
Khalid berpesan kepada pak Udin untuk tidak mengizinkan orang masuk kedalam gerbang kecuali ibu dan istrinya. Dia sedang tak ingin bertemu siapapun. Sampai dirumah dia langsung menuju kamarnya.
Bi Lastri melihat tuannya itu kelihatan lusuh dan lelah, pulang tanpa istrinya. Melihat Tuannya seperti itu dia tak berani bertanya kenapa nona Syafina tidak pulang bersama tuannya.
"Pak Khalid mungkin belum makan, dia kelihatan lesu. Apa bertengkar dengan non Syafina ya? " Batin Lastri dalam hati.
Didalam kamarnya, khalid membuka jasnya dan melemparnya begitu saja. Dia juga membuka dasi dan melemparnya. Lalu dia menghempaskan tubuhnya diatas tempat tidurnya dengan kakinya masih berpijak di lantai dan tubuhnya dibaringkannya.
Khalid lelah, pikirannya sangat berat ditambah lagi rasa khawatir terhadap istrinya dan anaknya. Sekarang dia sudah punya anak lagi dengan Sherina, hasil dari perbuatan bejatnya malam itu.
"Ya Allah, bantu hamba menghadapi masalah ini, sungguh hambamu ini tak sanggup lagi" Khalid memejamkan matanya dan akhirnya diapun tertidur karena lelahnya.
Baru beberapa menit Khalid terlelap tiba tiba pintu kamarnya diketuk, karena tak dibuka akhirnya Fatimah masuk saja. Karena dia tahu ada Khalid didalam. Dilihatnya Khalid tertidur, tak ada Syafina disana.
"Kemana Syafina? " Fatimah bertanya dalam hati. Fatimah menyentuh lengan putranya.
"Bangun Khalid" Fatimah menggoyang goyangkan tangan Khalid.
Khalid membuka matanya perlahan, dan dia langsung duduk ketika dilihatnya ibunya duduk di sebelahnya.
"Ibu sudah lama?" Khalid melihat jam di tangannya.
"Barusan,"jawab Fatimah.
"Astagfirullah, aku belum solat Zuhur. Bu aku solat dulu ya"
"Solatlah dulu. Ibu tunggu kamu dibawah".
****
Arga menyudahi ceritanya, Arsya yang mendengarnya terlihat sangat emosi.
"Hhh, Khalid laki laki bajingan. Ini sangat tak adil bagi Syafina." Arsya mengepal tangannya.
"Sudahlah mas, aku yakin ini jebakan Sherina juga." kata Viana.
"Tapi kita belum bisa pastikan itu tindakan Sherina, harus cari bukti dulu" tukas Dendi
"Menurutku di jebak atau tidak tapi ini sudah terjadi kan, Syukur syukur kalau Sherina tidak hamil". Arsya berkata dengan nada sinis.
Semua yang berada disana melihat kearah Arsya.
"Benar juga kata Arsya" gumam Reyhan dalam hati.
"Oh ya, aku masih ada urusan, aku dan Viana pulang duluan ya." Arsya menggamit tangan Viana. Mereka berdua lalu berdiri.
****
Khalid menemui ibunya, mereka berdua duduk di atas tempat tidur dikamar ibunya.
"Khalid, Syafina dimana. Dari tadi ibu tak melihatnya, kata Lastri kamu tidak pulang bersamanya"
__ADS_1
"Syafina dirumah orang tuanya"
"Dia kabur setelah dengar Sherina hamil?"
"Dia nggak kabur bu, Syafina hanya butuh ketenangan"
"Oke, ini memang tak mudah bagi Syafina, tapi dia harus ikhlas. Sudah terjadi juga kan?"
"Biarlah Syafina menghadapinya dengan cara dia sendiri bu"
"Kamu bujuk istrimu, ajak dia pulang. "
"Iya bu, nanti malam rencana aku akan kesana".
"Khalid, mengenai kehamilan Sherin. Ibu harap kau bertanggung jawab." Fatimah berbicara dengan nada tegas.
Khalid diam saja mendengar perkataan ibunya, Dia menunduk menatap lantai.
"Apa kamu masih menolak menikahinya, ibu tak mau kau menelantarkan darah dagingmu sendiri"
"Iya bu, aku akan bertanggung jawab"
"Bukan hanya secara Finansial saja, tapi anak itu nantinya juga butuh seorang ayah"
"Iya bu aku tahu itu"
"Baguslah, dan kamu juga harus bisa membujuk istrimu agar bisa menerima Sherina sebagai madunya"
Khalid mengangguk, hanya itu yang bisa dia lakukan untuk meyakinkan ibunya. Meskipun dalam hati dia merasa tak sanggup menyakiti Syafina.
"Iya silahkan"
Khalid lalu keluar dia ingin menanyakan kabar Syafina kepada ibu mertuanya.
Setelah di kamarnya Khalid segera menelpon mama Zaenab.
