
Di kantornya khalid tidak konsentrasi bekerja, laptopnya menyala tapi dia malah melihat lihat ponselnya
"Syafina sampai kapan kamu menghindari aku terus, aku bisa saja memaksamu tapi aku nggak mau menyakitimu" Khalid Memandangi foto istrinya.
Dendi masuk tanpa mengetok pintu, dilihatnya Khalid tidak seperti biasanya.
"Kenapa Khal, nggak dapat jatah? "
"Apaan sih Den"
"Lah terus kenapa muka begitu ?"
"Nggak kenapa kenapa, Den aku nanti ke kota C dan kota D, ngcek laporan keuangan Restoran. kamu handel kantor ya"
"Oke, jam berapa berangkat ? "
"Jam sepuluh, 30 menit lagi. Kalau ada apa apa telpon saja"
"Oke, aku keruanganku lagi Khal"
Khalid mengangguk. Seperti biasa setiap tanggal lima tiap bulannya. Khalid memeriksa laporan keuangan dari restorannya. Khalid lalu menelpon istrinya.
tert tert ponsel Syafina berbunyi
"Kenapa nelpon bang,?"
"Abang jam sepuluh nanti mau ke kota C Dan kota D, ada urusan kesana"
"Sama siapa abang kesana? "
"Sama pak Lukman, kamu piket sore kan"
"Iya, hati hati saja ya bang"
"Iya kamu juga hati hati, nyebrang jalan hati hati"
"Iya bang"
"Ya udah, Asalamualaikum"
"Waalaikum salam". Lalu diseberang sana Khalid menutup telponnya.
Syafina kembali melanjutkan Aktifitasnya bersih bersih rumahnya, sekarang rumahnya tidak lagi kosong sudah ada beberapa perabotan, kemaren siang pelayan toko tempat ia berbelanja mengantarnya sekaligus menatanya sesuai permintaan Syafina.
Setelah selesai bersih bersih syafina hendak memasak, dia lalu menyiapkan bahan bahannya. sekarang dirumahnya sudah ada kulkas. pagi pagi tadi dia sudah belanja di pasar tradisional.
Ketika akan memasak bahan yang sudah disiapkan, Syafina menghidupkan kompornya.
"Waduh, gas habis lagi.. ini kan sisa gas dari kosan ku maren". Syafina lalu menelpon tukang gas agar mengantar gas kerumahnya.
Syafina menunggu tukang gas di ruang tamu rumahnya. Tak lama menunggu seseorang datang mengetok pintu.
"Masuk mas, ikut saya ke belakang" orang itu masuk ketika di dalam rumah orang itu membekap Syafina dari belakang. Syafina menyikut perut orang itu dengan keras, lalu menginjak kakinya. Syafina berusaha teriak tapi tak bisa orang itu membekapnya kuat. tiba tiba buugh terdengar suara pukulan yang keras dari belakang. Ternyata ada pria satu orang lagi yang memukul orang itu. Orang yang membekap Syafina berhasil melarikan diri dengan cepat lalu masuk kedalam mobilnya.
"Ibuk nggak apa apa? "
"Siapa kamu ? " tanya Syafina masih ketakutan.
"Aku tukang gas buk, ibu yang menelpon ke tempat saya kerja tadi"
"Oh iya, aku kira pria tadi yang tukang gas"
__ADS_1
"Gila bener orang itu, mau merampok siang siang bolong begini"
"Makasih ya pak, sudah nolong saya"
"Iya buk, o ya buk dimana saya pasang gas ini"
"Mari saya antar ke belakang" kemudian tukang gas itu memasang gas di dapur, setelah selesai dia pun pamit.
Ketika tukang gas itu sudah Pergi Dendi datang.
"Siapa orang itu Fin?"
"Tukang gas"
"Kenapa muka kamu pucat begitu seperti sudah lihat hantu"
Syafina menceritakan kejadian barusan kepada Dendi, Syafina sangat ketakutan. Dia meminta Dendi menemaninya dirumah.
"Gimana ya Fin, aku kesini mau ambil berkas. kata Khalid tadi ada dalam tasnya dalam map warna biru. Kebetulan tadi dia nggak bawa tas itu".
"Tunggu disini aku cari" tak lama Syafina membawa map biru.
"Kamu sudah bilang sama Khalid? "
"Belum Den, mungkin dia masih di jalan. Nanti dia cemas, sementara urusannya belum selesai"
"Gini saja aku suruh orang kesini nemanin kamu"
"Siapa ? "
"Cintya pacar aku"
"Nggak merepotkan dia Den ?"
"Fin, kalau nggak salah sudah empat kali masuk ini kejadian hampir serupa terjadi sama kamu".
