Hati Yang Memilih

Hati Yang Memilih
Bab 43


__ADS_3

Hari ini Syafina piket pagi, seperti biasa Khalid mengantarnya sampai ke ruangan kerjanya. Sampai di ruangan Syafina terkejut ternyata dia satu jadwal dengan Arsya. Padahal dia sudah menghindari ini.


Mereka bekerja seperti biasa, melakukan tugas masing masing. Kali ini Arsya tak selalu memperhatikan Syafina seperti biasanya, dia tak mau Syafina merasa risih dengan keberadaannya. Mereka mengobrol ringan hanya sebatas dokter dan perawat saja.


Setelah pekerjaan Arsya selesai dia masih betah di ruangan, biasanya dia akan keluar bertemu dengan temannya sesama dokter. sampai jam 12 siang Arsya masih di ruangan.


Rita dan Syafina membuka bekal mereka karena memang sudah lapar.


"Bapak nggak makan siang di kantin pak? " tanya Rita.


"Tidak" jawab Arsya singkat.


"Bapak bawa bekal? " tanya Rita lagi. Arsya menggeleng


"Makan dengan kami saja, aku bawa bekal banyak" kata Syafina.


Arsya terkejut dengan tawaran Syafina tak menyangka Syafina akan menawarinya makan siang.


"Ehhm iya boleh" kata Arsya.


Syafina lalu menghidangkan makanan untuk Arsya. Mereka makan siang bersama, sesekali Arsya melirik Syafina yang duduk didepannya. Arsya sangat bahagia bisa menikmati kembali masakan Syafina.


"Andaikan setiap hari aku bisa makan masakanmu, setiap hari bisa menikmati senyummu, andaikan aku yang menjadi suamimu Syafina"


"Pak, kok malah bengong di habisi makanannya" kata Syafina. Arsya jadi malu dia ketahuan memperhatikan Syafina.


"Fina berani banget ya sama pak Arsya, apa karena mereka sudah lama kenal? " batin Rita dalam hati.


****


Jam dua belas siang Khalid bergegas keluar dari ruangannya, dia sudah janji akan kerumah ibunya.


Setelah sampai Khalid melihat ibunya menunggunya diteras depan rumah.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam, ayo masuk" ajak Fatimah.


"Ibu masak apa, aku mau makan masakan ibu hari ini"


"Ibu masak makanan kesukaanmu, ayolah" ajak Fatimah. Khalid mengikuti ibunya ke ruang makan. Setelah selesai makan ibu dan anak itu berbincang bincang.


"Khal ibu sudah memutuskan akan tinggal sama kamu, ibu juga sudah bilang sama Sherin. Katanya ibu memang lebih baik tinggal sama kamu".


"Syukurlah, aku senang sekali ibu bisa tinggal dirumahku. Apa ibu bisa langsung ikut aku hari ini? "


"Bisa, ibu mengemas barang ibu dulu"


"Rumah ibu bagaimana? "


"Biar bi Lasmi yang tiap pagi membersihkannya, ibu tetap bisa pulang kesini kapan kapan kan? "

__ADS_1


"Iya bu, ayolah kita siap siap"


Ponsel Khalid berbunyi, telepon dari Syafina.


"Assalamualaikum bang, aku sudah pulang. abang sudah kembali dari rumah ibu? "


"Belum Fin, ini baru siap siap mau pulang. maaf ya.. kamu bisa pulang sendiri saja ya. pak Lukman jemput kamu pakai mobil kantor".


"Iya bang, aku tunggu di gerbang masuk depan IGD saja".


Syafina, melangkah keluar menunggu pak Lukman di depan gerbang masuk saja. Arsya melihat Syafina dari kejauhan.


"Sepertinya suaminya nggak jemput", lalu Arsya mengikuti Syafina. Bukan mengambil kesempatan karena Khalid tak ada, tapi dia Khawatir bila Syafina bepergian sendiri. Karena sudah dua kali kejadian sama Syafina yang dilihatnya.


Pak Lukman sudah sampai, Syafina segera masuk kedalam mobil.


"Pak, antarin saya ke toko zahara" pinta Syafina pada pak Lukman.


Toko ini adalah langganan Syafina, barang disini terjangkau namun tetap modis. Syafina memang sering membeli tunik, dan kemeja panjang di toko ini. Dia memang tak pernah memakai pakaian seksi yang menampakkan lekuk tubuh nya, hanya saja dia belum berhijab.


Syafina memilih beberapa potong tunik, celana panjang dan gamis serta beberapa baju rumahan dan baju hamil. Setelah dirasanya cukup dia membayar di kasir.


