
05.00 subuh Syafina mengunjungi suaminya di ruang ICU. Dia melihat dari kaca yang sengaja dibuka hordennya oleh perawat. Khalid nampak masih tertidur atau tepatnya belum sadarkan diri. Syafina membangunkan mertuanya yang tertidur disamping Khalid.
"Ibu, sudah subuh. Solatlah dulu, biar Fina disini" Syafina menyentuh pundak Fatimah, Fatimah pun terbangun.
"Khalid belum sadar juga Fin, ibu solat ya"
Syafina mengangguk, lalu dia duduk disamping suaminya. Syafina lalu mengecup kening suaminya. Syafina melihat monitor tanda tanda vital suaminya sudah membaik, tekanan darahnya sudah normal.
"Selamat pagi bang, abang lelah ya. Mau Fina pijitin atau usap rambutnya? "
Syafina lalu mengusap usap rambut suaminya seperti biasa permintaan suaminya bila dia sedang lelah. Biasanya Khalid akan berbaring di pangkuannya sampai tertidur. Syafina lalu menggenggam tangan Khalid, dan menciumi punggung tangannya.
"Maafin Fina ya bang, selama abang sakit Fina nggak bisa jagain abang"Airmata Syafina menetes, sehingga menetesi tangan Khalid. Ujung jarinya bergerak sedikit.
"Abang, bangunlah. Abang dengar suara Fina kan? " Syafina mengusap punggung tangan suaminya. Perlahan mata Khalid terbuka, dia memicingkan matanya menatap Syafina. Lalu dia menggerakkan tubuhnya hendak bangun.
"Abang, berbaring saja dulu. Apa abang mau solat subuh. Fina bantuin wudhu ya?".
"Solat? "
"Ehm, abang bisa solat kan ?"
Khalid mengangguk. Dia memang lupa ingatan tapi tidak lupa dengan semua memori yang pernah dia pelajari. Syafina meminta izin pada perawat agar Khalid bisa solat subuh, perawat mengizinkannya asalkan Khalid tetap bedrest. Syafina lalu membantu suaminya berwudhu, kemudian Khalid melakukan solat subuh pagi itu.
Setelah selesai solat, Khalid berdoa agar kondisinya kembali pulih. Agar bisa berkumpul dengan anak istrinya, walaupun tak bisa mengingat Syafina sama sekali tapi dia merasa sangat nyaman dan merasa hangat dengan wanita yang mengaku sebagai istrinya itu.
"bantuin saya duduk"
Syafina menyetel tempat tidur agar posisi Khalid duduk.
"Abang, mau sarapan? " tawar Syafina setelah petugas gizi rumah sakit mengantar bubur.
Khalid mengangguk, perutnya memang sudah keroncongan. Syafina lalu menyuapi suaminya dengan hati hati, memberikannya minum. Semua dilakukannya dengan hati hati. Khalid merasa jatuh hati dengan wanita lemah lembut dihadapannya ini.
"Beruntungnya aku ternyata aku punya istri yang cantik dan lemah lembut sepertia dia" gumam Khalid dalam hati.
"Ya Allah jangan pisahkan aku dengan wanita ini, jika aku diharuskan memilih lagi wanita untuk jadi istri hatiku akan tetap memilih dia"
"Abang, ngelamun saja. Habiskan buburnya, ini satu sendok lagi loh" Syafina tersenyum memandangi suaminya. Kemudian Syafina menyodorkan sendok terakhirnya.
"Aaa, nah habis deh satu mangkok. Kalo abang cepat sehat bisa cepat ketemu Syakha. Dia sangat mirip sama abang. " Syafina menaruh mangkok bubur kosong diatas nakas.
"Syakha? ", dimana dia? "
"Syakha dirawat diruang perinatologi, ruang rawat untuk bayi. Karena dia lahir prematur"
__ADS_1
Khalid mengangguk mendengarnya.
"Kamu melahirkan di hari aku kecelakaan? "
"Iya," Syafina mengangguk.
"Kamu pasti sangat stress dan menderita sekali, maafkan aku ya? "
"Abang nggak salah. Yang penting anak kita selamat, aku selamat dan abang juga selamat"
"Kamu benar, Allah masih sayang sama keluarga kita. kamu pasti mendoakanku agar aku selamat ya? "
"Tentu saja sayang, aku nggak bisa hidup tanpa suami tampanku ini" Syafina mengusap pipi suaminya.
"Aishh gombal".
"Itu kenyataan sayang, lihat tubuhku sudah kurus sekarang memikirkanmu dan anak kita.
"Maafkan aku ya, aku bisanya nyusahin kamu saja. Seharusnya aku mendampingi kamu melahirkan. membantumu mengurusi Syakha. Maafkan aku" Khalid berkali kali minta maaf pagi ini. Dia memang merasa sangat bersalah pada istrinya.
"Abang nggak salah, aku tak apa. " Syafina tersenyum berusaha membuat suaminya yakin bahwa ia tak apa apa. Lalu dia kembali menggenggam erat tangan suaminya, dan mencium punggung tangan itu.
"Sebentar lagi dokter visite, istirahat ya. biar cepat bisa pulang".
"Tapi temani aku ya, aku takut dengar penjelasan dokter nanti".
