
Reyhan dan Ridho sampai setelah jam 17.15. Syafina lalu mempersilahkan mereka duduk diruang tamu.
"Jadi gimana ceritanya kakak bisa membuktikan bang Khalid tak bersalah"
"Anton telah mengaku, ternyata dialah biangnya"
"Maksudnya ?" Syafina mengernyitkan dahinya, sementara Khalid menyimak saja.
"Kau ingat kemaren kami menculik Anton?"
"He eh" Syafina mengangguk.
"Setelah 24 jam dia mengaku dan menceritakan semua, bahwa dialah yg telah menodai Sherina"
"Apa?" Syafina menutup mulutnya dengan telapak tangannya karena terkejut "Jadi dia memperkosa Sherina?"
"Sebenarnya bukan memperkosa, tapi memang sudah direncanakan"
"Tapi hasil pemeriksaan dokter malam itu Sherina memang diperkosa kak"
"Iya, sebenarnya kejadiannya begini. Sherina malam itu memanfaatkan Angel yg tergila gila pada Khalid, Angel hanya memberikan obat tidur pada Khalid untuk menjebak Khalid dengan mengambil foto mereka, Angel pun telah mengakui ini didepan mas Dendi karena didesak oleh Silvana." Rey menjeda dengan menarik nafas, lalu melanjutkan lagi.
"Efek obat tidur itu membuat Khalid jadi mengantuk dan pada saat itu Sherina beraksi. Dia mengajak Khalid beristirahat di restoran, di dalam mobil dia memberikan Khalid obat perangsang yg dimasukkannya kedalam botol air mineral yg bang Khalid berikan padaku tempo hari sebelum kecelakaan. Aku sudah memeriksa sampelnya di Labor."
Khalid mengangguk angguk tanda paham, dia masih menyimak Rey bercerita.
"Nah, karena terlalu mengantuk sepertinya bang Khalid tertidur pulas, dan membuat Sherina merubah rencana dengan merayu pak Anton, dan terjadilah"
"Tapi kok hasil pemeriksaan dokter seperti sudah diperkosa ya kak?"
"Kau tahu sendiri Sherina kan melakukan apa saja demi obsesinya, dia rela menyakiti dirinya sendiri. Bukankah 13 tahun lalu dia juga menyakiti dirinya sendiri dengan menyewa Sonny dan Tio dan dia datang menjadi penyelamat Khalid ?"
"Syafina yang kali ini mengangguk, sementara Khalid tak ingat kejadian 13 tahun lalu itu"
"Jadi bagaimana pak Anton sekarang ?"
"Kita jadikan saksi, sekarang dia masih diamankan Heru dan mas Dendi."
****
Tiga hari berlalu, Khalid dan Syafina sedang olahraga pagi. Mereka marathon sambil tertawa ringan. Lepas sudah beban yang menghimpit selama ini. Kini mereka pantas berbahagia.
Semua orang dikota ini sudah mengetahui bahwa Khalid sama sekali tak bersalah, dan dia bersih dari tuduhan kepadanya. Namanya sudah bersih, Dendi telah mengatur semuanya membuat konferensi pers.
Tiba tiba Syafina mencubit perut suaminya lumayan kencang, lalu dia kabur sambil tertawa "Hahaa" Syafina langsung berlari kencang.
"Awas yaa kamu, kalau dapat abang balas cubit !" Khalid berlari menyusul istrinya. Syafina yang tak hati hati sepertinya tersandung batu dan dia terjatuh, melihat itu Khalid panik dan mempercepat larinya namun tiba tiba dia pusing, Khalid menghentikan larinya, dan beristirahat dibawah pohon. Menyadari itu Syafina menoleh kebelakang lalu dia bangun dari jatuhnya kembali menghampiri suaminya.
"Abang tak apa?" Syafina kelihatan mencemaskan suaminya, dia meraih tangan suaminya sambil berjongkok.
"Sedikit pusing, seharusnya abang yang bertanya kau tak apa?" Jawab Khalid yang masih mencemaskan istrinya. Sebenarnya bukan hanya sedikit pusing tapi dia mendadak merasa ada yang aneh setelah melihat Syafina terjatuh tadi.
"Aku tak apa, ayo kita pulang, hari ini jadwal Abang kontrol kekota" .
"Baiklah"
Mereka lalu berjalan kearah jalan pulang.
"Kau benaran tak apa Fina, kakimu tak ada yang sakit ?"
"Aku baik baik saja bang, lihat ini aku masih bisa berlari" Syafina mengambil ancang ancang untuk kembali berlari.
"Jangan !" Khalid cepat cepat meraih tangan Syafina untuk menghalanginya.
"Oke oke, aku tak akan lari kok"
__ADS_1
Kenapa aku merasa seperti pernah melihat Syafina terjatuh ya, aku tak ingin dia kenapa kenapa
Mereka telah sampai dirumah, sarapan dan bersiap siap untuk kontrol ke rumah sakit dikota.
***
Setelah keluar dari ruang dokter Syafina dan Khalid akan mengunjungi kantor Khalid, yang sudah lama tak dikunjunginya. Arysa telah mengembalikannya pada Khalid. Hari ini akan ada serah terima antara Arsya dan Khalid.
"Apa aku akan bisa mengenali karyawanku nanti ?"
"Siapa tahu saja bang, dokter Rayyan bilang abang harus sering berinteraksi dengan orang dari masalalu, amnesia Abang ini tidak permanen kok"
Sampailah mereka di gedung MK Group, sebuah gedung sederhana bertingkat dua, Khalid termenung sebentar melihat logo didepan kantor seperti mengingat sesuatu. Kemudian dia melanjutkan langkahnya, para karyawan semua sudah menunggunya, menyapa dan memberi hormat. Khalid membalas dengan senyuman tipis dan anggukan. Para karyawan itu pun berbisik bisik setelah Khalid melewati mereka.
