Hati Yang Memilih

Hati Yang Memilih
Bab 76


__ADS_3

Dr silvana dalam perjalanan menuju klinik, dia memikirkan mengenai Sherina mengapa dia bilang abangnya sendiri mau cerai. Padahal tadi kelihatan mereka baik baik saja, malah kelihatan bahagia.


Mengapa Sherina bilang istri Khalid selingkuh dengan Arsya, tapi Thamrin bilang tidak. Thamrin adalah sahabat terdekat Arsya, tidak mungkin dia tidak tahu apa yang dilakukan Arsya.


"Apa karena cekcok antara ipar saja ya, atau ada maksud lain Sherina memfitnah istri Khalid sampai begini". Silvana jadi tak habis pikir dengan Sherina yang tega memfitnah kakak iparnya sendiri. Malah Sherina hampir saja mencomblangkan dirinya dengan Khalid, bahkan sekarang Sherina mencomblangkan Khalid dengan Angel. Yang jelas jelas tipe wanita penggoda.


"Apa sih maunya Sherin, memangnya dia mau punya ipar seperti angel, menurutku sih lebih cocok Syafina yang jadi istri Khalid daripada Angel." Silvana benar benar merasa heran dengan sikap Sherina.


"Aku tanya mas Dendi saja deh, kan dia asistennya Khalid." Silvana bukannya mau ikut campur tapi dia kasihan saja melihat istri Khalid di fitnah. Dia sepertinya masih polos beda sekali dengan Sherina dan Angel.


****


Pulang dari belanja khalid dan Syafina singgah ditaman kota, Mereka duduk dibangku yang posisinya di bawah pohon rindang. Beberapa bulan lalu ketika mereka masih status pacaran ala Syafina mereka pernah juga duduk disini.


Syafina membawa eskrim yang tadi dibelinya, es krim coklat dan satunya lagi rasa buah..


"Abang mau yang mana?"


"Buah saja" jawab Khalid.


"Tapi aku mau yang rasa buah"


"Ya sudah, abang yang coklat saja. "


"Ehmm sepertinya enak juga yang coklat" Syafina kelihatan ragu.


"Sudah buat Fina saja keduanya"kata Khalid, terlihat lucu dilihatnya Syafina yang sepertinya mau keduanya es krim itu.


"Benar bang? "


Khalid mengangguk, "Iya, buatmu semua". mendengar itu istrinya terlihat sangat senang. Dia mulai menikmati eskrimnya yang rasa buah.


"Sederhana sekali cara membahagiakanmu Fina" Gumam Khalid dalam hati.


"Fin, ingat nggak kita pernah pacaran disini, lalu kehujanan"


"Pacaran?, kita sudah menikah itu bang"


"Loh bukannya kamu waktu itu anggap abang pacar kamu"


"Hehe, iya sih. Kenapa aku dulu seperti itu ya? "


"Kok nanya abang, kamu sendiri yang punya ide. Sini" Khalid menarik tangan Syafina agar duduk lebih dekat dengannya. Syafina menyenderkan kepalanya didada suaminya. Es krim rasa buahnya habis lalu dia melanjutkan makan eskrim rasa coklatnya.


"Sampai sekarang aku masih ingin pacaran sama suamiku, nanti sudah punya anak banyak aku tetap masih ingin pacaran sama abang" Syafina menjilati es krimnya. Es krim itu habis secepat kilat.


Khalid mengusap kepala Syafina, rasa sayangnya bertambah kuat kepada perempuan ini. Ingin tua bersamanya mengurus anak dan membesarkan anak bersama.


"Kamu maunya punya anak berapa?" tanya Khalid, dia memasukkan jemarinya ke sela jemari istrinya.


"Aku maunya dua, atau tiga saja paling banyak. Abang maunya berapa?" Syafina mendongakkan wajahnya melihat suaminya.


"Abang maunya lima, pasti rame ya."

__ADS_1


"Banyak amat, aku tak sanggup hamil lima kali". Syafina jadi cemberut. Khalid menatap wajah istrinya membayangkan kalau istrinya kerempongan mengurus lima anak, lalu dia tertawa sendiri.


"Haha,, kamu pasti berubah jadi galak kalau punya lima anak, sekarang saja sudah galak"


"Apa sih bang" Syafina memalingkan wajahnya.


"Abang akan sewa baby sitter buat anak abang, kasihan kalau bundanya rempong" Khalid mengusap ngusap perut istrinya yang sudah kelihatan membesar.


"Baby, jangan nakal ya.. bantu bunda urus adik adikmu" khalid berbicara dengan anaknya dalam perut istrinya.


Mata Syafina jadi membulat mendengarnya.


"Abaang, anak belum lahir sudah disuruh ngurus adik adiknya."


"Biar dia jadi anak yang mandiri, jadi kakak yang penyayang sama adik adiknya"


"Udah ah menghayalnya, pulang yuk,"


"Ayo" Khalid berdiri, lalu dia membantu istrinya berdiri.