***
Habis isya, Sepulang dari kantor Dendi mengunjungi Sahabatnya, dia sangat sibuk sampai harus pulang malam Karena Sherina sudah ditahan polisi beberapa hari ini, membuat dia dan Yulia sangat sibuk. Perusahan sekarang memang mengalami penurunan. Jika bukan karena pesan Khalid untuk melakukan yang terbaik untuk perusahaan, dia sudah lama meninggalkannya. Karena Sherina hanyalah pemilik perusahan tapi dia dan Yulialah yang bekerja banting tulang.
"Pa kabar Khal, udah baikan? " menepuk bahu sahabatnya.
"Alhamdulillah pusing berkurang"
"Aku dari kantor, perusahaan mengalami masalah, maafkan aku ya Khal, aku sudah berjuang sekuat tenagaku. Tapi investor banyak yang kabur" Dendi bercerita keluh kesahnya, seakan Khalid mengerti dengan topik masalahnya.
"Loh kok minta maafnya sama aku, kamu kerja di perusahaan apa? "
Seketika Dendi terperanjat, dia lupa kalau sahabatnya ini memorinya ada yang hilang.
"Oo, ehmm itu. Aku dulu janji sama kamu bakal jadi orang sukses. Aku pemilik perusahaan itu. Tapi sepertinya aku gagal". Dendi sengaja berbohong karena dia tak mau Khalid bertambah berat pikirannya jika ia jujur mengatakan perusahaan itu dulu miliknya. Sementara Syafina sudah memelototkan matanya pada Dendi, takut Dendi salah bicara.
"Aku dulu kerjanya apa ya, apa kerja diperusahaan milikmu? "
"Hehe, kau lebih memilih jadi petani. Tanaman kentang dan cabai milikmu sekarang sedang tumbuh subur. Kau harus cepat sehat, biar bisa bantu pekerja panen".
__ADS_1
"Oo, siapa yang mengurus kebunku sekarang ?"
"Papaku dan sepupuku, Jody" jawab Syafina.
"Hhh aku ngerepotin orang saja" Khalid mendesah kesal.
"Ah biasalah, baru saja seminggu kau sakit. Kamu tahu nggak kamu dulu pernah membiayai mamaku yang sakit berobat ke singapura, berobat 2 bulan disana sampai sembuh"
"Apa aku punya uang sebanyak itu? "
Dendi memandang Syafina, dia menyadari ternyata dia sudah kebanyakan ngomong.
"Iya sayang, dulu kamu punya tabungan, dan kau berikan semua pada mamanya mas Dendi untuk biaya pengobatannya".
"Ehm, iya makanya aku mau balas budi sama kamu, makanya sesibuk apapun aku dikantor. Aku sempetin jengukin kamu".
"Mas Dendi, kasihan Cintya. Dia hamil besar pasti dia pengen deket deket suaminya" Syafina mengkode Dendi agar cepat pulang, dari pada dia keceplosan lagi. Dendi pun permisi pulang.
"Bang, aku antar mas Dendi keluar ya", Khalid mengangguk, Syafina menyusul Dendi keluar.
"Tunggu mas, bagaimana kabar Tio? "
"Si Curut itu sudah ketangkap. Kalau masih seputaran indonesia ini pasti ketangkap".
"Syukurlah, mas. Mas tolong cari tahu malam itu dia ngapain saja di restoran, bukan apa apa mas. Aku curiganya Sherina itu hamilnya ank Tio, lalu dituduhnya bang Khalid".
"Oke, besok siang. Aku kabari."
"Makasih ya mas, "
Dendi mengangguk, dalam hati dia berjanji akan melakukan apapun agar ruamah tangga Khalid dan Syafina kembali bahagia tanpa gangguan Sherina.
Syafina kembali keruang tempat Khalid dirawat, dia harus menidurkan suaminya. Seperti dulu jika suaminya lelah dan banyak pikiran suaminya akan tidur setelah berbantal dipangkuannya dan rambutnya dibelai. Syafina yakin cara itu masih ampuh untuk menenangkan suaminya dan membuatnya tertidur.
"Apa dulu aku sering begini sebelum tidur? "
"Ehm, jika abang lelah dan banyak pikiran selalu minta dipeluk atau dibelai rambutnya begini."
"Aku suka begini, jangan pergi ya. Tunggui aku sampai tertidur".
"Iya, tapi setelah abang tidur Fina pamit ya, kan aku harus menyusui bayi kita".
Khalid mengangguk, dia membenamkan wajahnya pada pangkuan istrinya. Mencari ketenangan dalam pelukan istrinya. Pelukan dan belaian itu serasa bagaikan obat penenang paling ampuh baginya.
Setelah suaminya tertidur, Syafina menaruh perlahan kepala Khalid diatas bantal. Kemudian pamit dengan Fatimah untuk keruang perinatologi menyusui bayinya. Begitulah Syafina tak Lelah harus merawat Suami dan anaknya sekaligus. Meskipun dirinya juga belum pulih benar karena habis melahirkan. Beruntung Fatimah sudah sembuh bisa menunggui Khalid di ICU.
__ADS_1
****
Tap jempol cantiknya gaess