Hati Yang Memilih

Hati Yang Memilih
Bab 80


__ADS_3

Malam harinya Khalid dan Syafina duduk di ruang keluarga menikmati acara televisi, Fatimah menghampiri mereka. Fatimah lalu duduk disofa disebelah Syafina.


"Fina bisa ibu bicara sebentar sama kamu ?"


"Ehmm bisa bu, ibu mau bicara apa"


"Bisa ke kamar ibu saja Fina?"


"Iya bu" Syafina mengangguk.


"Bang, aku kekamar ibu ya? "


"Iya Fina" Dalam hati Khalid sudah tahu tujuan ibunya mengajak Syafina berbicara. Pasti meminta izin kepada Syafina untuk menikahkan dirinya dengan Sherin.


"Pasti malam ini Syafina nangis lagi"


Dikamar ibu Fatimah, Syafina duduk di pinggir tempat tidur mertuanya. Fatimah duduk disampingnya.


"Fina"


"Ya bu" Syafina menatap ibu Fatimah.


"Sebelumnya ibu minta maaf atas perbuatan Khalid, mungkin kamu sudah banyak menangis karena masalah ini"


"Iya bu, Bang Khalid suamiku. Masalahnya masalahku juga"


"Mungkin Khalid sudah memberitahumu, ibu meminta dia menikahi Sherina."


"Iya, bang Khalid sudah cerita bu"


"Syafina ibu sangat mengharapkan kebesaran hatimu, memberi izin kepada suamimu menikah lagi"


Syafina seperti mendapat tamparan yang sangat keras. Memberi izin suaminya menikah lagi, itu suatu hal yang tak mungkin.


"Ya Allah, aku ingin jadi wanita solehah penghuni surga, tapi tidak dengan mengizinkan suamiku menikah lagi" lirih Syafina dalam hati.


"Kamu boleh menolak. Tapi jawaban yang ibu inginkan adalah kamu mengizinkan suamimu menikah lagi."


Mata Syafina berkaca kaca mendengar permintaan mertuanya, permintaan yang sangat sulit untuk seorang istri kabulkan.


"Bagaimana jika aku menolak? "Syafina memberanikan diri bertanya kembali kepada mertuanya.


"Khalid akan memberi semua hartanya kepada Sherina sebagai gantinya, sebagai istri kamu pilih mana. Ibu rasa tak begitu buruk jika suamimu menikah lagi, kalian masih bisa sama sama. Kamu hanya perlu ikhlas Syafina."


"Mudah sekali ibu memintaku ikhlas, apa ibu tak memikirkan bagaimana jika dia di posisiku?" Syafina hanya berani protes di dalam hatinya.


"Akan ku pikirkan lagi, sekarang boleh aku keluar bu? " dada Syafina sudah terasa sangat sesak menahan air matanya yang sudah mau tumpah.

__ADS_1


"Iya, silahkan. Maafkan ibu membuatmu bersedih. Bagaimanapun ibu harus mengutarakan hal ini kepadamu"


"Tak apa bu" Syafina membalikkan badannya, lalu dia buru buru keluar dari kamar ibu Fatimah, dia berlari kekamarnya sambil menangis.


****


Khalid tengah menonton televisi sebenarnya dia tak begitu fokus dengan acara yang ditontonnya. Pikirannya tertuju pada istrinya yang sedang berada dikamar ibunya.


Terdengar bel berbunyi, bi Lastri membukanya. Sherina melenggang masuk kedalam rumah, dilihatnya Khalid duduk sendirian Sherina menghampirinya. Sherina duduk di sebelah Khalid.


"Bang, apakabar ibu? " Sherina basa basi.


"Ibu baik baik saja, kamu kenapa masih saja kesini? "


"Aku mau jenguk ibu"


"Alasan saja, tujuanmu kamu sebenarnya menghasut ibu"


"Abang kenapa sih tidak bisa melihat kebaikanku, selalu berpikiran buruk tentangku?"


"Sebaiknya kamu pulang kerumahmu. Sudah ku belikan rumah, kamu mau apalagi. Apa perlu aku berikan semua hartaku padamu? "


"Maksud abang apa, apa abang kira aku menginginkan harta abang?. Abang salaah !"


"Maafkan aku Sherin, aku tak bisa menikahimu. Akan kuberikan seluruh hartaku padamu sebagai gantinya".


"Harta bukan tujuanku, Sudah belasan tahun aku mencintai kamu bang sama seperti kamu belasan tahun mencintai Syafina. Kau sudah mendapatkan Syafina dan begitu juga aku sebentar lagi mendapatkan cintaku. Apa salah jika aku memperjuangkan cintaku? "


"Apa Syafina juga mencintai abang di awal menikah, tidak kan? Cinta itu tumbuh setelah kalian hidup bersama . Abang tolong mengertilah aku."


