
Sudah satu minggu Khalid dipindahkan dari ICU, hari ini dia diperbolehkan pulang oleh dokter. Dan diharuskan chek up setelah 2 minggu. Karena operasinya di kota D tempo hari masih butuh kontrol.
"Ibu, apa kita ada uang untuk biaya pengobatanku? " Khalid bertanya pada Fatimah setelah admin yang memberi rincian biaya keluar dari ruangannya. Biaya yang tertera disana nominalnya cukup besar.
"Ehmm, ada. Tunggu disini ya. Ibu akan bawa uangnya sebentar lagi" Fatimah berencana akan menemui Dendi, dan meminta uang perusahan saja. Karena semua ATM dan buku rekening masih sama Sherina.
Khalid mengangguk saja menyetujui. Fatimah lalu keluar dia sudah memesan taksi online.
"Ibu mau kemana?" Syafina tiba tiba datang.
"Eh, Khalid sudah diperbolehkan pulang. Ibu mau menemui Dendi untuk meminta uang biaya pengobatan Khalid"
"Tidak usah bu, Fina sudah punya uang untuk itu. Lagi pula, itu kan uang Sherina, bang Khalid pasti tak setuju kalau dia tahu".
"Fin, uang itu masih hak kalian, lagi pula. Kita juga butuh uang untuk bayar biaya rumah sakit Syakha. "
"Bu, Fina punya tabungan dari uang yang diberikan bang Khaid dulu. Semuanya lebih dari cukup untuk biaya bang Khalid dan Syakha"
Fatimah terdiam sejenak, akhirnya dia mengangguk saja. Lebih baik dia menuruti Syafina, sudah cukup dia membuat Syafina bersedih. Dia tak mau Syafina marah padanya.
"Baiklah Fin, ini rincian biayanya"
Syafina mengambil kertas yang disodor Fatimah.
"Hmm, uangku cukup bu. Syakha juga diperbolehkan pulang. Sebenarnya tadi Fina kesini mau memberitahu kalau Syakha sudah bisa pulang"
"Oo, Alhamdulillah cucuku bisa pulang, apa beratnya sudah naik? "
"Iya bu, sudah 2100 gram. Ibu temani saja bang Khalid Fina selesaikan ini dulu".
Fatimah kembali kedalam kamar untuk menemani Khalid.
"Ibu sudah bawa uangnya? "
"Syafina bilang, dia yang akan membayarnya. Alhamdulillah Syakha anakmu juga diperbolehkan pulang hari ini"
"Alhamdulillah, apa Fina punya uang untuk bayar biaya rumah sakit kami bu? "
"Jangan khawatir, dia punya cukup uang. Dulu kau banyak memberikan dia uang semua ditabungnya. Beruntung kau punya istri seperti dia"
"Aku memberinya banyak uang?, darimana aku dapatkan banyak uang?, memangnya aku dulu kerja apa, aku tak ingat sama sekali"
"Khal, apa yang kau pikirkan. Dokter tidak memperbolehkan kau terlalu banyak berpikir dan memaksakan mengingat masalalu mu".
"Iya bu". Tetapi dalam hati Khalid ingin sekali tahu dengan masa lalunya, yang sepertinya dirahasiakan ibunya. Tak lama Syafina pun datang, dia telah selesai mengurus semua administrasi.
__ADS_1
"Semua barang sudah beres, kita sudah di tunggui Jody. Syakha juga sudah di mobil sama Jody. Kita langsung saja kesana". Syafina lalu membimbing suaminya keatas kursi roda, seorang perawat mendorongnya sampai keparkiran mobil. Lalu Syafina membantu Khalid duduk di bangku penumpang. Syafina lalu mengambil Syakha dari Jody, dan memangkunya duduk bersebelahan dengan Khalid.
"Ibu ikut kami saja ya bu, ibu duduk didepan saja"
"Iya, ibu juga ingin bersilaturahmi kerumah papamu Fin. Sudah lama ibu tak kesana semenjak melamarmu dulu "
Sesampainya dirumah, Syafina membawa Khalid kekamar mereka untuk beristirahat. Mama Zaenab sudah membersihkan kamar mereka dan mempersiapkan segala sesuatunya untuk bayi Syakha.
Salman dan Fatimah berebutan untuk bermain dengan bayi syakha, tapi bayi Syakha harus banyak istirahat. Syafina juga sudah menyiapkan inkubator untuk bayi Syakha di dalam kamarnya. Setelah menggendongnya beberapa menit Fatimah menyerahkan kembali bayi Syakha pada Syafina untuk disusui. Setelah Syakha kenyang, Syafina menaruhnya di dalam inkubator.
"Syakha sangat mirip dengan Khalid waktu bayi Fin"
"Oh ya bu? "
"Iya Fin, ibu jadi teringat ketika mengurus Khalid waktu masih bayi, Dia menangisnya kuat. Berhenti nangis kalau sudah digendong ayahnya".
