Hati Yang Memilih

Hati Yang Memilih
Bab 112


__ADS_3

Jam 08.00 seorang pelayan mengetuk pintu kamar Khalid untuk mengantar sarapan. Lama mengetuk tak ada sahutan dari dalam. Pelayan itu lalu membuka pintu kamar itu. Dan ternyata di kunci.


"Tuan, apa tuan masih tidur. Bangun Tuan". Beberapa kali pelayan itu mengetuk dan memanggil Khalid, tapi tak ada sahutan dari dalam. Dia bergegas turun kebawah ke meja makan dimana tuannya sedang sarapan bersama.


"Maaf, tuan Khalid tidak menyahut ketika saya panggil"


"Apa perawatnya juga tertidur, bagaimana ini disuruh menjaga orang sakit malah ketiduran".


Seorang laki laki paruh baya yang sangat gagah menghentikan sarapannya dan berdiri. Dia adalah Zulkarnain seorang ayah yang sangat menyayangi putrinya. Zulkarnain lalu beranjak dari kursinya menuju kamar Khalid. Marsha pun Mengikutinya.


Zulkarnain beberapa kali memanggil, dan Marsha pun melakukan hal yang sama. Lalu dia berbicara dengan suara yang cukup keras memerintah pelayan rumah itu.


"Pelayan, dobrak saja pintu ini"


Dua orang pelayan laki laki bersiap siap mendobarak pintu kamar itu.


"Satu.. dua.. tiga.. dobrak..!"


Dan ternyata tidak ada siapa siapa di dalam.


"Kurang ajar, mereka menipu kita, pasti dokter dan perawat itu yang membantu Khalid kabur,"


"Bang Khalid, cari bang Khalid pa,, aku harus menikah sama bang Khalid. Hik hik" Marsha menangis bagaikan anak kecil.


"Jhoni, kau tidak becus mengurus ini. dan pelayan disini semuanya tak ada gunanya" Zulkarnain benar benar marah.


"Saya akan mengecek cctv, " Jhoni bergegas keruang monitor cctv.


"Tidak ada tanda tanda orang bertiga itu melarikan diri, sial mereka sudah menutup semua cctv. Kenapa malam ini semua ketiduran? "


Flash back on


Khalid merasa heran dengan pernikahannya yang terkesan tergesa gesa disaat kondisinya yang masih sangat lemah, dan ketidak hadiran keluarganya juga membuat dia bertambah curiga.Dia berusaha mengingat ingat apa yang terjadi pada dirinya, tetapi malah membuat kepalanya bertambah sakit. Dan akhirnya dia pun tertidur setelah disuntikkan obat oleh perawat.


Perawat yang merawat Khalid terus memandangnya tak berkedip.


"Hei sus, kenapa lihat pak Khalid begitu. Naksir ya, dia mau menikah besok" goda dokter Zein.


"Eh, bukan dok. Aku sudah lama kenal dengan pak Khalid"


"Oh ya? "


Lulu lalu menceritakan siapa Khalid sebenarnya.


"Khalid ini adalah MK yang kecelakaan beberapa hari yang lalu, dan dinyatakan meninggal terbakar dalam mobil"


"Yang benar sus? "


"Iya aku yakin. Aku bisa perlihatkan fotonya. Pak Khalid ini adalah suami dari temanku Syafina, Syafina juga seorang perawat" Lulu lalu memperlihatkan Foto kebersaman Syafina dan Khalid di instagram milik Syafina.


"Kita harus beritahu dia, bangunkan dia !". Perintah dokter Zein.


Suster Lulu lalu menceritakan kepada Khalid siapa dirinya yang sebenarnya. Dan suster Lulu menunjukkan beberapa foto Khalid bersama Syafina.


"Kau Lihat ini istrimu sedang hamil, menurut berita yang kudengar dia sudah melahirkan bayi prematur di hari bapak kecelakaan".


"Aku tak bisa mengingatnya sama sekali" Khalid memegang kepalanya yang terasa pusing.

__ADS_1


"Jangan dipaksa mengingatkan, ini sudah jelas bukti bahwa kau sudah mempunyai istri dan bahkan sudah memiliki anak" kata dokter Zein.


