berhasil melupakan Syafina barulah nanti dia akan pelan pelan mengisi hatinya, entah itu dengan Viana atau dengan yang lainnya.


Sekuat Arsya melupakan Syafina tapi bayangan Syafina semakin kuat bertengger di pelupuk matanya, kenangan bersama Syafina terputar kembali di ingatannya.


Flash back on


Pagi pagi sekali Arsya joging di Taman kota, setelah cukup banyak mengeluarkan keringat dia merasa lapar. Ingin pulang kerumah tapi ART dirumahnya sedang libur, karena hari ini minggu. Memang ART dirumah Arsya diliburkan pak Andri di hari minggu. Karena bi Sumi memang meminta libur untuk mengurus anak anaknya yang memang masih usia SD.


Sarapan diluar Arsya tak biasa, biasanya hari minggu mamanyalah yang memasak untuk keluarga. Tapi mamanya sudah meninggal sebulan yang lalu. Arsya merasa sangat kehilangan.


"Apa aku kekosan Fina saja ya, kemaren dia bawa bekal enak sekali". Akhirnya Arsya meluncurkan mobilnya kekosan Syafina tanpa memberitahu dahulu pada Syafina.


Tok tok Arsya mengetuk pintu kosan Syafina. Pintu itu segera dibuka, karena pemiliknya memang lagi duduk disofa ruang tamu.


"Pak Arsya?, ada apa pak? " Syafina terheran heran mengapa dokter Arsya berkunjung ke kosannya.


"Disuruh masuk apa tidak? " Arsya malah balik bertanya.


"Iya, masuk pak" Syafina tersenyum, dan itu salah satu alasan kenapa Arsya berkunjung ke kosan itu pagi ini. Karena Syafina sudah tiga hari libur dan Arsya kangen melihat senyum itu. Arsya duduk di Sofa disebelah Syafina, Syafina menggeserkan duduknya karena malu duduk terlalu berdekatan.


"Fina masak apa hari ini? "


"Belum masak pak"


"Ayolah masak, mas lapar. Mas bantuin ya".


Syafina menganga mendengar ucapan dokter Arsya, nggak salah ini dokter mau membantunya memasak. Nanti ketahuan papanya gimana, masa iya anak orang terkaya di kota ini membantunya memasak.


"Ayolah, mas sudah lapar" Arsya menggamit tangan Syafina mengajak ke dapur, Syafina akhirnya ikut saja.


Syafina membuka kulkas, untung masih ada beberapa potong ayam dan sayur bayam. Akhirnya mereka berdua masak bersama, itulah pertama kali Arsya masak bersama Syafina dan makan dikosan Syafina.


Setelah selesai makan, Arsya belum ingin pulang karena dirumahnya tidak ada orang. Dia masih ingin berlama lama berduaan dengan Syafina.


"Bapak tak ingin pulang? "Syafina memutuskan mengusir dengan cara halus.


"Nggak, mas ingin disini sampai sore"


Lagi lagi Syafina menganga mendengar ucapan Arsya. Salah makan obatkah atau sakitkah dokter satu ini, Syafina tahu kalau dokter Arsya menyukainya tapi tidak mungkin laki laki bukan muhrim main dirumahnya seharian ini. Apa kata tetangga.


"Apa kata tetangga nanti, nanti dibilang tetangga aku ngumpetin laki laki di kosanku"


"Alaah, paling juga digerebek RT, disuruh kawin."


"Naa itu tahu" Syafina cemberut.


"Ya nggak masalah, itu memang yang aku mau"


"Hhh, emang mau ya digerebek RT, terus masuk koran. ?"


"Udah jangan takut, nggak akan sampai masuk koran. Kalau disuruh nikah mas siap."


"Kalau mau nikah itu baik baik, bukan dengan cara digerebek warga" Syafina jadi cemberut.


