Hati Yang Memilih

Hati Yang Memilih
Bab 17


__ADS_3

Pagi pagi di kediaman Andri wijaya, Arsya dan papanya sedang sarapan. Arsya tidak berselera menyantap makanan di hadapannya. Bila tidak selera makan dirumah biasanya Arsya meminta Syafina membawanya bekal. Tapi sekarang itu tidak mungkin lagi.


"Arsya, gimana kemaren kamu jadi ketemu sama anak om Irwan?"


"Nggak pa,"


"Loh kenapa nggak jadi, bukannya kalian sudah janjian? "


"Iya, tapi aku mendadak ada urusan penting"


"Itu kakimu kenapa keseleo? "


"Keserempet motor, motornya kabur"


"Ada ada saja, kok keserempet motor. Lain kali ajak lagi viana ketemu"


"Iya pa, duluan pa. Aku piket pagi."Arsya segera berangkat kerja.


Tempo hari Arsya memang ada janjian dengan Viana anak om Irwan. Tapi ketika dia sedang lewat dia melihat Syafina di sebuah toko elektronik, dia pun berhenti dan memperhatikan Syafina dari dalam mobilnya yang di parkirnya di seberang jalan. Dia sangat rindu dan ingin melihat apa kegiatan Syafina walaupun itu sakit karena harus melihat Syafina bersama suaminya.


Ketika Syafina menyebrang jalan setelah membeli sesuatu di minimarket, Arsya melihat sebuah motor dengan kecepatan tinggi seakan sengaja hendak menabrak Syafina. Tanpa pikir panjang dia pun berlari menyelamatkan Syafina, dia mendorong Syafina sehingga dirinyalah yang terserempet motor itu.


****


tert tert


Ponsel Khalid berbunyi tanda panggilan masuk, Syafina memberikan ponsel itu kepada suaminya.


"Bang, ibu nelpon."


Khalid mengambil ponselnya dari Syafina.


"Hallo bu, ada apa? "


"Khal, ibu mau kerumahmu. Kangen sama menantu ibu"


"Nggak kangen sama aku juga bu? "


"Sama kamu juga, ibu berangkat sama Sherin jam sembilan nanti"


"Iya bu, Syafina ada dirumah. aku keluar ada urusan" Ibunya lalu menutup panggilan dari seberang sana.


"Mama sama Sherin mau kerumah kita jam sembilan berangkat dari sana. kamu masih piket sore hari ini kan? "


"Iya aku piket sore, nanti fina bikin kue buat ibu dan Sherin" Syafina senang sekali mertua dan adik iparnya datang berkunjung.


"Abang berangkat ya" Syafina mengantar suaminya keluar dan mencium tangan suaminya. Hari ini Khalid memang tidak kekantor tapi dia harus pergi meninjau Bengkel dan pusat kebugaran miliknya.


Setelah Khalid berangkat Syafina mulai beraksi di dapur, di bantu bi Lastri. Hari ini bi lastri mulai kerja dirumahnya. Dia sudah datang pagi pagi jam enam tadi.


****


Di rumah sakit di ruangan UGD, Reyhan sedang sibuk dengan pasien. sebagai ketua tim dia mengarahkan pasien sesuai triase.


Marsella membantu Reyhan menangani pasien dengan demam tinggi.


"Sella, tolong ambilkan termometer, ukur suhu pasien ini"

__ADS_1


"Iya kak" Sella mengambil termometer dari dalam lemari alat. Lalu dia memeriksa suhu tubuh pasien itu. Setelah semua selesai pasien itu diantar ke ruangan rawat inap.


Setelah Syafina pindah Marsella memang jadi rekan yang bisa di andalkan oleh Reyhan daripada Helen. Marsella juga lebih leluasa mencari perhatian Reyhan.. Tapi Reyhan tetap cuek, hanya menganggap Marsella sebagai rekan kerja.


"Kak Rey, mau ini?" Marsella menawarkan minuman dingin kepada Reyhan. Saat itu pasien kosong di UGD.


"Iya, makasih sella" Reyhan lalu mengambil minuman itu yang diletakkan Marsella di atas meja. lalu Reyhan meminumnya karena memang sudah haus. Kemudian Helen datang.


"Kak Rey, nanti sore ikut aku sama Sella nonton yuk ada film baru" Helen mengedipkan matanya kepada Marsella.


"Aku nggak bisa Len, kalian saja yang nonton"


"Ayolah kak" pinta Helen.


"Aku harus jagain mama" Reyhan beralasan. Sebenarnya hari ini ada Dendi dirumah yang menemani mamanya, tapi Reyhan tidak mau nonton karena akan mengingatkan kenangannya bersama Syafina. Mereka memang sering menghabiskan waktu dengan nonton berdua.