"Assalamualaikum ma, bagaimana kabar Syafina.? "
"Waalaikum salam, Syafina baru bangun tidur. Dia sekarang sedang makan siang"
"Oo Alhamdulillah, ma apa papa juga sudah mengetahui masalah ini ma? "
"Iya sudah, barusan mama beritahu"
"Ehm ma, boleh aku kerumah nanti malam aku mau lihat kondisi Fina"
"Mama boleh saja khal, tapi Fina tadi bilang jangan beritahu kamu kalau dia ada disini. Itu berarti dia belum mau ketemu sama kamu"
"Oh gitu, ya sudah. Mungkin besok aku akan menemui Fina. Jagain Fina buat aku ya ma"
"Iya, jangan khawatir. "
__ADS_1
"Assalamualaikum"
"Waalaikum salam"
Setelah menelpon mama mertuanya Khalid merasa lebih lega, dan dia bisa beristirahat tenang.
****
Malam harinya Khalid tidak betah berdiam diri dirumah, semenjak sudah magrib dia sudah keluar rumah menyusuri jalanan kota tidak tahu arah tujuannya kemana. Ingin ia mengunjungi Syafina tapi dia ingat kata kata mama Zaenab bahwa Syafina belum mau bertemu dengannya.
Galau, ya itulah yang dialami Khalid sekarang. Adzan Isya sudah berkumandang, Sayup sayup suara muadzin menenangkan pikirannya, Khalid menepikan mobilnya di depan mesjid Agung An Nur. Khalid adalah donatur terbesar di mesjid Megah itu.
Setelah melakukan solat isya berjamaah, satu satu para jamaah pulang kerumah mereka. Khalid belum beranjak dari tempat duduknya, dia hanyut dalam doanya. Khalid mendoakan keselamatan istri dan anaknya, meminta kepada sang pencipta untuk mengeluarkannya segera dari masalah yang menimpanya. Memohon ampun atas perbuatan dosanya. Tak terasa airmatanya mengalir dipipinya, Khalid begitu khusyuk mengadu kepada Rabbnya.
Seseorang menepuk bahu Khalid, Khalid mendongak menatap orang itu. Orang itu tersenyum kepada Khalid dan duduk disamping Khalid.
"Seorang laki laki gagah menangis, sudah pasti masalahnya sangat berat, tak ada salahnya bercerita siapa tahu aku bisa membantu"
Harizal, imam mesjid Agung An Nur usianya lebih tua sekitar dua tahun dari Khalid. Khalid sudah mengenalnya semenjak dia menjadi donatur tetap Mesjid itu.
Khalid menghapus airmata dengan jemarinya, dia mengatur nafasnya agar dapat menceritakan masalahnya.
"Aku sudah berbuat dosa ustad,"
"Perbuatan dosa yang membuatmu bersedih dan menyesal lebih disukai Allah daripada amalan dan perbuatan baik yang membuatmu menyombongkan diri." Ustad Harizal menyampaikan kata kata mutiara Ali bin Abi Thalib.
"Apakah Allah akan mengampuniku?"
"Jangan berpikir bahwa Allah tak mengampunimu, bertobatlah dengan sungguh sungguh dan penuh penyesalan"
"Iya ustad, aku sangat menyesal. Aku sungguh sungguh ingin bertaubat"
"Kalau boleh tahu, dosa apa yang telah kamu perbuat ?"
Khalid dengan lancar menceritakan kejadian malam itu tanpa ada yang tertinggal. Dia ingin berbagi masalahnya. Ingin ada yang yang mendengar keluh kesahnya, biasanya ada Syafina yang setia mendengar curhatannya. Tapi kali ini Syafina tak ada didekatnya.
"Aku tak percaya kamu melakukan itu Khalid, seorang laki laki terhormat dan soleh seperti mu melakukan perbuatan itu, rasanya tak mungkin"
"Aku juga tak yakin, tapi semua bukti memberatkanku"
"Berdoalah agar terbebas dari masalah ini, berdoalah dengan bersungguh sungguh menginginkan pertolongan Allah. Mungkin Allah rindu mendengar tangismu, rindu kau memohon padaNya".
Khalid merenungi ucapan ustad Harizal. Benar dia selama ini mungkin sudah sombong karena keberhasilannya, berhasil dalam bisnisnya, menjadi kaya dengan usaha sendiri di usia muda, mendapatkan semua yang dia inginkan. Termasuk mendapatkan wanita yang dicintainyai dengan mudah. Ditambah lagi kehamilan istrinya yang menambah Lengkap rahmat Allah padanya.
"Aku telah menyombongkan diri karena keberhasilanku padahal itu semua titipan dari Allah" Batin Khalid dalam hati.
"Iktikaflah kamu di mesjid malam ini, kebetulan aku juga iktikaf malam ini"
Khalid mengangguk angguk mendengar ucapan ustad Harizal. Semalam itu dihabiskan oleh Khalid dengan berzikir, membaca Alquran , Qiyamul lail, dan bermunajat kepada Allah.
****
__ADS_1
Maaf πππustad Harizal jadi cameo malam ini. Akan ada cameo cameo lainnya.
tap jempolnya donk..