Hati Yang Memilih

Hati Yang Memilih
Bab 73


__ADS_3

Sherina memperlihatkan surat keterangan dokter kepada Fatimah.


"Apa masih ada yang mengira aku bohong?, bang Khalid dan Syafina sendiri yang mengantarku malam tadi. Robi juga sudah melihatnya. sekarang aku sudah di jatuhkan talak oleh suamiku" Sherina menangis terisak isak.


"Sudahlah, ibu tak pernah bilang kamu bohong. jangan nangis. Tapi memang benar yang dikatakan Khalid kamu sebaiknya tidak tinggal dirumah ini"


"Tapi aku bolehkan sering kesini? "


"Iya Sherin boleh" jawab Fatimah sambil mengusap ngusap punggung Sherin untuk menenangkan putri angkatnya itu. Melihat itu Khalid merasa jengah, dia kembali ke kamarnya.


Di dalam kamarnya Khalid menelpon Dendi, mengatakan tidak masuk kerja untuk hari ini. sudah telat ngabari tapi lebih baik daripada tak ada kabar Berita sama sekali.


****


Salman Zaenab dan Syafina duduk di bangku di teras samping. Syafina menyenderkan kepalanya ke bahu ibunya. Zaenab mengusap usap kepala Syafina dari luar jilbabnya.


"Fina, ada banyak yang ingin papa tanyakan padamu, pertama soal pekerjaanmu, kenapa kau tidak kerja lagi?"


"Bang Khalid melarangku kerja "


"Kenapa, apa karena cemburu dengan Arsya atau Reyhan? " tanya Salman lagi


"Karena itu juga, juga karena aku sudah beberapa kali hampir celaka. mulai semenjak sebelum kami menikah"


"Kenapa tak pernah cerita sama papa dan mama? "


"Kami tak ingin membuat papa dan mama cemas, ibu juga tak kami beritahu pa"


"Lalu apa hubungannya dengan pekerjaanmu? " tanya Salman yang masih heran.


"Karena, suamiku Khawatir jika aku keluar rumah. Hampir setiap aku keluar rumah tanpa dia selalu ada kejadian yang membuatku hampir celaka"


"Siapa pelakunya ?"


"Entahlah pa, kemungkinan mantan pacarnya bang Khalid. Itu hanya dugaan saja"


"Bukannya kau sudah ada dua orang pengawal, kenapa kamu tetap nggak boleh kerja"


"Karena bang Khalid cemburu sama Arsya, Arsya yang selama ini selalu menyelamatkanku"


"Oo, setelah ini bagaimana Fina, bagaimana kalau Khalid benar benar menikahi Sherina? " tanya salman lagi.


"Entahlah pa, aku sepertinya ingin mundur saja"


"Jangan Fina, Khalid suamimu. Siapa lagi yang akan mendukungnya kalau bukan istrinya. Apa kau benar benar yakin suamimu bersalah? " tanya Zaenab


"Aku sebenarnya tak yakin, tapi surat itu membuktikan suamiku benar benar sudah melakukannya"


"Kamu harus selalu sama suamimu nak" nasehat zaenab.


"Tapi ma, aku tak sanggup jika harus dimadu"


"Kamu masih bisa mempertahankannya nak. Kalau kamu yakin suamimu tak bersalah kamu buktikan. Suami dan istri itu ibarat satu tim yang harus saling mendukung"


"Tapi bagaimana caranya ma? "


"Syafina anak mama yang pintar, yang tegar. Sekarang ini pikiranmu masih kacau kau tenangkan dulu pikiranmu. kamu jangan mau di bodohi Sherina"

__ADS_1


"Iya ma" Syafina mengangguk.


"Nah gitu anak mama. Kamu harus berjuang Fina, sekarang rumah tanggamu lagi diuji. Kau harus selalu dampingi suamimu, layani dia seperti biasa. Jangan biarkan orang mengambilnya darimu" Zaenab mengusap pipi putrinya yang lembut, lalu dia memeluk anak semata wayangnya itu.


"Iya ma"


Zaenab memeluk erat anaknya, terasa sangat nyaman bagi Syafina dalam pelukan ibunya.


"Kalau ada apa apa beritahu mama dan papa ya,?" kata Salman.


"Iya pa" kata Syafina.


"Papa dan mama harus pulang siang ini, tadi ada investor, yang menawarkan kerjasama dengan papa. Mereka tertarik dengan kebun nanas milik papa"


Iya pa, semoga urusan papa lancar, dan papa murah rezeki"


"Aamiin, kami kerja semuanya juga hanya untukmu Fina. Walaupun kamu sudah bersuami, tapi papa akan tetap memberikan semuanya padamu suatu saat nanti"


****


Malam harinya Dendi bertamu kerumah Khalid, ada beberapa berkas yang harus di cek dan ditanda tangani oleh Khalid.


"Mungkin besok pun aku belum masuk kerja Den, kamu handel saja dulu ya"


"Siap boss, aku pulang ya"


Sherina melenggang berjalan didepan Khalid dan Dendi.


"Kenapa masih disini? " tanya Khalid.


"Aku belum dapat rumah. malam ini saja bang"


"Iya bang" jawab Sherina lalu melenggang pergi.


"Kenapa dia tinggal disini? " tanya Dendi.