"Tapi bagaimana pernikahanku besok, kasihan calon istriku"


"Istri dan anakmu lebih membutuhkanmu, walaupun kau tak ingat mereka sama sekali. Marsha hanya seorang gadis yang terobsesi padamu, sama seperti Sherina tersangka percobaan pembunuhan terhadapmu" Dokter Zein menuturkan.


"Siapa Sherina ?"


"Dia yang telah mencelakai bapak, karena bapak tak membalas cintanya. Menurut kabar yang beredar dia sudah ditahan polisi" Suster Lulu menjelaskan.


"Ayolah, saya bantu jika kau ingin kembali pada istrimu" dokter Zein menawarkan.


Khalid terdiam sejenak, lalu dia mengangguk setuju.


Dan dokter Zein bersama suster Lulu membawa lari Khalid dari rumah itu. Tanpa sepengetahuan satu orang pun penghuni rumah itu.


Flash back off


***


Seseorang menelpon Syafina, saat dia menyusui bayi Syakha. Jam menunjukkan pukul 04.30 dini hari.


"Hallo siapa ini ? "


"Syafina ini aku suster Lulu, apa kau masih ingat? "


"Iya, Kak Lulu, ada apa? "


"Suamimu sekarang bersamaku, dia aman."


"Apa aku salah dengar? "


"Oke, aku akan menjemputnya mungkin akan lama karena kita sudah beda propinsi."


"Oke Fin, kamu jangan Khawatir suamimu aman." Suster Lulu mengirim foto Khalid yang duduk bersebelahan dengannya.


Lalu mereka memutuskan hubungan telepon. Syafina menatap foto suaminya dengan penuh kerinduan. Syafina lalu menghubungi Dendi dan pak Ridho. Setelah itu dia membawa bayinya keruang perawatan, disana Arsya masih terjaga.


"Mas, aku titip bayiku. Aku harus menjemput suamiku di kota E."


"Suamimu sudah ditemukan? , alhamdulillah. Tapi bagaimana Syakha menyusu. Perjalanan kesana cukup lama"


"Kebetulan aku sudah menyetok banyak ASI, Renna tahu itu, sebentar lagi aku akan berangkat. Kami menggunakan pesawat pertama pagi ini".


"Iya, hati hati ya Fin. Kamu masih nifas masih rentan terjadinya perdarahan jaga diri baik baik".


Syafina mengangguk, lalu ponselnya berbunyi panggilan dari Dendi.


"Iya mas Dendi? "


"Mas tunggu diluar Fin"


Syafina lalu melongok bayi Syakha di dalam inkubator. Bayi Syakha masih tertidur dengan menggenggam jemari Arsya.


"Bunda akan bawa ayah pulang nak". Syafina menatap bayinya, lalu dia keluar dari ruangan itu dengan penuh harapan. Arsya menatap kepergian Syafina, ada rasa bahagia dihatinya melihat Syafina yang juga berbahagia akan bertemu dengan suaminya kembali. Dan jauh dilubuk hatinya ada juga rasa kecewa.


***

__ADS_1


09.30 Syafina Dendi dan Ridho sudah berada di bandara, dari sana mereka menuju alamat yang diberikan oleh Lulu. Mereka dijemput oleh Fajar temannya Ridho.


Beberapa menit melakukan perjalanan sampailah mereka ditempat yang dituju. Syafina bergegas berjalan mendahului Dendi dan Ridho. Dia sudah tak sabar ingin menemui Suaminya. Betapa terkejut Syafina melihat pemandangan di depan matanya.


Terlihat beberapa orang sedang sibuk, Khalid duduk bersila dengan memakai jas berwarna hitam. Dan Marsha memakai kebaya putih. seperti akan diadakan prosesi ijab Qabul. Di sana memang ada suster lulu duduk tak jauh dari Khalid masih memakai seragam susternya, dia kelihatan melihat lihat dan menunggu seseorang.


Flash back on


09.00 Zulkarnain dengan mudah dapat menemukan dimana Khalid disembunyikan. Zulkarnain marah besar dengan Zein, dan suster Lulu. Dan dia harus mengambil langkah cepat yaitu menikahi Marsha dan Khalid sekarang juga. Zulkarnain telah menyiapkan semuanya.