Khalid kali ini benar benar gusar dengan Sherina.


"Bebal sekali wanita ini, nggak ngerti ngerti kalau aku nggak cinta sama dia" batin Khalid salam hati.


"Sherina, aku muak bicara sama kamu. Sebaiknya kamu pulang sekarang jangan kesini lagi !"


"Oke, aku akan pulang tapi aku mau bertemu ibu dulu"


"Tidak bisa, kau pulang sekarang. Jangan kau hasut ibu lagi" Khalid menarik tangan Sherina.


Sherina melihat Syafina keluar dari kamar Fatimah, Syafina terlihat menangis dan melangkah terburu buru. Sherina menyunggingkan senyum tipis melihatnya. Sangat bahagia dia melihat Syafina menangis


"Pasti ibu sudah meminta Syafina mengizinkan Khalid menikahiku"


"Baiklah aku pulang sekarang, dan tunggu aku akan kembali sebagai istrimu" Sherina tersenyum membuat Khalid membuang muka melihat senyum itu.


****

__ADS_1


Dikamarnya Sherina berusaha menahan tangisnya, dihapusnya airmatanya menggunakan ujung bajunya. Dia tak mau terus terusan menangis. Syafina berusaha tegar untuk menghadapi jika nanti suaminya benar benar menikahi Sherina. Kemungminan itu bisa saja terjadi, bahkan kemungkinan itu sangat besar.


Syafina membuka jendela kamarnya membiarkan angin masuk dari jendela, dengan cara ini mungkin bisa menenangkan pikirannya yang sedang kalut. Syafina menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Berulangkali dilakukannya hal itu sampa di merasa agak tenang.


"Aku harus kuat jika nanti suamiku menikahi Sherina, apakah dengan meninggalkannya bisa membuatku tenang ? Tidak, aku egois mementingkan diriku saja. Suamiku nanti pasti akan hancur jika aku tinggalkan dia".


Syafina berdebat dengan dirinya sendiri disatu sisi dia tak sanggup berbagi suami, di sisi lain dia kasihan dengan suaminya yang harus menghadapi masalah sendiri jika nantinya ia tinggalkan.


Khalid berlari kekamar hendak melihat keadaan Syafina. Dia khawatir dengan istrinya itu. Khalid membuka pintu kamarnya dilihatnya Syafina sedang berdiri di dekat jendela menghadap keluar, Angin malam terasa dingin masuk dari jendela.


"Tumben Syafina membuka jendela, biasanya siang saja di tutup" batin Khalid.


"Kenapa jendelanya di buka sayang? "


"Aku ingin cari angin saja, mungkin ini bisa menenangkan pikiranku"


"Ouh, itu sebabnya kemaren kamu cari angin di tepi danau? "


"Ehmm" Syafina mengangguk.


"Maaf abang sudah membuat pikiranmu tidak tenang"


"Sudahlah, jangan dibahas lagi. Aku sedang tak ingin membahas masalah itu lagi" Syafina memeluk pinggang Khalid dengan satu tangannya.


Terasa nyaman bagi Khalid dipeluk oleh istrinya, dia membalas pelukan istrinya.


"Kamu kedinginan? " khalid berbisik di telinga Syafina.


Syafina mengangguk.


"Abang tutup pintu dulu ya, pikiranmu sudah tenang kan? "


Syafina mengangguk lagi, Syafina melepas pelukannya. Syafina membiarkan Khalid menutup jendela.


Syafina menatap punggung suaminya dari belakang, mungkin ini saat saat terakhir bersama, sebentar lagi ada Sherin diantara mereka dan tentu saja Khalid akan perlahan lahan mencintai Sherin dan akan membagi waktunya dengan Sherin. Atau malah bisa saja dirinya tak sanggup berbagi dengan Sherin dan pada akhirnya dia yang mengalah pergi.


"Aku harus membahagiakanmu disaat saat terakhir ini"Syafina lalu memeluk suaminya dari belakang, Khalid membalikkan badannya dan membalas pelukan istrinya. Mereka sudah saling merindu, rindu yang sangat besar.


Khalid menciumi istrinya, dan Syafina membalas perlakuan suaminya. Mereka berdua malam ini saling melepas rindu yang sudah lama terpendam.


****


Sudah dua hari ini Reyhan dan Arsya mencari pria yang di rekaman cctv, tapi tak ada hasilnya. Mereka berdua duduk mengobrol di kantin rumah sakit.


"Kurasa sebaiknya kita ceritakan saja sama Syafina, mungkin dia pernah melihat laki laki ini disekitar rumahnya atau mungkin pernah mengikuti dia. " Kata Reyhan.


"Coba saja kau sampaikan sama Fina, kalau aku yang menyampaikan suaminya akan salah paham ".

__ADS_1


"Oke, besok aku akan kerumah Syafina"


****


__ADS_2