Arsya mengacak rambutnya gemas dengan gadis di depannya ini. Lalu dia menarik Syafina agar duduk lebih dekat dengannya. Lebih tepatnya dia memaksa Syafina menyenderkan kepalanya didadanya. Syafina menjadi tegang. Jantungnya berdebar keras berada sedekat itu dengan Arsya.


"Kenapa kok tegang, jangan takut. Sudah mas bilang kalau digerebek mas akan tanggung jawab"


"Lepasin mas, nanti ada tetangga yang lihat" Syafina bertambah khawatir."


"Apa, manggil mas? "


"Iya habisnya mas dari tadi nyebut diri mas"


"Mulai sekarang panggil mas ya ?" pinta Arsya.


"Iya, tapi dirumah sakit tetap panggil pak Arsya".

__ADS_1


"Nah gitu donk, nurut sama calon suami. Biasakan manggil mas", Arsya mencium rambut Syafina dengan lembut, dan Syafina menyukai itu. Tapi dia cepat cepat menepis perasaannya. Dia tak boleh membiarkan Arsya melakukan itu.


"Mas, jangan mulai nakal deh," Syafina duduk menjauh.


"Cuma cium rambut kok.." Arsya merasa tak bersalah.


"Iya tetap saja tidak boleh, sekarang rambut besok apalagi ?"


"Maaf nggak lagi deh, segitu saja kok marah"


"Janji ya, kalau masih nakal mas nggak boleh lagi main kesini, nggak boleh lagi minta dimasakin"


"Iya, janji nggak lagi. "


Semenjak saat itu Arsya tidak pernah lagi main pegang pegang, atau cium cium sama Syafina. Dia benar benar menghargai Syafina. Arsya sangat kagum dengan gadis itu yang sangat pandai menjaga dirinya. Dan dia berjanji akan menjaga Syafina dan akan menikahinya. Menyentuhnya saat sudah sah menjadi Istrinya.


Flash back Off


tert tert ponsel Arsya berbunyi, seperti biasa panggilan dari Viana.


"Hallo Via? "


"Bisa ketemu nggak mas? "


"Ehmm, mas lagi capek. Tiduran dirumah"


"Ya Udah aku kesana, ini tentang Syafina loh mas".


"Iya deh" mendengar nama Syafina disebut Arsya tidak melarang Viana mengunjunginya.


Sekitar 20 menit Viana telah sampai dirumah Arsya, Mereka duduk berdua di ruang keluarga.


"Kenapa kesini malam malam? "


"Baru saja jam 7 malam mas, eh mas tahu nggak aku ada kabar tentang Syafina loh".


"Kabar apa? "


"Oh pantasan nggak pernah lihat lagi"


"Nggak cuma itu mas, sekarang Khalid sudah tak punya apa apa lagi, Semua hartanya diberikannya dengan Sherina. Rupanya Sherina yang selama ini meneror Syafina, kan betul dugaan aku kemaren. "


"Kenapa bisa begitu, kok malah hartanya diberikan sama Sherina. Sherina itu adik angkat Khalid kan ? "


"Iya, itu karena rupanya Sherin hamil anaknya Khalid karena kejadian tempo hari, jadi Khalid nggak mau nikahin dia. Sebagai gantinya dia berikan semua hartanya pada Sherin."


"Terus apa Sherin nggak dilapor kepolisi?".


"Sudah ditahan polisi, tapi dicabut lagi sama Khalid karena permintaan ibunya Khalid. Tahu nggak mas yang menjebak mas sama Syafina juga Sherin"


"Astagfirullah.."


"Alhamdulillah, Mas dan syafina tidak terjebak. Dan Syafina selamat dari semua teror Sherina"


"Iya" Arsya mengangguk.


"Tapi kasihan sekali Syafina, suaminya menghamili perempuan lain"


"Iya mas, aku bisa merasakan perasaan Syafina"


Dalam hati Arsya ingin segera mencari Syafina, menjadi tempat Syafina bercerita mencurah isi hatinya, menumpahkan kesedihannya. Ingin ia mehgapus airmata gadis itu. Syafina pasti menderita akibat ulah suaminya.