"Apa kita bawa saja Khalid kembali kerumah, pernikahannya dirumah kita saja ?" Jhoni menawarkan.


"Tidak bisa, keburu orang orang dari kota B datang" Marsha tidak setuju ide pamannya. Lalu dia menghampiri Khalid.


"Bang, kita menikah sekarang ya? "


"Kepalaku masih pusing. Aku belum mengingat siapa dirimu" Khalid beralasan.


"Bang, ini lihat foto kebersamaan Kita. Kau sangat mencintaiku begitupun aku, kita saling mencintai bang"


Marsha memperlihatkan beberapa foto nya bersama Khalid, difoto itu terlihat Khalid yang tersenyum bahagia. Dan foto yang lain terlihat Khalid memeluk Marsha. Dan ada foto Khalid menyuapi marsha dengan potongan kue ulang tahun. Terlihat mereka sangat bahagia.


Khalid mencoba lagi mengingat ingat, dan kembali kepalanya terasa pusing.


"Bang, kau masih sakit. Kita ijab Qabul saja dulu. Dan setelah ini abang akan dirawat kembali di rumah sakit terbaik." Marsha menatap Khalid dengan tatapan manjanya, dan memberi senyum termanisnya.


"Ayolah bang, papaku sibuk mumpung beliau ada waktu" Marsha merengek.


Khalid bertambah bingung dan pusing, pada akhirnya dia mengangguk saja. Disaat orang orang menyiapkan segala sesuatunya, Khalid, dokter Zein dan Suster Lulu masuk kedalam kamar dengan alasan untuk memeriksa Khalid.


"Aku tak mau menikahi Marsha, aku yakin aku sudah beristri. Bukankah dijariku ini cincin kawin? "


"Bapak benar, bapak memang sudah beristeri. Dan sebentar lagi Syafina akan datang menjemput bapak. Tapi aku tak bisa menghubunginya lagi karena ponselku sudah di tahan oleh pak Jhoni. "


Khalid ingin melawan, tapi tubuhnya masih sangat lemah. Untuk berjalan saja dia masih butuh dibimbing oleh seseorang. Dokter Zein pun tak bisa berbuat apa apa.


Kemudian Mereka bertiga di panggil untuk keruang keluarga dimana prosesi ijab qabul akan dilakukan. Mereka hanya bisa berharap Syafina akan segera datang.


flash back off


Suster Lulu melihat kedatangan Syafina, dibelakang Syafina ada dua orang laki laki. Lulu melambaikan tangannya kearah Syafina.


Dendi dan Ridho terkejut melihat siapa saja yang berada diruang itu, ada Zulkarnain seorang walikota dikota B, Jhoni adalah klient penting yang menjalin kerja sama dengan Khalid dalam pembangunan sekolah swasta dikota B.


"Bang Khalid, pulanglah bersamaku" suara Syafina terdengar lantang. Semua orang menoleh kepadanya. Khalid spontan berdiri mendengar suara Syafina. Dia berdiri dengan susah payah. Dokter Zein membantunya.


"Pak Zul, kumohon kembalikan suamiku, kami sudah punya anak yang harus kami besarkan bersama"


"Syafina kau tak perlu memohon karena Khalid memang suamimu, ini aku bawa surat nikah kalian. Aku nggak menyangka bapak melakukan hal memalukan seperti ini. Memanfaatkan Khalid yang sedang lupa ingatan" Dendi dengan berani berbicara dengan suara lantang.


"Apa bapak akan memakai cara kekerasan juga, apa kami akan disekap disini karena dianggap mengganggu acara kalian?" Dendi menyambung lagi kata katanya. Semua yang berada disana terdiam termasuk Zulkarnain.


Sementara Marsha sudah seperti akan menangis saja, air matanya sudah menggenang akan tumpah. Dia takut pernikahannya akan batal.


"Pa, aku harus menikah." Marsha menarik narik tangan Zulkarnain.


"Bang Khalid, tadi kau sudah setuju menikahiku" Marsha lalu bergelayut di tangan Khalid.

__ADS_1


Zulkarnain terdiam dia tak dapat berkata apapun, dalam hati dia mulai menyesali tindakan bodohnya yang menuruti keinginan konyol anaknya.


****


__ADS_2