
"Apa Syafina pulang kerumah papa dan mama, aku telpon saja mama" Khalid berbicara pada dirinya sendiri.
"Assalamualaikum ma"
"Wa alaikum salam, ada apa Khal?
"Ma, apa ada Syafina dirumah mama?"
" Ehmm," Zaenab ragu untuk menjawab apa.
"Syafina sama mama kan ma? "
"Iya Khal, tapi dia belum siap ketemu sama kamu. Biar dia tenang dulu, kau jangan khawatir Fina baik baik saja sama mama"
"Alhamdulillah Fina sama mama, ma aku titip Fina ya ma, kabari aku kalau ada apa apa." Khalid merasa sangat lega, sekarang Syafina sudah ditemukan.
"Iya Khal, sekarang dia lagi tidur, biar dia istirahat"
"Iya ma, tolong jaga Fina ya ma, ingati dia makan. Mungkin nanti aku akan kerumah mama"
Khalid sangat bersyukur ternyata Syafina bersama orang tuanya sekarang, tapi Khalid masih saja cemas dengan kondisi Syafina, tadi dokter bilang dia tak boleh stress. Dan berat badan anak mereka agak kurang, itu berarti Syafina harus diperhatikan nutrisinya.
Khalid masuk kedalam mobilnya lalu dia melajukan mobilnya kembali pulang kerumahnya.
Reyhan mengirim pesan kepada Khalid, mengatakan bahwa Syafina kemungkinan dirumah orangtuanya.
"Mungkin Syafina dirumah orang tuanya, coba abang cek"
"Iya, barusan aku telpon memang Syafina disana. Alhamdulillah dia baik baik saja"
"Alhamdulilah" balas Reyhan. Reyhan merasa lega, karena Syafina sudah di temukan.
****
Sherina dengan senyum sumringah menyambut kedatangan Fatimah, mereka sudah janjian ketemu di clinic. Fatimah memang berencana mengunjungi clinik, Fatimah pernah mengunjungi clinik sewaktu dulu diresmikan. Sesudah itu dia tak pernah lagi mengunjungi clinik itu.
"Ibu, ada yang ingin kuceritakan sama ibu. Sudah tiga hari ini kita tidak ketemu bu" Sherin memeluk ibunya.
"Iya ibu juga rindu, kamu mau cerita apa Sherin" lalu Fatimah duduk diatas sofa di ruangan kerja Sherin.
"Ibu, tadi aku periksa ke dokter kandungan ternyata aku hamil bu"
Wajah Fatimah seketika berubah karena terkejut, tapi di berusaha tidak menampakkan keterkejutannya.
"Apa Sherin, kamu hamil? " Fatimah masih tak percaya.
"Iya bu, aku hamil. Bang Khalid sudah tahu, Syafina yang menemaniku periksa tadi"
"Oo ehmm, terus apa kata Khalid"
"Dia biasa saja bu, mungkin dia juga terkejut. Tapi aku yakin bang Khalid akan bisa menerimanya"
"Terus bagaimana dengan Syafina" sejujurnya Fatimah mengkhawatirkan menantunya itu.
"Dia awalnya tak percaya, setelah mendengar penjelasan dokter dia akhirnya diam saja."
"Oo begitu, bagaimana keadaanmu Sherin, apa hamil kamu sehat?"
"Aku sehat bu, tapi aku harus makan yang bergizi tidak boleh stress dan janinku harus diperhatikan ayahnya agar perkembangannya bagus, itu kata dokter."
"Alhamdulillah kamu sehat" Fatimah merasa bingung harus berbuat apa disatu sisi dia kasihan kepada Syafina sudah pasti dia bersedih, tapi Sherina juga butuh perhatian.
__ADS_1
"Ayo bu makanlah kue nya, tadi saya beli" Sherina menyadari Fatimah yang kurang begitu suka dengan berita kehamilannya. Tapi bukan Sherin namanya jika tak bisa menghasut Fatimah.
