Hati Yang Memilih

Hati Yang Memilih
Bab 56


__ADS_3

Pagi pagi setelah selesai sarapan Syafina minta izin dengan suaminya ke rumah sakit. Dia berencana mengundurkan diri dari rumah sakit hari ini juga, walaupun sebenarnya dia masih sangat mencintai pekerjaannya tapi dia harus juga patuh pada suaminya.


"Bang, aku mau kerumah sakit hari ini"


"Kamu masuk kerja? "


"Nggak, kan abang menyuruhku berhenti kerja, hari ini juga aku mau mengundurkan diri"


"Kamu nggak terpaksa kan Fin? "


"Jujur saja aku masih ingin kerja bang, tapi kalau memang lebih baik aku tidak kerja apa salahnya aku resign saja"


"Maafin abang ya,? "


"Nggak apa apa bang" Syafina tersenyum kepada suaminya, dia takut suaminya merasa bersalah karena itu.


"Abang nggak sempat antar, nanti kamu di antar sopir, tadi Linda sudah datang."


"Sopirku perempuan? terus mobilnya mana, aku tak punya mobil bang... "


"Benar perempuan, pakai mobil abang dulu. Untuk hari ini abang di jemput pak Lukman dengan mobil kantor"


"Baiklah,"


"Abang duluan ya"


"Iya bang" Syafina menyalami suaminya dan mencium punggung tangannya.


"Hati hati ya Fina, nanti kamu juga ditemani pengawalmu. Hendri dan Rido".


"Apaan sih abang, pakai pengawal segala"


"Jangan protes Syafina, sekarang itu yang terbaik untukmu"


"Iya bang" Syafina mengangguk saja, dia malas membantah. Karena hal ini tentu juga sudah dipikirkan baik baik oleh suaminya.


Syafina mengantar suaminya sampai ke teras depan, disana pak Lukman sudah menunggu.


****


Syafina telah sampai di depan pintu ruang perinatologi, Hendri dan Rido disuruhnya menunggu di luar saja dekat selasar, sejujurnya dia malu jika pengawalnya menunggui dia di depan pintu masuk, makanya di suruhnya H dan R menunggu di Selasar rumah sakit saja.


"Assalamualaikum" Syafina mengucapkan salam di depan ruangan Eka kepala ruangan. Tak ada sahutan, Syafina melongokkan kepalanya kedalam ternyata Kak Eka tidak ada didalam ruangannya.


"Mungkin kak eka di dalam ruangan pasien" Syafina langsung saja membuka pintu ruangan rawat inap perinatologi.


"Hai Fin, sudah sehat?" sapa Rita. Sementara Arsya yang juga ada disana hanya melirik Syafina. Dia sedang menulis. Melli terlihat sedang mengganti popok bayi.


"Syafina berjilbab sekarang, dia tambah cantik" gumam Arsya.

__ADS_1


"Alhamdulillah sudah sehat Ta, cuma tanganku masih pakai gif "


"Kamu kenapa kesini Fin, kok nggak pakai seragam kerja, kamu berhijab sekarang? "


"Benar, mulai hari ini aku berhijab. Aku kesini mau kasih surat ini sama kak Eka, kak Eka dimana ya Ta? " Syafina duduk di kursi berhadapan dengan Rita yang lagi menulis di meja.


"Kak Eka ada pertemuan kepala ruangan di ruang rapat,"


"Lama nggak ya? "


"Sepertinya masih lama Fin, baru saja mulai pertemuannya. kamu titip sama aku saja, surat izin ya? "


"Aku ngundur diri Ta?"


Arsya terkejut dengan perkataan Syafina barusan, dia berhenti menulis dan menatap Syafina tajam.


"Maksudnya, kamu nggak kerja lagi? "


"Iya Ta, nggak sopan kan surat pengunduran dititip. lebih baik aku langsung yang antar. "


"Iya juga ya" Rita mengangguk angguk kecil.


Arsya tak dapat menahan dirinya untuk membuka mulutnya. Dia merasa tak setuju Syafina mengundurkan diri


"Fina, kamu kenapa ngundurin diri? "


"Kenapa begitu, kamu takut dicelakain orang lagi, mas bisa jaga kamu Fin. Maafin selama ini mas nggak jaga kamu dengan baik".


Mendengar perkataan Arsya Rita dan Melli sangat terkejut, ada apa antara Syafina dan Dokter Arsya.