****


Fatimah dan Sherin sudah sampai, dia mencicipi bolu gulung pandan buatan Syafina.


"Ehmmm ini enak banget, lembut. Pintar banget kamu bikin kue fina. Ayo sherin dicoba" kata Fatimah. Sherin lalu mencoba kue buatan Syafina.


"Itu andalan Fina bu, kalau kue jenis lainnya fina kurang paham juga" Syafina jujur.


"Tapi ini enak banget loh, Khalid pasti suka. kamu sering bikin kue buat suami kamu fin? "


"Nggak bu, baru kali ini"


"Coba deh kamu sering bikin cemilan buat dia dirumah. Dia itu doyan ngemil, apalagi kalau sambil kerja di depan laptopnya.


"Oo gitu ya bu, Fina baru tahu. Cemilan apa kesukaannya bu? "


"Bisa bu, nanti Fina coba bikin buat bang Khalid"


"Kalau nggak rajin olahraga, bisa gendut khalid itu fin, habisnya dia itu banyak makannya"


"Fina, aku lihat lihat rumah kamu ya, soalnya baru sekali ini kesini" Kata Sherin.


"Iya Sherin silahkan" Syafina tersenyum kepada Sherin. Sherin lalu berkeliling melihat lihat rumah Syafina.


"Perabotannya bagus bagus ya Fin, ini kamu yang pilih?" tanya Sherin setelah selesai berkeliling.


"Iya, bang Khalid nyuruh aku memilih sesuai dengan seleraku" jawab Syafina.


"Aku suka, suatu saat aku juga ingin punya rumah seperti ini"


"Ada saatnya nanti" kata Syafina.


Saat mereka bertiga berbincang bincamg Khalid datang.


"Lagi ngomongin apa nih,?" tanya Khalid.


"Ini Sherin suka sama disain rumah kamu Khal, sama perabotannya juga".


"Nanti kamu bisa bikin yang lebih bagus dari ini Sher" kata Khalid.


"Bang Khalid sudah datang, kita makan siang yuk". ajak Syafina.

__ADS_1


Mereka semua mengelilingi meja makan, disana sudah terhidang masakan Syafina. udang saos pedas manis, capcai, tahu goreng dan nasi putih.


Disaat sedang Makan Khalid kambuh manjanya dengan Syafina.


"Fina, abang mau makan yang dipiring kamu"


"Apa sih abang, sama saja"


"Kayaknya lebih enak gitu, suapin donk Fin" Khalid merengek.


"Ayolah Syafina suapin bayi besarmu" perintah Fatimah.


"Syafina menyuapi suaminya dengan tangannya"


"Tukaran saja bang, abang makan yang dipiringku saja. makan sendiri ya"


"Nggak nggak, kamu yang suapin".


Fatimah dan Sherin senyum senyum melihat tingkah Khalid. Akhirnya Syafina menyuapi Khalid sampai dia selesai makan.


"Khalid, ibu sama Sherin pamit pulang ya,"


Khalid mengangguk.


"Bu sering sering kesini ya, " kata Syafina.


"Iya Fina, nanti ibu bakalan sering sering kesini, kalau ibu kesini lagi ibu maunya dapat kabar ibu sudah punya cucu disini" Kata Fatimah memegang perut Syafina.


Muka Syafina jadi merah mendengarnya, karena malu.


"Siap bu" jawab Khalid.


"Ya udah ibu pamit ya," Fatimah masuk kedalam mobil, Sherin melajukan mobilnya keluar dari gerbang. Setelah Fatimah dan Sherin pulang Syafina masuk ke kamar untuk bersiap siap berangkat kerja.


Sembari bersiap siap menyisir rambutnya Syafina memperhatikan suaminya dari kaca di depannya, Khalid yang menyadari itu. mengedipkan matanya .


"Ngapain ngintip dari kaca, lihat saja langsung. Dipegang pegang juga boleh"


Syafina buru buru memalingkan pandangannya.


"tadi kenapa sih pake acara minta suap segala?"


"Biar ibu tahu kalau menantunya ini sayang sama suaminya, melayani suaminya dengan baik"


"Ishh abang nyindir ya? "


"Merasa tersindir? "


"Nggak kok"


"Iya, merasa kan? "


"Yuk bang, sudah siap nih. Antar Fina" Syafina mengalih pembicaraan.


"Ee kamu belum solat zuhur loh, abang nggak lihat"


"Lagi datang bulan"

__ADS_1


"Yuk lah abang antar sekarang".


*****


__ADS_2