"Mengapa pak Khalid berubah jadi dingin begitu, biasanya dia sangat ramah. Bahkan dia sering menepuk bahuku jika berpas pasan" kata Vicky pada dua temannya.
"Mungkin karena kecelakaan kemaren" Ujar Aurel
"Mungkin juga karena akhir akhir ini banyak yang terjadi pada pak Boss, syukurlah bapak kembali menjadi bos kita. Aku tak Sudi mempunyai atasan seperti nona Sherin, masih mending tuan Arsya lah daripada dia" Sandi.
Vikcky dan Aurel mengangguk setuju dengan Sandi.
Syafina menggandeng suaminya memasuki ruangannya, kemudian Syafina mempersilahkan suaminya duduk di meja kerjanya. Khalid menurut saja.
"Apa abang merasa ingat sesuatu ?"
"Entahlah, aku merasa pernah ada dalam posisi seperti ini tapi tak jelas"
Alhamdulillah, moga ingatan Abang segera kembali
Tok Tok
"Masuk" Syafina mempersilahkan.
"Maaf pak Khalid, Tuan Arsya sudah sampai. kita ke ruang meeting saja pak"
"Baiklah, Kau dulu saja"
Yulia pamit lebih dulu keruang meeting, sementara Khalid menatap istrinya.
"Ayo, kuantar. Dia Yulia sekretarismu, adik dari mas Arga teman dekatmu"
Khalid mengangguk angguk mengerti
"Tapi aku tak mengenal siapa Arsya, seperti apa dia mantan pacarmu itu?"
"Abang lihat saja nanti"
Syafina sebelum ini memang sudah menceritakan soal Arysa, siapa dia. Dan bagaimana dia bisa merebut semua milik Sherina, sampai dia mengembalikan kembali kepada Khalid demi Syakha.
Diruang meeting, Arsya sudah duluan sampai dengan seorang pria. Notaris. Disana juga sudah ada Dendi dan Abdul pengacara Khalid.
Syafina selalu disamping suaminya, seperti seorang bodyguard. Semua berkas berkas yang perlu ditandatangani sudah ditandatangani. Dan mereka pun bersalaman. Kini tinggallah mereka bertiga, Khalid Syafina dan Arsya.
"Semoga kedepannya, perusahaan ini berkembang menjadi perusahaan yang besar" Ujar Arsya sembari tersenyum tipis.
Khalid mengangguk "saya akan berjuang"
Mereka bertiga lalu mengobrol ringan. Syafina berbisik pada suaminya.
"Bang aku ke toilet sebentar"
Khalid mengangguk, lalu melanjutkan mengobrol dengan Arsya. Tak Lama Syafina pun kembali.
Bugh
__ADS_1
Syafina tiba tiba terpeleset persis didepan Arysa, reflek pria itu menangkap tubuh Syafina.
"Kau tak apa Fin?"
Syafina buru buru berdiri, dia malu dengan posisi seperti ini bersama Arysa, apalagi didepan suaminya sendiri.
"Aku tak apa, maaf pak Arysa"
"Iya" Arsya mengangguk dan buru buru melepaskan tangannya yang masih memegang tangan Syafina.
Khalid yang menyaksikan ini hatinya terasa panas kepalanya tiba tiba pusing dan merasakan sekelebat bayangan, merasa pernah diposisi seperti ini.
"Bang Khalid, abang kenapa?" Syafina menyadari keadaan suaminya lalu menghampiri suaminya dan duduk disampingnya.
"Fina, aku merasa ingat sesuatu. Ini Arsya yang dulu sering menolong kamu kan?" Khalid memegang pelipisnya.
"Ehmm, iya bang. Abang ingat ?"
Khalid mengangguk
"Alhamdulillah bang"
Hmm apa karena dia melihatku dekat dengan Syafina makanya ingatannya jadi pulih ?
"Ada apa Khalid, apa kau ingat sesuatu?" tanya Arsya.
"Hmm, sepertinya ingatanku satu persatu kembali, aku ingat siapa kamu Arsya" Khalid menatap Arsya dingin.
Arsya menahan senyum mendengarnya, dia tahu Khalid kembali kumat. Pasti Khalid sekarang diserang cemburu lagi.
"Oh syukurlah, hmm aku harus kerumah sakit sekarang. Mulai hari ini MK grup kembali padamu, Dendi dan Yulia akan membantumu, Kau pasti akan cepat paham Khalid"
"Mudah mudahan" jawab Khalid
"Oke aku pamit" Arsya berdiri, Khalid pun berdiri diikuti Syafina.
"Khalid, maafkan aku atas semua kesalahanku selama ini, dan Syafina maafkan mas ya?"
"Iya, tidak apa mas. Fina sudah maafkan, Maafkan juga aku ya mas"
Arsya mengangguk tersenyum, lalu menoleh pada Khalid
"Aku, juga sudah memaafkanmu, yang sudah terjadi biarlah. Aku harap kita akan bisa jadi teman"
"Lusa aku berangkat ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikanku, sampaikan salamku pada Syakha"
Khalid dan Syafina mengangguk tersenyum.
Arsya maju lalu dia menyalami Khalid, Khalid menyambutnya dan merangkul Arsya. Kemudian Arsya menyalami Syafina
"Aku harus pergi sekarang Fina"
"Iya, makasih atas semuanya mas"
Arsya mengangguk dan tersenyum, lalu dia meninggalkan ruangan itu.
Tinggallah Khalid dan Syafina dalam ruangan itu, lalu mereka saling menatap, kemudian mereka berpelukan.
"Akhirnya, Allah menjawab doa doamu Fina"
"Iya bang"
TAMAT
****
__ADS_1