****


Sherina sudah mendapatkan rumah, tak jauh dari rumah Khalid. Sebenarnya dia ingin rumah yang lebih bagus tapi hanya itu rumah yang posisinya tak jauh dari rumah Khalid. Dia lalu menelpon Khalid mengatakan bahwa dia sudah mendapatkan rumah untuk dibeli.


"Hallo kenapa Sher? " Khalid menaruh headset di telinganya. Karena dia sedang menyetir mobil.


"Bang, aku sudah dapat rumah. Rasanya sudah pas aku mau membelinya saja, jadi kan abang yang bayar. ?"


"Berapa? " tanya Khalid. Sherina diseberang sana lalu menyebut nominal harga.


"Iya bang, abang nggak mau lihat rumahnya dulu? " pikir Sherina nanti kalau sudah menikah, pasti Khalid akan sering menginap dirumah itu.


"Tidak perlu" jawab Khalid singkat. lalu dia memutuskan sambungan teleponnya. Lalu langsung menelpon Dendi untuk menyuruh Dendi mengurus surat menyurat pembelian rumah itu.


"Bang, Sherin beli rumah dimana? "


"Sepertinya dekat dengan rumah kita"


"Oo" Syafina mendadak terlihat lesu jika teringat dengan Sherina. Dia masih tak sanggup membayangkan harus di madu dengan Sherina.


"Fina kau kenapa? "


"Nggak apa apa bang"


"Kamu mendadak lesu Fin, Fina dengar ya aku tak akan menikahi Sherina. "


"Bagaimana jika ibu memaksamu? "


"Aku akan cari bukti kalau aku tak bersalah , kamu percayalah sama abang. abang tak melakukannya Fina."


"Abang yakin tak melakukannya? "


"Abang sebenarnya yakin tapi melihat kondisi malam itu dan surat keterangan dokter membuktikan abang bersalah. itulah yang membuat abang ragu"

__ADS_1


"Bang, jika abang yakin aku akan dukung abang. Jika abang tidak yakin aku tak bisa apa apa".


"Fina, kamu mau kan kita sama sama cari bukti kalau abang tak bersalah? " Khalid menoleh kepada istrinya.


Syafina menatap wajah suaminya, terlihat laki laki itu seperti butuh dukungan darinya. Laki laki itu sangat lelah dan butuh seseorang yang mempercayainya.


"Iya bang, aku akan selalu mendukungmu. aku juga yakin kau tak bersalah"


Syafina yakin suaminya tak bersalah karena sebulan lamanya Khalid mampu bertahan tak pernah memaksanya, rasanya tak mungkin jika suaminya tak mampu menahannya satu malam itu.


****


Viana telah selesai memasak resep yang dipelajarinya, dia belajar memasak dari bibi yang bekerja dirumahnya. Viana lalu mencicipinya.


"Hmm, nikmat. Tak kalah dari masakan bibi. Aku yakin Arsya suka"


Dia lalu memindahkan masakan itu ke dalam rantang, karena dia akan mengantarnya kerumah Arsya. Dia akan mengajak Arsya makan siang bersama. Setelah selesai semua, lalu Viana kekamarnya untuk berdandan.


Viana memakai celana panjang berbahan kain warna milo, dan atasan blouse panjang lengan warna dusty dengan aksen pita kecil didepan. Kali ini dia memakai riasan tipis.


"Benarkah ini diriku, aku justru terlihat sangat cantik kalau berdandan begini" Viana seakan tak percaya melihat bayangan dirinya di cermin. Viana memang perempuan yang percaya diri, dia tahu jika dirinya cantik. Tapi selama ini dia terlanjur memilih dandanan yang menor. Riasan wajah yang tebal dan pakaian yang minim.


Setelah selesai dandan Viana meluncur kerumah Arsya, dia tadi sudah memberitahu Arsya jika akan kerumahnya.


Arsya melongo melihat wanita cantik didepannya, dia seakan tak mengenal wanita itu.


"Disuruh masuk apa tidak nih? "


"Oh ehmm, silahkan masuk via"


Viana lalu masuk menenteng rantang berisi makanan yang dimasaknya sendiri. Dia langsung menuju meja makan.


"Mas belum makan siang kan, ini kubawain makanan. "


"Iya belum," Arsya mengikuti Viana ke dapur. Viana menghidangkan makannan yang dibawanya. setelah selesai dia lalu duduk, Arsya sudah lebih dahulu duduk.


"Mas ayo dimakan"


"Iya, ini kamu yang masak? "


"Ehm" viana mengangguk. Tapi Arsya menatapnya seakan tak percaya.


"Benaran kamu yang masak? "tanya Arsya.


"Benar mas, masa nggak percaya sih. Aku belajar memasak dari bibi dirumahku."


"Iya ya, percaya." lalu Arsya mencicipi semur daging itu.


"Enak" komentar Arsya singkat.


"Makasih" Viana senang Arsya ternyata menyukai masakannya. Mereka berdua makan tak bersuara. Seperti biasa Arsya makan dalam jumlah yang banyak. Viana melihat itu.


"Benar kata syafina, mas Arsya suka makan dirumah. Jika makan di restoran mas Arsya tak pernah makan sebanyak ini " gumam Viana dalam hati.

__ADS_1


****


__ADS_2