"Pak Lukman, aku ke seberang jalan bentar ya, mau beli kue disana" Syafina menunjuk sebuah toko kue, dia ingin membeli cake.


Syafina melihat kiri kanan. Setelah dirasa cukup aman dia lalu menyebrangi jalan. Sebuah sepeda motor dengan kecepatan cukup tinggi tiba tiba datang dan menabrak Syafina, tubuhnya terpental ke trotoar. Sepeda motor itu melarikan diri secepat kilat. Pak Lukman yang melihat kejadian itu terpekik..


"Nyonya Syafinaa.. " pak Lukman berlari hendak menolong Syafina, pada saat bersamaan Arsya yang memang mengawasi Syafina tak jauh dari tempat itu juga berlari menolong Syafina.


Syafina mengeluarkan darah dari hidungnya, dia tak sadarkan diri. Arsya mengangkat tubuh Syafina kedalam mobilnya.


"Baik pak" jawab pak Lukman yang masih kebingungan.


Arsya melarikan Syafina kerumah sakit, dia melajukan mobilnya dengan cepat.


Sampai di IGD Arsya menggendong Syafina dan meletakkannya di atas bed IGD. Semua yang berada di IGD terkejut, ini kali kedua Arsya menggendong Syafina ke IGD. Dia kelihatan sangat panik.


Sementara di tempat lain, Khalid sangat terkejut mendengar berita dari pak Lukman.


"Dimana istri saya sekarang pak? "


"Di IGD Rumah sakit umum, ada seorang yang membantu membawa nyonya kesana"


"Baiklah pak saya segera kesana sekarang". Khalid mempercepat laju mobilnya, dia sangat mengkhawatirkan istrinya.


"Syafina kenapa Khal? "


"Fina kecelakaan bu, ditabrak motor"


"Terus gimana keadaannya, dimana dia sekarang? "


"Syafina tidak sadar bu, sekarang masih di IGD".

__ADS_1


****


Syafina sudah di pindahkan ke ICU, Arsya menungguinya. Arsya meneteskan air mata melihat keadaan Syafina. Hatinya sakit melihat wanita yang dicintainya itu terbaring lemah.


"Ya Allah mengapa engkau tak mengizinkan aku yang jadi penjaga Syafina" batinnya lirih.


Tak berapa lama Khalid dan ibunya datang. Khalid melihat Arsya yang menunggui istrinya, ada rasa cemburu di hatinya.


"Lagi lagi dia" batin Khalid.


Arsya menyadari kedatangan Khalid, dia pun keluar.


"Syafina belum sadar" kata Arsya.


"Terimakasih sudah menolong istri saya". Khalid melihat mata Arsya merah seperti habis menangis.


Arsya mengangguk lalu dia keluar, khalid masuk kedalam. Sementara Fatimah menunggu diluar


Khalid duduk di atas kursi dekat tempat tidur istrinya, Khalid menggenggam jemari Syafina.


"Maafkan abang, abang nggak berguna" Khalid sangat menyesali dirinya yang tak bisa melindungi Syafina. Dia merasa menjadi suami yang tak berguna. Khalid meneteskan air matanya.


Seorang suster masuk, membawa beberapa lembar berkas.


"Bapak suami bu Syafina? "


"Benar" jawab khalid seraya mengusap air matanya.


"Ada beberapa lembar dokumen yang harus bapak tanda tangani" suster itu menyodorkan beberapa lembar dokumen.


"Baca dulu pak, ini surat persetujuan tindakan medis, ini juga ada hak dan kewajiban pasien dan keluarga pasien."


Khalid membacanya lalu menandatanganinya.


"Sus, bagaimana keadaan istri dan anak saya sus? ". Khalid bertanya kepada suster itu.


"Bu Syafina mengalami cedera ringan pada kepalanya, tangan kanannya patah. Sementara kehamilannya baik baik saja pak, bayi bapak kuat."


"Alhamdulillah anak saya tak kenapa, terus kapan istri saya sadar sus?"


"Menurut dokter istri bapak sedang syok, biarkan ia tenang dia hanya pingsan sementara. Mungkin dia akan sadar beberapa jam lagi".


"Terimakasih keterangannya sus"


"Sama sama", suster itu kembali dengan kesibukannya.


Khalid memegang erat jemari istrinya, dalam hati Khalid mendoakan keselamatan Syafina.


"Ya Allah sembuhkanlah istriku, lindungilah istri dan anakku ya Allah". Khalid kembali menitikkan air mata. Setelah lama menemani istrinya Khalid pun keluar dari ruangan.


"Ibu mau menemui Syafina? "

__ADS_1


"Bu Fatimah mengangguk", kemudian ia masuk kedalam melihat menantunya.


*****


__ADS_2