"Ada apa ini, kenapa dokter Arsya menyebut dirinya mas? " Melli bertanya dalam hati.


"Pasti ada sesuatu antara Syafina dan Dokter Arsya, oh Tuhan ada apa ini? " Rita penasaran dengan dua orang di depannya itu.


"Ini bukan salah bapak, bapak nggak perlu jagain saya"


"Fina, beri kesempatan mas buat jagain kamu, hanya itu yang bisa mas lakuin untukmu"


"Oak, bapak sadar sekarang kita dimana?"


"Sadar Fina, apa kamu benar benar mau ngundurin diri? "


"Iya, dan kurasa itu bukan urusan bapak"


"Jadi urusanku, jika itu menyangkut kamu Fina"


Syafina menarik nafas panjang, dia juga merasa malu dengan dua temannya dengan kelakuan Arsya.


Melli mendekati Rita, dan menggamit tangan Rita. Syafina melihat itu.

__ADS_1


"Mereka sudah pasti salah paham" gumam Syafina dalam hati.


"Pak, aku nggak mau ada salah paham disini. Ingat aku ini punya suami, aku milik suamiku pak. Aku harus nurut jika suamiku yang meminta"


"Iya, maafin mas Fina. Jujur mas akan merasa kehilangan jika kamu tidak lagi kerja disini"


"Bapak harus belajar lupain aku, bapak kira dengan selalu jagain aku akan menyelesaikan masalah, ?"


"Fin, mas lakuin itu semua karena mas sayang kamu"


"Mas, sudahlah lupakan rasa sayang mas sama aku, aku mohon mengertilah" Syafina menatap Arsya dengan wajah memelas, dia lelah menghadapi Arsya yang tak pernah bisa melupakannya.


Sementara Rita dan Melli, mulai mengerti dengan apa yang terjadi dengan Arsya dan Syafina. Mereka berdua tak menyangka kalau selama ini Arsya dokter tampan idola mereka mencintai Syafina, wanita yang telah bersuami.


"Mas, tolong ngertiin aku. kenapa mas tidak berusaha menerima mbak Viana, dia gadis yang baik mas". Akhirnya Syafina menyebut Arsya dengan sebutan mas, seperti yang selama ini biasa dia ucapkan.


Arsya diam saja, dia ingin sekali selalu dekat Syafina, menjaga Syafina. Bahkan memiliki Syafina bukan Viana.


"Aku keluar sekarang, surat ini aku antar saja sama kak Eka di ruang rapat. sekalian aku antar juga surat ini ke ruangan pak Hartono juga". Syafina lalu membalikkan badannya dan berjalan ke pintu hendak keluar. Arsya mengejarnya dan menarik lengannya.


"Kamu benar benar mau berhenti kerja Fin ?".


"Iya, lepasin tanganku". Syafina menghentakkan tangannya, sampai pegangan tangan Arsya terlepas.


"Fina, mas bisa sewa bodyguard untuk jagain kamu. kamu tetap bisa kerja"


"Suamiku sudah sewa dua orang bodyguard mas, mas tahu kenapa suamiku tetap ngotot aku berhenti kerja ?"


"Kenapa Fina? "


"Karena dia cemburu sama kamu, dia nggak mau aku dekat sama kamu, dan aku menghargai keputusan suamiku, karena aku miliknya !."


Arsya terdiam mendengar penuturan Syafina, sejujurnya dia kecewa dengan keputusan Syafina untuk berhenti kerja.


Syafina lalu keluar dari ruangan itu, tinggal Arsya yang diam mematung. Sementara Melli dan Rita berbisik bisik.


"Aku tahu sekarang, Syafina adalah mantan pak Arsya, Syafina sudah nikah. Tapi pak Arsya nggak bisa move on" Rita berbisik kepada Melli.


"Betul Ta, aku menduga juga begitu. Aku kira tadi mereka selingkuh, sepertinya tidak."


"Iya, nggak mungkin Syafina selingkuh, dia wanita baik baik. Suaminya juga kaya dan tak kalah tampan dari pak Arsya."


Menyadari ada yang berbisik bisik, Arsya menoleh ke belakang.


"Kenapa bisik bisik, kembali kerja" kata Arsya dengan gaya Khasnya yang galak.


"Baik pak" Melli dan Rita mengangguk berbarengan.


****

__ADS_1


__ADS_2