"Kok kamu tahu ? "
"Khalid selalu nyeritain sama aku, pertama sebelum kalian nikah, waktu itu bahu Khalid terluka. Kedua waktu kalian jalan jalan kemana gitu aku lupa. Ketiga kemaren kamu hampir di tabrak motor, lalu hari ini"
"Kebetulan saja mungkin Den"
"Benar, mungkin kebetulan saja"
Tak lama Cintya pacar Dendi datang, lalu dia berkenalan dengan Syafina.
"Aku pamit ke kantor ya, kalau ada apa apa telpon, kunci pintu. Jangan bukakan pintu kalau ada tamu, kecuali orang yang benar benar kalian kenal.
"Iya" jawab Syafina dan cintya barengan. lalu mereka masuk kedalam rumah,
"Aku lanjutin masak ya Cin, kita ngobrol di dapur saja" mereka lalu menuju dapur. Tak butuh waktu lama mereka untuk akrab, karena mereka sama sama mudah bergaul, sama sama humble.
"Jadi kalian dua bulan lagi mau nikah, sudah berapa lama pacaran? " tanya Syafina.
"Sudah hampir dua tahun Fin"
"Oo sudah lama ya, pasti banyak sekali kisah kalian"
"Iya, pernah bertengkar hampir putus juga. Tapi kami baikan lagi".
"Oh ya, kamu kenal nggak sama suami aku ?"
__ADS_1
"Kenal, suami kamu itu cuek tapi murah senyum. Itu yang bikin cewek cewek pada ke geeran dan baper sama dia. Banyak banget loh cewek yang mau sama dia"
"Masa sih, banyak pasti pacarnya ya ? "
"Iya Fin, sebenarnya cewek cewek yang ngejar ngejar dia, bang Khalid mah cuek"
"Cuek ya, sama aku kok usil banget ? "
"Ya iyalah, karena kamu istrinya"
Tert tert Khalid menelpon Syafina.
"Assalamuaaikum bang"
"Waalaikum salam, kamu nggak kenapa kenapa sayang ? "
"Nggak apa apa bang"
"Tadi Dendi nelpon aku ngasih tahu kejadian tadi, Cintya masih disana kan ? "
"Masih, abang selesaikan saja dulu urusan disana"
"Kamu piket sore kan, izin saja bisa nggak, atau abang suruh Dendi antar kamu sampai ke ruangan"
"Diantar Dendi saja bang"
"Oke, abang kasih tau Dendi"
"Abang jam berapa pulangnya ? "
"Sore, sekarang abang siap siap mau jum'atan, ini lagi di mesjid. Pokoknya kalau selesai urusan abang secepatnya pulang, kamu hati hati ya.. Assalamualaikum".
"Iya bang, waalaikum salam".
****
Sementara di tempat lain.
"Kurang ajar dia selamat lagi, kenapa selalu ada malaikat penolongnya, sepertinya aku harus memikirkan cara lain. Lihat saja nanti". Senyumnya kelihatan sangat licik dan tatapan matanya memandang penuh kebencian
****
Malam harinya Syafina menunggu Khalid menjemputnya, sementara menunggu Khalid sampai dia sholat isya dahulu di kamar perawat. Setelah selesai solat Khalid sampai. Mereka pun pulang bersama.
"Abang cemas banget tadi. untung saja kamu nggak kenapa kenapa sayang"
"Alhamdulillah aku nggak kenapa kenapa bang"
"Mulai besok ada ART yang temani kamu dirumah, rumah juga di jaga satpam. Kamu pergi kemana mana abang yang antar atau pak lukman".
"Fina, kamu sudah makan malam?, kalau belum kita beli saja dulu, kelamaan nanti kalau masak dirumah"
Tidak ada sahutan dari orang disebelahnya, Khalid melihat kearah Syafina.
"Sudah tidur ?, Dia ini kalau urusan tidur cepat banget." gerutu Khalid.
Sampai dirumah Khalid menggendong istrinya sampai ke kamar, lalu dia kembali mengunci pintu rumahnya.
"Kamu sepertinya sangat kecapean Fina, maafin abang nggak bisa jagain kamu. Beberapa kali kamu hampir celaka"
Khalid mengusap rambut istrinya yang lembut, menyibakkan anak rambutnya lalu dia mencium kening istrinya itu. Khalid menatap puas wajah wanita yang dicintainya itu, lalu dia mengecup singkat bibir istrinya yang merah muda, sangat menggodanya.
__ADS_1
"Selamat malam sayang" Khalid lalu berbaring di sebelah Syafina dia susah untuk tidur. Khalid membolak balikan badannya. Akhirnya dia tertidur setelah tengah malam.
****