"Bu, aku takut bang Khalid tak mau menikahiku, anakku akan lahir tanpa ayah. "
Fatimah terdiam mendengarnya,
"Aku tak mengapa jika bang Khalid tak mau menikahiku, tapi anak ini bu. " Mata Sherin mulai berkaca kaca.
"Sherin, itu tak akan terjadi. Anakmu tak akan lahir tanpa Ayah. Ibu pastikan Khalid menikahimu".
"Iya bu, hanya ibu yang bisa bantu aku bu. Besok keputusan sidang ceraiku dengan Robi. Aku sudah tak punya siap siapa lagi. Hanya ibu" Sherina sudah berurai air mata. Ketika itu Silvana masuk kedalam ruangannya, karena ruangan itu terbuka.
"Oh maaf, saya tidak tahu ada tamu."
"Tak apa Sil, ada perlu apa?" Sherina menghapus airmatanya dengan tisu.
"Hanya masalah clinic. Lain kali saja"
"Tunggu, kenalkan ini ibunya bang Khalid"
Fatimah tersenyum dan mengulurkan tangannya kepada Silvana
"Fatimah, ibunda Khalid"
Sesaat Silvana tertegun, lalu dia juga tersenyum dan mengulurkan tangannya.
"Silvana, dokter Estetika di clinik ini"
"Oh, senang kenalan sama kamu Silvana."
Silvana merasa heran mengapa Sherina bilang ibu ini adalah ibu Khalid, dan ibu ini juga mengaku dirinya ibu Khalid. Bukankah ibu Khalid ibu Sherina juga.
"Ahh, bukan saya ownernya. Ini Sherina ownernya. Nama saya hanya dipakai saja oleh Khalid, saya tidak tahu menahu tentang clinik ini"
"Oo, begitu ya bu. Ehm kalau gitu saya permisi. Mungkin ibu masih mau mengobrol sama Sherina"
"Ibu juga sudah mau pulang, dari sini ibu mau ke supermarket. Sherin ibu keluar ya, jaga kesehatanmu"
"Iya bu" Sherina mengangguk, lalu dia memeluk ibunya.
****
Arsya sudah sampai di Cafe Bella, dia bersama Viana. Tadi Viana kerumahnya mengantar makan siang. Bukan dia mengajak tapi Viana yang ingin nempel terus dengan Arsya. Bagi Arsya Viana teman yang cukup menyenangkan, hanya teman karena dia belum bisa membuka hati untuk mencintainya.
Arsya menarik kursi dan duduk bergabung dengan Reyhan, disana juga sudah ada Dendi dan Arga.
"Rey, apa Syafina sudah ditemukan? " tanya Arsya.
"Dia dirumah orang tuanya"
"Syukurlah"
"Sayangnya tadi aku tak bisa menanyakan kepada Fina tentang orang di rekaman cctv itu, karena dia tak datang kesini".
"Rekaman cctv apa? " tanya Arga
"Rekaman cctv beberapa saat sebelum Syafina dijebak bersama Arsya" jawab Reyhan.
"Dijebak? "Arga tak paham
"Kejadiannya beberapa bulan lalu, ini dokter Arsya. Teman Syafina" Reyhan memperkenalkan Arsya. Mereka lalu bersalaman.
__ADS_1
"Jadi siapa orang yang kalian curigai?"tanya Dendi.
"Belum tahu, rencananya kami ingin tanya sama Fina siapa tahu dia pernah lihat laki laki dalam rekaman cctv itu"
"Apa mungkin Jesica yang menyuruh mereka?
"Jesica? "Arsya mengernyitkan dahinya.
"Iya, saya sudah menyelidiki. Dia sudah lama mendekati anda, tapi anda mencintai Syafina. Dan Jesica itu adalah mantan pacar Khalid, putus gara gara Khalid mencintai Syafina. Siapa tahu dia dendam sama Syafina" Dendi menuturkan.