"Oo, apa bang Khalid mirip juga sama ayah, seperti Syakha mirip ayahnya? "
"Tidak" Fatimah menggeleng.
"Wajah Khalid kan mirip sama ibu, tapi sifat Khalid mirip seperti ayahnya. Dia ramah, penyabar, penyayang dan tanggung jawab. Ayahmu dulu sangat menyayangi ibu dan sangat menyayangi anak anaknya. Setelah Aini meninggal dia sering sakit, dia memang sangat menyayangi Aini. Sampai dia sakit keras dan ayahmu meninggal". Mata Fatimah jadi basah oleh air matanya, karena mengingat mendiang suaminya.
"Oo maafkan Fina bu, bertanya tentang ayah. Ibu jadi menangis. Soalnya bang Khalid tak pernah membicarakan ayah"
"Tdak apa Fin, Khalid memang tidak suka membicarakan ayahnya bukan karena dia tak menyayangi ayahnya, tapi karena dia tak mau ibu menangis bila teringat sama ayahnya. Khalid sangat menyayangi ibu"
"Tak apa, tak masalah Fin"
Tert tert ponsel Fatimah berbunyi. Lalu dia berbicara dengan seseorang di telepon.
"Fina, maaf ibu harus pulang"
"Nggak jadi nginap bu? "
"Ada tetangga sebelah rumah yang meninggal barusan, ibu nggak enak kalau nggak ngelayat"
"Oh gitu, biar aku suruh jody antar ibu pulang"
"Iya, sampaikan sama Khalid kalau ibu pulang, dia masih tidur. kasihan kalau di banguni"
"Ya bu" Syafina lalu menemui Jody yang mengobrol sama papa Salman di teras samping.
Syafina mengantar Fatimah sampai ke teras rumah, Fatimah akan pulang kerumahnya diantar oleh Jody.
"Padahal kami ingin ibu nginap saja"
__ADS_1
"Lain kali saja Fin, ini sudah jam lima sore. Nanti Jody kemalaman pulangnya"
"Iya bu, hati hati ya" Syafina memeluk ibu mertuanya. Dia ingin Fatimah menginap saja, tapi mertuanya itu tidak mau. Tadi Fatimah sudah puas menggendong dan bermain bersama Syakha.
***
Malam harinya di rumah sakit, Arsya sedang shif malam. Dia sengaja mengambil jadwal Shif malam, karena paginya dia harus ke kantor papanya yang sekarang diserahkan padanya, papanya lebih memilih usahanya yang berada dijakarta, padahal tidak sebesar usahanya yang berada dikota B.
"Pak Arsya, sepi ya nggak ada Syakha".
"Iya Ren, aku sangat kehilangan Syakha." Arsya menghela nafas panjang.
"Syakha juga pasti kehilangan bapak, dia sudah terbiasa tidur ditangan bapak".
"Dia akan terbiasa sama ayahnya, dia akan lupa dengan tanganku" Arsya menunduk, matanya berkaca kaca tapi Renna dapat melihatnya.
"Oh Tuhan, dokter Arsya menangis karena bayi Syakha, begitu kuat cinta pak Arsya untuk Syakha ?".
"Walaupun Syakha sudah terbiasa sama ayahnya, aku yakin dia tak akan melupakan bapak, dia sangat nyaman ditangan bapak"
Lorenna memang sering melihat Arsya menidurkan bayi Syakha ditangannya, bayi kecil itu sangat nyaman meringkuk dalam tangan besar dokter Arsya.
"Apa kau pikir bayi punya daya ingat yang kuat ? "
"Ehmm, anu pak bukan daya ingat. Semacam kontak batin sama bapak gitu loh pak"
"Aku harap begitu Ren. Moga saja Syakha punya kontak batin sama dokter yang merawatnya ini seperti kontak batinnya sama ayah kandungnya sendiri. "
"Iya pak, aamiin"
"Kenapa kau aminkan? " Arsya mengernyitkan dahinya.
"Eh itu pak, sebenarnya aku ingin Syakha punya papa seperti bapak".
"Ah, ada ada saja kamu, Syakha masih punya ayah"
"Pak, jujur saja dulu sebelum Syafina menikah. Aku sangat mendukung Syafina menikah dengan bapak, nggak tahunya dia dijodohkan sama pak Khalid. Dan setelah kabar pak Khalid kecelakaan aku pun berharap bapak menggantikannya jadi ayah Syakha"
"Jangan mengingatkan aku dengan kenangan itu Ren. Aku sudah berusaha kuat melupakan kenanganku sama Bundanya Syakha."
"Maafkan saya pak"
"Iya, ayo kamu kembalilah kerja".
Renna kembali ke pekerjaannya, sementara Arsya berusaha Fokus pada list pasien didepannya.
__ADS_1
****
tinggalkan jejak like ya 🙏🙏