"Dia diceraikan suaminya, dan ibu menyuruhku menikahinya"


"Astagfirullah, apa kata Syafina"


"Tentu saja dia tak setuju, aku sendiri tidak tahu bagaimana langkah aku kedepannya. Apa aku benar benar harus menikahi Sherina, aku kasihan sama istriku"


"Rumah tangga kalian sedang diuji bro, aku malah yakin kau tak bersalah. sudah ku bilang Sherina itu licik"


"Maksudmu? "


"Kau buktikan kalau kau tak bersalah, masih ada waktu"


Khalid mengangguk angguk mendengar ucapan sahabatnya.


"Kau benar Den, masih ada waktu untuk membuktikan aku tak bersalah"


"Ya udah aku permisi ya, kau bujuk istrimu". Dendi mengedipkan matanya Khalid akhirnya tersenyum juga.


****


Khalid masuk ke dalam kamarnya, rindunya sungguh berat kepada istrinya. Entah mengapa seperti sudah tak berjumpa berhari hari. Dilihatnya Syafina sedang membaca Alquran, sepertinya dia baru selesai solat isya. Suara Syafina cukup merdu dan fasih membaca ayat ayat Quran.

__ADS_1


"Dia sungguh istri yang solehah, tapi mengapa aku selalu membuatnya menangis"


Khalid berwudhu lalu melaksanakan solat isya, setelah selesai solat Khalid berdoa untuk keselamatan rumah tangganya, dia meminta kepada sang pencipta agar segera terlepas dari masalah yang menimpa mereka.


Khalid mendekati istrinya yang sudah selesai membaca Alquran, sekarang Syafina sudah duduk di tempat tidurnya. Matanya belum mengantuk karena seharian ini dia hanya tidur saja.


"Fina, kamu nggak tidur? "


"Belum ngantuk"


Khalid menarik Syafina agar bersender di dadanya, Syafina mengelak menjauh. Khalid lalu memaksanya, menarik Syafina dalam pelukannya. Dia sudah sangat rindu memeluk istrinya.


"Apaan sih, peluk peluk" Syafina memberontak dan wajahnya cemberut.


"Kamu itu istriku, nurut saja"


"Ckk" Syafina berdecak kesal.


Melihat istrinya seperti itu Khalid jadi semakin menggila. Diciuminya istrinya, ia sudah sangat merindukan istrinya itu. Syafina mencoba mendorong tubuh suaminya dengan sebelah tangannya tapi Khalid tak bergeming sedikitpun, tentu saja kekuatan tangan kirinya tak mampu mendorong tubuh suaminya yang jauh lebih besar.


Merasa suaminya sudah semakin jauh saja, sementara Syafina belum siap melakukannya karena dia merasa jijik dengan suaminya. Khalid terlihat sangat menginginkan dia. Akhirnya Syafina berteriak kuat.


Khalid terkejut dengan apa yang dilakukan Syafina. Dia menghentikan Aktifitasnya, tak lama terdengar pintu diketuk, Khalid membuka pintu. Ternyata ibunya, dari belakang nampak Sherina menyusul.


"Ada apa, apa Syafina terjatuh? " tanya Fatimah.


"Ehmm, nggak bu"


"Terus kenapa dia teriak?'


"Aku menciumnya, terus dia teriak. Apa geli mungkin" Khalid memamerkan wajah polosnya seakan tak bersalah.


Fatimah melongokkan wajahnya kedalam, Sherina pun ikut ikutan. Nampak oleh mereka rambut Syafina yang acak acakan dan kancing piyamanya yang sudah terbuka semua. Syafina sendiri tak menyadari penampilannya saat ini yang tak karuan.


Sherina merasa dadanya seperti terbakar, dia cemburu. Dia pun bergegas berlari menuruni tangga untuk menumpahkan tangisnya dalam kamarnya. Sherina merasa sangat menderita dengan apa yang dilihatnya barusan.


"Dasar wanita bebal, sudah disakiti suami masih saja mau melayaninya, maunya dia diapain sih.." Sherina merasa kehabisan akal, apa yang harus dilakukannya agar Syafina benar benar pergi meninggalkan Khalid.


Sementara Fatimah jadi malu sendiri karena sudah mengganggu waktu anak menantunya.


"Ehmm, ibu kebawah ya, kalian lanjutin saja" Fatimah lalu bergegas turun kebawah.


Khalid tersenyum geli melihat ibunya, apalagi melihat Sherina yang terlihat pucat ketika melihat Syafina.


Syafina diam saja, dia tahu dia yang salah. Tadi dia pun tak sengaja berteriak sekencang itu. Khalid berdiri di depannya, melihatnya.


"Ibu bilang lanjutkan" Khalid tersenyum dengan gaya licik.


"Aku tak sudi" Syafina memalingkan mukanya.


"Kau berdosa nantinya" Khalid tak mau kalah.


"Jangan bilang dosa karena dosamu lebih besar". balas Syafina.


Mendengar itu Khalid menjadi terdiam, dia sadar dengan kesalahan besar yang dilakukannya. Syafina belum bisa menerimanya, itu wajar.


"Aku akan bersabar" gumam Khalid, lalu dia masuk kedalam kamar mandi. Syafina pun menjadi lega, kali ini dia berusaha untuk tidur.

__ADS_1


****


__ADS_2