"Ah masa sih dendam, jesica itu ngejar ngejar om Andri bukan Arsya. Sekarang mereka pacaran. Dia juga sudah lama move on dari Khalid. Putus dari Jesica kan Khalid pacaran sama aku"
Mendengar itu mata Arsya terbelalak membesar.
"Apaan kamu Via, ngomong apa" Arsya memelototi Viana. Dia malu nama ayahnya dibawa bawa.
"Maaf ya, aku sudah lihat dengan mata kepalaku. Jesica gelendotan sama om Andri papa kamu. Bagi jesica yang penting laki laki itu kaya "
Semua yang berada disana terkejut mendengarnya, terutama Arsya. Dia juga malu mendengar papanya pacaran sama Jesica.
"Ehmm, maaf ya mas. Aku nggak sengaja cerita. Tapi rasanya aku harus cerita, dari pada kalian curiga pada orang yang salah" ujar Viana.
"Masuk akal juga, setahuku setelah putus dari Khalid, Jesica tak pernah mengusik kehidupan Khalid" timpal Arga.
Arga sebenarnya masih kurang paham masalah yang terjadi pada Syafina dan Khalid, apa kaitannya dengan Arsya yang ternyata anak pak Andri. Arga berencana akan menanyakan sendiri kepada Khalid.
Dendi dan Reyhan sama sama tak menunjukan rekaman cctv yang mereka pegang masing masing, padahal disana ada kaitan satu sama lain yang bisa menguak kebenaran.
"Menurutku Sherina yang melakukan ini" Reyhan berasumsi.
"Siapa Sherina?" tanya Arsya.
"Adik Khalid" Dendi menjawab
Arsya lagi lagi mengernyitkan dahinya "kenapa dia? "
"Karena.." Ucapan Rey menggantung dan cepat cepat dipotong oleh Dendi.
"Rey, aku juga pernah beranggapan Sherina pelakunya. Tapi Khalid membantah, dia tak percaya"
"Sherina?" Viana mengangguk angguk. Dia teringat ketika masih pacaran sama Khalid, dia beberapa kali mendapat teror, walaupun tak terlalu menakutkan. Dia pernah mendapatkan tikus mati berdarah dalam kadonya, dengan pesan "jauhi Khalid" ditulis dengan darah. Dia juga pernah dikurung dalam toilet dan dimatikan lampunya. etelah diselidiki rupanya Sherina pelaku terornya. waktu itu dia dan Khalid beranggapan karena Sherina cari perhatian saja. Karena dia tidak punya teman selain Khalid, sedangkan Khalid menghabiskan banyak waktu bersama Viana. Sejak itu Khalid lebih memperhatikan Sherina.
"Bisa jadi Sherin karena dulu aku pernah beberapa kali diteror Sherin. Tapi apa motifnya. Mengapa dia meneror Pacar bahkan istri kakaknya sendiri.?"
"Karena dia mencintai Khalid " Dendi menjawab
"Mencintai Khalid? "Viana menggeleng geleng kepalanya. "Mencintai kakak sendiri? "
"Via, Sherin itu adik angkat Khalid, memang tak banyak yang tahu" Dendi menjelaskan.
Viana terkejut, dan mulutnya membulat seperti huruf O mendengar berita itu.
"Oke, aku rasa tidak ada lagi yang perlu di rahasiakan mengenai Khalid dan Sherina" Arga yang dari tadi diam menimpali.
"Mas Arga benar" Reyhan menyetujui.
"Rahasia apa lagi? " Kali ini Arsya penasaran .
Arga lalu menceritakan seperti yang diceritakan oleh Dendi, Dendi hanya diam saja. Dia kurang setuju hal ini diceritakan didepan Arsya, karena akan membuat Arsya beranggapan Khalid laki laki jahat yang selalu menyakiti istrinya. Tapi dia membiarkan Arga bercerita.
****
__ADS_1