***


Tubuh Syafina yang menggendut membuat dia hanya nyaman memakai daster saja. Malam ini dia memakai daster selutut tanpa lengan. Bagi Khalid penampilan istrinya ini sangat seksi. Syafina sedang memasak untuk makan malam, sudah seminggu ini dia yang memasak dan menyiapkan segala keperluan suaminya.


"Jangan terlalu sibuk Fina, nanti kamu lelah"


"Nggak apa bang, ini memang tugasnya Fina. Nggak berat kok".


"Boleh abang bantuin? "

__ADS_1


"Iya boleh"


Khalid lalu mendekati Syafina dan mengerjakan yang bisa dia kerjakan. Memotong sayuran, memasaknya sampai selesai. Sambil memasak sesekali Khalid menciumi pipi istrinya, setelah dia melihat ke sekeliling dirasanya tidak ada orang. Pertama Syafina membiarkannya saja, dilarang nantinya malah suaminya merengut. Ketika sedang menghidangkan masakan diatas meja makan Khalid kembali mendaratkan ciuman dipipi istrinya .


"Abang ini kebiasaan ya, mau cium dikamar saja tunggu nanti sudah makan. kalau disini nanti dilihat papa sama mama".


"Papa sama mama jauh didepan nonton Tv"


"Udahlah jangan disini Fina bilang," Syafina memasang muka cemberut.


"Iya ya, Dikamar nanti ya. Tapi jangan nolak" Khalid mengangkat telunjuknya didepan Syafina. Seakan memberi peringatan.


"Iyaa, kapan pernah Fina nolak?"


tok tok, pintu ruang tamu diketuk. Zaenab membukanya.


"Ehh, jody. kenapa kesini Jo? "


"Ehm, Fina masak apa bi, harum sekali tercium dari rumahku".


"Entah masak apa, kalau jody mau ayolah makan sama sama".


Sementara didapur


"Sepertinya itu Jody, ayo cepetan ganti bajumu"


"Apa sih bang ?"


"Ganti baju, lihat kamu sangat seksi, abang nggak mau Jody lihat Fina seperti ini" Khalid menarik tangan Syafina masuk kekamar, Syafina mengikuti saja.


Sampai didapur Zaenab heran kenapa Syafina tidak ada didapur, tapi masakannya sudah selesai. Tak lama Syafina dan Khalid muncul, Syafina mengenakan daster panjang dan jilbab instan.


"Ayo semua makan" Jody mengajak semuanya makan.


"Nggak salah, kenapa kamu yang ajak kami makan ? " Syafina protes.


"Sudahlah, ayo makan" Salman menengahi.


Setelah makan malam, Syafina menggamit tangan suaminya mengajak kekamar.


"Fin ngobrol dulu, jangan buru buru kekamar" kata Jody


"Kamu ngobrol sama papa saja"


"Nggak, aku pengen ngobrol sama kalian"


"Ih apa sih, ganggu saja"


"Sudahlah ini baru jam 19.30, kita ngobrol saja diteras samping" Khalid menengahi.


Mereka akhirnya duduk bertiga diteras samping, melihat tanaman hias milik mama Zaenab.


"Fin, kamu sudah periksa jenis kelamin anakmu belum? "


"Iya sudah, laki laki"


"Oo, sayangnya laki laki"


"Emang kenapa? "


"Kalau perempuan siapa tahu jadi jodohku"


"Apaa, tak sudi aku punya menantu setua kamu" Syafina membesarkan bola matanya.


"Hei, aku pasti sangat tampan diusia 40 tahun nanti dan cocok sekali dengan anakmu yang masih 18 tahun"


"Ada ada saja" Syafina cemberut kesal dengan ucapan Jody yang tidak lucu.


Khalid menahan ketawanya melihat Jody yang berhalu terlalu jauh. Awalnya dia cemburu dengan Jody tapi makin kesini Jody malah bikin dia menahan ketawa dan menahan senyum.


****

__ADS_1


__ADS_2